Sudah sepuluh tahun…

Pernahkah kau bertemu dengan seseorang yang membuatmu merasa begitu hidup?
Seseorang yang bisa membuatmu begitu bersemangat di hari yang paling melelahkan?
Seseorang yang bisa membuatmu tak henti tersenyum, meskipun kau sedang bersedih?
Seseorang yang membuatmu termotivasi?
Seseorang yang ketika berada di dekatmu, kau merasa jadi makhluk yang paling bahagia?
Seseorang yang membuatmu merasa energi di tubuhmu seolah tak ada habisnya?
Aku pernah menemukannya…
Sepuluh tahun yang lalu…

“Aku iri deh kalau ngeliat orang yang punya kakak…”, ucapku spontan ketika kami membicarakan keluarga sahabatku.
“Lo kan bisa jadi adik gw.”, itu jawabnya, yang membuat hatiku seolah terbang ke angkasa karena senangnya.

Setelah beberapa bulan berteman akrab dengannya, akhirnya aku mendengar kalimat yang begitu kuharapkan : Ia mau menjadi kakakku.
Hampir 16 Tahun aku hidup sebagai anak sulung yang kesepian, yang harus tegar menghadapi kesulitan.
Terkadang harus berpikir keras seorang diri menjalani hidup.
Aku butuh bahu untuk bersandar, telinga untuk mendengar kisahku, sepasang tangan kokoh untuk memegang bahuku, dan mulut yang tidak menghakimiku.
Masa awal SMA begitu berat untukku, ketika aku harus masuk ke dalam lingkungan baru dan teman-teman yang baru.
Hingga aku bertemu dengannya. Sosok yang sejak awal sudah kuanggap sebagai kakak laki-lakiku sendiri.
Sosok yang membuat aku begitu semangat menjalani hidup, dan membuatku sadar bahwa hidup ini begitu indah.

Segala hal aku ceritakan padanya, dan ia mendengarkan dengan sabar.
Ketika aku tak bisa menjawab soal ulangan, ia menghiburku.
Ketika aku akan menghadapi ujian, ia selalu siap memberi dukungan dan mendoakanku.
Ketika aku menyukai seseorang, ia meledekku, dan ingin tahu siapa pria yang menrik perhatianku.
Saat beban di hatiku begitu berat, aku cukup datang padanya, ia akan memberikan kata-kata bijaksana yang tidak menghakimi.
Namun ia tak segan-segan memarahiku saat aku pulang terlalu malam.
Ia tak segan menegurku ketika aku bergaul dengan orang, yang menurutnya bukan orang yang benar.

7 Juni 2001
petang itu, kami berjalan di bawah rimbunnya pohon, kami membicarakan keluarga sahabatku. Dan terlontarlah kalimat itu.
Betapa bahagianya aku, hari itu dan hari-hari selanjutnya menjadi hari-hari yang penuh energi untukku…
Ketika aku berhasil menjadi juara kelas, ia adalah orang yang pertama kali kuberitahu…
Karena dialah aku bisa menggapai hal yang tampaknya tak mungkin…
Aku betul-betul merasa hidup… Perasaan yang tak pernah bisa kurasakan lagi saat ini…

Namun, ternyata semua tak berlangsung lama.
Datanglah seorang teman yang masuk ke dalam hubungan kami…
Hal yang wajar, amat sangat wajar,
Namun membuatku tersisihkan dan terabaikan.
Ya, aku cemburu,
Mengapa kakakku lebih perhatian padanya?
Mengapa temanku begitu dekat dengan kakakku?

Aku tak tahu bagaimana awal kehancuran hubungan kami…
Tapi aku sadar, aku mulai menjauh,
karena aku merasa perhatiannya tidak tercurah padaku lagi,
Temanku sudah merebut kakakku..
Aku pun beranjak pergi dari sisi mereka…

Aku berjuang menghentikan air mata
Yang selalu tertumpah saat menyaksikan mereka bercanda.
Aku bertanya mengapa bisa begini?
Aku tahu ini salahku,
Aku tak rela berbagi kakak dengan orang lain…

Akhirnya aku betul-betul pergi menjauh,,,
Meskipun hatiku tak pernah rela…
Berharap suatu hari kakakku akan mengulurkan tangannya
dan menyadari bahwa adiknya sudah menjauh darinya…
Tapi hari itu tak pernah datang
Dan jarak antara kami semakin menjauh…
Ia sepertinya tak pernah meyadari kepedihanku,
dan inilah yang membuatku semakin menjauh
Jauh hingga aku tak mampu menggapainya lagi…

Tahun berlalu,,,
Aku tak bisa hadir di hari yang paling istimewa baginya…
Aku sungguh menyesal,
Aku tak bisa, bukan aku tak mau…

Kebaikannya dan keramahannya membuat semakin banyak orang di sekitarnya,
dan aku betul-betul tak bisa mendekatinya lagi…

Waktu berlalu,
kami betul-betul seperti orang asing yang baru berkenalan lagi..
Kupikir ini menjadi kesempatan lagi bagiku untuk memulai segala sesuatunya dari awal lagi…
Tapi..
Aku tak sanggup untuk bercerita lagi padanya,
Aku tak mampu lagi membuka hatiku untuknya.

Ia kemudian dipindahkan ke ujung barat pulau ini.
Dan aku memasuki tahapan baru dalam kehidupanku..
Kami tak pernah berjumpa lagi hingga dua tahun kemudian…
Aku bahkan tak sanggup menghadapinya,
aku mencoba bersembunyi,
namun akhirnya aku menguatkan diri untuk menemuinya.
Momen itu begitu berkesan dan berhasil membuatku tersenyum lagi…

Kami berjumpa beberapa bulan kemudian,
dalam suasana duka karena kematian ayahnya,
aku menyesal tak bisa berbuat banyak untuk menghiburnya,
dan temanku justru ada di sana, berdekatan dengannya,
menguatkan hatinya,
namun menghancurkan hatiku…

Aku betul-betul terpuruk dalam kenangan.
Aku membuka lagi segala hal yang menyimpan kenangan kami berdua.
Aku menyusur lagi jalan yang menjadi saksi bisu senyum dan tawa kami…
Aku mengingat semua percakapan kami,
dan aku menumpahkan banyak air mata karenanya.
Bagaimana aku bisa memperbaiki segala kerusakan ini?
Mengapa aku dulu begitu bodoh melepaskannya begitu saja…

Satu tahun aku tenggelam dalam pusaran kenangan.
Akhirnya kesibukan penelitian berhasil mengalihkan perhatianku…
Di akhir masa kuliahku, aku bertemu dengannya lagi.
Dan sekali lagi, tak banyak kata yang terucap…
Setiap kata yang tak terucap membuat dadaku sesak,
dan kata-kata itu ternyata mampu berubah wujud menjadi air mata…
Aku ingin sekali bercerita bahwa aku sudah mendapatkan pekerjaan,
di tempat yang jauh,
dan aku butuh dukungannya dalam keadaan yang penuh keraguan ini…
Tapi tak ada yang bisa terucapkan lagi.
Dan aku hanya bisa memandang punggungnya saat ia pergi dari hadapanku…

Hampir empat tahun berlalu sejak hari terahir pertemuan kami…
Sebuah kejadian duka mempertemukan kami kembali,,,
Dia sudah berubah… Sangat berubah…
Walaupun kami mencoba mencairkan kebekuan yang ada,
namun kami tak sanggup…
Semua sudah berubah…
semua sudah berbeda,,,
Tawa kita hanyalah tawa yang hambar…
Pembicaraan kita hanyalah pembicaraan yang datar…

Rasa sesal itu datang lagi,,,
berharap aku bisa melakukan hal yang seharusnya kulakukan
sepuluh tahun yang lalu…
berharap aku tak pergi dari sisimu ketika itu…
berharap aku punya hati yang terbuka…

Namun aku sudah terlambat bukan?

Hari ini, sudah sepuluh tahun berlalu dari hari yang paling membahagiakan dalam hidupku…
Izinkan aku mengenang lagi semua kenangan indah bersamamu…
Karena aku tak mampu mengubur semua itu….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s