Tak terjawab….

Sahabat..
Ingin aku tuliskan namamu, namun aku tak sanggup. Mencoba menggoreskan huruf pertama namamu saja sudah membuatku menangis lagi…
Aku tak sanggup, cadangan air mataku sudah kering, dan kesedihan ini membuat kepalaku seperti mau meledak…
Aku putuskan untuk menuliskan surat ini, yang meskipun aku tahu kau tak akan bisa membacanya, tapi bisa mengeluarkan semua perasaan yang terpendam dan bisa meringankan tekanan di dada dan kepalaku…
Meski ada banyak noda air mata di atas kertas ini, semoga itu tak membuat langkahmu menjadi berat…

Hampir sepuluh tahun yang lalu kita berjumpa, pada hari pertama ospek di kampus yang begitu penuh tuntutan. Beruntung ada satu jam acara kerohanian untuk meredakan sedikit ketegangan. Kamu masih ingat perjumpaan pertama kita?
Siang itu, kita bermain game tupai pohon. Mahasiswa perempuan menjadi tupai, sedangkan yang laki-laki menjadi pohon. Saat MC mengatakan “hujan”, pohon harus membentuk naungan, dan tupai harus berjongkok di bawah pohon. saat “angin topan”, tupai harus mencari dan berpindah ke pohon lain. Sedangka kalau “banjir”, tupai harus naik alias digendong di punggung pohon. Yang salah melakukan perintah akan dihukum. Kebetulan sekali saat banjir aku tepat ada di hadapanmu. Aku serba salah, takut dihukum namun tak mau digendong kamu. Aku tak akan melupakan moment itu, ketika kamu merendahkan tubuhmu dan membimbingku naik di atas punggungmu. Kita berhasil. Dan hanya kita yang berani melakukan itu. Saat itulah, aku berkenaLan denganmu.. ya,kamu, yang kata teman2 adalah pria pendiam dan super cerdas…

Selama masa kuliah entah sudah berapa banyak momen yang kita lalui bersama. Makan siang bareng, rapat kepanitiaan bareng, jalan2 bareng, bikin acara bareng… tapi selalu bersama teman-tema yang lain. Kamu ingat natalan pertama kita?
Kita berdua mencari kado untuk tukar kado, dan kamu menunggui hingga aku mendapatkan kereta untuk pulang..

Kamu juga satu-satunya teman pria yang bersedia membawakan tasku saat aku dapat warisan diktat dari seniorku. Dulu aku pikir itu adalah kewajiban seorang pria. Namun hingga hari ini, aku tak pernah menemukan pria lain yang melakukan hal serupa bagiku..

Sahabat…
Mengapa aku tak pernah sadar dengan kebaikanmu? Aku malah menaruh harapan pada cinta sahabatmu, yang pada akhirnya membuatku terluka..
Mengapa aku tak dari dulu memperhatikan kebaikan dan perhatianmu?
Aku menyesal.. berharap bisa mengulang waktu lagi, dan memberikan hatiku untuk mengharapkan cintamu..

Sahabat..
Masih terasa hangat dirimu ketika kamu merangkulku di pemakaman ibu teman kita. Kamu melihat aku menangis, dan dengan segera menarikku ke bahumu.
“Lepaskan saja, jangan ditahan…”,itu katamu waktu itu. Sejujurnya kesedihanku diakbatkan oleh dua hal, yaitu kesedihan atas kehilangan ibu sahabat kita, dan juga kesedihan ketika melihat pria yang aku cinta hanya diam ketika melihatku menangis. Ia malah menghibur dan memeluk sahabatku..
Saat itu, ingin sekali aku mematikan putaran waktu agar aku tetap bisa menyandar dalam rangkulanmu…

Waktu berlalu, kau akhirnya lulus duluan.. entah bagaimana awalnya, kita mulai saling kirim sms2 motivasi yang kadang isinya membuatku terbang. Katamu aku adalah “golden at the end of the rainbow”, dan kamu adalah bantalku yang bisa aku peluk saat aku sedih…
Sahabat.. saat itulah aku mulai merasakan ada yang istimewa dari dirimu.

Namun aku terlambat, pekerjaan kita membuat kita terpisah dan tak bisa berhubungan lagi.
Bahkan ketika aku meneleponmu untuk menyampoikan selamat ulang tahun, kamu sudah tak ingat suaraku lagi…
Semakin kita jauh, justru semakin aku merindukanmu.
Dan akhirnya aku sadar bahwa ada cinta di hatiku…

Setahun yang lalu..
Sebuah sms darimu membuatku melonjak bahagia.
Kau bilang kamu dipindahkan ke kota ini, kembali ke kota kita.
Dan aku meloncat kegirangan ketika akhirnya aku tahu, tempat kerjamu begitu dekat denganku…
Aku mulai yakin, bahwa Tuhan yang merancang semua ini agar kita bersatu kembali. Setidaknya sebagai sahabat…

Kebersamaan kita diwarnai banyak kebetulan yang disengaja. Kebetulan makan siang di tempat yang sama, kebetulan sama2 pulang kemalaman, sama2 menunggu kemaceta mereda. Dan itu membuat kita sedekat dahulu.. sebagai sahabat.. tak lebih… aku tak berani menunjukkan perasaanku.. aku takut kau pergi lagi dari hidupku seperti waktu itu…

Tadi malam…
Semuanya tampak begitu sempurna..
Sambil menunggu kemacetan mereda, kita makan malam di warteg langganan kita.
Entah mengapa warteg mungil itu tampak begitu berbeda tadi malam.
Rasanya ada aliran udara yang membuat aku bersemangat dan ceria. Dan sepertinya aliran itu kau rasakan pula…
Dan akhirnya kata itu terucap darimu….

Sahabat…
Mengingat kejadian tadi malam memaksa tanganku untuk berhenti menulis. Tetes air mataku mengalir lagi.

PernyaTaan cintamu memang kutunggu sejak lama. Aku juga punya perasaan yang sama…
Tapi aku terlalu terkejut untuk menjawab “ya”. Terlalu bahagian untuk sekedar menganggukan kepoala. Dan akhirnya aku hanya bisa diam seribu bahasa…

Aku pikir, setelah sekian lama aku yang menunggu, rasanya layak bagimu untuk menunggu semalam saja untuk mendengar jawabanku.
Aku akan menjawab “ya” dengan manis, dengan caraku sendiri, yang pasti tak akan kamu lupakan.
Kamu tersenyum saat aku tak menjawab. Kamu bilang tak usah terburu2. Kamu bilang apapun jawabanku kita akan tetap bersahabat.
Kamu bilang kamu akan menunggu..
Jawaban itu sudah ada di bibirku. Tapi aku malah menahannya dan tidak memberikannya padamu…

Kemarin malam, setelah kamu mengantarku pulang, aku tak juga bisa memejamkan mata. Ada banyak rencana untuk hari ini. Aku mau memasak untukmu, dan mengantarkannya ke kantormu pada jam makan siang. Saat itulah aku akan katakan “Ya” itu… aku juga membayangkan masa depanku bersamamu. Membayangkan kehidupan kita, membuat rencana2 untuk keluarga kita.
Aku pikir aku tak bisa tidur karena aku terlalu bahagia. Tapi hari ini aku tahu alasannya.

Pada akhirnya, aku tak bisa mengucapkan jawaban itu. Aku terlambat. Aku tak diberi kesempatan untuk mengatakannya kepadamu, dan kau tak bisa lagi mendengar jawabanku.
Meskipun aku berteriak, menangis hingga semua energiku habis. Itupun sudah tak ada gunanya..
Berulang-ulang aku katakan aku mencintaimu..aku mencintaimu…
Apakah kau bisa dengar?
Bagaimana caranya agar aku tahu bahwa kamu tahu perasaanku?
Berjuta kata mengapa berlarian di pikiranku.
Berton-ton rasa sesal membebani dadaku…
Mengapa kamu tak bisa menunggu jawabanku?
Mengapa kamu harus pergi?
Mengapa aku tak menjawabmu kemarin?
Mengapa? Mengapa? Mengapa?
Aku bertanya, aku menjeritl, aku histeris, dan akhirnya aku jatuh tanpa daya..
Tetap saja kamu melangkah pergi…

Sahabat…
Aku mencintaimu…
Sampai jumpa di tempat dimana tak ada perpisahan lagi…

aku melipat lembaran kertas itu dan kupeluk erat di dadaku. Seolah yang kupeluk adalah sahabatku…
Aku berjalan ke tempatnya berbaring, membuka selubung petinya.. dan aku letakkan surat itu di genggaman tangannya….
Kurasakan tangannya yang begitu dingin.. padahal kurang dari sehari yang lalu, tangan itu masih menggenggam tanganku dengan hangat…
Aku terlambat mengucapkan cinta itu.. dan aku tak diberi kesempatan lagi…

Tell to someone that you love, Just what you’re thinking of, if tomorrow never comes…

PS : just a fiction…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s