Kemanakah perginya tahun-tahun itu?

Kehidupan manusia adalah rangkaian dari perjumpaan dan perpisahan…
Begitu juga yang terjadi dengan hidupku, kira-kira dua minggu terakhir ini…

Menjelang minggu palma, aku dikagetkan dengan kabar meninggalnya Eyang Karno. Eyang atau biasa dipanggil Mus oleh anak dan cucunya ini adalah nenek dari Nadia, teman mudikaku, dan ibu dari Bu Maria, mantan pembimbing mudika, sekitar sepuluh tahun yang lalu… Akhir tahun 2000 tepatnya
Karena beliau meninggal di Bandung, maka aku tidak bisa melihat beliau untuk yang terakhir kali..
Namun berita itu membawa kembali ingatanku pada kejadian-kejadian sepuluh tahun yang lalu, ketika mudika St. Petrus baru saja dibentuk, dengan Alex sebagai ketua, aku sebagai wakil. Biasanya yang paling sering ngumpul bareng adalah aku, Alex, Nadia, Agnes dan Vero.
Waktu itu program kerja pertama kami adalah mengisi acara Natal lingkungan, dengan menyanyi. Jadi kami serius berlatih lagu natal di rumah Pak Suwondo. Selain itu kami juga punya program sosial untuk mengunjungi panti asuhan, sehingga kami harus mencari dana untuk mewujudkan rencana itu. Kami mengumpulkan koran dan kardus bekas dari warga lingkungan, kami juga jualan kue kering sampai ke lingkungan tetangga…setiap malam kami keluyuran jualan kue, latihan nyanyi. Pokoknya aktif banget dah…

Kami menjadi dekat satu sama lain, sering kami nongkrong di rumah Eyang Karno (Nadia) untuk rapat, ato di rumah Pak Wondo untuk latihan (pus dijadikan base camp), atau di rumah Pak Teguh (Vero). Rasanya betul-betul menyenangkan dan lupa waktu… Alex yang pria sendiri jadi body guard kami berempat, alias harus mengantar kami pulang ke rumah… dari jl. Kacapiring (rumah Alex) sampai ke Nusa Indah (rumah Eyang) sudah menjadi rute tempuh kami sehari-hari…

Masa itu, selain sibuk dengan proker, juga diisi dengan kisah cinta bertepuk sebelah tangannya Aan ke Nadia (sempet diomelin ama Eyang tuh…), Agnes yang naksir temannya Nadia (dan sempet jadi pacarnya). Trus ada juga jalan-jalan bareng ke pajajaran buat nyari jeans, dikerjain preman waktu ngumpulin kardus bekas, trus aksi ngambek cewek-cewek pada sang ketua mudika. O iya sempat Nadia gak boleh masuk rumah, gara-gara pulang kemaleman…

Proker pertama berjalan sukses…
Sebelum kunjungan ke Panti, ada juga proker sempilan, yaitu APP, aku kebagian menghubungi Frater Thomas, yang waktu itu sedang dekat denganku. AKu menganggapnya kakak angkatku, karena aku sering curhat dan berkeluh kesah padanya.
Acara itu diadakan di rumah Eyang, tanggal 30 Maret 2001, dan menjadi salah satu acara yang sangat berkean untuk aku, dan kami semua… Aku sangat bangga dengan Frater Thomas yang bisa membawakan acara APP menjadi menarik untuk kami semua.
Proker sempilan ini pun sukses.

Proker berikutnya adalah kunjungan ke Panti Asuhan Vincentius Putri, rekomendasi dari Eyang, karena dulu beliau pernah bekerja disini. Tidak semua anak mudika bisa ikut (karena minim dana), perwakilan diantar oleh Pak Wondo…(sempat kisruh karena masalah transport). Tapi bisa dibilang proker ini juga sukses lah…

Akhir tahun ajaran 2000-2001, Nadia lulus sekolah dan masuk kuliah di Tarakanita. Jadilah ia anak kost. Kami kehilangan salah satu pentolan mudika. Alex juga sibuk dengan persiapan pkl dan skripsinya.
Menjelang akhir tahun 2001, aku bermasalah dengan Vero, salah satunya karena sikap posesifku atas persahabatanku dengan Frater Thomas.
Meskipun banyak kesibukan dan masalah, kami masih bisa mengisi acara di Natal 2001, dan ternyata acara itu adalah proker terakhir kepengurusan mudika kami, dan terakhir kalinya kami berkumpul bersama-sama.
Tahun 2002, giliran Agnes masuk kuliah dan jadi anak kost. Aku semakin jauh dari Vero dan warga lingkungan yang lain, yang aku rasa sangat mencari perhatian Frater Thomas.
Tahun 2003 aku kuliah, Alex lmasuk kerja di Cikarang, dan Vero sekeluarga pindah ke Cikarang. Mudika St Petrus mati total.
Kami bertemu hanya setahun sekali, yaitu saat perayaan Natal saja. Kadang bertemu di gereja, namun hanya sejenak, tak bisa seakrab dulu lagi…
Hmmm… sudah hampir 10 tahun berlalu dari Natal kami itu…

Kembali ke tahun 2011…
Tri hari suci sudah datang… Seperti tahun lalu, aku diminta membantu Legio Mariae menjual buku upacara lilin dan mempersiapkan paskah oma opa. Kali ini ada yang lain, Ka Ina, yang selama ini menjadi motor penggerak Legio Katedral tak bisa pulang ke Bogor. Ka Ina selama ini kerja di Cikarang, namun selalu menyempatakan diri ke Bogor untuk mengurus Legio. Sejak tahun lalu, ibunya tinggal bersamanya di Cikarang, sehingga ia agak tidak enak jika harus ke Bogor dan meninggalkan ibunya sendiri.
Tahun ini Ka Dewi dan Mbak Shinta yang menjadi penggeraknya.
Dan tahun ini juga aku banyak mengenal rekan-rekan baru : Desi, Lerin, Vera, Tarsih dan Roma.
Paling heboh saat jualan lilin dan buku ketika Sabtu Suci. Pada saat misa pertama, stand kami terkena banjir. Maklum hujan turun sangat deras, ditambah lagi para umat yang hendak misa kedua sudah datang jauh sebelum misa pertama selesai.
Seusai jualan dan rekap lilin, kami makan bersama-sama d seberang kantor polisi. Setelah tiga hari jualan dengan lelah, akhirnya kami bisa tertawa lepas dan gila…
Saat misa kedua bubar, barulah kami bisa pulang, dan aku diantar Desi sampai rumah…
Namun, kesibukan itu masih berlanjut keesokan harinya.
Kami kena tugas TTK jam 05:30 pagi, lalu masih harus rapat, jualan buku, nyari souvenir untuk misa oma opa, trus mendekor ruangan dan bungkus souvenir.
Selama masa berjualan buku, aku selalu diajak untuk bergabung lagi dengan Legio. Jujur aku takut, aku sadar aku bukan manusia setia. Menurutku, aku lebih baik jadi orang luar yang siap membantu, daripada jadi orang dalam yang tidak punya semangat.
Namun ketika aku diajak rapat legio di hari minggu paskah, ada kerinduan menyeruak di dalam hatiku. Aku terkenang ex presidiumku dulu : Ela, Albert, Peter, Lucy, Gerry, Okto, Dewi. Saat-saat kami jadi peserta termuda di komisium, saat-saat ikut kuis buku pegangan…
Hey, kapan terakhir kali presidium kami rapat? sepertinya tahun 2002… hmm, sudah 9 tahun berlalu…
Tahun 2004, aku melaporkan LPJ kami sendirian saja, waktu itu komisium dibimbing oleh Rm. Thomas, yang sudah tugas di Rangkas. Aku masih ingat betapa bahagianya aku hari itu karena bisa bertemu lagi dengannya…
Itu 7 tahun yang lalu…
Aku juga mengenang saat aku membantu koordinator Legio Katedral. Saat itu ada 5 presidium yang aktif, dan kini hanya tinggal 2 saja. Aku mengingat orang-orang yang pernah bersamaku saat itu, Mba Endang, Mba Ina, Ka Nana, Mieke, Erwin, Syanie, Michael, Mba Ratna, Ernie, Fr. Rommy, Retha, Rm, Untung, Rm, Heru.
Semua sudah berubah, kami sudah terpisah,, Konflik internal membuat semuanya terpecah belah…
Mba Endang, Mba Ina, Michael, Ernie, Retha sudah punya keluarga. Mba Ratna masih sering ketemu di gereja. Rm Untung pindah ke Cibadak, lalu Sukabumi. Rm Heru pindah ke Cinere, lalu Sukasari.
Fr. Rommy juga sudah keluar dari biara dan sekarang menetap di Sintang, kampung halamannya.
Erwn juga sudah punya keluarga, ia sekarang aktif di komunitas lain.
Syanie, tak jelas keberadaannya.
Ka Nana masih sering kontak, walau akhir2 ini juga tak pernah lagi…
Kapan terakhir kami kami bersama-sama?
Mungkin tahun 2003, ketika aku lulus SMA… Artinya sudah 8 tahun yaa…
rasanya cepat sekali waktu berlalu…

Tepat pada hari paskah, pagi-pagi sebelum aku tugas TTK bersama legio mariae, aku mendapat kabar bahwa Pak Largus, ayah Alex meninggal. Betapa mengejutkan, mengingat pada hari Jumat Agung aku masih bertemu dengannya seusai jalan salib terakhir. Memang waktu itu beliau mengeluh sesak nafas, dan akhirnya harus mencarter angkot untuk pulang ke rumahnya.

Pak Largus adalah seorang sosok yang keras, maklum, beliau adalah turunan Flores, dan pastinya sangat saklek mengenai tata tertib ibadat. Sehingga kami yang muda-muda sering kena teguran keras darinya, tapi puji Tuhan, aku belum pernah kena omelannya. Beliau malah pernah memuji suaraku yang bagus, sehingga aku disuruh untuk memimpin doa rosario. Hmmm, kayaknya itu tahun 2001 deh… Sudah 10 tahun…
Meskipun tak pernah kena omelan, aku sangat segan dengannya, sehingga aku jarang sekali ngobrol dengan beliau. Dulu, kadang jika harus menjemput Alex, Gerson dan Niar di rumahnya saja, aku agak takut…

Di rumah duka, aku sempat mengobrol dengan Alex. Rasanya sudah lama sekali kami tak berbicara sedekat dan selama ini. Aku sempat memeluknya dan mengusap bahunya. Selamanya dia sahabatku…
Ketika aku perhatikan Alex, di sudut matanya terdapat dua garis tipis. Garis yang menandakan usia seseorang. Dua garis menunjukkan usianya sudah melebihi 30 tahun, namun kurang dari 35 tahun.
Aku tak pernah memperhatikan kapan garis itu mulai muncul di sudut matanya. Ketika terakhir kali aku berbicara sedekat ini dengannya, sepertinya garis itu belum ada.
Tunggu, itu sembilan hingga sepuluh tahun yang lalu. Alex masih menjadi seorang mahasiswa, dan aku masih anak SMA.

Malam harinya di rumah duka, aku bertemu dengan Romo Hary dan Romo Thomas. Aku teringat ketika Frater Thomas memperkenalkan Frater Hary pertama kalinya padaku di tangga gereja Katedral 10 tahun yang lalu..
Kemudian persahabatanku yang indah dengan Frater Thomas, yang walaupun hanya beberapa bulan namun memberikan kekuatan padaku untuk beradaptasi di awal masa SMAku. Kemudian keegoisanku yang membuat hubungan kami renggang, hingga akhirnya ia ditahbiskan dan setahun kemudian dipindah ke Rangkasbitung tahun 2003.
Tahun 2004 kami dipertemukan ketika ayahnya meninggal, ada juga Romo Hary disana. Dan aku takkan melupakan ketika ibunya Romo Thomas memeluk Romo Hary dengan erat, seolah ia bisa membagi kesedihannya.
Tahun 2005, Romo Hary pernah menjadi nara sumber untuk acara Kuktek di kampus.
Hingga tahun 2005 aku tak pernah bisa merelakan kehancuran persahabatanku dengan Romo Thomas. Aku berusaha mencari dan mengusahakan segala cara untuk bisa mengampuni diriku dan menggapai kembali persahabatan itu. Tapi aku tak pernah bisa..
Terakhir kami bertemu tahun 2007 saat tahbisan di Cinere.
Romo Hary pindah ke Papua tahun 2008 dan akhirnya kembali ke Bogor menjadi pembimbing legio kami.

Kemarin di rumah duka, Romo Thomas masih mengajakku bercanda. Aku mencoba hangat, walaupun aku tahu semua tak akan sama lagi seperti masa sepuluh tahun yang lalu…
Ia masih gila seperti dulu.
But there ain’t so much to say now between us… Ada yang hilang dalam hubungan kami…
Romo Harypun masih sangat bersemangat seperti dulu…

Dulu aku pernah menyanyikan lagu just the way you are : don’t imagin you’re too familiar, and I don’t see you anymore…
Sekarang mereka begitu terkenal, dicintai banyak orang, dan aku hanya bisa melihat dari kejauhan saja…
Cukuplah bagiku asal mereka berbahagia..

Waktu bergulir begitu cepat… Tak mungkin bisa kembali ke masa itu…
Setiap detik semua berubah, bahkan oksigen yang kita hirup pun sudah berubah menjadi karbon dioksida,,,
Tak mungkin bisa mengulang lagi apa yang terjadi dulu..
Dan aku hanya bisa menyimpannya sebagai kenangan…

Hey, kemana sajakah tahun-tahun itu berlalu. Mengapa sepertinya segala hal baru terjadi kemarin, apadahal ketika kuingat lagi semua sudah berlalu tujuh, delapan, sembilan bahkan sepuluh tahun yang lalu…
Kemanakah hilangnya enam tahun ini.
Mengapa rasanya aku tak pernah menjalani 6 tahun ini. Serasa aku masuk ke dalam badai listrik yang membuatku melompat dari masa tujuh tahun lalu ke masa kini.
Aku seperti menghilang dari dunia mereka, dan kini ketika aku bertemu mereka kembali, semuanya tampak berbeda.
Ada yang hilang… Ada yang pergi… Namun pastinya semua berubah…


One thought on “Kemanakah perginya tahun-tahun itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s