Pria tegar itu….

Pria itu segera bangkit dari tempat duduknya, ketika adiknya memanggilnya..
Bukan,,, sebetulnya bukan adiknya yang memanggil, namun seorang perawat di ICU..
Pria itu berjalan dengan tenang menuju ruang ICU, walaupun wajahnya tak bisa menyembunyikan ketakutan dan kekhawatirannya.
Namun ia berjalan dengan tegar, mendahului ibu dan adik perempuannya, bersiap menghadapi segala kemungkinan di depan matanya.

Panggilan dari ICU jarang sekali berisi kabar baik. Pria itu diberi kabar ayahnya sesak nafas, dan kemudian terdengar suara mesin EKG yang mendengung nyaring. Membuat sebagian harapannya terbang.
Ia menyaksikan bagaimana seluruh paramedis ICU berusaha sekuat tenaga memberikan pertolongan pada ayahnya. Sementara ibu dan adiknya sudah tak kuasa lagi melihat itu semua.

Ia ada disana ketika ayahnya meregang nyawa. Ia menyaksikan hal terberat yang dapat disaksikan seorang anak.

Tak lama kemudian, ia keluar dari ruang ICU, masih dengan ketenangan yang sama seperti ketika ia masuk tadi. Semua mata menatap padanya, berharap ia akan membawa kabar baik.
Namun yang dilakukannya sungguh diluar bayangan semua orang.
Ia merangkul adik perempuannya, dan tanpa bicara sepatah katapun, ia mencium kening adiknya.
Kemudian ia berpaling pada ibunya, merangkul ibunya, lalu dengan lembut berbisik di telinga ibunya : “Ayah sudah tiada”.

Ibunya begitu histeris, begitu marah dan memukulinya bertubi-tubi.
Ibunya tak bersedia dirangkul olehnya.
Namun ia tetap tak melepaskan pelukannya dari tubuh ibu dan adiknya.
Ibunya berteriak dan mengatakan ia seorang pembohong.
Tidak, tidak pernah ia membohongi ibunya.
Ia hanya tak ingin harapan yang sudah mereka pupuk, harapan kesembuhan ayahnya, terbang menjauh.
Ia ingin ayahnya sembuh. Ia ingin keluarga mereka yang bahagia bertahan selamanya.

Ibunya masih histeris, ia hanya bisa memeluk ibunya, meskipun ibunya sekuat tenaga memukulnya dan berusaha melepaskan pelukannya.
Ia tak mengatakan apa-apa, ia tak meneteskan air mata.
Bukan berarti ia tidak sedih.
Ia begitu sedih.
Ia merasa begitu tak berdaya.
Tak bisa menahan kepergian ayahnya.
Ia yang menyaksikan bagaimana ayahnya berjuang hingga akhir.
Ia yang akhirnya harus menerima kenyataan bahwa ayahnya harus pergi untuk selama-lamanya.
Namun ia berusaha tegar, berusaha kuat untuk menopang segala kesedihan keluarganya.

Aku sering menganggap pria tanpa air mata adalah pria yang sangat tidak mengerti perasaan wanita.
Pria yang tidak sensitif.
Namun kali ini aku begitu menghargai pria ini.
Pria yang begitu kuat menahan segala kesedihan dan emosinya.

Jika ia menangis, ia tidak bisa menyediakan bahu yang tegar untuk tempat bersandar keluarganya.
Ia tahu ia harus kuat, agar semua bisa bersandar padanya…
Ia tahu ia harus tenang, agar ia bisa memeluk semuanya dalam tangannya…
Dan ia tahu, bahwa harus ada satu orang yang tetap berdiri tegak, karena ada banyak hal yang harus diurus, ada banyak hal yang harus diputuskan, dan ada banyak hal yang harus dihadapi…
Dan ia sadar, saat ini hanya ia yang sanggup melakukannya…

That strong man is my uncle…
And I’m very proud of him…


One thought on “Pria tegar itu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s