Museum Bahari

8 Januari 2009

Museum bahari… sisi kota yang terlupakan…

Aku sudah dua kali datang ke Museum ini. Pertama kali pada tanggal 7 Maret 2008, bertepatan dengan hari libur Nyepi. Waktu itu karena hari libur nasional, maka museumnya tutup, tapi setelah agak memelas pada penjaganya, aku (bersama papi dan adikku) diperbolehkan masuk, ilegal sih, tapi kami tetap bayar karcis masuk kok… Waktu itu kami tidak bawa kamera, karena memang tidak sengaja mampir kesana, jadi sepulang dari Gereja Sion, aku sendirian mampir ke museum Bahari untuk mencari objek foto di sana.

Dari Gereja Sion, aku menyusuri Jalan Jembatan Batu, lalu menyebrang tepat di depan Museum Bank Mandiri, lalu melalui jalan Pintu Besar Utara dan membelok di Jalan Kali Besar Timur 4 ke arah Jalan Kali Besar Timur, di sisi Kali Ciliwung yang baunya amat semerbak itu… Di jalan ini, aku melewati Gedung ex BDNI, lalu bertemu dengan terminal bus kota tua. Di sisi kali Ciliwung sedang dilakukan pembangunan trotoar dan halte, dan masih belum selesai. Aku amat menyayangkan kondisi gedung-gedung tua di jalan Kali Besar Timur dan Barat yang mengenaskan, tak terurus, bahkan ada sebagian yang hampir roboh atau bahkan atapnya sudah berlubang.. Sepertinya menyedihkan sekali kondisi mereka itu, padahal letaknya tidak jauh dari Museum Fatahillah dan tamannya, yang selama ini digembar gemborkan sebagai objek wisata Kota Tua Jakarta yang indah… Di jalan Kali Besar Barat ada sebuah bangunan berwarna merah bertuliskan Kaliber 11 (Kali Besar 11), rumah ini dikenal dengan nama Toko Merah. Rumah ini adalah rumah kopel yang dibangun sekitar tahun 1730 dan pernah ditempati oleh Gubernur Jenderal Van Imhoff, kemudian pernah menjadi academie de marine. Ada pula rumah berwarna kuning muda yang di atas pintunya tertulis “for rent”, rumah ini terlihat kusam sekarang, padahal dulunya di rumah ini pernah tinggal Baron Friederich Von Wurm (pemrakarsa Perhimpunan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia dan pendiri perpustakaan nasional). Di ujung Jalan Kali Besar Barat ada gedung Chartered Bank Of India, Australia and China. Pada tahun 1994 pernah dilakukan pemugaran yang dipelopori oleh mahasiswa arsitektur Universitas Tarumanegara. Tapi kok kayaknya pemerintah sendiri tidak peduli dengan rumah-rumah tua ini, padahal walaupun mereka bukan museum, mereka ini dulunya adalah saksi sejarah yang terjadi di dalam kota tua Batavia, lagipula jika mereka ini diperbaiki pastinya akan menambah suasana asri dan bersejarah di area kota tua ini… percuma dibangun trotoar yang indah kalau i sekelilingnya hanya ada gedung tua yang suram dan rusak…

Aku meneruskan perjalananku hingga bertemu jembatan Kota Intan yang juga dikenal sebagai Jembatan Pasar Ayam (Hoenderpasserbrug). Jembatan ini adalah jembatan jungkit terakhir di Jakarta, dulunya jembatan ini bisa diangkat jika ada kapal-kapal yang hendak lewat. Sekarang sih jebmbatan ini sudah tidak boleh dilintasi lagi, maklum sudah menjadi salah satu objek sejarah. Aku membelok di jalan nelayan timur, melewati kerumunan angkot yang ngetem, jujur agak ngeri juga sih… lalu aku membelok ke kiri melalui jalan Tongkol, yang sebagian jalannya rusak dan tergenang air (tepatnya di bawah fly over), untung penduduk sekitar meletakkan karung-karung pasir di sisi jalan, sehingga memudahkan pejalan kaki lewat, ya, memang agak canggung juga soalnya tepat di bawah fly over itu ada warung kopi yang isinya bapak-bapak berbadan besar dan berwajah sangar. Sepanjang jalan aku sering dilewati truk-truk besar, sepertinya keluar dari Pelabuhan Sunda Kelapa, wah setiap truk lewat debunya berterbangan. Karena banyak hal pengalih konsentrasi ini, akhirnya aku tidak sempat melihat bekas gudang Belanda yang tersembunyi di Jalan Tongkol ini.

Di ujung Jalan Tongkol, aku membelok ke kiri yaitu ke Jalan Pakin, dari sini sudah terlihat gerbang masuk Pelabuhan Sunda Kelapa. Aku menyempatkan diri untuk berdiri di sebuah jembatan di Jalan Pakin untuk memotret pintu air pasar ikan dan puncak-puncak layar dari kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan. Saat sedang memotret, aku merasakan tanah yang kupijak bergetar, sempat kaget dan panik juga sih, ternyata setiap ada truk besar lewat, jembatan itu bergetar… wah agak mengerikan juga…

Tepat di belokan jalan pasar ikan menuju Museum Bahari terdapat menara Syahbandar yang didirikan tahun 1839 untuk mengamati dan memberi tanda pada kapal yang hendak berlabuh. Tadinya aku bermaksud naik ke sini, aku menemui seorang bapak yang katanya penjaga menara, beliau bilang untuk naik ke sini hanya membayar Rp.2000 tapi beliau tidak bisa memberikan tiket karena hanya bertugas menjaga saja. Tadinya aku sudah mau naik, tapi karena di situ banyak sekali orang yang nongkrong dan ada beberapa yang bertingkah laku agak aneh dan menyeramkan (untuk ukuran aku), akhirnya batal deh, nanti saja deh kalau beramai-ramai…

Akhirnya aku masuk ke Museum Bahari, benar-benar sangat sepi, selama aku berkeliling di sana, aku hanya menemukan kurang dari 10 orang pengunjung saja. Merekapun tidak terlalu lama berkeliling di museum ini. Bau laut yang bercampur bau macam-macam bertebaran memenuhi udara di Museum ini. Museum ini memiliki keunikan yaitu konstruksinya terbuat dari kayu. Gedung ini mulai didirikan tahun 1652 dan museum yang sekarang ini adalah bagian dari gudang VOC di sebelah barat (Westzijdsche Pakhuizen) untuk menyimpan pala, lada, kopi, teh dan kain dalam jumlah besar. Bangunan ini beberapa kali mengalami perubahan antara lain pada tahun 1718, 1719, 1759 dan 1771.

Setelah membeli tiket aku beranjak ke sisi kanan museum dan langsung disambut oleh peta Batavia yang cukup besar, kemudian ada beberapa miniatur dari berbagai jenis kapal, baik yang asli Indonesia maupun kapal asing. Ada pula peralatan-peralatan kapal, seperti kemudi dan dayung. Kebanyakan sih diisi oleh papan-papan cerita seperti tentang pelabuhan-pelabuhan Indonesia, jenis-jenis kapal, cerita tentang kota tua. Menurutku seharusnya papan-papan ini bukanlah pengisi dari suatu museum, tapi isi dari brosurnya atau dari buku panduannya. Aneh sekali rasanya keliling museum yang isinya hanya papan informasi saja. Memang sih menambah banyak ilmu, tapi kok aneh aja rasanya.. kesannya jadi cuma untuk mengisi kekosongan museum saja.

Ada satu hal yang menarik perhatianku yaitu lantai museum ini sangat basah, terlihat dari warnanya yang gelap dan baunya yang apak. Entah apakah karena musim hujan atau apakah museum ini terkena rob, atau apakah karena pintu air pasar ikan yang ditutup terus, sehingga banyak air kali ciliwung yang diserap tanah dan kayu museum ini? Wah, bisa-bisa gak panjang umur nih museum….

Masuk ke ruang berikutnya, suguhannya masih sama yaitu kapal-kapal, dalam ukuran kecil maupun lebih besar. Aku kemudian naik ke lantai 2 museum ini, wah kok kayaknya kosong banget ya, lebih kosong daripada kali terakhir aku kesini. Disini ada tiruan tembok batas kota tua (yang masih ada sampai sekarang di sisi belakang Museum Bahari), ada peta-peta kepulauan seribu, ada berbagai jenis jangkar, mercusuar, lampu suar, o iya ada juga tiruan dari ruang nakhoda, lengkap dengan pengatur kecepatan, kemudi dan lukisan laut, serasa benar-benar jadi nakhoda deh.

Di lantai dua ini pemandangannya masih sama, ada miniatur berbagai jenis kapal, ada juga awetan ikan duyung, awetan binatang laut yang direndam di air keras, foto-foto sejarah pelayaran Indonesia, foto pahlawan Indonesia, gambar penyebaran ikan, dsb. Sejujurnya agak mengerikan juga disini, selain sepi, juga agak suram suasananya. Selain itu agak membosankan juga karena benda-benda yang dipamerkan tidak disertai keterangan yang lengkap dan menarik. O iya ada beberapa lemari display yang kosong, entah tadinya berisi koleksi apa, dan entah dimana koleksi itu berada sekarang.

Eh, ternyata masih ada tangga menuju lantai 3, tapi ternyata hanya berupa ruangan kosong di bawah atap. Disini suasananya lebih spooky lagi,,,plus bedebu pula… tapi ada beberapa jendela yang terbuka dan memungkinkan kita untuk memotret ujung2 layar kapal di Sunda Kelapa…

Aku kemudian turun ke lantai 2 dan berpindah ke arah gedung museum yang satu lagi (yang di sisi barat). O iya gedung museum ini agak unik karena terdiri dari dua bangunan panjang yang tidak sejajar, membentuk seperti kaki segitiga, dan satu bangunan pendek di antara keduanya.

Dari lantai 2 sisi barat ini ada jendela terbuka mengarah ke Menara Mitra Bahari. Aku melihat suatu pemandangan yangamat aneh yaitu rumah-rumah kayu yang sepertinya berdiri di tengah kolam air. Ternyata rumah-rumah ini sudah ada sejak abad 17 atau 18,,entah apa memang area sekelilingnya yang rawa-rawa atau rumah ini habis kebanjiran? Pada lantai dasar gedung ini kita disuguhi kapal-kapal dari berbagai daerah di Indonesia, hanya sayangnya, sebagian sudah rontok kayunya, ada yang terguling, berdebu dan tanpa keterangan. Duh menyedihkan banget deh… kok tidak seindah yang kulihat di TV ya?

Sebelum meninggalkan museum ini, tepat sebelum pintu gerbang, ada lorong kecil, di atasnya ada sebuah serambi gantung terbuat dari kayu, aku bermaksud naik ke atasnya untuk mengambil foto menara syahbandar dari situ. Baru sampai setengah perjalanan, aku mengurungkan niatku karena kayu-kayunya sudah tidak terpaku lagi, alias sudah banyak yang copot, kalau dilanjutkan wah bisa jatuh deh, dan serambinya bisa roboh juga… hmmmh…

Keluar dari jalan pasar ikan, aku mengambil rute lain untuk kembali ke stasiun kota. Aku menyebrang jalan Pakin, melewati jembatan dan masuk ke jalan Kakap. Di pinggir Jalan Kakap ini ada bangunan bekas galangan kapal VOC, yang diberi lambang VOC pada salah satu sisinya. Bekas galangan ini ditempati beberapa restaurant (Gedong Galangan), masih ada pula bangunan bekas ankerwerf (tempat jangkar) yang akhirnya digunakan sebagai gudang. Kondisi bekas galangan kapal ini sepertinya sih masih lebih baik daripada Museum Bahari…

Semoga ada yang mau memperhatikan kondisi museum ini…

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s