Perwira Terakhir

Perkenalkan, saya Ignatia, salah satu anggota presidium Putri Kerahiman di bawah Komisium Bintang Timur, Bogor. Saya ingin sedikit sharing mengenai perjalanan saya menjadi Legioner. Seperti lirik lagu Padi – Harmoni : “Aku mengenal dikau, tak cukup lama, separuh usiaku…”, begitu juga perkenalan saya dengan Legio Maria, yang tahun ini mencapai separuh usia saya.

Semua berawal ketika saya masuk SMP di Mardi Yuana 2 Bogor, hampir 14 tahun yang lalu.  Pada hari terakhir orientasi siswa baru, salah seorang senior kelas 3 mengumumkan bahwa di sekolah kami ada Legio Maria, dan yang berminat untuk mengikuti bisa menghubungi beliau. Pengumuman itu bagaikan angin lalu di telinga saya dan teman-teman saya, yang benar-benar ABG (anak baru gede). Legio Maria? Wah pasti caranya serius, gak sesuai banget dengan jiwa ABG kami yang ingin senang-senang, begitu pikir kami waktu itu.

Entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba Bunda Maria memanggil saya dengan caranya yang ajaib. Dua bulan sebelum kenaikan kelas, tiba-tiba saja saya ingin sekali ikut bergabung dengan Presidium di sekolah saya itu. Dengan penuh rasa canggung dan takut saya menghubungi senior saya yang waktu itu mengumumkan tentang keberadaan Legio. Senior saya itu adalah Dewan Pengurus Pramuka di sekolah, sehingga saya sangat segan untuk berbicara dengannya. Namun ternyata senior saya itu dengan hangatnya mengajak saya ikut rapat presidium untuk pertama kalinya. Hari itu hari Jumat tanggal 24 April 1998.

Nama presidium kami adalah Perawan Yang Setia, salah satu presidium yunior di Komisium Bintang Timur, Bogor. Waktu itu sebagian besar perwira adalah siswa-siswi kelas 3 yang notabene tinggal sebentar lagi akan lulus dan meninggalkan sekolah. Seingat saya hanya ada satu siswa kelas dua, dan saya adalah satu-satunya siswa kelas satu.  Waw, saya sangat semangat sekali menjalankan tugas-tugas yang diberikan, yaitu doa Tessera penuh seminggu sekali, mempelajari buku pegangan, dan juga menjadi tatib kolektan misa di kapel sekolah.

Tiga minggu sejak pertama kali mengikuti rapat, saya resmi menjadi anggota presidium tersebut. Senang sekali rasanya, sekaligus bangga, inilah kelompok rohani pertama yang saya ikuti. Pertama kalinya pula saya mendampingi perwira hadir di rapat komisium dan melaporkan laporan tahunan (yang sudah sekian tahun tak pernah dilaporkan), menghadapi legioner-legioner senior yang terkenal “garang” dalam menanggapi laporan tahunan, apalagi dari presidium yunior seperti kami. Rasanya takut sekali saat mau melaporkan laporan tahunan.

 Namun tak lama kemudian, sebagian besar perwira lulus dan meninggalkan presidium kami. Dua orang pindah sekolah ke Jawa Tengah, dan sisanya yang masih di Bogor, setiap Jumat masih datang untuk rapat presidium ke sekolah kami. Generasi baru muncul, ternyata ada beberapa siswa baru yang terarik juga untuk bergabung. Tak lama kemudian Perwira baru ditunjuk. Tongkat estafet mulai digulirkan.  Ketua presidium saat itu adalah junior saya, dan saya sendiri ditunjuk sebagai sekretaris.  Saat senior-senior yang sudah lulus menjadi semakin sibuk, kamipun mulai belajar mandiri.

Kami pernah mencoba mengubah waktu rapat menjadi hari Sabtu, saya sendiri lupa alasannya, entah karena hari Jumat selalu berbentrokan dengan pendalaman iman atau latihan koor, sehingga waktu rapat menjadi terlalu siang, saya sudah tidak ingat lagi. Rapat di hari Sabtu rupanya mengundang banyak peminat legio. Alasannya simple, karena teman-teman menghindari kegiatan pramuka yang diadakan hari Sabtu. Kami anggota legio mendapatkan dispensasi untuk terlambat datang ke kegiatan Pramuka.  Karena motivasi para simpatisan yang seperti itu, ditambah lagi dengan teguran dari beberapa guru dan juga pembimbing rohani, akhirnya kami kembali rapat di hari Jumat siang, dengan konsekuensi jumlah anggota kami menyusut dengan cepat.

Sempat terjadi masalah antara kami dengan guru agama di sekolah. Waktu itu jadwal rapat kami bentrok dengan latihan koor. Kami minta izin untuk rapat legio pada guru agama kami, namun bukan izin yang didapat, kami malah ditegur dengan keras oleh guru agama kami, bahwa berdoa saja tanpa berkarya tidak ada gunanya. Sedih sekali rasanya untuk remaja-remaja seumuan kami saat itu.

Waktu berjalan, akhirnya tibalah waktu bagi saya dan dua orang legioner lain untuk lulus dari SMP. Kami terpisah di dua sekolah yang berbeda. Salah satu teman saya diterima di SMU negeri, sedangkan saya dan seorang teman saya yang menjabat bendahara diterima di SMU Katolik. Pada masa itu (dan sepertinya hingga saat ini), setiap hari Jumat, setiap siswa SMU negeri wajib mengikuti mata pelajaran agama di sekolah Katolik terdekat, dan waktunya lebih panjang dibandingkan dengan pendalaman iman yang harus dijalani kami yang bersekolah di sekolah Katolik.

Awal-awal kami menginjak bangku SMU, kami bertiga masih rutin setiap Jumat datang ke sekolah kami dulu untuk rapat legio, walaupun setiap rapat harus menunggu teman yang dari SMU negeri, namun kami masih bersemangat untuk tetap rapat rutin setiap Jumat. Akhirnya teman yang sekolah di SMU Negeri mengundurkan diri karena kesibukan sekolahnya, tinggal kami berdua yang masih rutin datang, namun kali ini semangat kami sudah mulai pudar. Lama-lama akhirnya tinggal saya sendiri yang masih datang ke SMP kami untuk rapat.

Tahun ajaran baru datang lagi, kali ini giliran ketua presidium kami dan sebagian besar perwira yang lulus. Masalah muncul karena tak ada regenerasi. Meskipun kami sudah sering mengumumkan mengenai adanya Legio Maria di sekolah kami, namun tak ada tanggapan dari siswa-siswa baru, sehingga ketika angkatan ini lulus, kami tak punya penerus lagi, disamping itu adanya masalah dengan guru agama di sekolah membuat kami merasa “agak tidak didukung”.  Memang mereka semua masih bersekolah di kota yang sama, namun sulit sekali mencocokkan waktu untuk rapat. Akhirnya kadang-kadang  yang datang rapat hanya sekretaris I, sekretaris II dan ketua presidium. Sering kami hanya berdoa Tessera saja dan tak jarang pula kami hanya mengobrol saja tanpa rapat.

Lama-lama, semangat itu betul-betul hilang ditelan kesibukan kami semua, para siswa yang kebingungan membuat skala prioritas. Menjelang akhir 2001 kami tak pernah bertemu untuk rapat lagi. Akhirnya presidium Perawan Yang Setia hanya tinggal nama. Kami tak pernah menemukan (atau mungkin tak pernah mencari?)  solusi yang tepat untuk meneruskan presidium kami.

Saya sendiri sejak awal masuk SMA bertemu dengan salah satu legioner senior, yang kebetulan bekerja di perpustakaan sekolah. Beliau sering mengajak saya untuk ikut menjadi simpatisan di presidiumnya yang baru saja dibentuk dan seringkali ikut membantu bila mereka mengadakan acara. Saya juga diikut sertakan dalam program-program kerja koordinator Legio di paroki Katedral, yang sebetulnya adalah paroki tempat saya tinggal. Status saya tetap menjadi simpatisan karena usia saya belum 18 tahun. Namun menjelang akhir tahun 2002 timbul konflik antar anggota presidium, yang saat itu belum saya mengerti, membuat situasi presidium sangat panas, ditambah dengan persiapan menjelang ujian akhir, membuat saya akhirnya mundur perlahan dari Legio Maria. Tahun 2003 saya masuk kuliah. Tahun 2004 seluruh mantan perwira seluruhnya sudah masuk bangku kuliah, sebagian kuliah di luar kota Bogor. Ketua kami kuliah di Surabaya, yang hanya bisa pulang ke Bogor pada masa liburan panjang saja. Tinggal saya yang tertinggal di Bogor.

Bulan Agustus 2004, akhirnya dengan berat hati, kami mengajukan pembekuan sementara Presidium Perawan Yang Setia. Seluruh asset dan kas diserahkan kepada komisium. Laporan tahunan terakhir kami buat berdasarkan arsip-arsip yang masih tersisa. Bahkan kami tak sempat menghadap pembimbing rohani, dan permohonan approval untuk laporan tahunanpun kami titipkan via sekretariat SMP kami. Ada perasan bersalah karena saya dan rekan-rekan perwira tidak bisa menjaga kelangsungan presidium kami, kami merasa gagal melakukan regenerasi yang akhirnya membunuh presidium kami.

Sejak tahun 2004 itulah saya betul-betul tidak pernah mendengar kabar tentang Legio Maria. Baru pada tahun 2009 saya mendengar legio lagi. Saat itu, saya disms oleh seorang legioner senior di Katedral, yang dulunya sangat disegani (dan ditakuti), khususnya saat kami melaporkan laporan tahunan. Beliau mengajak say untuk ikut berjualan buku misa dan lilin saat pekan suci, juga saya diajak untuk ikut membantu perayaan paskah oma opa. Begitu seterusnya, setiap ada kegiatan yang melibatkan legio, senior itu selalu mengabari dan mengajak saya. Namun saya belum terpanggil untuk ikut legio lagi, karena trauma dengan kejadian terdahulu, dan saya masih merasa belum bisa berkomitmen, saya takut saya akan meninggalkan presidium saya seperti yang saya pernah lakukan dulu.

Akan tetapi, Bunda Maria membukakan jalan bagi saya untuk kembali menjadi tentaranya. Lewat berbagai kegiatan yang diadakan koordinator legio Katedral, saya mulai merasa terpanggil lagi. Puncaknya pada ziarah bersama pembimbing rohani kami, saya betul-betul merasa Bunda memanggil saya untuk menjadi tentaranya lagi. Dan sejak Mei 2011, saya resmi bergabung dengan Presidium Putri Kerahiman Katedral. Saya mulai menjalankan tugas sebagai legioner senior, mengunjungi lansia, mengunjungi lembaga pemasyarakatan, dan juga menjadi panitia natal dan paskah lansia.

Beberapa bulan setelah bergabung di Legio lagi, saya harus menghadapi badai konflik lintas presidium, ditambah lagi jumlah man power yang tidak terlalu banyak membuat kami harus bekerja ekstra keras dalam menjalankan setiap program kerja. Sebuah nasehat dari seorang rekan menguatkan saya : “Orang harus menghadapi ujian agar bisa naik tingkat. Setelah kita berhasil melewati ujian itu, maka segalanya akan terlihat lebih mudah. Bunda Maria pasti bantu”. Betul juga, dalam perkawinan di Kana saja, Bunda Maria yang hanya menjadi tamu begitu peka dengan kesulitan tuan rumah dan meminta putrannya untuk berbuat sesuatu, nah apalagi kita yang adalah tentara Maria, sudah pasti Bunda tidak akan terlambat mengirim pertolongan.

Suatu Sabtu, menjelang rapat presidium, ketua presidium kami yang juga adalah sekretaris komisium mengajakku membongkar arsip-arsip komisium untuk mencari data presidium Perawan Yang Setia. Ternyata Presidium Perawan Yang Setia sudah mulai hidup kembali. Rasanya bahagia bukan main mendengar presidium itu mulai berdenyut lagi jantungnya. Apalagi ketika saya akhirnya bertemu langsung dengan perwira-pewiranya saat ulang tahun komisium, rasanya lega sekali melihat presidium itu betul-betul aktif dan punya perwira. Ingin sekali saya memeluk erat mereka yang bisa berhasil membangun presidium itu lagi. Karya Bunda memang tak terduga. Setelah dibekukan sekitar 7 tahun, ternyata presidium itu kini bangun lagi. Bahkan jumlah anggotanya cukup banyak, meski sekarang sudah menjadi presidium senior dan bukan presidium junior lagi.

Pada Acies 2012 saya melihat lagi vandel presidium Perawan Yang Setia dipasang dan dibawa menuju altar. Vandel itu membuka kenangan 13 tahun yang lalu saat saya dengan penuh semangat belajar dan berusaha menjadi tentara Maria yang setia. Meskipun kali ini saya membawa vandel Putri Kerahiman, namun Perawan Yang Setialah yang pertama kali mendidik saya sebagai seorang legioner.

Perjalanan masih panjang, saya mohon doa rekan-rekan legioner sekalian agar saya tetap bisa menjadi legioner yang sejati, yang setia dan bertanggung jawab.

Tuhan memberkati.

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s