Arti kata “Maaf”

Seorang panitia sebuah acara, sebut saja namanya, Miss A, marah besar kepada rekan-rekannya. Alasannya rekan-rekannya itu melakukan sesuatu hal dengan tidak berkordinasi dengan dirinya.
Pada awalnya Miss A harus mengambil konsumsi di suatu tempat. Namun rekan-rekan yang lain, berinisiatif mengambil konsumsi, karena mereka melewati tempat itu sebelum berangkat ke tempat acara, dan juga karena pertimbangan bahwa Miss A ini memiliki predikat Miss Tukang Terlambat.
Miss A yang ternyata terjebak macet dan terlambat datang ke tempat pengambilan konsumsi langsung marah besar begitu tahu bahwa rekan-rekannya sudah mengambil konsumsi dan tidak memberi tahu dirinya. Andaikan rekan-rekannya mengkoordinasikan dengan dirinya, setidaknya Miss A tidak perlu berjibaku melawan macet, dan bisa langsung berangkat ke tempat acara.

Setibanya di tempat acara, Miss A langsung mendamprat rekan-rekannya yang berinisiatif itu (ironis sekali), dan Miss A kemudian meninggalkan acara itu bersama amarahnya, padahal acara belum dimulai.

Rekan-rekannya, yang sejujurnya memang salah karena tidak melakukan koordinasi yang baik, merasa sakit hati. Dan sejak hari itu, terlihat ada perubahan sikap mereka terhadap Miss A. Ada yang tetap mencoba tidak memperkeruh keadaan dengan tetap tenang, walaupun dalam hatinya begitu sakit. Ada yang dengan terang-terangan melakukan protes via update status di facebook. Ada yang cuek saja, karena sudah berkali-kali diperlakukan seperti itu oleh Miss A. Tak hanya mereka yang didamprat langsung oleh Miss A, luka akibat dampratan itu pun dirasakan oleh rekan-rekan panitia lain, yang notabene tidak terlibat langsung dalam permasalahan itu.

Miss A kemudian membaca status rekannya di facebook, dan Miss A merasa status itu diperuntukkan baginya. Semakin marahlah ia. Mereka berdua akhirnya tak pernah bertegur sapa lagi, padahal dulunya mereka adalah sahabat dekat.

Waktu berlalu. Miss A sudah beramah-ramah lagi dengan rekan-rekannya lagi. Miss A menggunakan subjek “urusan pekerjaan” untuk memulai percakapan lagi dengan rekan-rekannya. Miss A ini memang mengakui bahwa dirinya adalah orang yang mudah naik darah, namun cepat reda amarahnya. Beberapa rekannya pun sepertinya mulai membuka diri dan berkomunikasi seperti biasa dengan Miss A, seolah tidak ada masalah apa-apa. Namun seorang rekan yang protes dan menulis status di facebook itu tidak demikian. Mereka berdua pun jatuh dalam perang dingin yang tak berkesudahan, dimana akhirnya masing-masing mencari pendukung, hingga akhirnya Miss A menang, rekannya itu keluar dari organisasi mereka, dan kini organisasi mereka terancam runtuh.

Miss A menganggap rekannya yang keluar ini, sebut saja Miss Z sebagai anak kecil pengecut, yang tidak berani menghadapi masalah secara terbuka, dan menyimpan dendam. Menurut Miss A, seharusnya dirinyalah yang marah, karena dirinya yang lebih dahulu disakiti, dan rekannya itu seharusnya tidak boleh mengumbar masalah di facebook.

Selidik punya selidik, rekan-rekan yang lain, yang kini sudah bisa beramah-ramah dengan Miss A, masih menyimpan luka akibat peristiwa itu di hati mereka. Dibentak dan didamprat di hadapan banyak orang bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Mereka belajar untuk tetap profesional, tetap mengerjakan pekerjaan mereka sepenuh hati, dan menyimpan masalah itu di dalam hatinya.
Namun apabila mereka mengingat Miss Z yang betul-betul pergi jauh, dan kerapuhan dalam organisasi mereka, muncul kepedihan dalam hati mereka.

Andai saja Miss A tak perlu semarah itu. Marah tentu saja diperbolehkan, tapi setidaknya dengan cara, dan pada tempat dan saat yang tepat.
Mengapa ia tidak menanyakan alasan dari tindakan inisiatif rekan-rekannya itu.
Andaikata saat itu ada kata permohonan maaf yang terucap dari kedua belah pihak, mungkin masalahnya tidak akan berlarut-larut. Organisasi mereka pun tak perlu diambang kritis.

Miss A tak belajar dari masalah itu. Masih saja ia membentak orang lain dengan seenaknya.
Tak semua orang bisa menahan sakitnya hati akibat dibentak di depan banyak orang. Bagi sebagian orang itu aadalah penghinaan besar.

Ketika rekonsiliasi diusahakan, tak perlu kalimat panjang pembelaan diri, dan tak perlu penjelasan panjang lebar atas apa yang terjadi. Cukup satu kata maaf, senyuman tulus, jabat tangan bersahabat dan tekad dalam hati masing-masing untuk bertindak lebih dewasa dan bijaksana.
Mungkin luka hati tak dapat dipulihkan seperti semula, namun setidaknya bisa disembuhkan agar rasa sakitnya hilang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s