Sang Biarawan

11 November 2009

Sore itu, seorang gadis kecil berjalan tergesa gesa menaiki tangga gerejanya. dengan hanya menggunakan kaos, rok seragamnya, serta membawa raket – karena dia baru mengikuti ekskul badminton di sekolahnya- gadis itu melangkah dengan pedenya memasuki gereja.
ternyata gereja sudah penuh sesak, karena hari itu begitu spesial, ya, hari itu di gereja diadakan misa penutupan konferensi kwi, gadis kecil itu pun tak mau ketinggalan, ia ingin melihat para bapa uskup dari 34 keuskupan di Indonesia.. bangga sekali hatinya, ketika ia akhirnya bisa menyaksikan perarakan para uskup itu menuju altar gerejanya.
saat misa selesai, ia pun keluar gereja dan bertemu dengan tetangganya yang sedang mengobrol dengan seseorang. ternyata orang itu bukan ‘orang biasa’, dia seorang biarawan dari sebuah serikat, yang berpusat di bandung dan kalimantan barat. ia sendiri asli putra dayak, dan sedang menjalankan tahun orientasinya di sebuah seminari yang letaknya dekat dengan gereja itu.
biarawan itu begitu hangat terhadap sang gadis kecil, ia awalnya menanyakan tentang raket yang ikutan masuk gereja, milik si gadis kecil itu, ia ternyata suka main badminton juga, mereka berbagi cerita tentang badminton, tentang sekolah gadis kecil itu, tentang daerah asal sang biarawan, dan banyak lagi. malam menjelang, mereka pun berpisah. gadis kecil itu sudah ditunggu tetangganya untuk pulang bersama..
ternyta perjumpaan mereka malam itu bukanlah yang terakhir. gadis kecil itu begitu terkejut ketika bertemu lagi dengan sang biarawan dalam misa legio mariae. oh ternyata sang biarawan adalah asisten pembimbing rohani dari salah satu presidium di paroki itu. alhasil, karena keikutsertaannya dalam legio, walaupun hanya ikut di sekolahnya, gadis kecil itu makin sering bertemu dengan sang biarawan yang usianya 10 tahun lebih tua darinya.

Begitu banyak pelajaran hidup, motivasi dan nasehat yang diberikan oleh sang biarawan pada gadis kecil itu. ia pun memberi teladan mengenai kesetiaan pada Sang Bunda Allah, juga menunjukkan begitu banyak kebaikan Sang Bunda. gadis kecil itu behitu termotivasi dan tersemangati. ia seolah memperoleh sosok kakak yang ia dambakan. Ia menjadi lebih rajin belajar, lebih semangat ikut legio, lebih semangat berdoa. gadis kecil itu berbuat yang terbaik agar tidak mengecewakan sang biarawan.
tapi ternyata tugas sang biarawan di kota itu hanya 1 tahun. ia harus kembali menjalankan studinya di kota bandung. di bulan-bulan terakhir tugasnya, ia menyemangati gadis kecil itu, yang akan melaksanakan ebtanas. sang biarawan pergi dari kota itu hanya beberapa hari setelah gadis kecil itu menyelesaikan ebtanasnya.
semula gadis kecil itu tak sadar bahwa pagi itu adalah saat perpisahannya dengan sang biarawan. mereka berjumpa seperti biasa di gerbang seminari usai misa pagi. namun sang biarawan tak mengatakan pada gadis kecil itu, bahwa ia akan pergi.
berhari-hari sang gadis kecil menunggu kehadiran biarawan itu di tangga gereja atau gerbang seminari setiap selesai misa pagi, namun ia tak menemukannya. akhirnya ia menyadari, biarawan itu sudah pergi. padahal ia ingin menunjukkan nilai ebtanasnya yg amat memuaskan, ia pun ingin bercerita bhw ia berhasil masuk sekolah favorit.
gadis kecil itu kecewa pd awalnya, namun ia menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa bagi biarawan itu.
gadis kecil itu kini menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. ia mengirim surat serta kartu ucapan di hari ulang tahun sang biarawan. setelah beberapa waktu datanglah surat balasan dari sang biarawan, yang mengabarkan bahwa dirinya baik-baik saja, dan sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi uas. menerima suratnya, gadis kecil itu tersenyum lega karena ternyata sang biarawan masih berdiri tegak di jalan panggilannya.
tahun baru pun tiba, dan tiba-tiba sang biarawan muncul di suatu misa pagi, di pagi yang amat cerah.
sang gadis kecil amat terkejut dan senang. ketika sang biarawan menghampirinya, ia mengabarkan bahwa ia akan pindah ke kalimantan barat. dan memberikan alamat barunya pada si gadis kecil. ia berpesan pada si gadis kecil untuk belajar dan berdoa lebih rajin lagi.
setibanya di sekolah, gadis kecil itu langsung menuju ke perpustakaan, hanya untuk memperoleh sebuah atlas kalimantan barat. “Tuhan, ternyata kotanya amat jauh, sangat terpencil pula, jauh sekali dari ibukota propinsi.. belum lagi perjalanan kesana akan ditempuh dengan jalur laut. Tuhan tolong lindungilah dia”. gadis kecil itu berasumsi bahwa kepindahan sang biarawan ke pulau kalimantan itu adalah untuk melanjutkan studinya atau untuk melaksanakan tugas perutusannya.
gadis kecil itu mengirimkan surat ke alamat yang baru tersebut, hanya untuk memastikan bahwa sang biarawan sudah tiba dengan selamat. maklum, pada masa itu belum ada teknologi yang namanya handphone. suratnta tak pernah dibalas, dan itu membuatnya was-was. namun ia berpikiran positif, mungkin kesibukan sang biarawan di tempat yang baru ini, rak memungkinkannya untuk menulis surat.
Namun beberapa bulan kemudian, gadis kecil itu mendapat berita yang mengejutkan dari seorang staff seminari, ternyata sang biarawan itu pergi ke kalimantan barat untuk pulang ke kampung halamannya, karena ia sudah keluar dari biara.. ternyata ada masalah denfan keluarganya. ia adalah seoeang putra sulung, dengan seorang adik perempuan dan seorang ibu yang sudah amat sepuh dan katanya sakit-sakitan. ayahnya sudah lama meninggal dunia, dan dengan sangat terpaksa ia harus meninggalkan panggilannya utk menjadi tulang punggung keluarga.

Si gadis kecil begitu kecewa, karena ia tak diberi tahu tentang kenyataan ini, bahkan biarawan itu pun tak jujur padanya. tapi ia sekali lagi berkata “aku bukan siapa-siapa untuknya”. gadis itu mengirim beberapa surat, kartu ulang tahun dan kartu natal, namun tak pernah dibalas satupun..
bulan berganti menjadi tahun, gadis itu akhirnya bisa sembuh dari rasa kehilangannya. teman-teman baru datang silih berganti. hingga gadis kecil itu seringkali hampir melupakan seutuhnya tentang sepenggal kisah hidupnya di masa lalu itu,,
kadang, ia membuka peta berkhayal tentang keberadaan biarawan itu sekarang.
gadis kecil itu sekarang sudah berubah menjadi seorang gadis dewasa, dan merasa bersyukur bahwa biarawan itu adalah salah satu motivator yang dikirimkan Tuhan kepadanya untuk membimbing, membentuk dan menyemangatinya pada saat yang begitu penting dalam hidupnya..
hari ini tanpa terasa tepat 10 tahun sejak malam ketika gadis kecil itu bertemu dengan sang biarawan dan malam ini gadis itu berharap masih diberikan kesempatan untuk berterima kasih pada biarawan itu.
malam ini, sebelum ia terlelap, ia menggumamkan suatu doa “Tuhan,lindungilah dia dimanapun ia berada…”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s