A letter…

Angin dingin bulan Oktober menerpa wajahku. Langit mendung mewarnai siang ini. Tak masalah buatku. Bagiku, langit mendung serasa surga dan hujan adalah penyejuk jiwa.

Aku mempercepat langkahku melawan angin, hanya tinggal beberapa meter lagi dari gerbang gereja. Namun langkahku terhenti ketika mataku menyapu trotoar. Pohon-pohon ini sudah menggugurkan bunganya. Aku tak pernah tahu nama dari pohon ini. Pohonnya setinggi dua hingga tiga meter, buahnya berbentuk seperti mangga, namun panjangnya hanya seruas ibu jariku. Kelopak bunganya berwarna merah, kokoh dan mulus seperti plastik. Mahkotanya berwarna putih bergerigi, tak sekokoh kelopaknya, namun tak serapuh mahkota mawar. Bunga-bunga itu biasa berguguran pada awal musim hujan. Biasanya aku tak pernah peduli dengan bunga-bunga yang memenuhi trotoar depan gereja, namun sudah empat tahun ini bunga-bunga yang rontok ini selalu berhasil menguras cadangan air mataku.

Titik-titik hujan mulai turun. Aku tahu aku harus segera beranjak melangkah menuju gereja. Dan meskipun kakkiku terasa berat, aku berhasil membuat satu langkah pertama, yang diikuti langkah-langkah berikutnya, hingga akhirnya aku menginjakkan kakiku di pelataran gereja.

Hujan turun dengan deras, sesaat setelah aku tiba di gereja. Ah, syukurlah, hujan yang deras ini bisa menyembunyikan air mataku yang sejak tadi tak dapat kuhentikan alirannya. Biarlah mereka melihatnya sebagai tetedsan air hujan. Biarlah tak perlu ada seorang pun yang tahu apa yang aku rasakan sore ini, setelah melihat bunga-bunga itu. Aku tak pernah berhasil mengubur perasaan ini. Meskipun aku tak pernah berhenti mencoba, meskipun aku mencoba ceria, namun ada saja yang membuat kepedihan itu bangkit kembali dan menghapus keceriaanku. Seperti yang dilakukan bunga-bunga itu petang ini.

Empat tahun sudah berlalu dari petang itu. Petang yang diwarnai bunga-bunga yang berguguran. Sama seperti petang ini, namun tanpa disertai hujan. Sebuah sore yang awalnya adalah sore yang biasa di pelataran gereja. Namun sore itu berubah menjadi menyakitkan ketika ia mengatakan bahwa ia ingin menjadi imam.

Ia, sahabatku sejak kami masih sama-sama duduk di bangku TK. Bahkan lebih dari sahabat, aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri, meskipun kami seangkatan, dan usia kami hanya terpaut satu tahun lebih beberapa bulan. Sejak TK, ibunya selalu berpesan padanya untuk menjagaku. Mungkin karena ibunya adalah teman ibuku. Hingga kami kuliah, kami selalu bersama-sama, dan meskipun terpisah kota saat kami bekerja, setiap akhir minggu kami selalu bertemu di Gereja ini. Sejak 13 tahun yang lalu kami sama-sama bergabung menjadi tentara Maria dalam Legio Maria, bahkan ketika kami terlalu tua untuk bergabung dalam presidium yunior, kami memilih presidium senior yang sama, agar selalu bisa bersama. Aku selalu menganggap dia sebagai kakak laki-lakiku, dan aku selalu memposisikan diri sebagai adik perempuannya. Ketika kami memasuki dunia kerja, persahabatan kami tak pernah berubah, masih hangat seperti ketika kami sekolah dulu. Ia tetap kakakku, dan ia juga bilang bahwa aku tetap adiknya. Ya, hanya kakak dan adik, aku tak pernah memiliki perasaan yang lain. Memilikinya sebagai kakak, walaupun bukan kakak kandung, sudah lebih dari cukup untuk membuat hidupku bahagia.

Ia selalu berusaha menjadi sahabat bagi setiap pria yang mencoba menjalin pendekatan denganku. Dan aku, meskipun harus belajar dengan keras, akhirnya bisa memposisikan diri sebagai sahabat, bagi setiap wanita yang memiliki hubungan khusus dengannya. Ya, kami selalu bisa mengusahakan kebahagiaan bagi satu sama lain. Meskipun tak jarang kami bertengkar, biasanya karena aku yang bertingkah seperti anak-anak, namun kami tak pernah betah melewati hari-hari tanpa bertelepon atau berSMS ria. Aku tahu banyak mata yang menganggap kami berdua sebagai dua orang aneh, yang mengaku sebagai sahabat, namun berlaku bagai sepasang kekasih. Tapi sekali lagi aku tekankan, kami hanya kakak beradik, meskipun berasal dari rahim yang berbeda. Aku juga yakin ia tak pernah punya perasaan lain terhadapku.

Sore itu, empat tahun yang lalu, ia membuatku terkejut setengah mati ketika ia mengatakan ia ingin masuk biara. Aku begitu kaget hingga terlonjak dari tempat dudukku. Namun karena ia begitu bersemangat dan begitu yakin dengan keputusannya. Aku mencoba berbahagia untuknya. Aku berpura tersenyum dan mendukungnya. Aku tanya apakah ia sudah minta izin dari ibunya, karena ia anak laki-laki satu-satunya dan adalah tulang punggung keluarga. Ia bilang ibunya sudah mengizinkan. Ia minta bantuanku untuk mengurus surat-surat yang diperlukan. Aku berkata aku pasti membantunya. Ia tanya apakah aku tidak keberatan, aku menggeleng sambil tertawa. Namun kebersamaan kami selama dua dasawarsa membuatnya peka bahwa aku sedang berpura-pura. Ia tahu aku tak rela. Ia tahu aku tak mau ia pergi dan masuk biara. Meskipun tak sepatah katapun kuucapkan mengenai keberatanku, namun ia tahu, dan ia memohon agar aku merelakannya bekerja di ladang Tuhan.

Sore itu ditutup dengan tangisanku di bahunya. Bahkan aku masih menangis, ketika ia mengantarku pulang dan melewati pohon bunga depan gereja yang sedang berguguran. Aku mencoba menegarkan hatiku dengan dengan memandang ke langit yang hitam, memandang kumpulan bunga-bunga yang masih tergantung di tangkainya. Namun seberat apapun aku berusaha, aku tak bisa rela. Bahkan hingga hari ini.

Ia lulus tes, aku tahu ia pasti bisa lulus tes. Ia tak hanya cerdas, ia juga begitu lurus dalam hidupnya. Ia anak Tuhan yang baik. Dan hanya beberapa bulan dari petang itu, ia diterima di sebuah biara yang jaraknya begitu jauh dari rumah dan gereja kami. Aku mengantarnya pagi itu, walaupun tak bisa sampai pintu biara. Beberapa kilometer dari biara, aku terpaksa melepasnya berjalan sendiri. Ia memelukku, walaupun sudah sering aku merasakan pelukannya, aku sadar pelukan ini begitu berbeda, karena akan menjadi pelukan terakhir untukku.

Tak ada lagi telepon, tak ada lagi sms, tak ada lagi pertemuan di akhir minggu, tak ada lagi rapat legio bersama, tak ada lagi kesempatan melakukan pelayanan legio bersama-sama. Sebelum ia pergi, ia berpesan agar aku tetap setia menjadi tentara Bunda Maria. Awalnya aku bisa. Dengan sisa semangatku, aku masih bisa ikut bekerja mengadakan natal lansia empat tahun lalu. Aku mencoba menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja dan pelayanan. Berharap bisa sedikit melupakannya. Namun rasanya benar-benar sepi. Aku berharap suatu hari ia bisa meneleponku entah bagaimana caranya. Tapi aku sadar itu tak mungkin terjadi. Peraturan biaranya amat ketat. Tak boleh ada hp, tak bisa menelepon, bahkan surat pun hanya datang dua kali setahun, saat natal dan paskah. Bukan, itu pun tak bisa dikatakan sebagai surat, karena isinya hanya kartu ucapan selamat natal atau selamat paskah saja.

Pada bulan-bulan awal sejak ia pergi, aku masih berpikir, ia tak akan betah tinggal dalam biara yang begitu ketat. Pasti ia akan pulang dan mengundurkan diri dari biara. Namun hingga empat tahun berjalan, aku semakin yakin bahwa ia bahagia dengan kehidupan barunya. Ya, ia bahagia, tapi aku tak bisa bahagia.

You don’t know what you’ve got til it’s gone. Dan semakin lama aku sadar, bahwa di hatiku sebetulnya menyimpan perasaan yang lebih dari sekedar sahabat, atau adik, ya, aku mencintainya, namun terlalu munafik sehingga aku tak pernah mau mengakuinya. Aku ingin memilikinya, dan aku tak rela kehilangannya. Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika aku berpikir bahwa ia tak pernah punya perasaan yang sama padaku, ia tak pernah mencintaiku, buktinya ia rela meninggalkanku dan masuk biara. Perasaan-perasaan yang campur aduk itu membuat kekacauan di hatiku. Aku ingin berteriak, tapi tak bisa. Aku menjadi terobsesi dengan dirinya, menjalani kembali setiap jalan penuh kenangan yang pernah kami lewati bersama. Aku datang kembali ke sekolah kami menghabiskan waktu di sudut-sudut yang sering kami duduki bersama. Aku bagaikan orang gila yang kehilangan tujuan hidup. Tidak berani melangkah ke masa depan, namun hanya mencoba menghidupkan dan mengulang semua kenangan lama.

Beberapa kali aku datang ke biaranya yang begitu jauh. Aku tahu setiap Minggu pertama, pintu biara terbuka bagi umat yang ingin mengikuti misa dalam bahasa daerah disana. Aku mengumpulkan uang agar bisa kesana, aku bisa sampai kesana namun tak pernah bisa bercakap dengannya. Para biarawan tahap aspiran dan postulan harus segera masuk biara setelah misa selesai. Bahkan tak ada kesempatan bagiku untuk menatap matanya. Selama kedua tahap itu, ia juga belum boleh keluar biara. Jadi jika ada acara besar di paroki sepeti tahbisan, ia juga dipastikan tak akan datang.

Hingga akhirnya ia masuk tahap novisiat awal tahun lalu. Ia mulai sedikit bebas. Ia sudah memakai jubah. Betapa mengagumkan memandangnya dalam jubah itu. Tapi tetap saja, aku tak pernah bisa menyapanya saat di biara. Ia begitu sibuk melayani umat yang lain. Ia terpilih menjadi pendoa, maka setiap minggu pertama ia selalu dikerubuti umat yang membutuhkan doanya. Ia tak pernah tahu aku datang ke biaranya, dan setelah empat tahun ini aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Atau mungkin ia sebetulnya tahu, sehingga ia tak mau menemuiku. Entah mengapa, mungkin ia takut aku dapat membatalkan panggilannya.

Akhir tahun lalu, ada tahbisan imamat di gerejaku. Aku tahu ia pasti datang, aku rela minta cuti mendadak pada atasanku untuk bisa datang di acara itu. Ya, ia betul-betul datang. Ia duduk di sisi kanan gereja, dan aku duduk di deretan tengah. Tak mungkin aku berpindah untuk duduk di sebelahnya. Kami bukan kami yang dulu lagi. Apa kata dunia jika aku menebalkan mukaku dan duduk di sampingnya. Untungnya akal sehatku masih berjalan normal dan bisa mengalahkan perasaanku.

Selama upacara tahbisan aku tak bisa konsentrasi, aku hanya memandangnya, seolah dengan memandangnya bisa memuaskan rasa rinduku. Mungkin ia sadar ada yang memandangnya dari jauh, karena pada akhir misa, ia langsung menoleh ke arahku, dan mata kami berpandangan. Aku memerintahkan diriku untuk tetap kuat dan bersikap biasa, namun aku tak sanggup. Tanpa kuperintah air mataku mengalir deras saat mataku bertemu matanya. Aku tergesa-gesa mengeringkannya dan memarahi hatiku mengapa begitu rapuh. Ia melangkah mendekatiku, dan menjabat tanganku. Hanya pertanyaan apa kabar yang bisa ia keluarkan dari mulutnya. Dan aku hanya bisa menjawab dengan satu kata, “baik”. Tak ada kalimat lagi yang kami ucapkan, dan pertemuan kami yang singkat itu berakhir dengan kalimat, “sampai ketemu lagi”, yang ia ucapkan ketika umat mulai mengerumuninya dan teman-temannya untuk menyalami mereka, para biarawan pendoa yang suci.

Aku melangkah meninggalkan keramaian malam itu dengan kepedihan dan perasaan disisihkan. Aku mulai bertekad melupakannya. Menganggapnya sebagai bagian masa lalu yang tak perlu diperlakukan secara luar biasa. Mencoba memasukkan kenangan-kenangan selama dua dasawarsa kebersamaan kami ke dalam sebuah kotak imaginer, dan kemudian menguncinya dan membuang kuncinya ke tempat dimana aku tak bisa menemukannya lagi.

Aku juga meninggalkan Legio Maria, karena wajah-wajah yang kutemui, pelayanan yang aku lakukan, semuanya hanya membuat luka di hatiku terbuka lagi. Seolah dengan melihat mereka saja sudah menunjukkan kunci ke kotak imaginer yang berisi kenanganku.

Aku mencoba menyibukkan hariku dengan pekerjaan, setiap akhir minggu, aku banyak menghabiskan waktuku dengan bersantai di rumah, menenggelamkan diri dalam buku-bukuku. Dan aku merasa akhirnya aku bisa pulih sedikit demi sedikit.

Aku tak pernah membencinya. Mungkin awalnya aku membencinya, namun setelah empat tahun berlalu, aku harus mulai bisa menghilangkan rasa benci itu. Aku tahu benci itu salah. Aku berkali-kali mengingatkan diriku, bahwa aku tak boleh egois, ketika kita mencintai seseorang, kita akan berbahagia dengan kebahagiaannya. Ketika kita tak bisa ikut berbahagia dengan kebahagiaanya, berarti kita belum mencintainya dengan tulus. Aku mencintainya, dan aku harusnya berbahagia atas pilihannya. Dengan menjadi biarawan ia bisa mengasihi lebih banyak orang, dan ia bisa menunjukkan jalan yang benar pada banyak orang. Ia bisa menjadi terang bagi banyak orang dan pasti ia akan lebih dicintai Tuhan. Namun melakukannya jauh lebih berat daripada teorinya. Banyak hal yang membuat ketegaranku runtuh, banyak hal yang membuatku menangis, termasuk bunga-bunga yang berguguran sore ini.

Suara lonceng gereja menarikku kembali ke masa kini. Lima belas menit lagi misa akan dimulai. Seorang pria tergesa-gesa duduk di sampingku. Ah, ternyata ia ketua presidium legioku. Ia tersenyum hangat, dan tanpa berkata apa-apa ia berlutut untuk berdoa. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya. Pengunduran diriku dari Legio hanya kusampaikan lewat surat yang kuberikan langsung kepadanya. Aku tahu ia kecewa, namun ia hanya tersenyum, dan berkata bahwa Bunda Maria pasti akan memanggilku kembali sebagai tentaranya, suatu hari nanti. Memang sudah banyak kejadian yang membuktikannya. Ada banyak tentara yang pergi meninggalkan Legio, namun tetap memiliki kerinduan untuk kembali. Dan akhirnya? Mereka kembali menjadi tentara yang lebih tangguh, dan Bunda menyambut mereka dengan sukacita.

Saat ia selesai berdoa, koor sudah menyanyikan lagu pembukaan, sehingga kami tak bisa bercakap-cakap. Seusai misa, aku berusaha memperpanjang doaku agar ia meninggalkanku dan aku  tak perlu berbincang-bincang dengannya. Tapi ia dengan sabar menungguku selesai berdoa. Aku tak bisa menghindar lagi. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal. “Dari dia.. Tadi aku ke biaranya”, itu yang ia katakan. Aku tahu siapa dia yang ia maksudkan. Pasti surat itu dari kakakku. “Kami masih menunggu kamu untuk gabung lagi…” Ia mengucapkan kalimat itu, dan meninggalkanku di dalam gereja yang mulai sepi.

Aku memeluk amplop itu di dadaku. Aku tak juga membukanya, seolah membuka amplop itu bisa menghisap semua cahaya di gereja ini. Aku memeluk amplop itu, menempelkannya di pipiku, mencium aromanya. Seolah amplop ini menyembunyikan kakakku di dalamnya.

Lampu-lampu gereja mulai dimatikan, waktunya untuk pulang. Hujan masih turun sehingga aku memasukkan amplop itu ke bagian teraman dari tasku. Setibanya di rumah barulah aku membukanya.

Dear Celina,

Izinkan aku untuk memulai suratku dengan permintaan maaf. Maaf, aku membawa kepedihan ke dalam hari-harimu. Aku yang harusnya menjagamu, kini aku malah meninggalkan kamu. Tapi aku hanya ingin kamu tahu, disini aku menemukan makna hidupku. Aku benar-benar seperti terlahir kembali. Mengalami semuanya dalam sudut pandang yang berbeda. Suasana biara ternyata memberikanku kebahagiaan yang tak pernah aku dapat saat aku di luar biara. Kamu harus mengalaminya sendiri agar bisa memahami apa yang aku katakan. Hmm, pasti kami akan memiringkan kepalamu sambil bertanya : “maksudmu aku harus masuk biara?”. Hmm, kamu jawab sendiri saja ya… hehehe…

Apa kabarmu, Cel? How is your life? Gimana kerjaan? Masih suka berantem ama si bos? Hehehe, sabar ya, Cel.. Jangan sedih terus, Cel, dari dulu aku selalu bilang kamu itu manis banget kalau tersenyum. Sudah banyak pria yang jatuh hati karena senyummu itu tuh.. Kamu harus ceria, banyak ketawa (tapi jangan ketawa sendiri), dan banyak bergaul. Hidupmu harus terus berlanjut walaupun aku hanya bisa menemani dari jauh..

Cel, hari ini aku bertemu Frans. Ia datang ke biara, khusus untuk menemuiku. Katanya mau nostalgia. Ia cerita katanya kamu sudah keluar dari Legio ya? Tapi dia yakin, sebentar lagi kamu akan kangen pada Legio dan akan kembali masuk jadi tentaranya Bunda. Karena ketemu dia hari ini, dan karena kesabarannya menungguku, akhirnya aku bisa menuliskan dan menitipkan surat ini lewat dia.  Sebetulnya kami tak boleh mengirim surat ke luar biara. Namun, hari ini aku minta izin pada Tuhan untuk melanggar sekali saja, untuk kamu, yang katanya Frans lagi masti suri gara-gara aku.

Frans cerita, sekarang presidium kita sepi banget. Setelah aku masuk biara dan kamu mundur, sekarang anggotanya tinggal berlima saja. Nggak nyangka, kita yang berdua ini bisa bikin presidium ramai. Atau jangan-jangan ini hanya kelebayannya si Frans saja ya?

Frans bilang minggu depan ada kunjungan ke penjara. Waktu kunjungan kemarin, kamu dicari-cari sama John. Dia bakal bebas bulan ini. Dulu waktu terakhir aku kesana, dia baru saja divonis, dan sekarang dia sudah mau bebas lagi. Betapa cepat waktu berlalu ya, Cel. Dia beberapa kali mendapat remisi, lumayan mengurangi 1 tahun dari total hukuman 5 tahun. Kalau bisa kamu kunjungi dia ya, sebelum dia dibebaskan. Tolong katakan padanya untuk main ke biara.

O iya, kamu sudah dengar berita Mbak Ria keguguran? Ia baru keluar rumah sakit dua hari yang lalu. Kalau bisa kamu kunjungi dia ya, sampaikan salamku untuk dia. Katanya sebulan lalu Mbak Ria dioperasi usus buntu, dan ternyata bayinya tak bisa bertahan sampai 9 bulan. Hidup penuh misteri ya, Cel? Usia tak bisa diprediksi.

Cel, banyak orang yang kangen dengan kamu, dengan keceriaan yang selalu bisa kamu ciptakan. Frater Tomy juga nanyain kamu terus ke Frans. Kasihan Frans tuh ditanya-tanya sama orang-orang. Hehehe,,, Sebentar lagi Natal, kalian pasti ngadain natal Lansia kan? Aku titip salam untuk semuanya… jangan lupa kirim fotonya ke aku ya,,,

Cel, kapan kamu main kesini? Atau jangan-jangan kamu masih marah sama aku ya? Cel, aku bahagia. Aku juga selalu berdoa supaya kamu bahagia. Sampaikan salam dan pelukku untuk mamaku. Aku titip mamaku ya, Cel, kalau kamu sempat main-main ke rumah. Mama pasti juga kangen tuh sama kamu. Salam juga untuk mama dan papamu. Kapan kalian main kesini? Aku tunggu ya,,

Cel, selamanya kamu adikku. Dan aku kakakkmu. Kamu harus tahu, kamu nggak pernah sendirian. Walaupun aku disini, kamu punya banyak teman yang menantikanmu. Dan yang pasti Tuhan, Bunda, dan malaikat pelindungmu selalu menjaga dan menemani kamu. Jangan pernah merasa kesepian ya, Cel…

Doakan agar aku bisa bertahan dalam panggilan ini. Agar aku bisa mengasihi dan menjaga banyak domba tittipan Tuhan…

Tuhan berkati

Kevin.

Aku menutup suratnya, memeluknya kembali di dadaku. Banyak sekali tugas yang ia berikan. Aku tahu ia menitipkan banyak orang agar aku berani melangkah maju dalam hidupku. Agar aku menatap keluar diriku, melayani orang-orang yang bisa aku jamah. Membuka diriku untuk masa depan. Kembali menjadi aku yang dulu, yang ceria. Inilah saatnya untuk menata kembali hidupku. Meskipun jauh, aku tahu ia selalu mengingat dan mendoakanku. Aku akan melayani dengan penuh semangat, seperti dia pun penuh semangat menjadi biarawan pendoa untuk umatnya. 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s