I believe that you’re in heaven….

Aku mengenalnya lebih dari 2 tahun yang lalu.

Hmm, kata “mengenal” sepertinya tidak tepat untuk kugunakan. Dalam kamusku, mengenal seseorang berarti pernah berjumpa, pernah bercakap, dan minimal tahu sedikit tentang orang itu.

Mungkin kata “tahu”, lebih tepat untuk kugunakan, walau aku sendiri merasa kata ini juga bukan kata yang betul-betul tepat untuk menggambarkan hubunganku dengan dirinya.

Dua setengah tahun yang lalu, kami dipertemukan dalam keadaan yang sangat tidak baik. Aku sedang menunggu proses kremasi dari tanteku tersayang di krematorium Oasis Lestari, ketika aku memutuskan untuk masuk ke kolumbarium, awalnya hanya untuk sekedar tahu  seperti apa kondisi di dalamnya. Aku bukannya tak pernah tahu apa itu kolumbarium. Kolumbarium adalah rumah abu, tempat abu jenazah dititipkan di dalam lemari-lemari kecil berkaca. Aku pernah masuk kolumbarium ketika kelas 3 SD, ketika itu kami bermaksud mengambil abu jenazah emakku (nenek) untuk sama-sama dilarung  dengan abu jenazah engkongku (kakek). Tapi aku tak pernah ingat seperti apa detail kolumbarium yang waktu itu kumasuki. Maka aku begitu ingin tahu seperti apa isi kolumbarium, karena aku tahu, diusia sekarang ini, memoriku sudah cukup baik untuk merekam apa yang akan kulihat di dalam kolumbarium.

Baru beberapa langkah dari pintu masuk, aku melihatnya, bukan dirinya, tapi fotonya, di sebuah susunan lemari kaca di sebelah kananku, yang posisinya tepat sejajar dengan pandangan mataku. Aku melihat namanya sekilas, dan melihat pula tanggal lahir serta tanggal kematiannya. Ia meninggal setahun yang lalu, tepat di bulan ini.

“Tuhan, ia baru berumur 30 tahun, mengapa harus meninggal, Tuhan?” Itulah kalimat yang langsung terucap di hatiku. Menyaksikan catatn kematian dari seseorang yang berumur hampir sama dengan kita akan membawa kita lebih dekat pada kematian itu. Juga membawa sebuah pemahaman bahwa maut datang tanpa memandang usia.

Aku memandang lagi fotonya, seorang pria tampan, dengan senyum yang lembut dan mempesona, dengan sepasang mata yang ramah di balik kacamatanya. “Tuhan, sayang sekali pria setampan ini harus meninggal begitu cepat..” Dan aku tersadar begitu kurang ajarnya aku mempertanyakan dan menyesalkan rencana Tuhan. Aku melangkah lebih dekat ke lemari abunya. Ada sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun dengan cover berwarna hijau dilekatkan di kaca lemari itu. Ucapan ulang tahun dan pesan-pesan penuh kasih dituliskan oleh adik-adik dan kakaknya. Membaca isi kartu itu membuatku hampir menumpahkan lagi cadangan air mataku yang sudah menipis. Pria itu begitu dicintai oleh keluarganya. Bahkan setelah ia meninggalpun, keluarganya masih mengingat hari ulang tahunnya dua bulan yang lalu, dan menuliskan kata-kata penuh cinta seolah ia masih hidup di dunia ini.

Aku memandang lagi fotonya, dan akhirnya aku memutuskan untuk melangkah meninggalkannya. Hari yang melelahkan dan penuh air mata itupun berakhir, namun bayangan pria tampan berkaca mata itu tak juga hilang dari ingatanku.

Akhir bulan Juni 2010, aku mendapatkan kesempatan untuk interview kerja di sebuah perusahaan di daerah Batu Ceper Tangerang. Entah kenapa, sejak aku berangkat interview aku merencanakan untuk datang ke kolumbarium. Padahal jaraknya cukup jauh dari Batu Ceper, aku harus naik bus sekali dan naik angkot sekali lagi, lalu dari kolumbarium aku harus naik angkot lagi, dan menyambung dengan bus lagi. Seharusnya aku hanya perlu naik bus sekali saja untuk sampai ke tujuanku. Namun bayangan pria berkacamata itu membuatku begitu bersemangat dan gembira melakukan perjalanan panjang dan melelahkan itu.

Dengan bertanya-tanya sepanjang perjalanan, sampailah aku di rumah abu itu. Dengan senyum yang lebar aku berdiri di depan lemari abu pria itu. Fotonya masih sama seperti pertama kali aku melihatnya. Dan foto itu betul-betul membuatku jatuh hati padanya. Seusai berdoa, aku memotret lemari abunya, dan kemudian beranjak pulang.

Di perjalanan pulang, iseng-iseng aku browsing namanya di google. Dan aku tak menyangka bisa menemukan namanya di dunia maya. Namun apa yang aku temukan membuat sekujur tubuhku lemas.  Pria itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Sebuah situs milik televisi lokal memuat beritanya. Mobil yang ia kendarai menabrak sebuh truk yang mogok di jalan tol. Aku masih belum yakin itu dirinya, namun ketika melihat tanggal kejadiannya yang sama dengan tanggal meninggal pria itu, barulah aku yakin bahwa pria itulah yang menjadi korban dalam kecelakaan itu. Aku membaca berita itu berulang-ulang, dan kembali mempertanyakan rencana Tuhan.

Menurut berita itu, mobil yang ia kendarai menabrak sebuh truk yang sedang mogok, pada kira-kira pukul 2 pagi. Setelah menabrak truk itu, mobilnya terbakar dan menewaskannya yang terjepit di dalam. Setelah apinya padampun, tubuhnya masih belum bisa dikeluarkan karena sebagian tubuhnya terjepit dan melekat pada kursi mobilnya. Rasanya sebuh palu memukul dadaku sehingga menjadi sulit bernapas. “Tuhan, mengapa bisa begitu?” lagi-lagi aku bertanya.

Aku tahu, sia-sia aku bertanya mengapa begini mengapa begitu. Dia sudah meninggal. Yang harus aku lakukan adalah mendoakannya, dan hanya itu yang bisa aku lakukan untuk dia. Sempat muncul juga kebingungan dalam hatiku, mengapa aku begitu terobsesi dengan dia? Aku tak pernah tahu dirinya, aku tak pernah berjumpa dirinya, aku tak pernah mengenal dirinya. Aku sendiri tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Berharap dengan mendoakannya aku bisa mendapat jawaban.

Aku dibesarkan dalam kepercayaan bahwa doa orang-orang yang ada di dunia dapat melepaskan dosa dari orang-orang yang sudah meninggal. Dan bahwa doa itu bisa membuat orang yang telah meninggal memperoleh kebahagiaan bersama Tuhan. Kematian akibat kecelakaan bisa dikategorikan sebagai kematian yang mendadak, dan pastinya arwah pria itu harus didoakan agar ia bisa segera bahagia di surga. Itu saja pemikiran sederhanaku.

Sejak hari itu aku punya rutinitas baru, yang pertama adalah menyebut namanya dalam doaku, bersama dengan nama saudara dan teman yang juga sudah berpulang. Selama 9 hari pertama aku mendoakannya, rasanya dadaku begitu sesak dan berat saat menyebut namanya. Seolah aku bisa merasakan kesedihan dan kehilangan atas kematiannya. Tepat setelah aku mendoakannya di hari ke-9, rasa sesak di dadaku menghilang dengan segera. Aku berharap semoga perasaan itu menunjukkan bahwa langkahnya sudah semakin dekat pada Tuhan.

Rutinitas yang kedua adalah mencari tahu segala hal tentang dirinya di dunia maya. Aku berhasil menemukan account friendsternya. Aku bisa mengetahui sedikit tentang biografi, pekerjaan dan kegemarannya. Aku bisa membaca testimonial dari teman-temannya. Inilah yang membuat dadaku kembali sesak. Testimonial terakhir di accountnya adalah dari seorang teman wanitanya. Isinya tentang clubbing. Aku masih berharap ada definisi lain dari kata “clubbing”, selain makna negatif yang ada di pikiranku selama ini.

Aku juga bisa membuka foto-fotonya di friendster. Memastikan bahwa memang ini memang accountnya. Ada satu foto dimana dia difoto bersama teman-temannya, yang kebanyakan wanita. Dari suasana dan komentarnya, aku hampir yakin bahwa foto ini dibuat dalam suasana yang dijelaskan oleh kata “clubbing”.

Namun ada satu yang membuatku begitu kaget. Foto itu diposting tepat 20 hari sebelum kecelakaan maut itu merenggut nyawanya.  “Tuhan….”, aku menyebut nama Tuhan lagi, namun kali ini aku tak sanggup bertanya apa-apa.

Aku menemukan situs-situs lain yang memuat berita kecelakaannya. Aku menemukan juga obituary peringatan 1 tahun kematiannya pada sebuah situs, dan akhirnya aku mencari versi cetaknya pada tumpukan koran yang hampir dibuang di perpustakaan pabrik. Aku menemukan juga account facebooknya, yang tidak bisa dilihat olehku karena ku bukan temannya. Aku mulai mencari latar belakang keluarganya, gruop perusahaan tempat ia bekerja. Aku betul-betul merasa gila karena terobsesi pada pria ini. Mungkin kalau ia masih hidup semua akan terlihat wajar, namun terobsesi pada orang yang sudah meninggal? Aku sendiri tak tahu mengapa bisa begini.  Kadang muncul perasaan rindu dalam hatiku untuk pergi ke kolumbarium dan memandang fotonya. Betul-betul aneh.

Bulan September 2010, aku mendapat kesempatan dinas ke Jatake. Lagi-lagi aku mencoba mencuri waktu untuk mampir di kolumbarium. Aku masih ingat, waktu itu hujan turun dengan deras, sehingga begitu sulit untuk melangkah. Namun aku begitu bersuka cita karena aku bisa melihat fotonya lagi.

Terakhir kali aku kesana bulan Oktober 2010. Ketika itu aku baru pulang dari melayat ayah temanku di daerah Curug. Dan pulangnya aku ke kolumbarium. Setelah pertemuan terakhir itu aku sakit diare berat. Dan hingga saat ini aku tak pernah dapat kesempatan lagi untuk ke sana. Aku hanya bisa memandang foto lemari abunya saja ketika aku merasa rindu.

Aku mencoba melihat dari sisi positif, mungkin Tuhan sengaja “mempertemukan” aku dengannya hari itu. Agar aku bisa lebih membuka pandanganku tentang cinta dan tentang kematian. Mungkin Tuhan mau mengajarku untuk lebih bijaksana dalam hidup, karena kematian datang pada saat yang tak kita duga. Dan yang pasti aku tahu Tuhan ingin agar aku lebih menghargai hidup. Juga untuk mengingatkanku bahwa walaupun sudah berbeda dunia, mereka masih terikat dengan kita. Kita yang masih hidup di dunia ini masih bisa menolong dan membahagiakan mereka dengan doa-doa kita.

Sejak awal mula aku mengetahui penyebab kematiannya, aku sering sekali membayangkan apa yang ia rasakan ketika ia menghadapi detik-detik kematiannya. Apakah ia merasa takut? atau apakah ia merasa sakit yang luar biasa? Apakah ia ingat Tuhan. Apakah ia meninggal sebelum mobilnya terbakar? Apa yang ia ingat terakhir kali? Apakah ia menyesal? Aku membayangkan ia duduk di belakang kemudi, menyetir dengan kecepatan tinggi (seperti yang dikatakan para saksi mata), lalu melihat truk di depannya. Ia panik dan takut, namun tak mampu berbuat apa-apa. Kemudian ia menabrak truk itu, mobilnya terbakar. Gambaran itu begitu menakutkan bagiku yang tak pernah mengenalnya. Dan pastinya gambaran itu amat menyakitkan bagi mereka yang menyayanginya.

Aku juga mempertanyakan, mengapa ia ada diluar rumah pada waktu sepagi itu. Itu bahkan belum bisa dikatakan pagi. Waktu itu adalah peralihan dari malam menuju dini hari. Dari mana ia? Mau kemana ia? Apakah ia mengemudi dengan sadar? Ataukah ia mengantuk? Atu apakah ia mabuk? Semuanya begitu menyakitkan untuk dibayangkan, dan tak ada satupun jawaban yang bisa kuperoleh dari pertanyaanku.

Sejak akhir tahun lalu aku belajar mengemudikan mobil. Setiap kali duduk di belakang kemudi, gambaran-gambaran tentang saat terakhir pria itu semakin jelas ada di benakku. Betul-betul menjadi gambaran yang amat menakutkan, membebani dan sering membuatku membeku sesaat.

Kemarin saat menonton Kick Andy, ada sebuah nasehat dari seporang psikolog kepada seorang ibu yang ditinggal putrinya yang meninggal karena dibunuh. Kata beliau, daripada membayangkan apa yang terjadi di saat-saat terakhir putrinya, dan daripada membayangkan seperti apa ketakutan yang dirasakan putrinya, sebaiknya percaya saja bahwa putrinya sudah berbahagia di surga bersama Tuhan.

Aku tertohok sekaligus mendapat pencerahan dari kalimat itu. Daripada aku membayangkan dan menggambarkan kematian pria itu, sebaiknya aku tetap mendoakannya dan percaya bahwa sekarang ia sudah di surga, atau sedang dalam perjalanan menuju surga.

Aku berharap semoga aku bisa bertemu denganmu di surga. Lalu aku akan mengenggam tanganmu dan berkata, “Akhirnya aku bisa  berjumpa denganmu.”

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would you feel the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
‘Cause I know I don’t belong here in heaven

Would you hold my hand
If I saw you in heaven?
Would you help me stand
If I saw you in heaven?
I’ll find my way through night and day
‘Cause I know I just can’t stay here in heaven

Time can bring you down, time can bend your knees
Time can break your heart, have you begging please, begging please

Beyond the door there’s peace I’m sure
And I know there’ll be no more tears in heaven

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would you feel the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
Cause I know I don’t belong here in heaven

(Tears in Heaven-Eric Clapton)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s