A Trip to Old Town of Batavia

8 November 2008

Aku dan papiku mengantar adikku dan teman-temannya lomba matematika di Unika Atmajaya Jakarta. Waktu lomba yang cukup panjang membuat aku dan papiku bersemangat melangkahkan kaki, walaupun belum tahu ingin kemana.

Begitu  ide pergi ke museum Fatahillah keluar dari mulut papiku, aku langsung setuju… dari dulu aku begitu menyukai wisata di area kota tua Jakarta, apalagi setelah baca bukunya Adolf Heuken : Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta, aku jadi terobsesi dengan area Jakarta Kota…

Menuju kota, kami melewati halte Karet, Setiabudi, Dukuh Atas, Tosari, Bundaran HI (Papi cerita : HI itu adalah salah satu hasil proyek mercusuarnya Bung Karno, n dulunya tuh merupakan gedung tertinggi di Jakarta, sebelum ada Sarinah), Sarinah (nostalgianya papi : dulu jalan dari rumahnya di kawasan Roxy sekitar 8 km, sambil nyeker gak pake sandal sama koko2nya, demi nyobain escalator di Sarinah… Waktu itu pengunjung yang nyeker akan diusir keluar ole securitynya, so si bokap n kokonya nyelip-nyelip di antara pengunjung dewasa… ya ampun ternyata bokap gw ini…

Lalu bus melewati halte BI, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Olimo, Glodok, Kota. Halte Sawah Besar n Olimo ini lagi diperbaiki (yang ke arah Kota) jadi bikin macet Jl. Gajah Mada.

Kembali ke a trip to old city of Jakarta,,, Kami turun di halte busway stasiun kota, n terowongan bawah tanahnya sudah jadi, jadi untuk nyebrang Jalan Pintu Besar (ke arah museum bank Mandiri dan BI), dan untuk nyebrang ke Stasiun Kota harus lewat terowongan itu,,, ya ampun… we need more energy just to cross that streets… (dasar pemalas….), kayaknya jadi lebih jauh deh, soalnya di terowongan itu, jalannya melingkari sisi luar kolam, jadi jaraknya lebih panjang deh…

Session 1 : Museum Fatahillah

Sampailah kami di museum Fatahillah, alias Museum Sejarah Jakarta, yang dulunya adalah gedung balaikota ketika pemerintah Hindia Belanda berkuasa di sini (Stadhuis). Sayangnya waktu kami kesana sedang ada acara atraksi kota tua di taman Fatahillah, jadi rame banget, n gak leluasa buat motret, padahal aku pengen banget motret bagian depan gedung museum itu…. Tanpa ada objek yang lain tentunya…

Tiket masuknya Rp. 2000, dapat brosur n Koran kesra (setelah diminta…. Kalo gak diminta, gak akan dikasih tuh…), begitu masuk lorong pertama, lagsung terlihat sebuah batu peringatan yang mengisahkan bahwa gedung ini mulai dibangun pada tanggal 25 Januari 1707 dibawah pemerintahan Gubernul Joan Van Hoorn,, dan diresmikan tanggal 10 Juli 1710 pada masa Gubernur Abraham Van Riebeck. Bangunan selesai dibangun pada tahun 1712. Bangunan baru ini didirikan sesudah gedung stadhuis yang lama )yang didirikan tahun 1620) dibongkar. Bangunan yang kita lihat sekarang ini adalah stadhuis ketiga. Bangunan  pertama berdiri dari 1620-1627, kemudian bangunan yang kedua dari tahun 1627-1707 dan sempat dijadikan tempat memakamkam sementara J P Coen.

Target pertama kami adalah penjara bawah tanah yang terkenal itu, eh bukan target pertamanya adalah WC (udah kebelet….), ternyata penjara yang ada di lantai 1 itu pendek banget, kami aja gak bisa berdiri tegak di dalamnya, trus gelap, sumpek, n bau,,, di dalamnya ada bola-bola besi buat ngiket kaki para tawanan… gila sadis banget, pantesan aja dulu banyak banget tawanan yang mati disitu karena penyakit,,,, malah katanya penjara ang kecil itu bisa diisi oleh ratusan tawanan… waktu pembantaian etnis tionghoa tahun 1740, banyak orang-orang Cina yang dipenjara disini, dan mati disini, atau dihukum di halaman gedung ini. Jangan-jangan salah satu nenek moyangku juga jadi korban juga ya…

Di halaman belakang museum, atau di depan penjara, ada sumur tua, nah tepat banget di dekat sumur itu ada dua turis bule yang didampingi oleh guidenya yang orang Indonesia tulen. Si guide itu menjelaskan dengan berapi-api (baca : ngomongnya kenceng banget),jadi kami ikutan nguping… eh bukannya ngerti, kami berdua malah bingung… abis dia malah gak nyeritain cerita sumur itu, tapi malah nyeritain tawanan2 dsb…jadi kita tinggalin deh…

Target berikutnya adalah meriam si Jagur (yang agak ‘nyentrik’ di bagian ujungnya…), yang konon bisa memberikan kesuburan buat siapapun yang memegangnya. Awalnya sempet bingung, kok meriamnya hilang, seingatku si Jagur ini langsung terlihat begitu kita di halaman belakang museum. Eh ternyata meriam ini dipindahkan ke bagian yang agak belakang (dekat deretan ruang kantor), dan sedang direnovasi bagian penyangganya. Yah, kok aneh sih, benda bersejarah begitu dipindah2 seenaknya… Pada meriam si Jagur ini ada tulisan “Ex me ipsa renata svm” yang artinya “dari saya sendiri aku dilahirkan”. Tulisan ini menunjukkan bagaimana si Jagur dibuat dari 16 buah meriam kecil

O iya deket meriam ini ada jangkar yang tergeletak di lantai,,,gede banget, pengen motret tapi gak cukup saking gedenya, n gak ada space juga buat yang motretnya,,,, ada juga potongan relief2 bergambar perahu yang masih bagus dan terlihat jelas… Nenek moyangku seorang pelaut… trus ada juga patung Hermes, sang dewa perang. Kalo menurut papiku sih, dulunya kayaknya patung itu ada di daerah Harmoni, sempat hilang, dan sekarang dipindah kesini. Yang sekarang di Harmoni adalah replikanya.

Trus kami masuk ke bagian dalam museum, lewat pintu paling kiri dari halaman belakang.  Di ruangan pertama itu ada koleksi kristal (kayaknya bekas kap lampu deh), disitu ternyata ada ruang bawah tanah juga, tapi terendam air entah apa penyebabnya, dan entah itu ruang untuk apa. Yang pasti hawanya sumpek, dan bau.

Kami naik ke lantai atasnya, dan disana ada piring besar dari Jepang, yang walaupun sudah pecah, tapi masih cantik dan indah… ada pembatas ruangan yang terbuat dari ukiran dan bergambar Dewa Palas Athena, sisa-sisa kursi, meja, dan tempat tidur dari jaman Belanda dulu. Sayangnya nilai historikalnya kurang terlihat. Pada setiap meja atau kursi hanya tertulis : kursi dari kayu jati, dibuat di Batavia, dari abad 18. jadi pengunjung2 hanya melewatinya saja tanpa kesan… andaikan saja kita bisa tahu, siapa saja yang pernah duduk di kursi itu, misalnya kursi ini pernah diduduki oleh Daendels, mungkin kita bakal lebih memperhatikannya…

 

Di museum ini juga ada lukisan-lukisan, antara lain lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro yang pernah ditahan di lsayap kiri lantai 2 gedung ini, lukisan kisah Raja Salomo yang adil ketika meutuskan perkara dua wanita yang memperebutkan seorang anak, diapit oleh lukisan Raja Cambyses yang memerintahakan hakim Sisamnes yang korup untuk dikuliti dan lukisan Raja Zaleukos dari Lokri yang mengornbankan salah satu matanya untuk mengambil alih hukuman anaknya yang melakukan kejahatan. Selain itu, ada juga lukisan Daendels, Tuan dan Nyonya De Witt, yang konon adalah salah satu keluarga terkaya di Batavia, dan lukisan Van Der Parra (Gubernur jenderal Batavia tahun 1761-1775).

Di lantai paling atas ini, dari ruangan tengah, ada jendela besar, yang dulunya menjadi tempat para Belanda2 itu menonton tawanan-tawanan yang dieksekusi mati di halaman depan balaikota. Sayang karena tertutup tenda, halaman museum tak kelihatan deh…. O iya, pedang untuk mengeksekusinya masih ada lho diletakkan dalam kotak kaca dan digantung  di lantai 2 museum, dekat dengan pembatas ruangan palas athena.

Di lantai dasar sayap kanan gedung disimpan batu2 prasasti dari berbagai kerajaan awal di Indonesia, seperti prasasti Ciaruteun, Kebon Kopi, Tugu, Muara Cianten, dan Padrao, sayang semuanya replika saja (yaaahhhh…). O iya, di ruangan yang lainnya ada maket dari kelenteng Cilincing dan maket Gereja Batavia Lama, yang sekarang tanahnya ditempati oleh Museum Wayang (bekas gereja Batavia Baru). Gereja Batavia Lama ini sangat istimewa, jadi kalo dilihat dari atas, bentuknya seperti palang salib yang sama sisi.

Sebelum keluar museum, kami melihat lukisan besar di dinding, sepertinya menceritakan penyerbuan tentara Mataram ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629, yang hingga kini menyisakan sebuah kisah lucu. Jadi ketika itu tentara Belanda kehabisan amunisi senjata untuk melawan orang Mataram, dan mereka menggunakan kotoran manusia yang dilemparkan ke prajurit Mataram. Prajurit Mataram serta merta berteriak “bau tahi” dan konon itu cikal bakal nama Betawi = Bau Tahi…

Di halaman depan museum ada sebuah bangunan kecil, yang dulunya adalah tempat pancuran air yang menjadi sumber air satu-satunya di kawasan Batavia. Pancuran ini dibuat tahun 1743, namun bangunan yang ada saat ini adalah bangunan hasil rekonstruksi tahun 1972 karena bangunan yang lama hilang. Ketika kami kesana, di halaman depan museum ini dipenuhi oleh peserta lomba masak, penjual makanan, cinderamata, pameran mobil antik (keren2 tapi cc nya bikin pingsan, apalagi bensin mahal banget sekarang).

Sekilas sejarah museum Fatahillah : Pada tahun 1816, di tempat ini dilakkan serah terima Batavia dari Inggris (oleh Sir John Fendall) kepada pihak Belanda. Pada tahun 1925, gedung ini dijadikan kantor pemerintahan Jawa Barat. Barulah pada tahun 1974, Gubernur Ali Sadikin meresmikannya menjadi museum sejarah Jakarta.

Setelah puas di museum Fatahillah, kami bermaksud memotret toko merah dari seberang Kali Besar. Toko ini dan bangunan di dekatnya (yang hiasan di atas pintunya terkenal banget) sebenarnya juga adalah bangunan bersejarah, tapi sayang sepertinya sekarang terlantar. Bahkan bangunan di dekat toko merah itu akan disewakan. Dari jalan Kali Besar Timur, kami menyusuri Jl. Bank, di sisi Bank Indonesia, dan akhirnya tanpa direncanakan kami mampir deh ke Museum Bank Indonesia.

Session 2 : Museum Bank Indonesia

Sejak menginjakkan kaki pertama kalinya di halaman museum ini, aku langsung terpesona dengan bangunannya yang berpilar-pilar. Hmm,,, hebat banget ya orang-orang Belanda membuat bangunan yang megah, dan masih bertahan seelaha ratusan tahun berikutnya, walaupun dilanda gempa dan bencana lainnya… kalo kata papi sih mungkin karena bahannya gak ada yang dikorupsi… jadi kuat deh… masuk akal… tapi VOC runtuh karena korupsinya khan? Yaa gak bisa dipukul rata juga sih… Bangunan ini dibangun pada tahun 1912, dan beberapa bagian dibangun setelahnya. Awalnya gedung ini dijadikan rumah sakit dan kemudian pada tahun 1928 dibeli oleh De Javasche Bank (cikal bakal Bank Indonesia). Gedung ini adalah rancangan arsitek Cuypers dan Hulswit yang juga merancang gedung Chartered Bank di Kali Besar Barat.

Ternyata Museum BI is for free… tadinya kalo mahal, kami berniat gak jadi masuk.. hehehe.. hanya kita wajib menitipkan tas, dan untuk di beberapa ruangan tidak boleh memakai blitz kamera. Ruangan pertama yang kami masuki adalah arena perminan tangkap koin. Jadi di dindingnya ada banyak koin-koin berterbangan dan jika kita tangkap koinnya, akan muncul keterangan tentang koin tersebut. Cara menangkap koinnya agak lucu, jadi kedua tangan dilingkarkan di atas kepala, dan mulai deh menjebak koin-koin yang terbang, koinnya kadang2 kabur sebelum ditangkap, bahkan dia masih protes gitu pas udah ditangkap… seru banget, sampe betah deh,,, selain itu kami jadi tau, ada koin-koin edisi khusus yang tidak pernah beredar di pasaran, seperti koin 250rb rupiah yang terbuat dari emas… (wah kalo koinnya jatuh langsung penyok bisa2…)

Setelah keluar dari arena tangkap koin, kami masuk ke ruangan yang isinya cerita-cerita unik dan lucu tentang uang, bank, dan ekonomi,,, wah belajar ekonomi bakal lebih menyenagkan dan lebih nyantol dengan cerita2 begini… ada juga film2 dan layar2 touch screen tentang sejarah Bank Indonesia dan sejarah perekonomian Indonesia,,, ternyata dulu pernah ada uang edisi khusus untuk Irian Jaya dan Riau lho… trus ada cerita tentang pengguntingan uang oleh Sjarifudin, pada tahun 1950. Dulu waktu sekolah harus ngapalin setengah mati nih,, tapi kemarin sekali baca langsung ngerti…

Selanjutnya kami pergi ke ruang pameran uang, tapi sebelumnya ada ruangan yang menceritakan sejarah uang2 di Indonesia, mulai dari jaman barter, sampai sekarang. Ada juga papan bergambar uang 10000 gambar Ibu Kartini yang wajahnya dilubangi, jadi masukin aja muka kesitu, n difoto, jadilah uang edisi wajahmu,,,, trus di lantainya ada uang yang gede banget, diameternya mungkin lebih dari 1 meter, dan terbuat dari logam. Bayangkan kalau uang sekarang kayak gitu, bisa bongkok dah orang yang berduit banyak…. Bawa sekeping aja perjuangannya berat banget… Di ruang pameran uang ada koleksi uang-uang Indonesia dari zaman Belanda, sampe uang yang kita kenal sekarang, ada juga kertas obligasi negara yang dulu ditukar dengan potongan uang pada tahun 1950 itu.

Session 3 : Museum Bank Mandiri

Keluar dari Museum BI, kami melihat ibu2 penukar uang yang bawa tas segede gaban, berisi gepokan uang-uang dari berbagai pecahan…si Ibu cuek aja gak takut dirampok gitu.. duh tuh ibu kaya banget ya,,,, pulangnya lewat mana, Bu? Hehehehehe

Tadinya kami gak berniat masuk museum Bank Mandiri, tapi pas lewat, ada anak2 UI, mengajak kami masuk, n katanya gratis (hehehehe), jadi kami tertarik deh, Ternyata hari itu ada festival Sinologi di museum itu yang diadakan oleh jurusan Sastra Cina UI…

Museum ini ternyata dulunya dalah gedung Nederlandsche Maatschappij NV (duh namanya susah banget dah). Disini banyak banget koleksi-koleksi mesin-mesin di bank dari jaman dulu (sebelum ada komputer; ukurannya bener-bener gak kuat,,,, gede banget, ada mesin ketik yang panjangnya mungkin lebih dari 1 meter ), buku-buku besar (yang namanya sesuai dengan ukurannya ^^), kalkulator yang gede banget, telepon jaman dulu, bahkan ada mesin lift tua, mobil tua, bahkan lift yang dipakai aja antik banget… sampe serem mau masuknya,,,

Kami turun ke lantai bawah, tadinya niatnya mau liat pameran sambil nyari makanan (laper euy), tapi ternyata gedung-gedung di sekeliling halaman itu menyimpan banyak hal… begitu kami masuk, ke salah satu ruangan, aura ngerinya langsung terasa, coz banyak jeruji-jeruji mirip terali penjara, ternyata itu bagian dari ruang penyimpanan bawah tanah… ruangan di sebelahnya gak kalah aneh, pintunya aja terbuat dari logam dengan tebal 100 cm, sama dengan tebal dindingnya. Di pintunya ada alat semacam kunci brankas, mungkin itu sebagai kunci untuk membukanya… kami masuk ke ruangan itu dan menemukan tumpukan kotak seperti laci yang diberi nomor, sepertinya itu laci untuk menyimpan barang berharga, di ujung ruangan itu (yang benar-benar buntu) ada brankas2 besi. Agak parno juga, soalnya kalo kekunci di ruangan itu, bener2 gak bisa keluar… bisa mati di dalem dah, kasarnya,,,  di dekat laci-laci itu, ada tempat duduk yang bentuknya mirip tempat duduk perpustakaan, dan disitu ada satu patung pria sedang duduk, kalo diliat dari ekspresinya sih dia lagi bingung ato stress begitu, di mejanya bertebaran kertas obligasi. Jadi tambah ngeri gitu,,,,

Setelah kembali ke halaman lantai dasar, kami menemukan masalah baru, kami lupa harus keluar kemana, dengan kata lain : nyasar! Sempet panik, n bingung, untungnya ada panitia festival, jadi nanya dia deh,,,,ternyata kami harus naik dulu ke lantai 1… hehehe…jadi malu…

Ternyata ada lantai 2 dari gedung itu, dan di dindingnya ada mosaik dari kaca patri yang keren banget, dan setelah diingat2, kaca ini nongol di video klipnya Kerispatih “Bila Rasaku Ini Rasamu”, oh jadi syutingnya disini ya… di bagian bawah mosaik ini ada mosaik yang bertulisan, yang sepertinya menjelaskan bahwa seseorang yang bernama Dr C J K Van Aalst pernah menjadi presiden Nederlandsche Handel Maaschappy te Amsterdam pada tahun 1932..

wah udah capek banget n pegel, jadi sudah lah kami berdua keluar dan mengakhiri perjalanan kota tua sampai di situ saja…

Udah cape masih harus menyusuri terowongan buat sampe ke halte busway, n masih ngantri panjang buat naek busnya,,,, aduh mak,,,capek deh…

 

 


2 thoughts on “A Trip to Old Town of Batavia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s