Cerita kematian…

Peti coklat itu diturunkan dari kereta jenazah.. para petugas pemakaman bergegas mengangkatnya menuju ke tanah peristirahatannya yang terakhir…
Setelah sebuah ibadat singkat, akhirnya peti itu diturunkan perlahan-lahan ke liang lahat..

Isak tangis tak henti-henti terdengar sejak ia dinyatakan meninggal dunia..
Berbagai cerita tentang kebaikanya selama hidup, dikisahkan lagi dari mulut ke mulut. Seolah tak ada habisnya kenangan tentang dirinya…

Ia masih muda, ia orang baik, mengapa ia harus pergi secepat ini?
Mengapa ia harus meninggal dengan cara seperti ini?
Mengapa ia mendahului orang tua dan kerabatnya yang lain?
Mengapa ia harus pergi disaat masa depan masih terbentang luas di depan matanya?
Semua pertanyaan itu dibisikkan oleh orang yang mendengar kabar kematiannya.
Dan tak satupun bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan tepat.
Siapa yang bisa mengetahui dengan pasti apa rencana Tuhan di balik semua kejadian ini?

Pertandingannya sudah selesai, ia telah mencapai garis akhir. Ia telah menjadi pemenang. Mahkota keabadian telah disematkan di kepalanya.
Kematiannya bagaikan akhir dari suatu adegan. Namun sang sutradara tak memberitahu skenario adegan ini sebelumnya. Ia pun tak memberitahukan bagaimana kelanjutan drama ini. Bagaikan sebuah kejutan, babak ini harus dijalani..

Tapi..
Bukankah ia akan melihat cahaya surga itu?
Bukankah selama hidupnya ia telah berjuang untuk mencapainya?
Ia sudah lulus. Cahaya surga sudah di depan matanya.
Kebahagiaannya adalah abadi, tak sama dengan kebahagiaan semu di dunia.

Ia memang mati, tapi ia tetap hidup, di hati kita, dalam kenangan, dalam kisah dan cerita..
Tubuhnya memang akan musnah, tapi jiwanya tetap hidup. Jiwanya abadi.
Cintanya tetap terasa, meskipun ia tak dapat dilihat lagi.
Cinta itu abadi, tak dapat dipisahkan maut.
Cinta itu jembatan, antara surga dengan dunia..
Cinta itu harapan, bahwa ia akan menyambut kita disana, di tempat dimana tak ada lagi perpisahan..
Cinta itu sebuah kepastian, bahwa kematian adalah awal kehidupan yang baru…

Gundukan tanah merah itu sudah dipancang dengan salib kayu.
Seolah semua episode sudah diakhiri disini.
Satu persatu para handai taulan meninggalkanya sendiri..
Dan inilah saat bagi dia untuk melangkah menuju cahaya surga itu.
Ia tersenyum merelakan semua, untuk satu kebahagiaan sejati yang tak ternilai harganya..

Selamat jalan..
Jangan berhenti tersenyum..
Jangan menoleh lagi ke belakang..
Tunggu aku disana…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s