Secuil kisah dari Onrust…

“Dulu airnya gak sedangkal ini…”, kalimat itu mengejutkan kami yang sedang mengamati kehidupan laut di area dermaga Pulau Onrust yang air lautnya cukup jernih meskipun di tepiannya banyak sampah nyangkut.

Ternyata kalimat itu berasal dari seorang ibu yang dulu pernah tinggal di Pulau Onrust ini.

“Dulu airnya dalam, makanya kapal-kapal yang ukurannya cukup besar bisa merapat”, katanya, melanjutkan ceritanya..

“Kok, sekarang bisa mendangkal begini ya, Bu?”, tanya kami.

“Iya, mungkin karena banyak bangunan yang sudah hancur, dan runtuhannya masuk ke dalam laut sini, jadinya dangkal begini deh.”

Memang di dasar laut itu banyak terdapat sisa-sisa batu bata berwarna merah, khas bata jaman dulu, jadi bisa dibilang analisa ibu ini benar. Hal ini akibat abrasi oleh air laut (fakta yang ada menyebutkan, dari luas pulau Onrust yang sebesar 12 HA, sekarang hanya tinggal 7,5 HA saja (iinilah yang menyebabkan dibuatnya break water alias pemecah ombak)). Selain itu, hal ini mungkin juga efek dari penjarahan besar-besaran terhadap bangunan di pulau onrust pada tahun 1968.

“Ibu tinggal disini tahun berapa?”, tanya kami lagi.

“saya lahir disini tahun 1942, dan pindah dari sini tahun 60 atau 61. Bapak saya dulu pegawai bagian mesin dan kapal di rumah sakit disini, tuh tempat kerjanya disitu”, ujarnya sambil menunjuk sebuah bangunan tak jauh dari dermaga. “kalo yang sekarang jadi museum, dulunya bekas rumah dokter.”

“Kalau ibu rumahnya dimana?”

“rumah saya sudah habis kebawa laut”, sambil menunjuk ke pantai bagian utara Onrust. “makanya maket dan peta yang ada di dalam (museum pulau Onrust) salah tuh, rumah saya aja nggak ada, padahal harusnya di situ ada mess dan rumah karyawan rumah sakit.”

memang sejak di dalam museum Onrust, keluarga Ibu ini sepakat bahwa maket yang menjeaskan kondisi Pulau Onrust dulu tidak tepat. banyak bangunan yang tidak ada atau salah tempatnya.

“saya gak nyangka bisa balik lagi ke sini, saya kira sampai mati saya gak akan bisa balik lagi kesini”. ucapnya dengan mata berkaca-kaca

“lho memang sejak pindah Ibu gak pernah kesini lagi?”

“nggak, ini baru pertama kali sejak saya pergi dari sini, dan saya kaget juga ternyata banyak yang berubah. Bulan lalu adik saya dan teman-temannya mancing disini, trus dikasih tahu, katanya ada orang sini yang lagi nyari-nyari warga asli Onrust, jadi hari ini kami dijemput kesini. dari tadi saya nangis terus nginget-nginget masa kecil dulu waktu disini.”

Ibu itu kemudian bercerita tentang keterkejutannya ketika mendengar pulau yang duu dikenalnya sebagai Pulau Sakit, kini berubah menjadi Pulau Bidadari. Menurut beliau, nama itu sangat tidak cocok dengan kondsi pulau Bidadari jaman dulu. Jadi ketika pulau Onrust dijadikan sebaga tempat Rumah Sakit Karantina, pulau Sakit (yang sekarang menjadi Pulau Bidadari) adalah tempat mengubur jenazah dari pasien-pasien yang meninggal. Bapak dari Ibu itulah yang bertugas membawa jenazah-jenazah itu dan memakamkannya di Pulau Bidadari.

“Dulu sekali bawa mayat bisa 5 atau 6 sekaligus, trus dikuburnya juga sekenanya saja, ditimbun pasir. jadi kadang-kadang kalo ada ombak besar masih keliatan sisa-sisa mayatnya yang pada busuk. trus disana juga ada banyak tulang-tulang manusia. dulu waktu saya masih kecil, karena gak ngerti, saya pernah main bola dengan teman-teman pake tengkorak manusia, terus tulang-tulangnya dipakai untuk main gendang. pernah ada teman yang bawa pulang tulang ke Onrust, trus malemnya kesurupan, ternyata yang punya tulang minta tulangnya dibalikin.”

waduh, seram juga ya..

“Trus, dulu di tengah-tengah Pulau Sakit ada sumur gede banget, di dalemnya ada ular besar, jadi porang-orang gak ada yang berani mendekat. Tau deh sekarang masih ada ato nggak. Makanya saya aneh pas denger namanya jadi Pulau Bidadari. Bidadari apanya?? itu sih pulau angker”

Kemudian beliau bercerita tentang kehidupannya di Onrust.

“Dulu waktu masih ada rumah sakit, tiap bulan kita disuntik biar gak ketularan yang sakit. Mereka sakitnya yang cacar gede-gede dan bau busuk, kebanyakan gak bisa sembuh. Tiap sore pasiennya dimandiin trus dibedakin sampe totol-totol dan putih banget. Pakaiannya dicuci pake listrik, kalo abis nyuci, pegawai-pegawainya pada muntah, gak tahan baunya. Setiap orang yang mau masuk pulau ini disuntik dulu, dan gak semua orang bisa masuk ke sini, cuma yang mau jenguk doang. Terus dulu disini sempat jadi tempat tahanan. Kalo yang ditahan di dekat rumah bapak saya pada gemuk-gemuk, karena bapak saya nanam ubi, singkong, sayur-sayuran, jadi mereka makan tanaman yang di kebun bapak. Kalo tahanan yang di tempat lain pada kurus dan banyak yang mati. Pernah juga disini ada tahanan politik. Wah kalo mereka disini hidupnya enak, kadang-kadang suka ada band musik waktu malam.”

“Dulu kalau belanja harus ke Jakarta ya, Bu?” tanya kami

“jaman dulu belanjanya cuma beli ikan aja ke nelayan. Sisanya ditanam sendiri di rumah, mau sayur apa aja ada, garam juga bapak yang buat sendii dari air laut. Itu warung yang ada di situ juga baru-baru aja ada. hebatnya jaman dulu waktu saya tinggal di sini, saya gak pernah sakit apa-apa. mungkin karena makanannya semua asli dari alam.”

Kemudian beliau menunjuk sebuah pohon yang daunnya sangat sedikit. Itu adalah pohon asem, yang sudah ada dari saat beliau kecil. Bisa dibilang usia pohon itu sudah lebih tua daripada usia beliau. Kami menanyakan tentang pohon bergetah aneh yang kami temui di sekelilling pulau Onrust. Suami Ibu itu yang baru saja menghampiri kami bercerita bahwa itu adalah pohon kelor yang getahnya dapat mengusir roh jahat jika dibakar. Dan ada satu hal unik lagi yang mereka berdua ceritakan.

“Kalau mau bawa sesuatu dari sini, minta dulu, jangan main ambil dan bawa pulang, nanti takutnya ada yang minta dikembaliin. Kan jauh kalau harus ngembaliin kesini.”

waduh…gak jadi deh mau bawa pulang kulit-kulit kerang yang cantik-cantik….

Sebelum kami pulang, mereka berdua mengupas beberapa buah (atau biji ya?) ketapang, dan meminta kami mencicipinya. Rasanya? mantabssss…. enak dan gurih…. menurut si bapak, ketapang ini berkhasiat, tapi beliau merahasiakannya dari kami. Kata beliau : “nanti juga terasakan sendiri khasiatnya…”

semoga kesalahan dalam pembuatan maket Onrust bisa segera diperbaiki, selama masih ada saksi mata yang hidup dan bersedia meluruskannya…

jagalah selalu peninggalan sejarah kita, dan jagalah kebersihan laut kita…

*Onrust, 2 Oktober 2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s