Museum Wayang

Hmm….  Ini adalah kali kedua aku berkunjung ke Museum Wayang. Soalnya dulu waktu pertama kali datang ke sini, aku bener2 blank,, nah setelah baca bukunya Heuken yang Historical Sights of Jakarta, baru deh sadar bahwa banyak banget yang tersembunyi di dalam gedung ini, so aku kembali ke sini deh…

10 Desember 2008

Museum Wayang ini didirikan di atas tanah bekas Gereja Belanda Lama dan Gereja Belanda Baru, jadi bukan menggunakan bekas gedung Gereja tersebut. Posisinya sekarang ada di Jl. Pintu Besar Utara no. 27, tepat di sisi kiri Taman Fatahillah. Kalo diliat dari depan agak2 bingung juga sih, ada dua bangunan yang bentuknya hampir mirip saling bersebelahan, cuma entah apakah gedung yang sebelah kanan itu masih masuk otoritas museum Wayang ataau bukan, yang pasti pengunjung masuk dari banguna yang sebelah kiri, itu pun agak bingung nyari pintu masuknya yang agak2 nyempil.. O iya harga tiketnya relatif murah, Rp.2000 untuk orang dewasa, plus dapet brosur (Cuma sekali lagi : jangan malu buat minta brosurnya, soalnya kalo gak diminta biasanya gak dikasih tuh brosurnya).

Begitu masuk museum, di dinding kiri ada batu bertulis berwarna coklet. Tulisan tersebut ditulis dalam bahasa Belanda, katanya sih artinya begini : gedung ini didirikn di atas tanah Gereja Belanda Lama, dibeli oleh Bataviaasch Genootschap pada 24 April 1937, nah tulisan selanjutnya kagak ngarti dah….

Di dinding seberangnya tepat di dekat tangga naik ke lantai 2, ada cerita singkatnya dalam Bahasa Indonesia, entah apa itu terjemahannya, tapi kayaknya bukan deh.

Menurut cerita sejarahnya sih Gereja Belanda Lama (Oude Hollandse Kerk) didirikan tahun 1640 di atas tikungan sungia Ciliwung yang diluruskan (jadi dulunya tanah ini adalah sungai Ciliwung, nah pas Sungai Ciliwung diluruskan th 1632, bagian ini diuruk tanah, dan di atasnya dibangun Gereja). Tahun 1732, gereja ini dibongkar karena orgel dari Belanda yang gak muat a.k.a gak bsa masuk ke dalam gereja.

Tahun 1736 dibangun Gedung Gereja Belanda Baru (Nieuwe Hollandse Kerk) didirikan di tanah ini, pada gempa bumi, gereja ini retak, dan kemudian tanahnya dijual oleh Daendels (padahal katanya sih, jemaatnya mau membayar biaya pembangunannya, tapi gak boleh sama Daendels). O ya, kedua gereja ini punya keunikan, yaitu dasar fondasinya yang berbentuk salib. Di sekelilingnya (Cuma gak tau pastinya dimana) konon adalah bekas pemakaman.

Pada tahun 1912, bangunan baru yang sekarang dapat kita lihat mulai dibangun, dan pada tahun 1938, seluruh gedung dipugar, dan pada tahun 1939 dijadikan Museum Batavia. Oleh gubernur Ali Sadikin pada tahun 1975, museum ini diresmikan menjadi museum Wayang (baca Heuken : Historocal Sights of Jakarta)

Di lantai 1, di sebelah batu coklat berbahasa Belanda itu, ada sepasang ondel2, trus di dinding lorong menuju taman ada display berisi boneka si Unyil (nostalgia banget dah…), trus da juga lukisan2 wayang (Wayang Beber; wayang berbentuk gambar yang menceritakan suatu kisah). Sayangnya karena kami gak tau banget cerita wayang, jadi hampir semua display itu dilewati begitu saja… masuk ke taman besar, suasananya udah beda banget, gak wayang lagi…. di dinding kiri taman ada batu-batu nisan tua (ada 8) milik mereka yang dulu dimakamkan disini. Nisannya gede banget dan di bagian paling atasnya ada lambang keluarga mendiang. Sayangnya beberapa dari nisan-nisan itu tulisannya sudah memudar jadi dipertebal dengan tinta putih, dan bentuk tulisannya agak acak kadut…Nih nama-nama yang tercantum di nisan itu :

  • Francoisa (Lucas), yang bisannya udah tinggal sisa-sisanya aja.
  • Gustaaff Willem Baron Von Imhoff, mantan gubernur jendral Belanda ke-27 (1743-1750), yang lambang keluarganya rame banget dengan alat perang (ada panah, meriam, pedang, tombak), meninggal tanggal 1 November 1750. (buset nisannya udah berumur lebih dari 250 tahun).
  • Abraham Patras, mantan gubernur jenderal Belanda ke-24 (1735-1737)
  • Suami Istri : Elisabeth van Heyningen – Willem van Outhoorn (gubernur jenderal ke-16; 1691-1704)
  • Rame-rame : Maria Carn Ceboren, Anthoni Caen, Iohanna Gillis Servis, Sussanna Caens, entah apakah mereka dimakamkan dalam satu makam atau tidak.
  • Suami Istri (lagi) : Cosnelis Caesar Geboor – Anna Ooms
  • Maria Lievens
  • Diogo Fernandes van Boody

Di dinding tepat di atas taman, ada tiga prasasti, yang paling kiri dan kanan menuliskan nama-nama petinggi Belanda yang penah dimakamkan di sini, dituliskan juga bahwa pada tahun 1808, makam-makam ini dipindahkan ke Tanah Abang (sekarang museum Prasasti), dan sekarang konon sudah dipindah ke Belanda.

Nah di prasasti yang tengah itu diceritakan sejarah Pemakaman gereja Belanda Lama dan Baru dan makam di sekitarnya, trus didini juga pernah dimakamkan pendiri Batavia : Jan Pieterszoon Coen. Di bagian bawahnya masih ada lanjutan ceritanya, Cuma udah gak keliatan, tulisannya udah pade rontok.

Nah trus naik ke lantai 2. o iya, sebetulnya da dua tangga naik ke lantai 2, yang pertama tangga di ujung belakang museum, setelah melewati taman, tapi karena sedang direnovasi, tangga itu ditutup, jadi harus naik tangga di depan museum, tepat di belakang meja tiket. Karena renovasi ini juga, banyak koleksi museum yang harus dipindahkan atau disembunyikan sementara,,, plus berdebu2 pula… begitu naik, kami langsung melihat wayang revolusi, yaitu wayang tokoh2 perjuangan Indonesia, seperti Ir. Sukarno, Pangeran Diponegoro, olus ada orang Belandanya juga. Wayang ini dikirim dari Wereldmusseum, Rotterdam. Trus ada juga penjelasan bagian-bagian badan wayang Krisna (Baladewa, penjelmaan Batara Wisnu). Mauk ke ruang display, disini banyak koleksi wayang golek dan wayang kulit, nah masalahnya kami gak kenal  n gak ngerti tokoh2 wayang, jadi ya cuma difoto2 aja, untungnya kami bertemu dengan seorang Bapak pegawai museum yang katanya mengurus perlistrikan museum tapi mengerti sedikit2 tentang wayang, jadi beliau didaulat jadi tour guide deh…trus beliau juga ngasih izin kami buat motret, padahal tadinya kami sempet diomelin lho gara2 motret di ruang display ini.

Hmmm,,, ada wayang golek versi gede banget dari Gatot Kaca, Bima, Gundala, Semar versi Bogor n Cirebon (yang bentuknya lucu banget, buncit dan berpantat gede, tapi konon si Semar ini bijak banget, so don’t judge a book by its cover…), Kumbakarna (adeknya Rahwana yang diserbu pasukan monyet), wayang2 dari Sumatra Utara (buat minta hujan, n buat perayaan kematian, inc Si Gale-Gale), wayang Cina), n wayang dari Polandia n Amerika (yang dari negara lain sedang diungsikan sementara dalam rangka renovasi), punakawan (Gareng yg idungnya bulet, Petruk a.k.a Udawala yg idungnya panjang, Bagong yg perutnya buncit n Cepot yg giginya nongol), n pandawa lima (Yudhistira the wise one, Bima the strong one, Arjuna the handsome one, Nakula and Sadewa the twin). Ada juga perlengkapan mentas wayang, kayak lampu Blencong, seperangkat gamelan dan minatur pementasan wayang untuk ruwatan lengkap dengan buah, sayur, makanan dan hewan yang menyertainya.

O iya, si Bapak itu juga cerita kalo lagi pertunjukan wayang semalem suntuk itu, kita gak boleh pulang atau meninggalkan arean pertunjukan seenaknya, soalnya nanti bakal diganggu sama roh2 halus… syereemm…

 

Trus ada juga wayang kulit dari berbagai daerah, yang dibedakan dari pagangannya. Wayangkulit Jawa pegangannya dibuat dari tanduk kerbau, kalo wayang kulit Betawi dari bambu, n wayang kulit Sumatra pegangannya dari kayu. Trus wayang-wayang dari berbagai daerah Indonesia tuh bisa dibedakan juga dari model dan pakaiannya yang berbeda-beda. Ada juga wayang untuk penyebaran agama Kristen (wayang wahyu), n agama Islam (yang digunakan oleh wali songo), ada juga Wayang Intan, yang di badannya banyak batu-batu intan (katanya masang intannya ini susah banget)

So if you love wayang n love the old town of Jakarta, please come here and you’ll get them all…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s