Serpihan Cerita dari Cambodia : Tuol Sleng dan Choeung Ek, Saksi Bisu Kekejaman Khmer Merah

Salah satu materi pelajaran Sejarah pada saat saya duduk di kelas 3 SMU adalah mengenai sejarah Kamboja. Bukan sejarah yang manis, tapi tentang Pol Pot dan rezim Khmer Merah (Angkar) yang membunuh begitu banyak rakyat Kamboja. Namun karena dulu itu belajar sejarah hanya untuk sebuah angka, maka pelajaran itu lenyap tak berbekas.

Beberapa tahun berlalu, hingga sebuah tayangan Backpacker di salah satu TV swasta mengunjungi Kamboja, dengan tujuan utamanya adalah Tuol Sleng dan Choeung Ek. Dan percaya atau tidak, bukan Angkor Wat yang memanggil saya ke Kamboja, tapi kedua tempat pembantaian inilah yang melakukannya.

Maka, segera setelah saya dan papi tiba di Phnom Penh, saya langsung ngebet booking tour setengah hari ke kedua tempat ini. Untunglah di Hostel kami (Encounters) menyediakan tour setengah hari dengan tuk-tuk, yang sepertinya memang langganan mangkal di depan hostelnya.. Harga yang ditawarkan sebesar 12 US$. Tour bisa dimulai kapan saja kami mau.

Akhirnya kami putuskan untuk berangkat pk 08.00, supaya puas jalan-jalannya. Tujuan pertama adalah Tuol Sleng Genocide Museum. Harga tiket masuknya 6 US$, dapat brosur yang bernuansa kegelapan, alias warnanya hitam. Museum ini terletak di sudut street 113 dan 350, Phnom Penh.

Pintu Masuk Tuol Sleng

Pintu Masuk Tuol Sleng

Tempat ini awalnya adalah gedung sekolah (SMU) bernama Chao Ponhea Yat High School , yang adalah nama dari leluhur Raja Norodom Sihanouk. Pada bulan Agustus 1975, gedungyang terdiri dari 4 unit bangunan ini, diubah fungsinya menjadi penjara dan pusat interogasi, yang dinamakan Security Prison 21 (S-21). Sebagian besar bagian gedung ini langsung ditutupi dengan kawat berduri yang dialiri listrik. Ruang-ruang kelas diubah menjadi penjara dan ruang penyiksaan. Seluruh jendela ditutupi dengan batangan besi dan kawat berduri. Semua ini untuk mencegah ada tawanan yang kabur.

Salah satu sudut Tuol Sleng

Salah satu sudut Tuol Sleng

Monumen di depan Tuol Sleng

Monumen di depan Tuol Sleng

Antara tahun 1975 hingga awal tahun 1979, sekitar 17000 orang (bahkan menurut salah satu petugasnya, mungkin 30000 orang) dipenjarakan di tempat ini. Mereka disiksa agar mengakui bahwa mereka adalah musuh negara, dan mereka harus menyebutkan nama-nama yang mereka kenal yang dianggap sebagai musuh rezim Khmer Merah, yakni kaum terdidik yang dianggap sebagai antek liberalis, mata-mata asing, orang-orang yang berkecukupan, tentara dan pegawai pemerintahan Lon Nol, dan akhirnya banyak orang yang tak berdosa atau tak mengerti apa-apa ditangkap. Dan mereka yang ditangkap ini menyebutkan sebanyak mungkin nama orang lain ketika mereka diinterogasi. Semata-mata agar mereka tak menerima siksaan lagi. Para tahanan ini difoto satu  persatu dan dicatat data dirinya secara lengkap, sejak masa kecil mereka hingga hari-hari akhir ketika mereka ditangkap. Setelah itu mereka dimasukkan ke dalam sel-sel kecil dengan kaki diikat pada besi. Siksaan demi siksaan dialami mereka selama proses ini, ditambah lagi mereka tidak diberi makanan yang cukup, tidur di atas lantai, dalam kondisi yang amat kotor dan tidak higienis membuat para tahanan disini begitu menderita. Bahkan mereka dilarang untuk saling berbicara satu sama lain. Mereka juga tak luput dari pukulan dan siksaan, yang dilakukan dengan berbagai cara, pokoknya sampe mereka ngaku dan menyebutkan nama-nama orang yang dianggap musuh Khmer Merah (terlalu sadis ah kalo dijelaskan disini). Baca sendiri aja deh di http://en.wikipedia.org/wiki/Tuol_Sleng_Genocide_Museum

Ada 10 aturan yang harus ditaati para tawanan disini, yaitu :

1. You must answer accordingly to my question. Don’t turn them away.2. Don’t try to hide the facts by making pretexts this and that, you are strictly prohibited to contest me.3. Don’t be a fool for you are a chap who dare to thwart the revolution.4. You must immediately answer my questions without wasting time to reflect.5. Don’t tell me either about your immoralities or the essence of the revolution.6. While getting lashes or electrification you must not cry at all.7. Do nothing, sit still and wait for my orders. If there is no order, keep quiet. When I ask you to do something, you must do it right away without protesting.8. Don’t make pretext about Kampuchea Krom in order to hide your secret or traitor.9. If you don’t follow all the above rules, you shall get many lashes of electric wire.10. If you disobey any point of my regulations you shall get either ten lashes or five shocks of electric discharge.

10 peraturan yang wajib ditaati

10 peraturan yang wajib ditaati

Konon katanya mereka diinterogasi setelah tinggal selama 2-3 hari disini dan kemudian setelah 2-3 bulan, mereka ini dibunuh. Awalnya tubuh para korban ini dikubur dekat penjara ini, namun sekitar tahun 1976 mereka kehabisan area, dan akhirnya muncullah killing field seperti Choeung Ek. Dari 17000 tahanan di Tuol Sleng, hanya 12 orang saja yang bertahan hidup. Mereka ini memiliki kemampuan khusus yang dianggap berguna bagi Khmer Merah, misalnya pelukis, bisa membetulkan mesin, atau bahkan sekampung dengan kamerad yang berkuasa saat itu.

Para Artis yang Menjadi Korban : Ros Sereysothea -  Sinn Sisamouth - Pan Ron

Para Artis yang Menjadi Korban : Ros Sereysothea – Sinn Sisamouth – Pan Ron

Pada tahun 1979, setelah rezim Khmer Merah dikalahkan oleh tentara Vietnam, Tuol Sleng ditemukan, dan di dalamnya masih terdapat bekas-bekas alat penyiksaan, bahkan masih ada 14 jenazah korban yang ditinggalkan disini. Mereka juga menemukan dokumen-dokumen dan sekitar 6000 negatif foto dari para tahanan. Ho Van Tay, fotografer Vietnam adalah  yang orang yang pertama mendokumentasikan Tuol Sleng ini. Di bagian depan museum ini terdapat makam dari 14 korban terakhir yang ditemukan disini.

14 Korban Terakhir di Tuol Sleng

14 Korban Terakhir di Tuol Sleng

Tuol Sleng Museum dibagi menjadi 4 bagian. Isinya antara lain sel berukuran besar dimana 14 korban terakhir ditemukan, sel-sel kecil, tempat tidur besi yang dilengkapi dengan besi pengikat kaki, foto-foto penyiksaan, alat-alat penyiksaan, pakaian para korban, seragam para staff Khmer Merah, foto peta Kamboja yang terbuat dari tengkorak (weeww….) dan yang paling banyak adalah foto-foto para korban. Hingga kini masih banyak warga Kamboja yang datang kesini untuk mencari jejak keluarganya yang “hilang” antara tahun 1975-1979. Rasanya dada begitu sesak memandangi wajah para korban pada foto-foto yang dipajang disini. Apakah mereka tahu apa yang akan mereka alami?

Dokumen yang Tertinggal...

Dokumen yang Tertinggal…

Ranjang Penyiksaan

Ranjang Penyiksaan

Sel-sel super kecil

Sel-sel super kecil

Peta Kamboja yang dibuat dari --------

Peta Kamboja yang dibuat dari ——–

O, iya disini kita gak boleh tertawa, bahkan sampai ada gambar larangan tertawa. Duh, boro-boro mau ketawa, mau senyum aja udah nggak sanggup.

Tumpukan Pakaian Korban

Tumpukan Pakaian Korban

Berada disini bikin perut mules, campuran antara serem, merinding, sedih dan marah, semua jadi satu. Gila ya, ada orang yang tega membunuh saudaranya sendiri. Tapi ini masih belum seberapa jika dibandingkan dengan apa yang saya lihat di Choeung Ek.

Perjalanan ke Choeung Ek yang berjarak 15 km dari pusat kota Phnom Penh memakan waktu sekitar 30 menit, melewati jalan raya yang lebar dan berdebu, bahkan sempat melewati beberapa pabrik.

Gerbang Choeung Ek

Gerbang Choeung Ek

Tiket masuk Choeung Ek harganya 10 US$, termasuk audio guide dalam berbagai bahasa. Sedihnya gak ada Bahasa Indonesia,,,, Nah jadi kami disodorkan Bahasa Inggris deh, eh, tapi ternyata ada Bahasa Malaysia. Wah, mendingan Bahasa Malaysia aja deh, biar gak pusing-pusing nerjemahin. Cuma ada beberapa vocab yang bikin lucu, misalnya ranjau darat = periuk api. wedeh.,..

Untuk menghormati para korban yang bersemayam disini, kita dilarang juga untuk tertawa disini. Tapi beneran deh, disini gak bisa tertawa. Buktinya pas saya lihat-lihat lagi foto kami waktu disini, gak ada ekspresi ketawa dari kami berdua. Semua pasang muka manyun. Suasananya emang gak pengen bikin tersenyum atau tertawa.

Audio guide ini memandu kita dari titik pemberhentian satu ke titik pemberhentian yang lain. Jadi setiap area di Choeung Ek diberi nomor, supaya kita berjalan sesuai urutan nomor itu untuk merekonstruksi apa yang terjadi 35 tahun lalu di tempat ini. Di setiap titik ini, jika kita tekan nomor di perangkat audio guide, maka kita bisa mendengarkan apa yang pernah terjadi di tempat yang kita pijak sekarang ini. Mantab lah merindingnya.

Choeung Ek awalnya adalah kebun buah-buahan dan kompleks pemakaman warga Tionghoa, maka masih bisa dilihat bekas-bekas Bong (nisan khas pemakaman China) yang bertebaran disini. Pada tahun 1975-1979, rezim Khmer Merah menggunakan tempat ini sebagai ladang pembantaian dan kuburan masal bagi mereka yang pada masa itu dianggap sebagai musuh pemerintah.

Titik pemberhentian pertama adalah tepat di depan stupa utama. Disini audio guide menjelaskan secara singkat apa yang terjadi di Kamboja menjelang tahun 1975, dan selama pemerintahan rezim Khmer Merah. Setelah selesai mendengarkan penjelasan itu, kami bergeser ke titik 1, dimana dulunya adalah tempat pemberhentian truk-truk yang membawa para korban dari Tuol Sleng ke Choeung Ek. Mereka dijanjikan mendapat kehidupan dan tempat tinggal baru. Tapi itu hanyalah dusta, karena kematianlah yang mereka hadapi di tempat ini. Kami lalu bergeser lagi ke titik 2, yakni tempat detensi, tempat dimana para korban menunggu hari kematian mereka.

Stupa Choeung Ek

Stupa Choeung Ek

Selanjutnya kami beranjak ke tempat yang dulunya adalah kantor bagi para eksekutor, dan tak jauh dari situ kami melihat sebuah gazebo yang dulu dipakai untuk tempat berkumpul keluarga Tionghoa untuk persemayaman sebelum prosesi pemakaman.

Kami beranjak lagi ke titik berikutnya, dimana dulunya adalah tempat penyimpanan bahan kimia. Untuk apa? ada dua tujuan, yaitu dengan menyiramkannya ke atas kuburan masal, bahan kimia ini dapat menutupi bau bangkai, dan juga dapat membunuh para korban yang masih hidup ketika dikubur. Aduh sadis banget deh… Ada juga batang pohon palem yang ukurannya gede banget dan bertujuan untuk memotong leher korban…

Serem ah ngetiknya,,,, Baca disini aja deh : http://en.wikipedia.org/wiki/Choeung_Ek

Kami lalu masuk ke bagian paling mengerikan, yakni lubang-lubang ex kuburan masal, lengkap dengan foto-foto yang menunjukkan kondisi ketika lubang ini pertama kali dibongkar. Percaya atau nggak, masih banyak serpihan tulang dan potongan kain milik para korban yang berserakan di permukaan tanah. Maka kami diingatkan untuk berjalan dengan hati-hati. Pada saat musin hujan, dan area ini digenangi air, kadang masih suka muncul sisa-sisa tulang dari dalam tanah ke atas permukaan… langsung merinding disko kan…

Lubang Pembantaian

Lubang Pembantaian

Yang paling merinding adalah ketika kami melihat lubang bekas kuburan dari korban tanpa kepala. Katanya sih ini hukuman bagi mereka yang pikirannya memihak pada bangsa asing (salah satunya adalah Vietnam). Ada juga lubang bekas kuburan bayi dan anak-anak yang dibunuh dengan cara dibenturkan ke pohon. Aduh udah ah,,, saya jadi ngeri buat menuliskan disini…

Bacalah keterangan di dalam foto...

Bacalah keterangan di dalam foto…

Rumah Arwah, tempat para arwah singgah

Rumah Arwah, tempat para arwah singgah

Pohon ini dipakai untuk menggantung speaker yang memutarkan lagu-lagu perjuangan. Padahal tujuannya hanyalah untuk menutupi teriakan para korban

Pohon ini dipakai untuk menggantung speaker yang memutarkan lagu-lagu perjuangan. Padahal tujuannya hanyalah untuk menutupi teriakan para korban

Disini ada telaga, yang dipinggirnya dikelilingi pematang. Kita dianjurkan untuk mengelilingi telaga itu sambil mendengarkan musik instrumental untuk menghayati sisi indah kebun ini yang dirusak oleh pemikiran picik rezim Khmer Merah. Nah ada yang aneh nih waktu disini. Papi merasa deja vu. Padahal ini pertama kalinya papi melihat dan menginjak situs ini. Nah lho…

Telaga yang bikin papiku deja vu

Telaga yang bikin papiku deja vu

Terakhir kami masuk ke stupa. Sebelum masuk kami membeli bunga untuk menghormati dan mendoakan para korban. Di dalam stupa isinya rak kaca bertingkat yang isinya tulang belulang dan tengkorak manusia yang ditemukan pada tahun 1980. Jumlahnya ada sekitar 8000 tengkorak  tulang panjang  dari 8985 korban yang ditemukan disini. Kebayang kan seremnya gimana? Datanglah kesini untuk merasakan sensasinya dan untuk menghormati para korban yang telah menjadi martir dari sebuah ideologi dan pandangan sempit.

speechless...

speechless…

Sebelum pulang, kami masuk ke Museum yang berisi foto-foto tentang para tokoh Khmer Merah, alat pembantaian, foto-foto korban yang terkenal, dan sekilas sejarah tentang Khmer Merah

Di Tuol Sleng dan Museum Choeung Ek dijelaskan bahwa proses hukum pada para tokoh Khmer Merah masih terus berlangsung hingga kini. Tapi Pol Pot, sang kepala gank sudah wafat tahun 1998 dalam pelariannya.

Nyawa adalah harta yang tak ternilai harganya. Betapa konyol jika karena pandangan sempit, nyawa-nyawa itu dihilangkan dengan sia-sia.

About celina2609

I love to share my feelings and my stories... and now it's very uncomfortable to share them in facebook, so I make this blog... hope you enjoy my stories, and please add some comments,,
This entry was posted in My Journey... and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s