Mendadak Bangkok…

*sebetulnya, cerita ini sudah terjadi setahun yang lalu, namun karena berbagai pertimbangan (termasuk bahaya digunjingkan oleh rekan-rekan kerja), maka cerita ini baru muncul disini, hari ini,, 3 hari sebelum tepat setahun kejadian,,,*

Senin, 23 April 2012

Just another “I don’t like monday…”, apalagi sehari sebelumnya saya disibukkan kegiatan pelayanan Gereja dari pagi hingga malam.. Rasanya masih ingin memperpanjang tidur di rumah. Tapi apa daya, saya baru saja mengambil cuti seminggu sebelumnya, dan sisa cuti tahunan sudah tidak bisa diajak kompromi..

Baru sejam sejak bel masuk kerja berbunyi, saya didatangi manager HRD-GA. Beliau menanyakan apakah saya punya passport atau tidak. Dengan jujur saya jawab : “ya, saya punya, Pak,,, ada apa ya, Pak?” Beliau tidak menjawab apa-apa. “Hanya tanya saja”, itu katanya. Tanpa curiga saya melanjutkan pekerjaan. (sekarang saya sudah tahu maksudnya, jika beliau menanyakan hal itu lagi). Belum setengah jam berlalu sejak Pak HRD-GA meninggalkan ruangan saya, tiba-tiba ada telpon dari sekretaris bos besar. “Say, Bos Marketing mau ngomong nih,,,”

“Whattttt……” bagian pengatur rasa panik di otakku langsung teriak-teriak, ada apa nih bos Marketing (yang lebih dikenal sebagai asisten bos besar) tiba-tiba mau ngobrol. Belum sempat aku mencerna kondisi yang terjadi, bos marketing langsung menjelaskan bahwa esok hari aku dan beliau akan ditugaskan ke Bangkok untuk mengunjungi sebuah customer yang baru saja mengajukan keluhan pelanggan (gak usah dijelasin deh ya, keluhannya apa….). Kaget gilaaaaa…. Belum sempat aku meredakan kaget, eh bos besar mengambil alih percakapan dan langsung nyerocos di telepon. Intinya sama dengan yang dikatakan bos marketing.  Duh, kaki langsung lemas, perut rasanya beraduk. Senang? iya… Takut? banget… Bingung? sangat… Nanti disana saya harus ngapain ya? Duh, takut banget malu-maluin nama perusahaan. Ilmu saya belum ada apa-apanya. Bahasa Inggris aja masih di level jongkok,,,, arrggghhh,,, seramm….

Saya menyiapkan dokumen-dokumen yang terkait sambil dag dig dug dhuar,,, Setelah jam istirahat saya mendapat kepastian bahwa saya jadi berangkat. Sekretaris bos mengirimkan electronic ticket untuk berangkat dan pulang. Begitu dilihat airlinenya : GARUDA…. waaaa,,,, sebagai warga Indonesia, saya belum pernah merasakan terbang di atas gagahnya GARUDA (wong naik pesawat aja baru satu kali kok…). Saya lirik harga tiket PP itu, dan saya lagi-lagi kaget. Total pricenya 586.70 US$. Buset,,, kalau bayar sendiri mana sanggup… Rencananya kami disana mulai tanggal 24 hingga tanggal 28 April. Bos marketing juga mengirimkan daftar rencana pekerjaan kami disana.

Masalah berikutnya muncul, saya bingung harus bawa Baht berapa banyak,, menjelang pk. 16.00 saya menelepon tante saya yang kerja di Bank. Waduh, tante saya malah ikutan panik.. Waktu itu 1 Baht = 304 Rupiah. Belum gajian pula. Akhirnya saya putuskan untuk membawa 2000 Baht saja. Itupun akhirnya dapat subsidi dari mami… hehehe,,,

Malam itu saya balik ke Bogor, packing-packing, dan akhirnya bisa terlelap bersama rasa panik.. iyalah, gimana gak panik, ini pengalaman pertama menghadapi customer, dah gitu berangkatnya bukan sama bos saya sendiri pula,,,wedeh,,,

Selasa, 24 April 2012

Penerbangan kami dijadwalkan pukul 12.50. Saya dan bos marketing janjian di terminal 2 E jam 10 pagi. Saya datang kepagian dan mati gaya di tengah keramaian terminal 2. Untung tak berapa lama bos datang, kami check ini di counter garuda, dan surprise berikutnya datang. Bos memberikan jatah uang saku saya sebanyak 300 US$. Wow… gemetar juga memegang uang sebanyak itu (padahal hanya 3 lembar pecahan 100 US$). Kami masuk imigrasi terpisah, saya masuk duluan karena bos saya masih harus mencari atm. Rasanya kalau bisa kabur sih saya ingin kabur saja.. Perasaan takut lebih mendominasi otak saya daripada perasaan senang..

Bos akhirnya datang, dan sebelum beranjak ke gate, saya diajak beliau untuk makan di BRI lounge, karena beliau pemegang kartu kredit BRI. Makanannya enak dan variatif, namun karena saya lagi gugup berat, semuanya mengalir begitu saja ke dalam perut saya tanpa saya nikmati,,,

Penerbangan kami akan berlangsung selama 3 jam 25 menit. Karena panik masih melanda, saya tidak bisa memejamkan mata, ditambah posisi duduk saya yang di aisle (dekat koridor), alhasil saya hanya bisa menikmati in flight entertainment system. Mulai dari mengecek posisi pesawat sampai menikmati lagu-lagu yang tersedia. Hampir seluruh album musik saya buka,,, Nikmatnya lagi, saat baru mau take off, kami dibagikan puding dan minum, eh tak lama kemudian, makanan datang… Wah, kenyang bangettt jadinya.. ditambah lagi, tepat sebelum take off saya baru usai menghabiskan green tea latte yang dibelikan bos saya,,,

O,iya, saya duduk di sebelah dua orang asli Thailand yang baru pulang dari kerja mereka di  tambak di Jawa Timur. Saya lupa nama mereka, maklum namanya susah banget untuk diingat,,hehehe..

Pesawat take off dan landing sesuai jadwal. Ketika pesawat sudah landing, salah satu dari dua pria Thailand itu menyampaikan : “Welcome to Thailand…”, eh, dah gitu, speaker pesawat melantunkan lagu instrumental Tanah Airku,,, hiks-hiks,,,tiba-tiba saya jadi kangen Indonesia,,, pingin pulanggg,,, tak terasa mata saya mulai berkaca-kaca. Baru beberapa jam meninggalkan tanah air, saya sudah kangen berat padanya,,,

Saat saya menginjakkan kaki di bandara Suvarnabhumi, bos saya juga bilang : “Welcome to Bangkok,,,,”, dan ini menyadarkan saya, bahwa meskipun ini bukan pekerjaan yang mudah dan ringan tapi bos saya ini pasti tidak akan meninggalkan saya sendirian.

Hal pertama yang kami lakukan setelah turun dari pesawat adalah mengambil bagasi milik bos, mencari money changer, dan mencari perdana sim card. Wew, harga sim card disini ternyata mahal, saya harus merogoh 300 Baht untuk membelinya. Duh, dari 2000 Baht yang saya bawa rasanya langsung tersedot begitu saja.

Ternyata kami sudah dijemput oleh Mr. Samrit Kertmee, driver taxi langganan bos saya sejak 9 tahun yang lalu. Jadi si bos ini setiap ke Bangkok pasti menggunakan jasanya Mr. Samrit. Ini nomor telponnya beliau : +66817147913,  siapa tahu butuh kalau mau ke Bangkok lagi,,, taxinya model inova gitu, lega dan dingin. Ditambah lagi Mr. Samrit yang sudah kenal dengan bos saya begitu ramah, bahkan bisa-bisanya ngegodain saya.. Menurut bos saya, Mr Samrit ini bisa dipercaya. Gak seperti sopir taxi lainnya yang minta jatah berupa uang kalau penumpangnya makan, Mr Samrit ini cukup diajak ikutan makan saja. Beliau juga gak matre dan gak banyak tuntutan…

Perjalanan dari Suvarnabhumi ke Rama I street, tempat kami akan menginap di Holiday Inn Express, cukup lama, karena jalanan di Bangkok gak kalah macetnya dengan Jakarta, apalagi jam-jam itu adalah jam bubaran kantor,,, beneran Jakarta abeesss,,,

Mendekati hotel, taxi kami dihentikan karena ada rombongan kerajaan yang lewat. Mr Samrit cerita, bahwa putra mahkota Kerajaan Thailand (yang adalah satu-satunya anak lelaki Raja), memiliki sifat yang berbeda dengan Raja Bhumibol (Rama IX). Raja Bhumibol terkenal sangat merakyat dan dicintai rakyat. Sementara sang putra mahkota dikenal agak arogan. Mr. Samrit juga cerita, suatu hari sang putra mahkota datang ke sebuah bar di Bangkok, dan langsung area sekitar bar tersebut diisolasi. Itu gak mungkin terjadi kalau Raja yang kesana. Tapi Raja Bhumibol kayaknya gak akan main-main ke bar juga sih,,

Kami tiba di hotel sekitar pk. 18.30. Hotel Holiday Inn Express ini masih relatif baru. Resepsionisnya ramah-ramah. Terus setiap tamu dibekali dengan magnetic card. Bos sudah booking 2 single room via email. Saya di kamar 1607, bos di 1610. Kamarnya legaaaa banget, tempat tidurnya lebar, trus ACnya dingin,,, kamar mandinya juga lumayan luas dan dilengkapi wastafel. Duh, saya kayak wong ndeso,,, maklum baru kali ini masuk hotel berbintang,,,malahan sempat bingung untuk buka pintu pakai magnetic card. Di dalam kamar ada TV dengan saluran internasional, kursi dan meja kerja, dua botol air minum, termos dan lemari es. Jendela kamar saya di lantai 16 kebetulan menghadap ke jalan Rama I dan National Stadium, lengkap dengan rel BTS sky trainnya. Resepsionis menjelaskan bahwa kami dapat makan pagi gratis di lantai 7. Beneran serasa naik jabatan deh,,, Penasaran? nih linknya http://www.bangkok.com/holiday-inn-express-bangkok-siam/rooms.htm.

Kami janjian untuk ketemu di lobby hotel jam 19.00 untuk makan malam. Karena kedinginan di kamar, saya keluar dengan menggunakan jaket. Eh ternyata saya malah diketawain si bos, panas-panas gini kok pake jaket? Setelah saya rasakan, bener juga, memang panas,,, malu deh,,,

Tujuan pertama kali adalah mall MBK, sekalian nyari toko buku untuk cari isi pulpen. Kami jalan kaki dari hotel ke MBK, dan bingung dimana harus nyeberang. Ini jembatan penyebrangan atau stasiun BTS? Setelah dinaiki, baru sadar deh kami salah naik.

Di MBK, kami cuci mata, melihat berbagai barang yang harganya agak miring. Mengingat besok-besok pekerjaan akan banyak, saya sempatkan untuk mencari oleh-oleh, yaitu dompet kecil bergambar gajah. Mencari toko buku di MBK bukan hal yang mudah. Kami tanya ke bagian informasi, menurut mereka, nama toko bukunya adalah Nine (itu yang kami dengar. Ternyata setelah dicari-cari, aktual namanya adalah Naiin,,halah,,,)

Kami di toko buku sampai jam 9, dengan kata lain, kami diusir karena toko itu sudah mau tutup. Bahkan bos saya hampir dikunciin di dalam toko. Saya sampai pasang muka melas ke penjaganya untuk memanggilkan bos saya yang masih asyik membaca di dalam.

Kami selanjutnya mencari tempat makan. Food court mall sudah tutup, toko tomyam langganan bos juga sudah tutup. Jadi kami menyusuri jalan Rama I yang ramai banget malam itu, sempat nyangkut-nyangkut di antara keramaian orang dari berbagai bangsa. Hingga akhirnya kami menemukan sebuah rumah makan yang masih buka, namun sepi. Kami memutuskan untuk makan di situ, dengan sistem share menu…hehehe,,, supaya bisa saling mencicipi menu antik berbahasa Thai. Untung ada terjemahannya Inggrisnya,,,

Sambil makan, saya menanyakan rencana untuk besok, serta apa saja yang harus saya lakukan nantinya disana. Bos menjelaskan dengan sabar (padahal saya sempat takut saya bakalan disemprot..hehehe). Seusai makan, kami menyusuri jalanan yang sepi untuk kembali ke hotel (jangan berpikir yang aneh-aneh yaa..), dan sebelumnya kami mampir dulu di sebuah mart untuk belanja perlengkapan toiletries. Wah, ternyata ada juga Citra dan Lux disini…

Malam itu, saya mencoba menenangkan diri dan akhirnya bisa tertidur juga, walaupun kedinginan..

Rabu, 25 April 2012

Alarm hp saya berbunyi tepat waktu, yaitu pk. 05.30. Setelah mandi dan berdoa, saya turun ke lantai 7 untuk sarapan. Makanannya beragam, mulai dari bubur, nasi goreng, sosis seukuran gaban, roti, kopi, susu, teh, sampai nanas, semua ada,,, tapi, makan nanas membuat saya sariawan.. kayaknya nanasnya gak dicuci pakai garam deh… tapi makan pagi disini bikin kenyang banget,, banget,,,sampai malas beranjak,,,

Kami janjian untuk bertemu di lobby jam 8 pagi, untuk selanjutnya berangkat sama-sama ke customer di daerah Rangsit. Ternyata di lobby ada perpustakaan yang meminjamkan buku untuk para tamu. Saya meminjam sebuah buku tentang tempat-tempat wisata Asia.

Bos kemudian memesan taxi dari hotel, dan setelah menunjukkan alamat customer kami, kami diantar sampai ke depan gerbang. Sepanjang jalan kami mentertawakan sopir taxi yang Bahasa Inggrisnya lucu… waktu bos tanya apakah dia tahu Bangkok Sea Port, sopir itu malah nanya balik : Bangkok Seafood? oh my God… dia kira kita mau makan-makan…

OK, mari kita skip bagian pertemuan di customer,, setelah pertemuan di plant mereka, kami diajak untuk melihat kontainer mereka di Bangkok Sea Port dengan menggunakan mobil van mini mereka. Tapi sebelumnya kami makan dulu di restoran terapung  berbentuk perahu, yang tidak terapung karena paritnya lagi surut,,, Menunya : tomyam segala jenis. Saya pilih yang tidak pedas, bos saya pilih yang pedas. Sampai kuyup deh makannya. Bos lalu tambah lagi makanan yang mirip-mirip. Dan makanan itu dibagi dua dengan saya.. hehehe,,,anak buah yang tidak sopan… Kami pesan juice untuk mendinginkan kepala. Eh, ternyata minum juice buru-buru di tengah terik cuaca malah bikin mulut dan hidung terasa ngilu (pantesan aja si bos minta supaya juicenya dibungkus… ternyata kami punya penyakit ngilu yang serupa).

Menurut customer kami, pada saat banjir besar November 2011, restoran terapung ini ikut tenggelam, bahkan masih terlihat tanda-tanda bekas banjir di bagian dalam.

Kondisi di Bangkok Sea Port amat sangat panas,,, menurut customer kami, suhunya pernah mencapai 42• C. Matahari bersinar terik sampai rasanya terbakar… Udah gitu, kami harus memeriksa bagian atas kontainer sambil naik di atas forklift,,, waaaa…takut,,,dan gosong,,,

Seusai dari Bangkok Sea Port, bos mengajak saya ke MBK… yipieee,,,,saatnya senang-senang… Toko pertama yang dituju adalah Naraya Bag Store, toko yang menjual berbagai tas kain yang jahitannya rapi banget, trus motif dan warnanya juga manis banget. Harganya juga relatif lebih murah daripada tas buatan Indo. Saya membeli  1 handbag ukuran besar, 2 handbag kecil, 4 dompet berkaca (apa sih nama kerennya?), dan 1 tempat tissue. Kalau dikonversi ke Rupiah, total yang harus saya bayar kurang dari 300.000. Kami lalu meluncur ke food court, dan disana kami pesan dua jenis desert, bos pesan ketan duren dan saya pesan bihun santan. Terus kami share menu. Wehehehehe,,, gak mau rugi,,,

Bos bilang, hari ini tiga orang teman gerejanya sedang berada di Bangkok, jadi kami akan join untuk makan malam bersama mereka. Kebetulan salah satunya berulang tahun hari itu. Mereka juga menggunakan jasa Mr. Samrit. Jadi sore itu kami akan dijemput di lobby Pathumwan hotel yang masih terhubung dengan MBK. Sambil menunggu waktu, kami cuci mata dulu di MBK, sambil mencari tambahan oleh-oleh…

Setelah meeting singkat di atas taxi, akhirnya kami memutuskan untuk dinner cruise di Chao Praya…. surprise,,, walaupun hati masih gak tenang, tapi senang juga bisa melihat Chao Praya yang amat legendaris,,, bahkan senangnya masih terasa hingga hari ini…

Kami mengejar kapal di Yok Yor Marina yang jadwal berangkatnya jam 8 malam. Nih alamat Yok Yor Marina : 885 Somdet Chaophraya 17 Rd, Klong San Bangkok 10600
Tel. 02-863-0565-6, 02-863-1708.

Chao Praya di waktu malam cantik banget,,, Bangunan-bangunan bersejarah di sisi sungai diterangi lampu, menambah keindahan dan kemistikan pemandangan malam itu.. apalagi pemandangan Wat Arun, Grand Palace, Wat Po, dan RS Siriraj, tempat Raja Bhumibol dirawat. Kapal berputar di Rama 8 Bridge. Tepat disini, beberapa waitress mengantarkan piring berisi potongan buah yang ditancapi lilin untuk teman gereja bos saya yang berulang tahun. Ternyata bos saya yang sudah menyiapkan kejutan ini sebelumnya. Bos,,,bos… romantis juga dirimu…

Perjalanan menyusuri Chao Praya berlangsung sekitar 2 jam. Uh, rasanya masih belum pingin pulang,,,Di perjalanan pulang kami hendak mampir di warung mie enak langganan si bos. Tapi apa daya, warungnya sudah tutup,,, Kami tiba di hotel menjelang jam 23.30. Mau nyoba kirim dokumen via komputer hotel, eh mousenya masalah. Udah dibanting-banting masih juga gak bisa.. ternyata mousenya kehabisan batere,,, Setelah menyelesaikan laporan via wifi di kamar, saya baru tidur menjelang jam 2 malam.

Kamis, 26 April 2012

Pagi dibuka dengan sarapan super kenyang di lantai 7. Menjelang jam 8 saya menunggu bos di lobby. Ternyata sampai hampir 08.30, bos belum juga datang. Akhirnya beliau menelepon saya untuk bertemu di lantai 7. Hari itu rencananya kami akan kembali ke plant customer untuk menyelesaikan masalah complain mereka. Tapi ternyata customer bilang kami tidak perlu kesana karena mereka mau mengadakan internal meeting. Akhirnya bos memberi kebebasan untuk saya buat jalan-jalan sendiri. Saya blank juga ga tahu mau kemana. Bermodal coretan bos di atas peta, saya memutuskan untuk ke Maddam Tussauds di Mal Siam Discovery, yang jaraknya cukup dekat dengan hotel. Beliau menyarankan untuk ikut city tour saja (ke Grand Palace dan temple-temple di Kota Bangkok) dengan agen tour di MBK. Beliau merekomendasikan travel agent yang namanya World Desk Tour (catat : World Desk Tour!!) di MBK, dan untuk belanja oleh-oleh di Platinum.

Setelah berpisah jalan, saya langsung kembali ke kamar, tukar baju dengan yang lebih santai, mengurangi isi tas, dan cabut!!!

Masalah muncul lagi ketika hendak mencari penyeberangan. Saya tidak tahu apakah boleh menyeberang jalan sembarangan seperti di sini, atau kalau ada jembatan penyeberangan, adanya dimana? Semua pejalan kaki yang saya tanyai tidak mau menjawab karena tidak bisa berbahasa Inggris. Saya bahkan ketemu dengan sepasang turis bule yang menemui masalah serupa dengan saya. Kami akhirnya nekad naik ke jembatan terdekat, untunglah ternyata itu jembatan penyeberangan betulan..hehehe.

Saya mendengar tentang Museum Maddam Tussauds sejak duduk di bangku SD, tapi baru saat ini saya bisa mendatanginya. Sebuah hal yang selama ini tampaknya tak mungkin menjadi mungkin saat ini. Tiket masuknya seharga 720 Baht, untung saja masih ada uang saku dari kantor yang sudah ditukar ke Baht dan belum saya pakai.. Saatnya foto narsis dengan patung-patung lilin selebritis. Sayangnya karena jalan sendirian, foto saya bersama patung menjadi sangat sedikit, karena pengunjungnya sedikit sekali saat itu, jadi hanya sedikit orang  yang bersedia memotreti saya. Ya, lumayanlah sempat berfoto bareng Dalai Lama, Queen Elisabeth II, Yao Ming, Doraemon, Jack Sparrow, Teresa Teng dan Albert Einstein. Di lantai atas ditunjukkan juga sejarah awal mula pendirian museum lilin ini, juga bagaimana para artisan membuat replika lilin dari setiap bagian-bagian tubuh.

Keluar museum, saya nekad masuk ke Wat Pathumwan yang ada sederetan dengan Siam Discovery. Dengan kode-kode, saya menanyakan pada seorang bhiksu apakah saya boleh masuk ke kuil itu. Ia memberikan kode-kode yang mempersilakan saya masuk. Di kemudian hari saya baru tahu bahwa perempuan tidak boleh berbicara berdua saja dengan bhiksu. Saya mengagumi arsitektur kuil ini, namun saya tidak mengerti apa tujuan kuil ini karena semua keterangan ditulis dalam tulisan Pali…wew…

Setelah puas mengagumi Kuil Pathumwan saya melangkahkan kaki ke Platinum, wah ternyata lumayan jauh juga,, tapi saya kurang puas di Platinum karena isi barang jualannya baju-baju gitu, yang sepertinya sih gak ada untuk ukuran saya. Dari situ saya menyeberang ke pasar tradisional. Nah disini barulah saya hunting kaos, dapet kaos harganya 150 Baht per potong. Kok kayaknya mahal, jadi saya hanya membeli 3 potong.

Saya kemudian memutuskan untuk jalan kaki ke Victory Monument. Kelihatan di peta sih dekat, tapi begitu dijalani jauuuhh banget, ditambah panas matahari yang tidak bisa diajak kompromi,,, betul-betul menderita. Sepanjang jalan saya sempat mampir di sebuah toko kaos, dan disini harganya hanya 99 Baht/ potong… arggghhhh,,, tadi kena tipu,,,, saya sempat juga berhenti untuk membeli es dan sempat duduk di pinggir jalan,,, gila panas bangettt,,,,

Sepanjang jalan saya menyaksikan sendiri betapa mereka mencintai Rajanya. Hampir di setiap rumah dipasang bendera negara dan bendera kerajaan. Pada toko-toko dipasang foto raja, mulai dari saat beliau muda hingga foto masa kini. Tak lupa juga foto Ratu Sirikit mendampinginya. Teringat juga ketika saya melihat foto raja ukuran besar di dalam Mal MBK. Saya takjub banget, secara di Indonesia kayaknya gak ada mal yang pasang foto presiden kita. Mereka juga amat religius, terlihat dari adanya patung Buddha dan dewa yang dipasang di depan rumah dan di tepi/ persimpangan jalan. Banyak orang yang berhenti sejenak untuk berdoa atau memberi hormat.

Saya sempat ditanyai seorang pria paruh baya di tengah jalan. Ia menanyakan asal saya dari mana (soalnya waktu dia ngomong pakai Bahasa Thai, saya celingak celinguk gak nyambung, jadi ketahuan lah saya pendatang disini,,,). Karena saya ingat pesan bos untuk tidak bicara dengan sembarang orang di jalan, saya segera mengakhiri percakapan itu, dan langsung mempercepat langkah kaki menuju Victory Monument.

Setelah perjalanan yang tampaknya tanpa akhir, tibalah saya di Victory Monument, yang ternyata bikin saya ternganga : lho, kok, begini doang,,, kirain tuh semegah monas, atau keren gimana gitu, eh ini malah mirip dengan monumen-monumen yang biasa kita temui di Jakarta,, duh, kayaknya perjuangannya sia-sia deh… Di atas kepala saya ternyata adalah jalur BTS. Nah, daripada jalan kaki lagi pulangnya, mendingan naik BTS saja, apalagi saya lihat di peta, jalurnya sampai di depan National Stadium.

Suasana di stasiun BTS cukup ramai, saya mencoba mempelajari bagaimana orang-orang membeli tiket. Di situ ada peta jalur BTS, yang diberi tag harga di setiap gambar stasiun. Saya bingung dengan gambar berbahasa Thailand itu. Saya asumsikan ongkos dari BTS Victory Monument sampai ke National Stadium adalah akumulasi angka-angka di setiap stasiun yang dilalui. Akhirnya saya putuskan untuk bertanya kepada seorang gadis yang antri di depan saya. Dengan malu-malu ia menjelaskan, ternyata harga yang harus saya bayar hanyalah harga yang tercantum di gambar stasiun tujuan kita, dalam kasus saya sebesar 25 Baht. Ada zona harga, dimana beberapa stasiun yang berdekatan memiliki tarif yang sama.

Tiketnya keluar dari mesin otomatis setelah kita menekan tombol sesuai ongkos yang harus dibayar, dan memasukkan koin sesuai harga yang ditentukan. Tadaa…tiketnya keluar,,, Sebelumnya kita harus menukarkan uang kertas ke koin pada loket yang sudah disediakan (psst,,,untuk masalah menukar uang koin ini, saya diajarkan oleh seorang opa lho,,,).

Walaupun standing party di atas BTS, tapi saya cukup merasa nyaman.. Apalagi ditambah di atas BTS banyak pria kantoran Bangkok yang keren-keren dan rapi…Setibanya di National Stadium, saya baru ingat bahwa saya harus mencari travel agent di MBK untuk ikut city tour. Jadi saya harus balik lagi jalan kaki ke MBK.. weehehehe,,, lumayan ya, capek juga…

Di MBK, saya mencari-cari travel agent World Desk Tour yang direkomendasikan bos saya… bertanya ke informasi, katanya ada di lantai atas MBK, tapi namanya bukan World Desk Tour. Mungkin saja sudah ganti nama ya? Tapi kata bos saya, kantor mereka ada di lantai dasar. Saya pikir kantor mereka ada di sisi luar MBK. Saya bertanya ke orang lewat, malah ditunjukkan ke lokasi bongkar muat barang. Ya jelaslah gak ada travel agent di lokasi ini.

Muter-muter sampai bingung, saya malah menemukan orang Indonesia. Saya tanyakan mengenai travel agent ini, mereka juga malah bingung. Di lantai 3 saya menemukan sebuah travel agent, tapi harganya mahal banget,, untuk paket tour ke temple-temple harganya sekitar 2500 Baht, begitu juga untuk ke Grand Palace. Jadi total harganya sekitar 5000 Baht, atau sekitar 1,5 juta… wedeh…duit dari mana bang? Saya sudah hampir putus asa dan berpikir untuk nekad jalan sendiri ke Grand Palace, ketika akhirnya saya ingat untuk mengsms bos saya. Ternyata bos saya langsung menjawab sms saya, dan mengatakan bahwa lokasi World Desk Tour ini ada di dekat lobby tempat kemarin kami menunggu Mr. Samrit menjemput. Halah,,, tau gitu sih dari tadi aja saya kesana… bos,,,kok dirimu bilang di MBK sih,,, itu mah namanya lobby Hotel Pathumwan atuh, bos…

Dan ternyata namanya World Travel Service (WTS –> dilarang berkonotasi negatif), bukan World Desk Tour… hadeuh,,,, *pingsannnn). Saya melihat paket tour mereka yang harganya relatif lebih terjangkau. Paket tour ke Grand Palace seharga 1250 Baht, dan paket tour ke temple seharga 1100 Baht. Tapi masalahnya karena saya sendirian, saya tidak mendapat prioritas. Kalau saja saya berdua, maka tour bisa langsung diadakan. Tapi karena saya sendiri, saya harus menunggu kabar apakah masih ada kursi kosong untuk tour tersebut, atau jika ternyata tour tersebut tidak ada peminatnya sama sekali, maka saya tidak akan dapat kesempatan. Resepsionis di WTS yang bernama Ms Phawana, mencoba menghubungi kantor pusat mereka di Charoen Krung, tapi tidak ada yang menjawab, mungkin karena pada saat itu (pk 16.00) mereka sedang ganti shift. Ms Phawana bilang, kalau saya bisa ikutan paket tour itu, ia akan menelepon saya, lalu saya harus menyelesaikan pembayarannya di kantor cabang mereka yang terdekat dari hotel saya, yakni di Siam @Siam. Sedangkan kalau tidak bisa, saya terpaksa harus naik taxi. Miss Pha berpesan agar saya pesan taxi dari hotel, juga jangan nyegat taxi yang lagi ngetem. Jangan naik tuk-tuk karena rawan ditipu untuk mampir di berbagai tempat yang kita gak mau. Baru kali ini saya dikasih wejangan sama petugas travel desk…hehehe

Baru saja beberapa langkah meninggalkan kantor mereka, Ms Phawana menelepon bahwa saya bisa ikut tour yang ke Grand Palace besok pagi,,,, cihuy…senang banget,,, saya langsung lari ke office mereka. Namun untuk tour yang ke temple-temple saya masih harus menunggu sampai keesokan harinya. Nanti dalam perjalanan tour ke Grand Palace saya akan dikabari lagi.

Mission completed,,, hati senang,,, saya pun kembali ke kamar,,,saatnya leha-leha sambil nonton TV. Tapi baru saja saya duduk di pinggir jendela kamar, saya melihat sekelompok orang yang sedang berlatih sepak bola di sebuah lapangan di dalam komplek National Stadium. Rasa ingin tahu saya memanggil saya untuk turun menonton ke sana. Eh, tapi, emang boleh masuk ke National Stadium?

Dengan menggunakan bahasa kode-kode, saya bertanya pada petugas parkir hotel, dan yang saya tangkap sih, dia bilang boleh. Jadilah saya masuk ke komplek National Stadium. Pertama nonton yang latihan sepak bola. Wow,,, pengalaman pertama saya masuk lapangan sepak bola beneran nih. Di Indonesia, saya gak pernah masuk lapangan bola. hehehehe,,, Sambil makan pisang bakar, saya mengagumi betapa bersih dan terawatnya lapangan ini. Ada satu tribun utama yang diberi dinding kaca, mungkin untuk penonton VVIP kali yee,,, lapangan ini adalah satu dari tiga lapangan yang terlihat di National Stadium. Lapangan lainnya adalah lapangan utama tempat pertandingan sepak bola tingkat nasional, dan satu lagi adalah lapangan hoki.

Setelah puas melihat para pemain sepak bola, saya berkeliling lagi ke sisi National Stadium yang lain.. Banyak juga warga Bangkok yang menghabiskan waktu sore mereka untuk berjalan-jalan di komplek ini. Saya juga melihat mereka yang berlatih modern dance, karate, sepak takraw dan basket. Benar-benar suasana sore yang menyenangkan,,,

Di belakang komplek ini, berdirilah Fakultas Olah Raga dari Universitas Chulalongkorn dan pusat penelitian peralatan olah raga. Pantas saja Thailand sangat bersinar dalam bidang olah raga. Coba deh hitung berapa seringnya Thailand menjadi juara SEA Games,,, mereka serius banget untuk masalah olah raga ini,,, Salut deh sama Thailand…

Sore itu, saya makan nasi ketan (5 Baht/ tusuk) plus sate ayam (5 Baht/ tusuk) dan sate babi cacah campur ketan (10 Baht/ tusuk). Hemat dan kenyang banget,,, sehabis makan langsung balik ke kamar untuk istirahat. Siap-siap untuk perjalanan esok hari…

Jumat, 27 April 2013

Saya dijemput di lobby hotel pada pukul 07.30 oleh mobil dari WTS untuk menuju kantor mereka di Charoen Krung. Saya adalah peserta pertama yang tiba disana, dan langsung dikenalkan dengan guide yang akan memandu, bernama MS. Chalarine, yang biasa dipanggil Miss Cha,,, beliau amat sangat ramah.. Bahasa Inggrisnya sangat perfect.. serasa bertemu dengan seseorang yang sudah lama saya kenal deh.. Pukul 08.00 kami beranjak dari sana menuju ke Grand Palace. Tepat saat kami tiba di Grand Palace, para prajurit sedang berganti shift. Jadi kami semua terpaku memandangi mereka yang berbaris dengan rapi. O iya peserta tour ini berasal dari berbagai negara, dan hanya saya satu-satunya yang berasal dari area Asia Tenggara.

Saya amat bangga menjadi orang Indonesia, karena hanya saya yang nyambung waktu Miss Cha memperkenalkan Garuda, sebagai salah satu mahkluk mitologi yang diguanakan sebagai lambang kerajaan disana, begitu juga tentang konsep meru, gunung suci, pusat dunia . Saya juga langsung nyambung begitu Miss Cha menjelaskan kisah Ramayana. Ya, Indonesia dan Thailand memang bersaudara.

Saya berkesempatan melihat Emerald Buddha yang bikin saya merinding karena begitu terasa sakral. Di dalam kuil ini Miss Cha mengajarkan kami untuk “duduk dengan sopan”, yaitu duduk dengan bersimpuh. Jika kita duduk bersila, maka jempol kaki kita akan mengarah ke patung Buddha (dan juga orang lain), ini termasuk dalam kategori tidak sopan. Wah di budaya Jawa juga masih kental dengan hal seperti ini kan?

Miss Cha menjelaskan berbagai hal tentang kerajaan dan budaya Thailand. Terlihat betapa ia sangat mencintai rajanya. Simbol-simbol di istana menggambarkan bahwa Raja haruslah bersatu dengan rakyatnya. Raja harus merendah untuk bisa menyatu dalam kehidupan rakyatnya.

Miss Cha dan petugas keamanan Grand Palace cukup geram saat menemukan tumpukan uang koin sumbangan para turis di atas kepala patung gajah. Menurut Miss Cha, Buddha tidak membutuhkan uangmu, tapi Buddha lebih membutuhkan dirimu dan jiwamu sebagai persembahan yang tidak ternilai. Waw, benar-benar perjalanan yang membuka cakrawala buat saya,,,

Setelah selesai berkeliling Grand Palace kami lalu menuju ke gem factory, dalam perjalanan, kami berkesempatan untuk melewati site krematorium yang baru saja selesai digunakan untuk mengkremasi kerabat Raja beberapa hari sebelum kami kesana. Sebelum tiba di gem factory, saya mengsms Miss Phawana untuk menanyakan apakah saya bisa ikut temple tour siang itu. Dan pihak WTS menelepon Miss Cha untuk mengkonfirmasi bahwa saya bisa ikut temple tour siang itu… Dan karena itu, saya dan Miss Cha pulang duluan meninggalkan rombongan di gem factory.

Sepanjang jalan Miss Cha menceritakan banyak hal tentang Thailand. Mengenai Raja Bhumibol yang senang sekali blusukan dan begitu peduli dengan rakyatnya. Beliau suka sekali melukis dengan pensil. Juga mengenai Putri Sirindhorn yang sangat dicintai rakyat. Banyak orang mendukung putri ini untuk menggantikan ayahnya. Akan tetapi gender masih merupakan masalah bagi kerajaan, ditambah lagi putri ini memutuskan untuk tidak menikah.

Miss Cha juga cerita tentang betapa Raja ini suka sekali berkebun, ia memiliki lahan tersendiri di istananya untuk berkebun, bahkan Raja juga membagikan bibit untuk rakyatnya. Menurut Raja Bhumibol, tanah pertanian adalah hal yang sangat penting di suatu negara. Ketika lahan pertanian habis, kamu tidak bisa makan uangmu kan? TOP!!!

Miss Cha juga begitu menekankan bahwa kita semua bersaudara, terutama negara-negara Asia Tenggara. Maka sebaiknya ASEAN mengadakan event yang tidak berbau kompetisi, supaya ikatan persaudaraan ini tidak dikotori dengan persaingan. Gile,,, tour plus-plus… Inilah yang membuat saya begitu terkesan banget dengan Bangkok, dan warganya. Hingga hari ini saya masih rutin kontak dengan Miss Cha… Best guide ever deh,,,

Kami didrop di lobby Hotel Pathumwan, sambil menunggu waktu dan pengaturan berikutnya, saya sempatkan diri untuk beli roti untuk makan siang,,, Saya dan Miss Cha berpisah di situ.. Saya dan bus kembali ke kantor pusat WTS, sedangkan Miss Cha ditinggal disitu.

Dalam perjalanan menuju Charoen Krung, kami mengalami kemacetan. Saya sempatkan untuk memotret kemacetan ini, sebagai bukti bahwa Jakarta bukan satu-satunya kota macet di dunia… Tak lama kemudian, bus sampai di kantor pusat WTS.

Peserta temple tour ini hanya 3 orang, yaitu saya dan dua orang pria bule dari Italia dan Spanyol. Saat saya sudah turun dari bus, saya refleks mengecek isi tas saya, dan OMG, kamera saya lenyap,,, kamera, dimana kamu? waduh, tadi masih ada kan? duh,,, gimana nih,,, tolong,,,

Guide kami lalu mengajak kami untuk segera masuk mobil. Saya minta waktu untuk membongkar isi tas saya, tapi kamera itu masih belum ditemukan. Saya bilang ke dia, kamera saya hilang. Dia bilang mungkin tertinggal di Grand Palace. Saya bilang gak mungkin, tadi di perempatan jalan menuju kesini, kamera itu masih saya pakai kok. Saya memaksa untuk mengecek di bus, tapi gak ketemu juga, bahkan di tempat yang tadinya saya duduki. Saya tanyakan kepada penumpang bus yang akan berangkat ke Grand Palace, tapi mereka juga gak lihat. Oh God,,, beneran deh,, kok gak ada… panik… panik di negeri sendiri aja udah susah, apalagi panik dengan pakai Bahasa Inggris,,,

Tour guide kami sudah bete, pria bule itu sudah pada gak sabaran,,, akhirnya si guide itu menelepon guide yang di bus, jawabannya negatif. Dua kali ia menelepon hasilnya tetap sama. Akhirnya diputuskan bahwa saya harus mencari sendiri kamera saya di bus, ketika kami di Wat Pho, dan mereka di Grand Palace. OK!! saya setuju,,

Hiks,,saya sedih banget,,, untungnya foto-foto customer sudah saya pindahkan ke dalam micro sd di hotel,, Tapi kameraku,,,saksi sejarah jalan-jalanku…hiks,,hiks,,, Saya gak konsen waktu Mas Guide (saking panik, saya gak inget sama nama Guidenya) menjelaskan kisah tentang China Town.

Kunjungan pertama kami adalah Wat Traimit (jujur saya awalnya gak ngeh dengan nama kuil ini), di dalamnya ada patung Buddha emas berukuran besar. Saya hanya bisa memandangi patung itu, dan memotret dengan kamera hp saya yang resolusinya kecil. Saya menatap mata patung itu sambil berdoa pada Sang Buddha, berharap Ia bisa membantu saya menemukan kamera saya di negerinya ini.

Tak lama setelah saya menyelesaikan doa saya, Mas Guide dapat telpon dari temannya, ternyata kamera saya berhasil ditemukan, dalam kondisi baik-baik saja. Tau gak? kamera saya kedudukan seorang turis perempuan di bus. Puji Tuhan…  Kamerapun akan diserahkan saat kami selesai dari Wat Pho..

Kunjungan berikutnya adalah ke Wat Pho, tempat patung Buddha tidur yang terkenal itu. Karena kamera belum ada di tangan, jadi saya masih menggunakan kamera hp. Disana kami ditantang untuk memasukkan 108 koin ke dalam 108 mangkok. Ini menguji konsentrasi. Jika koinnya kurang atau masih ada sisa berarti orang itu sedang gak konsen, atau dengan kata lain itu mengindikasikan ia sedang punya masalah. Ternyata saya bisa memasukkan semuanya dengan tepat dan pas…. berarti saya lagi lempeng-lempeng aja nih,,,

Kami lalu mengelilingi komplek Wat Pho, yang juga terkenal dengan tempat kursus Thai massage. Konon dari tempat inilah awal mula Thai massage yang amat terkenal itu. Di sekelilingnya ada banyak stupa, yang didasarnya terletak abu jenazah dari penduduk sekitar,,, hiy,,,

Setelah dari Wat Pho, akhirnya kamera saya dikembalikan oleh sopir travel. Uhhh,,,saking senangnya sampai saya peluk-peluk kamera ini,,, Kami lalu ke Marble Temple, dimana kuil ini terbuat dari marmer yang berasal dari Italia. Disini barulah saya puas memotret isi kuil dan berbagai pose patung Buddha dengan kamera… Di dalam kuil ada seorang anak muda yang sepertinya sedang mendapat pengajaran dari seorang bhiksu. Kata Mas Guide, anak muda ini sedang bersiap-siap untuk menjadi bhiksu… wow,,,hebat banget,,,

Perjalanan tour kami berakhir disitu. O, iya ini webnya WTS : http://www.wts-thailand.com/. Saya diantar sampai ke depan hotel. Karena hari masih sore, saya pun menaruh tas di kamar dan langsung turun lagi untuk berjalan santai. Rute pertama adalah House of Jim Thompson yang letaknya hanya beberapa gang dari hotel. Jim Thompson adalah seorang arsitek yang akhirnya mendirikan pabrik sutra di Bangkok.

Karena sudah sore, sepertinya Museum ini sudah tutup. disamping saya juga mulai menghemat, agar tak perlu menukarkan 100 US$ terakhir saya ke dalam mata uang Baht. Apalagi setelah saya membaca buku panduan milik WTS, bahwa di bandara akan diperlukan 700 Baht sebagai airport tax, maka saya menghemat Baht terakhir saya (padahal sekarang sih udah bebas airport tax…). Saya lalu berjalan ke arah National Stadium, dan masuk ke Lotus Mart untuk mencari oleh-oleh lagi. Akhirnya disana saya membeli makanan kecil seharga 10 Baht per bungkus. Bentuknya antik-antik, ada permen telur cicak, ada coklat telur cicak, ada berbagai macam manisan, pokoknya antik-antik deh,,,

Selanjutnya saya melirik peta, dan target saya adalah Wat Traimit. Saya gak sadar bahwa kuil ini sudah saya kunjungi tadi siang. Saya menyusuri jalan Bamrung Muang sambil mampir-mampir ke kuil yang dibuka untuk umum.

Kuil pertama hanya bisa saya potret dari luar saja, namun di bagian luarnya saya bisa melihat stupa-stupa yang memiliki foto. Owow,,, ini sepertinya rumah abu deh, atau pemakaman daerah.. adooohh,,,

 

Kuli berikutnya adalah sebuah kuil yang membuat saya penasaran hingga saat ini. Saya melihat tiga patung di sana, dan sebuah kotak besar seukuran… peti jenazah… setelah saya tengok, ternyata patung-patung lain yang ada di situ ditutupi kain warna orange,, makin serem aja.. So, saya langsung kabuuur,,,,

Kuil berikutnya bikin saya kaget. Waktu saya sedang memotret, saya merasa diamat-amati oleh sepasang mata. Eh, ternyata seorang bhiksu sedang mengawasi saya… Waduh, kaget banget,,, Tapi di kuil ini saya melihat patung garuda yang besar banget di atapnya..

Kemudian saya bertemu jembatan tepat di atas jalur kereta stasiun Hua Lamphong. Ternyata stasiunnya sama kumuhnya dengan stasiun Kota,,, hehehe,,,

Saya lalu berbelok ke kanan menyusuri aliran sungai, wah, romantis banget… Banyak orang yang baru pulang kerja nongkrong di tepi sungai ini atau di atas jembatannya. Saya kemudian bertemu dengan komplek sekolah Debsirin, dan meneruskan perjalanan saya untuk melihat stasiun Hua Lamphong. Di dekat gerbang stasiun, saya bertemu seorang pria yang berlagak meminta sedekah. Saya mencoba menolak dengan sopan, namun dia malah terlihat mau mengikuti saya.. Wah, saya langsung mempercepat langkah menjauhi dia, namun jalanan setelah lewat dari stasiun malah semakin sepi. Akhirnya saya lupakan saja niat mencari Wat Traimit, dan langsung menyeberang jalan, untuk langsung balik ke hotel.

Setibanya di hotel, saya masih setengah kecewa karena tidak sampai ke Wat Traimit,maka saya browsing di google.. Ternyata eh ternyata, ini kan patung Golden Buddha yang tadi siang saya lihat,,, weleh weleh,, dasar nggak konsen sih tadi siang,,, jadinya saya nggak inget nama kuil itu adalah Wat Traimit. Saya sampai ketawa sendiri waktu menemukan fakta ini… dasar dudul,,,

Malam itu saya lewatkan untuk packing. Tas saya beranak. Namun demi jaim di depan bos, saya berusaha mengakali supaya tas saya tidak jadi beranak, dan berhasil… semua baju saya lipat kecil-kecil. Tas kerja saya penuhi sampai terlihat hamil… hehehe… padahal akhirnya saya tahu, tas si bos juga beranak gara-gara ia beli mie instan sebanyak satu box full…

Bos saya mengsms untuk mengajak makan malam,,, yah, saya kan sudah makan ketan pakai sate (lagi),,, ditambah kaki sudah terasa gempor… maaf ya, bos,,, saya terpaksa menolak ajakan anda,,,

Sabtu, 28 April 2013

Saya baru sadar, dari 5 hari disini, saya hanya menghabiskan 1 hari untuk bekerja, dan sisanya hanya jalan-jalan dan senang-senang,,,hihihi,,  inilah yang membuat saya menutup kisah perjalanan ini hingga satu tahun… apa kata dunia kalau mereka tahu saya senang-seang disana. Bos marketing saya sih malah senang banget waktu dia tahu saya menikmati perjalanan ini. Beberapa jam sebelum pulang, ia sempat menelepon ke kamar saya, katanya untuk memastikan bahwa saya tidak pingsan… saya hanya bisa tertawa geli mendengar alasannya itu, tapi setelah saya pikir lagi, kami terakhir bertemu di hari Kamis pagi, jadi kami tidak bertemu selama dua hari, padahal kami ada di lantai yang sama,,, parah banget yaa….

Jam 12 siang, kami akan meninggalkan hotel, karena pesawat kami akan take off jam 14.10. Rasanya berat sekali untuk meninggalkan kota ini…

Tapi saya berjanji, saya akan kembali lagi ke Bangkok , tapi sebagai turis, bukan sebagai karyawan,,, amin….

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s