Frater Joseph… Just a Fiction….

Februari 2000
“Nad, kita main ke seminari yuk…”, ajak Dini sambil menarik tanganku. Kami baru saja pulang dari misa pagi, dan hari itu adalah hari pertama liburan caturwulan.
“Eh, emang boleh masuk ke seminari?”, tanyaku. Aku selalu menganggap seminari itu tempat yang tertutup dari dunia luar, lagipula bukankah para calon imam itu tidak boleh bergaul dengan perempuan?
“Boleh kok, yuk ikut, aku udah janjian sama Frater Ari.”
“Hah, janjian ama frater, emangnya gak kenapa-napa ya?”
“Iya, udah ikut aja yuk, mumpung libur…”
Di dekat gerejaku berdiri sebuah gedung tua yang digunakan sebagai seminari menengah keuskupan kami. Gedung itu terlihat suram dan terkesan angker, namun ketika aku sudah melangkahkan kaki di dalamnya, terrnyata seminari ini tidak seangker yang kubayangkan, walaupun memang suasananya sangat sepi karena sebagian besar seminaris sedang mudik di minggu liburan ini.
Dini menarik tanganku melalui jalan kecil di belakang kapel, dekat dengan ruang makan staff seminari, karena ia berjanji bertemu Frater Ari disitu. Kami menjulurkan kepala di pintu ruang makan. Frater Ari ada disitu sedang membaca koran ditemani seorang pria yang sepertinya sebaya denganku.
“Itu Joseph, Nad, yang duduk sebelah Frater Ari, dia anak KPA (Kelas Persiapan Akhir). Dia anak Bandung. Tumben banget dia gak mudik.”
“Oh,,,, “, hanya itu tanggapanku. Aku masih merasa tidak nyaman di dalam gedung ini. Dini kok merasa nyaman ya?
Frater Ari menyadari kehadiran kami dan kemudian kelar dari ruang makan bersama Joseph. Seminaris yang bernama Joseph ini jauh sekali dari gambaranku tentang seorang seminaris. Joseph ini penampakannya malah mirip artis Taiwan.
Kami kemudian berkenalan, dan tak lama kemudian aku pamit pulang karena tadi pagi aku sudah janji pada mamaku untuk segera pulang seusai misa pagi.
——-
Beberapa minggu setelah hari itu, aku bertemu lagi dengan Joseph, kali ini dalam rapat Komisium Legio Mariae. Ternyata ia adalah sekretaris I presidium seminari yang baru saja dihidupkan kembali setelah sekian lama mati suri. Ia kemudian mengenalkanku pada teman-temannya yang lain : Hendri, seminaris asal Palembang yang agak kemayu; Arnold, sang ketua presidium yang pendiam dan terlihat sangat religius, dan Dwi, yang adalah mantan pelatih pasus (pasukan khusus) ketika aku masih SMP dulu. Aku tak pernah menyangka Dwi akan masuk seminari, karena ia lebih cocok jadi tentara daripada jadi pastor. Ia begitu disiplin dan tegas ketika melatih pasus di sekolahku dulu. Memang sih, sejak dulu ia aktif menjadi misdinar di gereja. Yah, panggilan Tuhan memang misterius kan?
Kami berlima kemudian semakin akrab karena sering bertemu di gereja, di rapat Legio, dan juga karena mereka setiap hari Senin mengikuti pelajaran olah raga di sekolahku , fakta yang tidak pernah kusadari sebelum aku mengenal mereka. Selain itu, kadang aku juga ikut Dini yang sering main ke seminari. Kini aku sudah merasa sedikit nyaman berada di dalam gedung itu. Selain mereka berempat, aku juga mengenal banyak seminaris yang lain, namun mereka berempatlah yang bisa dibilang paling akrab denganku.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa kami sudah berteman lebih dari setahun. Tibalah mereka di masa akhir pendidikan di seminari menengah. Mereka harus memutuskan kemana mereka akan melangkah nantinya. Apakah mereka akan melanjutkan ke seminari tinggi atau tidak?
Di awal bulan Mei aku mendapatkan jawabannya. Hendri tidak akan lanjut ke seminari tinggi karena ayahnya baru saja meninggal. Ia sekarang harus menjadi tulang punggung keluarganya untuk mencari nafkah. Sedih sekali mendengar kisahnya. Meskipun Hendri terlihat tegar, namun kami tahu, Hendri sangat sedih dan kecewa. Kami berusaha menguatkannya dan mengatakan kepadanya ini adalah jalan yang sudah ditentukan Tuhan untuk hidupnya, dan pasti ini adalah yang terbaik. Ah, nasehat itu mudah untuk diucapkan, padahal aku sendiri pun tak bisa membayangkan bila aku ada di posisi Hendri.
Dwi, Joseph dan Arnold mendaftar ke seminari tinggi di keuskupan kami. Mereka bercita-cita ingin menjadi imam diosesan keuskupan kami. Walaupun Arnold bukan warga asli keuskupan ini, namun ia memutuskan untuk mengabdi di sini. Puji Tuhan mereka semua diterima.
Hujan masih turun di bulan Juni. Dan hujan juga turun saat acara pelepasan mereka semua. Tak lama lagi kami semua akan berjauhan. Hendri akan segera pulang ke kampungnya. Joseph dkk akan segera memasuki masa Tahun Orientasi Rohani di bulan Juli nanti. Seminari tinggi keuskupan kami terletak di ujung barat kota ini, yang walaupun masih dalam kota yang sama, namun membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk menempuhnya dari sini.
Tak akan ada lagi canda kami di lapangan sekolah setiap Senin sore. Semua pasti akan berbeda. Nantinya mereka akan dipanggil dengan sebutan “Frater”, dan aku harus membiasakan diri untuk itu. Hmm, bangga juga berkawan dengan mereka semua. Sore ini saat aku bersalaman dengan mereka aku mengucapkan doa dalam hati. “Tuhan, semoga beberapa tahun lagi mereka semua akan ditahbiskan menjadi imam. Amin.”
——
1 September 2001
Dering telepon rumahku pagi itu membangunkan kami sekeluarga. Ternyata dari Dini. Dini terbata-bata menyampaikan sebuah berita duka. Dwi meninggal dunia tadi malam. Aku terhenyak tak sanggup berkata apa-apa. Aku ikut menangis di telepon bersama Dini. Tadi malam Dwi tiba-tiba pingsan seusai ibadat malam. Diagnosa dokter sungguh mengejutkan : Dwi terkena serangan jantung.
Bagaimana mungkin orang semuda dia bisa terkena serangan jantung? Bukankah Dwi selalu terihat sehat-sehat saja? Tuhan mengapa Engkau memanggilnya? Mengapa harus Dwi yang kaupanggil? Berjuta pertanyaan terbersit di benakku, dan tak ada jawaban yang kutemukan.
Siang itu sepulang sekolah, aku dan Dini melayat Dwi yang disemayamkan di kapel seminari. Kapel yang menjadi saksi pertumbuhan panggilannya. Kapel yang selama ini mendengar doa-doa permohonannya untuk menjadi imam. Kami berdua hanya bisa menangis melihat Dwi. Kami tak menyangka secepat ini Dwi dipanggil menghadap Tuhan.
Selama ini Dwilah yang obrolannya paling nyambung denganku, mungkin karena kami satu almamater sehingga ada banyak topik pembicaraan. Dwi juga betul-betul seperti seorang kakak bagiku. Setiap Senin seusai olahraga, Dwi akan menemaniku hingga mendapatkan angkutan kota untuk pulang. Aku betul-betul tak bisa menerima kenyataan ini.
Dwi tak akan tersenyum lagi, Dwi tak akan menceritakan nostalgianya lagi tentang almamater kami. Dwi tak akan meminjamkanku buku lagi. Dwi takkan menemaniku menunggu angkot lagi. Dwi tak akan bisa lagi menjadi imam. Dwi, seniorku, kakakku, sudah pergi,,,

Satu hal yang menjadi penyesalanku, bahkan mungkin menjadi salah satu penyesalan terbesar dalam hidupku adalah aku tak bisa mengantar Dwi ke peristirahatannya yang terakhir, karena pada hari itu aku ada ulangan di sekolah. Andaikan saja aku berani bicara pada guruku, mungkin beliau bisa mengerti, memberikanku ulangan susulan, dan aku bisa mengantar Dwi. Tapi aku tak berani…
——
Awal Januari 2002
Sepucuk surat tiba di rumahku. Ternyata dari Arnold. Arnold menyampaikan sebuah kabar gembira. Tanggal 13 Januari nanti mereka berdua akan menerima jubah yang merupakan pakaian resmi mereka sebagai pekerja untuk Tuhan. Wah betapa senangnya aku membacanya. Aku pasti akan datang ke sana. Namun dibalik kebahagiaan itu ada sebuah kesedihan yang menyesakkan dada. Sayang sekali Dwi keburu pergi sebelum sempat menerima jubah…
Ini pertama kalinya aku menyaksikan upacara penjubahan. Dan sejak hari ini mereka memiliki panggilan baru : Frater Joseph dan Frater Arnold. Hmmm,,, keren sekali mereka berdua dalam jubah putih itu…
Agustus 2002
Aku meninggalkan statusku sebagai murid SMU dan memasuki kehidupan baru sebagai mahasiswa Fakultas Teknik di salah satu universitas negeri di propinsi tetangga. Jarak kami kini semakin jauh saja. Frater Joseph dan Frater Arnold juga mulai masuk kuliah Filsafat. Meskipun usia mereka lebih tua daripada usiaku, namun dalam kuliah ternyata mereka jadinya seangkatan denganku. Kami berbagi cerita tentang ospek kami melalui surat. Aku tertawa geli ketika membaca surat Frater Joseph yang menceritakan mereka harus berkhotbah di depan gerombolan mahasiswi yang sedang makan siang di kantin. Hehehe, terbayang wajah Frater Joseph yang putih itu pasti sudah berubah bak kepiting rebus.. Ia juga bercerita, ketika itu Frater Arnold sampai gemetaran menghadapi tatapan para mahasiswi… Hehehe,,, ada-ada saja…
—–
Kesibukan kami sebagai mahasiswa membuat komunikasi kami tak sesering dahulu. Namun momen Natal, Paskah dan ulang tahun tak pernah kami lupakan. Kami selalu saling kirim kartu ucapan.
Ketika teknologi bernama handphone mulai memasuki dunia kami, kami saling mengirim sms, karena lebih hemat daripada mengirim surat. Maklum mahasiswa…. Harus hemat… Ketika itu handphone masih menjadi barang illegal untuk mereka berdua, sehingga mereka memakainya secara sembunyi-sembunyi. Kadang saking sembunyi-sembunyi dan hemat pulsa, isi sms menjadi tak mudah dimengerti karena semua katanya disingkat. Maklum mahasiswa…. Harus hemat….
Lambat laun kami menjadi lebih melek teknologi. Kami mulai menggunakan email untuk berkomunikasi. Tak perlu disingkat-singkat lagi, namun perlu bersabar karena koneksi internet di kampusku dan kampus mereka amatlah lemot.. Bidang ilmu kami yang berbeda membuat obrolan kami kadang tak nyambung. Seringkali isi email kami hanya menanyakan : “Apa kabar? Bagaimana kuliah?” Amat singkat, padat dan tidak jelas….
Kami sekarang sudah punya kehidupan dan kesibukan sendiri-sendiri. Meski begitu mereka selalu ingat hari ulang tahunku, dan akupun selalu ingat ulang tahun mereka. Yah, lambat laun komunikasi kami betul-betul hanya terjadi saat hari ulang tahun, Natal dan Paskah. Kadang saat libur antar semester, aku pulang ke rumah, mereka berkunjung ke gerejaku dan kami bertemu disana. Namun semua tak pernah sama seperti dulu lagi. Kami lebih canggung saat berbicara. Apalagi jika mereka sedang memakai jubah, rasanya banyak mata yang mendelik padaku jika aku mengobrol dengan mereka. Mungkin banyak orang mengira aku wanita penggoda calon imam. Padahal mereka semua adalah sahabatku….
Juni 2005
Aku baru saja menyelesaikan semester 6 yang cukup berat dan melelahkan. Tak ada waktu untuk bersantai karena aku harus mulai masuk kerja praktek di akhir bulan ini. Dalam kondisi yang begitu berbeban ini, aku hampir saja pingsan membaca email dari Frater Joseph.
Begini isi emailnya :
“Nadia,,, apa kabarmu? Lama sekali ya tak berkirim kabar. Bagaimana kuliah? Sudah lewat kan semester enamnya? Nadia, aku mau memberi tahu sebuah kabar mengejutkan, kuharap kamu bisa menerimanya dengan lapang dada.
Nad, Arnold keluar dari seminari tinggi. Aku nggak tahu kenapa ia memutuskan keluar, namun akhir-akhir ini ia memang bertingkah aneh. Kami berdua sudah seperti orang asing, padahal kami sudah bersahabat selama hampir 6 tahun. Namun aku seperti belum pernah mengenal dirinya. Aku nggak tau kemana ia pergi. Mungkin ia pulang ke rumahnya di Jawa Tengah. Aku mencoba menghubunginya tapi nggak bisa.
Nad, segini dulu ya, kamu jangan kaget ya… Dua minggu lagi aku tugas koor di gerejamu. Kamu lagi libur kan? Kamu datang ya, nanti kita ngobrol banyak disana.”
Best regards
Joseph
Bagaimana mungkin aku tidak kaget? Frater Joseph harus menjelaskan ini semua. Aku mengirimkan email pada Frater Arnold, yang isinya standard sekali, pura-pura tak tahu dengan kepergiannya.
Aku membuka account friendsternya. Friendster Frater Arnold memang tak ramai, namun memuat profilnya dengan lengkap. Namun kini friendsternya kosong. Seluruh info tentang dirinya dihapus, bahkan foto profilnya pun dihilangkan. Frater Arnold betul-betul seperti menghilang ditelan bumi. Kemanakah ia pergi? Apakah yang ia cari? Apakah yang menyebabkan ia mengambil keputusan segila ini? Aku tak mengerti…
Dua minggu kemudian
Kami berdua duduk di depan kapel seminari. Tempat yang tidak banyak dilalui umat sehingga kami bisa mengobrol dengan leluasa. Setelah membicarakan hal-hal yang umum tentang kuliah dan kabar kami, akhirnya Frater Joseph membuka suara tentang Frater Arnold.
Menurut Frater Joseph, sejak semester kemarin, Frater Arnold memang terlhat aneh, ia sering pulang terlambat, dan beberapa kali ia mendapat teguran dari Romo Rektor. Ketika Frater Joseph bertanya ada apa dengannya, ia tidak mau bercerita, dan malah meminta Frater Joseph untuk tidak ikut campur dengan masalah pribadinya. Pada akhir semester kemarin, ia minta izin untuk pulang kampung, dan beberapa hari kemudian Romo Rektor menerima surat pengunduran dirinya.
“Nad, aku merasa bersalah gak bisa jaga temanku sendiri..”
“Frat, itu bukan salah kamu kok, Frater Arnold kan sudah dewasa, dan gak mungkin juga kamu harus membuntuti dia kemanapun dia pergi kan?”
“Nad, sejak pertama kali aku mengenal dia, aku selalu merasa dia pasti akan berhasil menjadi imam. Ia begitu rajin berdoa dan bertanggung jawab melakukan semua tugasnya. Dia juga begitu cerdas, selama di KPA, ia selalu menjadi orang tercerdas kedua di kelas sesudah Felix. Aku selalu melihat dia sebagai sosok yang sempurna. Beda jauh dengan aku. Aku banyak belajar dari dia, dan sejujurnya aku sangat kecewa dengan keputusannya ini. Aku gak tahu ada masalah apa yang membuat dia menjadi seperti ini. Aku betul-betul bukan teman yang baik…”
Kami kemudian hanyut dalam keheningan yang panjang… Pada awal perkenalan kami, akupun melihat hal yang sama dengan Frater Joseph. Aku amat yakin Frater Arnold akan bisa menjadi imam yang baik, karena ia begitu religious, ia tidak banyak bicara, dalam bercanda dan bergaul pun ia tidak sesupel Frater Joseph. Kini kami tak mampu menerima kenyataan pengunduran dirinya dari seminari tinggi. Namun hanya Tuhan yang bisa melihat apa yang ada di dalam hatinya dan hati kami semua.
“Frat, kita doain aja ya, semoga ia tidak memilih jalan yang salah. Tuhan pasti punya rencana indah dibalik ini semua.”
“Nad, doain aku terus ya… Semoga aku bisa bertahan hingga bisa ditahbiskan menjadi imam, dan bisa menjadi gembala yang baik…”
“Pasti, Frat… Aku yakin kamu pasti bisa. Kamu gak sendirian, Frat, banyak orang yang mendukung dan mendoakan kamu..”
Kami tak bisa lama-lama mengobrol, karena Frater Joseph harus mempersiapkan diri untuk tugas koor di misa sore nanti. Kami berpisah di gerbang gereja siang itu, dan aku melangkahkan kakiku sambil berdoa “ Tuhan, dimanapun Arnold berada, tolong jagalah dia, dan Tuhan tolong dampingilah Joseph dalam saat yang sulit ini…”
———-
Masalah Frater Arnold segera tersisihkan oleh kesibukan kerja praktekku, dan kemudian oleh persiapan penelitian dan penyusunan skripsiku. Namun aku masih rutin berkirim email dengan Frater Joseph. Ternyata keluarnya Arnold dari seminari malah membuat aku dan Frater Joseph menjadi lebih dekat kembali. Kami saling mendukung untuk menghadapi kegilaan skrispi, walaupun hanya via email dan sms saja. Kami akhirnya lulus S-1 dan diwisuda dalam waktu yang berdekatan. Frater Joseph bersiap-siap untuk menjalani Tahun Orentasi Pastoral (TOP), dan aku sibuk mencari lowongan pekerjaan.
——–
Agustus 2006
Aku mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan petrokimia milik Jepang. Puji Tuhan, aku tak menyangka bisa mendapatkan pekerjaan ini. Terima kasih Tuhan. Namun aku harus belajar banyak hal dan harus berjuang keras untuk bisa beradaptasi di tempat yang baru ini. Baru tiga minggu bekerja aku mendapat kejutan. Aku dikirim training selama satu tahun di Jepang. Aku sangat senang meskipun ada rasa sedih karena harus meninggalkan keluarga dan teman-teman disini.
26 Februari 2008
“Selamat Ulang Tahun, Nadia… Semoga panjang umur dan sehat selalu… Tetap semangat dalam bekerja dan berdoa… Tuhan Yesus memberkatimu.. Always be a strong girl (^^)”
-Jose-
Aku tersenyum membaca sms itu. Tepat pukul 00:00, sms itu masuk ke handphoneku.
Frater Joseph tak pernah terlambat mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Justru selama ini, terutama sejak mulai bekerja, aku yang sering terlambat mengucapakan selamat ulang tahun padanya. Ah, aku jadi merasa berdosa. Sudah lama sekali kami tak bertukar kabar. Email dan sms hanya mengalir saat ulang tahun, natal dan paskah saja, itupun seringkali aku lupa untuk mengucapkan.
Sejak kembali dari training, aku ingin berkunjung ke seminari tinggi, namun belum ada kesempatan. Dulu waktu masih menjadi mahasiswa aku selalu terkendala masalah biaya, dan sekarang setelah sudah punya gaji, kendalanya adalah waktu.
Aku merindukan masa lalu, masa ketika hidupku tak berbeban berat seperti sekarang ini. Masa yang amat indah dengan teman-teman yang tulus. Aku merindukan duduk di depan gerbang sekolahku sepulang sekolah. Dan aku merindukan suasana pagi hari di halaman gereja. Aku merindukan sahabat-sahabatku… Andaikan aku bisa mengulang masa itu lagi…
Maret 2009
Lelah sekali hari ini. Sepertinya pekerjaan tak ada habisnya. Hujan turun dengan deras dan bus kota yang aku tunggu belum muncul. Sambil menunggu aku membuka account facebookku.
Di bagian paling atas halaman utama, tertulis sebuah notifikasi :
Joseph Wijaya wants to be your friend with you in facebook.
Aku mengklik tombol Confirm. Wah, Frater Joseph gaul juga nih, sekarang sudah punya facebook (fb).
Aku kemudian menulis di wallnya :
“Frater, apa kabar? Lama banget ya gak kontak… Pengen ketemu niy…”
Aku membaca ulang tulisanku di wallnya, dan menggelengkan kepalaku. Ah, aku betul-betul tak kreatif. Sejak dulu hingga kini selalu saja aku mengirimkan tuisan dan pertanyaan yang sama kepadanya. “Frater apa kabar?”, ” Lama banget gak kontak”… atau “Gimana studinya?”. Aku bermaksud menghapus tulisan itu, namun aku bingung harus menggantinya dengan tulisan apa. Betul-betul tak kreatif..
Bus datang dan aku mematikan koneksi internet di handphoneku.
Saking lelahnya, aku tak sempat online lagi malam itu, dan baru membuka facebookku keesokan paginya. Ternyata Frater Joseph sudah menulis komentar atas tulisanku kemarin.
“Hai, Nad,,, kabar baik. Kamu apa kabar juga? Kapan libur? Main ke seminari dong…”
Aku tersenyum melihat jawabannya, dan menjadi bersemangat untuk membalas komentarnya. Namun setelah menanti seharian penuh, tak juga ada balasan darinya. Akhirnya aku membulatkan tekad untuk mengunjunginya di seminari tinggi hari Sabtu nanti. Sekali-kali ingin juga mangkir dari kewajiban lembur hari Sabtu.
Pertemuan kami akhirnya terjadi juga. Hari Sabtu itu, diiringi omelan bosku, aku nekad bolos lembur, dan bertolak ke seminari tinggi. Aku begitu pangling melihat Joseph. Ia agak menggemuk, namun tetap keren seperti bintang film Taiwan.
Kami sempat bingung mencari topik pembicaraan. Sudah lama sekali tak berjumpa, membuat kami seperti orang asing. Aku minta maaf, karena selama tidak menjadi sahabat yang baik untuknya. Kami kemudian bertukar kisah tentang masa-masa yang sudah kami lewatkan tiga tahun ini. Masa-masa dimana kami betul-betul seperti berputar di atas poros dunia yang berbeda.
Frater Joseph, masih ramai dan ramah seperti dahulu, namun terlihat sekali bahwa ia sudah jauh lebih dewasa dari Frater Joseph tiga tahun yang lalu. Ia sudah hampir menyelesaikan studi S-2 Teologinya, dan mulai bulan Agustus tahun ini, ia akan memulai masa pastoral.
Hey, waktu cepat sekali berlalu, tanpa terasa sudah 9 tahun kami berteman. Dulu aku masih mejadi siswi kelas I SMA, dan sekarang aku sudah bekerja. Frater Joseph pun sudah hampir menyelesaikan studi teologinya. Seperti ada tahun-tahun yang hilang dalam persahabatan kami. Hari ini, aku seolah baru kembali dari luar angkasa, dan terkejut atas begitu banyaknya momen yang hilang, yang tak bisa kulalui bersama sahabatku ini.
“Nad, kamu kayaknya lagi jenuh dengan kerjaanmu ya?”
“Kok Frater tahu?”
“Setiap aku buka facebookmu, status kamu selalu mengeluh tentang pekerjaanmu. Ada yang bisa aku bantu, Nad?”
Pertanyaan itu mengingatkan aku dengan wajah sangar bosku saat aku minta izin tadi pagi.
“Iya, Frat, serasa jadi romusha nih sekarang.. hehehe”, aku mencoba tertawa padahal aku ingin sekali menangis. Tapi tak mungkinlah aku menangis di hadapannya.
“Nad, kamu gak sendirian kok,, ada Tuhan Yesus, dan ada aku disini yang mendoakan kamu… Kamu bisa cerita apapun juga kepadaku. Apa saja yang membebani kamu.. Seperti dulu kita selalu bercerita tentang segala hal.. ”
“Aku capek, Frat…”, aku hanya bisa mengeluarkan kalimat itu. Dan sisanya air mataku yang bicara. Sudah lama sekali aku tak merasakan hangatnya perhatian seorang sahabat. Sehari-hari aku begitu terfokus pada target dan target. Aku bagaikan robot yang tak punya perasaan. Akhir-akhir ini aku bahkan jarang sekali ikut perayaan ekaristi mingguan karena selalu dipaksa lembur dan lembur. Jarang sekali aku bercakap-cakap panjang dengan orang tuaku. Setiap ada kesempatan untuk libur pasti aku habiskan untuk tidur. Sepertinya tak ada habis-habisnya keinginanku untuk beristirahat.
“Nad, dekatkan diri pada Tuhan. Dia yang paling tahu semua masalahmu, Dia juga sedang menunggumu bercerita mengenai segala kegalauan dan kejenuhanmu. Akupun bisa melewati segala kesulitan hingga hari ini adalah berkat uluran tanganNya.”
Aku menganggap diriku gadis yang tegar, aku pasti bisa mencapai semua target yang diberikan kepadaku. Namun hari ini, di depan Frater Joseph, aku mengeluarkan segala kerapuhanku. Hari ini, Tuhan menyapaku lewat sapaan hangat Frater Joseph.
“Tuhan, aku capek…”, akhirnya aku mengatakan hal itu dalam doaku…
——-
Juli 2009
Aku mendapatkan pekerjaan baru, yaitu menjadi guru kimia di SMA tempatku belajar dahulu. Gajinya tak sampai separuh dari gaji di tempat kerja yang lama. Tapi aku merasa sangat kerasan disini, dan aku merasa hatiku begitu damai. Kebahagiaan, kesehatan, kedamaian, cinta dan persahabatan sejati tak bisa dibeli dengan uang.
Frater Joseph sudah menyelesaikan studinya, dan akan memasuki masa pastoral. Sudah dekat sekali perjalanannya untuk ditahbiskan. Kebetulan ia mendapat tugas pastoral di seminari menengahnya dulu. Aku tak sabar menyambut kedatangannya kembali di kota ini. Setelah 9 tahun pergi, akhirnya ia kembali kesini lagi.
——
15 Agustus 2011
Hari ini aku sangat berbahagia. Frater Joseph akan ditahbiskan menjadi diakon. Sudah dekat sekali perjalanannya kepada tahbisan imamat. Semoga ia benar-benar bisa menjadi imam yang baik, seperti yang dicita-citakannya selama ini. Pada awalnya mereka bertiga, namun Tuhan memanggil Dwi pulang, dan Frater Arnold mundur dari jalan ini. Justru Frater Joseph yang dahulu sempat kuragukan bisa bertahan, ternyata Tuhan berkenan padaNya hingga bisa mencapai hari bahagia ini.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rom 8:28)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s