Kunjungan ke Lapas Kelas II A Pondok Rajeg, Cibinong

Hari Sabtu tanggal 11 Agustus 2012 adalah hari yang istimewa bagi kami, legioner Katedral Bogor, karena pada hari itu kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi Lembaga Permasyarakatan Pondok Rajeg di Kabupaten Bogor. Kami pergi bersama rombongan dari Paroki Santo Fransiskus Asisi Sukasari yang dipimpin oleh Romo Garbito.

Kami berenam berangkat dari Gereja Katedral pada pukul 07:00 dan bertemu dengan rombongan dari Sukasari di Rest Area Sentul. Tiba di Pondok Rajeg sekitar pukul 08:30, dan Romo Garbito segera mengurus izin untuk bisa masuk ke dalam Lapas. Kami yang terbiasa mengunjungi Lapas Paledang sempat tercengang melihat bagian luar Lapas Pondok Rajeg yang begitu rapi dan terlihat tertata. Salah seorang rekan bahkan nyeletuk bahwa bangunan ini mirip hotel. Meskipun demikian dari bagian luar sudah terlihat pagar-pagar besi tinggi khas penjara.

Prosedur masuk ke Lapas ini jauh lebih rumit daripada memasuki Lapas Paledang. Selain menuliskan jumlah peserta, kami harus menuliskan dengan lengkap perlengkapan yang kami bawa untuk beribadah. Tidak boleh ada handphone masuk ke area Lapas, sehingga semua handphone kami tinggal di mobil. Sipir yang menjaga pun hampir tanpa senyum sama sekali. Wah, barulah terasa seram dan dinginnya penjara. Kami kemudian menyusuri jalan kecil yang di kiri kanannya dibatasi oleh pagar-pagar besi, hingga berujung di sebuah gereja kecil bernama Gereja Oikumene Terang Dunia. Waw, ternyata di dalam lapas ini ada gereja dan juga wihara, hal yang tidak kami temukan di Lapas Paledang. Dinginnya suasana lapas langsung tercairkan oleh sambutan beberapa warga binaan yang menyalami kami di pintu gereja. Romo Garbito sudah sekitar dua tahun terakhir melayani setiap bulan ke Lapas ini, sehingga beliau sudah banyak mengenal warga binaan. Ini pula yang membuat suasana semakin hangat dan bersahabat. Gereja yang awalnya masih kosong, lambat laun dipenuhi oleh warga binaan beragama Kristen dan Katolik, dengan seragam khas mereka, yaitu batik berwarna hijau.

Acara dibuka oleh Romo Garbito yang memperkenalkan kelompok Legio Maria, sebagai kelompok doa yang berdevosi kepada Bunda Maria. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan Lapas Pondok Rajeg oleh dokter Leo. Lapas Pondok Rajeg adalah Lapas khusus pria dengan jumlah warga binaan sebanyak 1236 orang, dan jumlah warga binaan yang beragama Kristen dan Katolik sebanyak 136 orang. Dalam Lapas ini terdapat 4 blok, yaitu blok A (Alfa) untuk warga binaan kasus kriminal, blok B (Beta) untuk sel tikus, atau sel pengasingan bagi warga binaan yang “masih bandel”, blok C (Charli) untuk warga binaan yang sebentar lagi akan keluar dari Lapas, dan blok D (Delta) untuk warga binaan kasus narkoba. Warga binaan Kristen Katolik mendapat 4 kali waktu ibadah dalam seminggu, yaitu hari Senin, Selasa, Rabu dan Sabtu. Hari Sabtu kedua dalam bulan adalah waktu bagi Gereja Katolik untuk melayani ibadah disana.

Selanjutnya Romo memberikan kesempatan kepada warga binaan yang beragama Katolik untuk mengaku dosa, dan yang non Katolik tetap di dalam Gereja menyanyikan puji-pujian yang dibawakan oleh tim pujian warga binaan yang dipimpin oleh Sdr. Samuel. Kami begitu takjub dengan semangat para warga binaan untuk memuji Tuhan, sehingga suasana gereja begitu gegap gempita, membuat kami merasa ini seperti bukan di dalam Lapas.

Setelah selesai pengakuan dosa, ibadat dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi. Dalam kata pengantarnya, Romo Garbito mengatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, Gereja Katolik terpaksa tidak bisa melakukan pelayanan di lapas ini, dan ternyata dalam beberapa bulan itu terdapat penambahan jumlah warga binaan Kristen dan Katolik. Romo juga menyampaikan bahwa hari ini adalah Hari Peringatan Wajib Santa Klara dari Asissi, seorang wanita yang menyerahkan dan menjaga keperawanannya dengan menjadi biarawati. Santa Klara memiliki kerendahan hati dan kerelaan diri untuk meninggalkan kekayaan di istana untuk mengikuti Yesus.

Bacaan kitab suci hari ini diambil dari Filipi 3 : 7-14 mengenai kesaksian Paulus tentang kebenaran yang sejati dan bacaan injil diambil dari Matius 19:27-29 mengenai “Upah mengikuti Yesus”. Dalam homilinya, Romo menjelaskan persamaan dan perbedaan antara Paulus dengan warga binaan. Persamaannya adalah : baik Paulus dan warga binaan berusaha mengenal Krisus dengan cara yang sama yaitu ditangkap. Namun yang membedakan adalah siapa yang menangkapnya. Paulus ditangkap oleh Yesus, sedangkan warga binaan ditangkap oleh aparat. Paulus dan kita semua adalah sama-sama manusia biasa. Tapi Paulus berani meninggalkan pekerjaan dan cara hidup yang lama, dan semakin mendekatkan diri dan menjalin relasi dengan Yesus. Paulus kemudian menikmati pekerjaan barunya yaitu memberikan kesaksian tentang Yesus. Warga binaan dipaksa untuk meninggalkan cara hidup yang lama, dan di dalam lapas diarahkan untuk menjalani cara hidup yang baru dan juga untuk menjalin relasi yang lebih dekat dengan Yesus.

Dalam bacaan injil hari ini, dapat kita temukan pertanyaan Petrus pada Yesus : “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau, jadi apakah yang akan kami peroleh?”. Mengapa Petrus bertanya demikian? Ini karena Petrus masih berpikir tentang pamrih dan hal-hal duniawi. Petrus ingin menagih janji dari Yesus. Namun pertanyaan ini adalah pertanyaan yang umum, yang dilontarkan oleh manusia. Manusia selalu mencari apa yang bisa diperoleh atas apa yang sudah dikerjakan. Jawaban yang diberikan Yesus amat menarik, yaitu : “ Setiap orang yang karena namaKu meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki, atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal”. Jadi bukan upah dunia, namun upah kehidupan kekal yang Yesus berikan. Warga binaan dipaksa untuk meninggalkan pekerjaan dan keluarga mereka. Sebetulnya ini adalah cara Tuhan Yesus menyayangi para warga binaan. Romo mengingatkan juga bahwa kacamata dunia berbeda dengan kacamata Tuhan, kenikmatan duniawi berbeda dengan kenikmatan surgawi.

Diakhir homilinya, Romo memberi kesempatan bagi dokter Leo untuk memberikan kesaksian. Kesaksian dari dokter Leo menjawab rasa penasaran kami, mengapa beliau dipanggil dengan sebutan “dokter”. Memang sebelumnya beliau adalah seorang dokter gigi, yang sudah praktek selama 15 tahun. Beberapa tahun yang lalu, dokter Leo mengalami kejenuhan dalam profesinya, dan juga ada perasaan selalu ada di bawah bayang-bayang kedua orangtuanya yang juga adalah dokter gigi. Beliau memiliki keinginan untuk berhasil dengan cara yang ditempuhnya sendiri. Berawal dari menyelamatkan seseorang yang sedang melarikan diri dari aparat karena narkoba, membuat beliau terseret dalam bisnis pembuatan narkoba yang dikerjakan orang itu. Iblis begitu cerdik dalam berkerja, sehingga tanpa disadari dokter Leo direkrut oleh orang itu. Uang yang didapat diinvestasikan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarganya. Namun, akhirnya beliau tertangkap pada suatu pagi di sebuah hotel di kawasan Grogol, setelah sebelumnya 2 bosnya sudah tertangkap lebih dulu. Dalam hatinya beliau berkata : “Selesailah pekerjaan saya.”

Dokter Leo memang berasal dari keluarga Katolik, belajar di sekolah Kristen atau Katolik. Namun beliau hanya pergi ke gereja untuk formalitas saja. Sering sekali beliau mengikuti misa sambil memantau operasional bisnisnya.

Setelah ditangkap, sekitar 10 hari dokter Leo mengalami penyiksaan dengan tujuan agar beliau mengaku dan memberi informasi mengenai bisnis narkobanya. Setelah masa interogasi selesai, beliau dipindahkan ke tahanan Polda, dan mulai ikut ibadah oikumene. Disana beliau mulai rajin berdoa dan membaca kitab suci. Hingga akhirnya beliau dipindahkan ke Pondok Rajeg. Disini beliau semakin mengenal Yesus dan mulai bertumbuh karena pelayanan di gereja. Mulai muncul keinginan untuk dibaptis, karena beliau ingin memulai hidup yang baru dan melakukan seuatu yang berarti.

Selama menjadi warga binaan, beliau sempat diajak untuk berdagang narkoba lagi oleh sesama warga binaan. Akan tetapi, beliau sudah benar-benar bertobat dan tidak mau lagi terlibat dengan narkoba. Meskipun telah bertobat, beliau tidak mencoba menghubungi istrinya, yang pastinya amat kecewa dengan perilakunya. Beliau hanya bisa berdoa dan berdoa saja. Namun lama-lama terlihat perubahan pada hati istrinya. Istrinya sudah mulai bisa mengampuni kesalahan dokter Leo dan komunikasi mereka sudah jauh membaik, begitu juga hubungan antara dokter Leo dengan anak-anak dan ibunya yang memang kurang baik sejak sebelum dokter Leo dipenjara.

Kondisi di penjara membuat dokter Leo seringkali merasa tak berdaya, dan tak bisa berbuat apa-apa. Namun kondisi itulah yang menimbulkan kesadaran dalam diri beliau, bahwa ketika kita tak bisa berbuat apa-apa, kita tetap masih bisa berdoa pada Tuhan.  Apa yang menjadi kebingungan kita, tanyakan saja pada Bapa yang di surga.

Dalam dua setengah bulan ke depan, dokter Leo akan dibebaskan, dan beliau sudah mempunyai rencana untuk membuka katering, bersama dengan Pak Bo yang adalah mantan warga binaan. Ketika mendapat ajakan dari Pak Bo, dokter Leo sempat merasa bimbang dan ragu-ragu. Dalam keraguan itu beliau berdoa meminta tanda dari Tuhan. Pada hari pertama Pak Bo bebas, dokter Leo mendapatkan kata-kata bijak dari buku renungan harian yang dibacanya : “Ketika bakat anda dan kebutuhan dunia bertemu, disitulah pekerjaan anda.” Dokter Leo pun menjadi yakin dengan rencana yang sudah disusunnya bersama Pak Bo. Diakhir kesaksiannya, dokter Leo mengatakan bahwa memang tak mudah untuk meninggalkan hidup yang lama, maka beliau meminta kami untuk tetap mendoakan beliau agar tetap bisa kuat dan hal-hal positif yang telah didapatkan di dalam lapas dapat terus dipertahankan.

Setelah misa usai, acara dilanjutkan dengan kesaksian dari Saudari Dewi (legioner Katedral) tentang kesetiaan dan tanggung jawab. Dua video disajikan, yang pertama berjudul “Take A Lead” mengenai seorang anak kecil di India yang mempunyai inisiatif untuk menyingkirikan sebuah pohon tumbang di tengah jalan yang menyebabkan kemacetan panjang. Inisiatif anak itu membuat orang-orang dewasa di sekitarnya untuk ikut serta, hingga akhirnya pohon besar itu berhasil dipindahkan. Video ini mengingatkan kita semua untuk tetap setia dan bertanggung jawab pada tugas-tugas kita, baik di dalam maupun di luar lapas, termasuk mengingatkan kami semua juga pada kesetiaan kami sebagai legioner.

Video yang kedua adalah tentang seorang ayah yang menyia-nyiakan waktu yang ia miliki bersama putranya. Putranya tak pernah merasakan kehangatan dari ayahnya. Ayahnya hanya bisa memarahi atau memerintah saja. Ketika putranya memutuskan menjadi pemusik, ayahnya tidak setuju hingga anak itu pergi dari rumah. Ayahnya kemudian menyadari kesalahannya dan memutuskan menonton konser putranya. Akan tetapi, ia tak punya kesempatan lagi. Dalam perjalanan ke tempat konser, ia mengalami kecelakaan yang menewaskannya. Maka jangan pernah menyiakan kesempatan untuk berbuat baik, karena mungkin kita tak punya waktu lagi untuk melakukannya.

Selanjutnya, kami dibuat begitu terpukau oleh suara ibu Dewi (paroki Sukasari) yang begitu indah menyanyikan lagu El Shaddai, dan lebih terpukau lagi ketika vocal group warga binaan, yaitu Voice of Imannuel (VOI) menutup acara hari itu dengan menyanyikan lagu One Day at A Time.

Kami pulang dari lapas pada pukul 11:00 membawa pengalaman yang tak terlupakan dari lapas Pondok Rajeg. Semoga kamipun mampu meninggalkan cara hidup lama dan menempuh cara hidup yang baru agar Tuhan Yesus bekerja atas hidup kami.

Hmm… sebelum kami meninggalkan komplek Lapas, Romo Garbito sempat memberi tahu kami bahwa para anggota Voice Of Immanuel yang menyanyikan One Day at a Time tadi, ketiganya adalah mantan pembunuh… Wow…

“I’m only human, I’m just a man,

Help me believe in what I could be and all that I am

Show me the stairway, I have to climb

Lord for my sake, help me to take one day at a time

One day at a time, sweet Jesus

That’s all I’m asking from you

Just give me the strength to do everyday

What I have to do

Yesterday’s gone, sweet Jesus

And tomorrow may never be mine

Lord help me today, show me the way, one day at a time

Do you remember when you walked among men

Well Jesus You know If You’re looking below

It’s worse now than then

Pushing and shoving, crowding my mind

So for my sake, teach me to take,

One day at a time

(One day at a time)


10 thoughts on “Kunjungan ke Lapas Kelas II A Pondok Rajeg, Cibinong

    1. halo,Pak David… apakah Bapak masih suka berjumpa dg mereka? jika iya bagaimana kabar mereka? apakah baik2 saja? mohon sampaikan salam saya pada dr. Leo ya,Pak…terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s