Semua itu berawal dari…

Aku bermimpi bisa menjelajahi seluruh negeri di dunia ini..
Dan aku berharap dan berjuang, agar mimpi itu bisa jadi kenyataan..

Dulu aku selalu berpikir bahwa bepergian ke luar negeri adalah mission impossible.. terutama bila ditinjau dari segi ekonomi.. tiket pesawat saja amatlah diluar jangkauan, belum lagi akomodasi di luar sana, pastilah mahalnya ampun ampun…

Pikiran itu terus ada, meskipun aku sudah bekerja. Jangankan ke luar negeri. Jalan-jalan di dalam negeri saja gak kesampaian. Mau ke Jogja aja gak bisa-bisa.. setelah dianalisa, selain biaya, masalah juga muncul dengan belum beraninya aku menempuh perjalanan sendiri… apalagi kemampuan Bahasa Inggrisku sangat “jongkok”. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kalau nekad berangkat sendiri ke negeri antah berantah yang orang-orangnya cas cis cus pakai Bahasa Inggris..
jadi akhirnya mimpi itu dikubur dalam-dalam dulu deh…

Bulan Juni 2011, sahabatku di tempat kerja, sebut saja Koko (karena sudah kuanggap sebagai kakak sendiri), tanpa bilang-bilang berangkat ke Singapura bersama keluarganya. Saat ia pulang, ia memperlihatkan fotonya selama di sana.. keren… dan bikin ngiler…
Dia juga cerita tentang keindahan dan kerapihan Singapura, yang bikin dia gak pengen pulang…

Waktu lihat foto-fotonya, aku dan teman Koko yang lain berkelakar, “Ayo kita nabung ke Singapura, sehari aja perginya. Pokoknya asalkan udah nginjek tanah Singapura, kita bikin status di facebook, nah langsung pulang lagi deh ke Indonesia..” hahaha… rencana yang aneh.. tapi jujur, rencana aneh itu cukup menantang…

Koko juga mulai “meracuniku” untuk bikin passport.. secara teori sih prosedur bikin passport emang gak rumit, cuma waktu itu masih harus datang ke kantor imigrasi minimal dua kali. Belum lagi antrinya bisa seharian.. duh, cutiku kan limited.. sayang banget kalau dihabiskan hanya untuk antri…

Menjelang ulang tahunku ke-26, September 2011, aku mendapat info dari tanteku. Katanya pembuatan passport sudah bisa via travel agent, meskipun biayanya lebih mahal. Kita juga hanya perlu satu kali datang ke kantor imigrasi untuk foto. Pengambilan passport dilakukan di travel agent dan bisa diwakilkan.. so, tunggu apa lagi?

Tepat di hari ulang tahunku, aku datang ke sebuah travel agent tempat teman tanteku bekerja. Waktu untuk foto di imigrasi pun bisa diatur sebisanya kita. Benar-benar praktis, walaupun biayanya jadi dua kali lipat…

Passportku jadi dua minggu kemudian. Walaupun belum tahu kapan passport itu akan kugunakan, karena lagi-lagi ujungnya masalah uang…

Bulan November 2011, aku bertemu dengan seorang teman SMU  di yahoo messenger. Ia mengajakku untuk mengunjungi pacarnya di Singapura pada bulan Februari 2012. Wah, pas banget nih… saatnya mempublish passportku..hehehe

Namanya pertama kali travel ke luar negeri pasti bikin dag dig dug. Untunglah koko dan temanku itu mau menjelaskan sedetail2nya tentang segala hal yang belum aku ketahui… bahkan Koko memberikan perincian pengeluaran dananya waktu disana.
Contekan dari Koko inilah yang mengajarkanku untuk rapi mencatat setiap pengeluaran harian. Hingga kini setiap aku melakukan perjalanan, aku tak pernah lupa untuk membuat rekapitulasi pengeluaran harian..

Hari yang ditunggu pun tiba. Koko memberikan tambahan modal untuk membelikan titipannya. Tapi tambahan modalnya besar banget, lebih besar daripada modal yang kubawa sendiri… hihihi. Kata Koko “takut kamu kehabisan uang…” hiks… terharu…

Untung saja, aku tidak mengalami kejang-kejang saat pesawat take off.. bahkan aku menikmati sekali ketika roda pesawat mulai terangkat hingga akhirnya gesekan dengan landasan menjadi nol. Dan hal inilah yang membuatku kecanduan naik pesawat…

Pulang dari Singapura, aku langsung merasakan keinginan untuk travelling lagi.. satu bulan setelah pulang, gantian aku yang meracuni sahabatku di tempat kerja untuk ke Singapura… kami langsung nyari hari libur, dan pastinya tiket promo Air Asia… kami akhirnya booking tiket untk pemberangkatan tanggal 15 November (pada saat libur Idul Adha) dan pulang tanggal 17 November… setelah booking kami baru sadar bahwa kami masih harus menunggu delapan bulan lagi… weeek…

Pada bulan yang sama, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba muncul keinginan yang amat besar (mungkin bisa dibilang terobsesi) untuk pergi ke Kamboja. Setelah survey sana sini, ternyata belum ada penerbangan langsung Jakarta-Kamboja..
Belum sempat berpikir tentang rencana Kamboja, tiba-tiba saja pada Akhir April 2012 aku ditugaskan untuk berkunjung ke customer di Bangkok bersama dengan bos marketing, sehubungan dengan customer complaint. Kenapa aku yang ditugaskan? Karena di departemenku hanya aku yang punya passport. Alasan yang aneh, tapi membawa sebuah pengalaman yang amat berkesan bagiku..
Yang lebih menyenangkan adalah uang saku dan akomodasi ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan… terbangnya pakai Garuda pula… waw,kurang enak apa coba?
Aku merasa sangat beruntung karena Koko sudah meracuniku untuk bikin passport…
Makasih ya,Ko…

Sepulang dari Thailand, keinginan menuju Kamboja semakin menggebu-gebu… aku mulai survey flight termurah dan tercepat menuju Kamboja. Pilihan maskapai jatuh kepada Air Asia. Rute awalnya lewat Bangkok atau via Kuala Lumpur.
Pertemuanku dengan seseorang di web backpacker memberikanku pencerahan, yaitu mengambil jalur Ho Chi Minh, Vietnam untuk ke Kamboja. Betul juga, dengan rute itu, aku juga bisa menapakkan kaki di Vietnam.
Setelah survey sekian lama, akhirnya kuputuskan untuk mengajak serta papiku. Aku masih tidak pede berangkat sendiri… bulan Juni 2012,tiket PP Jakarta – Ho Chi Minh City untuk pertengajan Januari 2013 resmi dibook…
Ini perjalanan pertama tanpa pemandu.. hanya kami berdua, dua orang yang sama-sama buta… semua perencanaan dibuat jauh-jauh hari. Booking hostel pun dilakukan sejak H-3 bulan.. disiplin menabung sudah dilakukan sejak bulan April hingga Desember. Separuih THR langsung masuk ke tabungan dan gak boleh diutek2…
rute pun disusun begitu detail.
Pada akhirnya sih, semua rute dan rencana kacau balau, dan modal spontanitas dan kreativitas (dan keberuntungan) pula yang berjasa besar menyelamatkan kami hingga akhir liburan…

Beneran deh travelling bikin nyandu… belum 10 hari setelah pulang dari Vietnam dan Kamboja, aku sudah gatal pengen berangkat lagi.. kebetulan salah seorang sahabat di gereja dipindahtugaskan ke Filipina.. kesempatan yang amat sayang untuk dilewatkan buat berunjung ke sana…
agak bingung mencari direct flight murah ke sana. Untunglah rekan-rekan di sebuah milis merekomendasikan Cebu Pacific Airlines… walaupun aku dapat penerbangan yang harganya agak mahal. Tapi ya, demi jalan-jalan aku rela menabung lagi selama 4 bulan..

Filipina belum juga diraih, papi sudah buat rencana untuk ke Thailand + Laos, atau Vietnam Utara-Selatan… tuh kan kecanduan travellingnya sudah mulai menular…

Doakan kami ya, semoga tahun depan bisa tercapai….

O,ya..setelah singgah di 4 negara, ahirnya aku sadar bahwa level bahasa Inggrisku sudah naik : dari jongkok, jadi duduk…lumayan sedikit lebih tinggi….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s