Sejarah Legio Maria

SEJARAH LEGIO MARIA

Legio Maria adalah suatu perkumpulan umat Katolik, yang dengan restu Gereja dan bimbingan Bunda Maria, telah menggabungkan diri ke dalam suatu laskar untuk meluaskan Kerajaan Kristus di dunia. Saat ini anggota aktif Legio Maria berjumlah lebih dari tiga juta orang, dan tersebar di 170 negara di dunia. Namun siapa yang menyangka bahwa kelompok kerasulan yang begitu besar ini bermula dari sebuah daerah miskin dan kumuh di Irlandia dalam sebuah keadaan yang tidak disengaja? Dan mungkin para legioner perdana pun tak pernah membayangkan bahwa mereka telah merintis pendirian sebuah sistem yang mampu memberikan kehidupan, kasih, dan harapan bagi bangsa-bangsa. Namun inilah hasil karya Ilahi yang mampu mengatasi batas pemikiran manusia.

Semua berawal dari kegiatan Serikat Santo Vincentius (SSV) di salah satu sudut kota Dublin, pada pertengahan dasawarsa kedua abad 20. Serikat ini bertujuan untuk membantu orang-orang yang mengalami tekanan karena kemiskinan. Salah satu anggotanya adalah Frank Duff, yang nantinya dikenal sebagai pendiri Legio Maria. Frank Duff lahir di Dublin pada tanggal 7 Juni 1889. Ia bergabung dalam SSV sejak usianya 24 tahun. Ketika itu ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Departemen Keuangan Irlandia. Sejak masa mudanya, Frank Duff adalah seorang yang saleh dan memiliki devosi kepada Bunda Maria, meskipun pemahamannya tentang Bunda Maria hanya biasa-biasa saja. Namun semuanya berubah pada suatu petang, ketika rekannya di SSV, Vincent Kelly menjelaskan Buku Bakti Sejati kepada Maria, karya St Louis Marie de Montfort, dengan berapi-api. Frank begitu penasaran hingga akhirnya ia membeli dan membaca buku tersebut. Namun ia tidak merasa terkesan pada isi buku itu. Ia malah menganggap bahwa St Montfort terlalu berlebihan dalam menampilkan keistimewaan Bunda Maria. Rekannya yang lain, Tom Fallon menyarankan Frank untuk membaca ulang buku itu, dan entah mengapa setelah ia melakukannya, ia seperti mendapatkan pencerahan hingga mampu memahami isi buku tersebut. Sejak saat itu, Frank begitu terinspirasi tentang ajaran teologi Bunda Maria.

Jumlah anggota SSV di kota itu semakin banyak, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membaginya dalam dua kelompok. Salah satu kelompok bermarkas di Myra House, Francis Street, dengan Frank Duff sebagai ketuanya. Pater Michael Toher, yang adalah pastor paroki setempat, menjadi pendamping bagi kelompok tersebut. Pada setiap pertemuan bulanan, para anggota selallu membahas dan mendiskusikan buku Bakti Sejati kepada Maria, hingga akhirnya mereka mengagendakan waktu khusus untuk membahas buku tersebut dan juga ajaran St. Montfort. Pada pertemuan berikutnya, salah seorang anggota menyampaikan laporan menarik mengenai kunjungannya ke Rumah Sakit Union di Dublin. Pada saat itu, hanya laki-laki yang melaksanakan tugas kunjungan ke rumah sakit. Seusai pertemuan itu, dua anggota wanita mendatangi Frank dan Pater Michael Toher. Mereka menanyakan apakah para wanita juga boleh melakukan kunjungan ke rumah sakit. Permintaan mereka direstui, dan mereka merencanakan untuk membahas hal itu pada sebuah pertemuan tanggal 7 September 1921, pukul 8 malam.

Tak ada yang sadar bahwa hari yang mereka tentukan itu adalah malam menjelang pesta kelahiran Bunda Maria, yang jatuh pada tanggal 8 September. Malam itu di Myra House, 13 wanita berkumpul bersama Frank Duff dan Pater Michael Toher. Tanpa pernah dibahas sebelumnya, ruangan itu ditata sedemikian rupa oleh salah satu wanita bernama Alice Keogh, dimana di atas meja diletakkan patung Bunda Maria tak bernoda yang diapit dengan bunga dan lilin. Persis sekali seperti altar Legio Maria saat ini namun tanpa veksilum. Ini seperti menunjukkan pada mereka, bahwa Bunda Maria telah hadir mendahului mereka dan menyambut mereka yang datang untuk melayani dia. Patung Bunda Maria juga mengingatkan mereka bahwa Maria selalu hadir di tengah mereka. Perkumpulan ini awalnya dinamakan sebagai Perkumpulan Putri Kerahiman, sebelum akhirnya dinamai Legio Maria.

Pada rapat pertama Legio Maria itu, para anggota bersama-sama berlutut, menundukan kepala dengan penuh ketekunan. Mereka mengucapkan seruan kepada Roh Kudus, dan kemudian mendoakan lima peristiwa Rosario. Ketika seruan terakhir usai, mereka duduk kembali untuk merenungkan bagaimana mereka dapat berkenan di hadapan Allah dan mengalami kasih Allah di dunia. Dari diskusi ini lahirlah Legio Maria, seperti keadaannya saat ini dengan segala ciri khasnya. Elisabeth Kirwin adalah ketua dari kelompok Legio Maria yang pertama. Ia adalah anggota yang tertua dan termiskin dari semua yang hadir dalam rapat itu. Hari Kelahiran Maria itu betul-betul hari yang begitu sempurna untuk kelahiran sebuah organisasi baru yang ingin membentuk diri untuk menjadi serupa dengan Maria.

Nama Legio diambil dari istilah tentara Romawi, yaitu prajurit atau tentara. Setiap anggotanya mempunyai harapan untuk dapat membuat dirinya berguna bagi Ratu Surgawi dengan kesetiaan, kebajikan dan keberanian mereka. Tapi tentara dan senjata anggota Legio Maria bukan dari dunia ini. Legio Maria bukan hanya organisasi biasa. Mereka yang menjadi anggotanya harus bersedia memberikan diri bagi tugas pelayanan untuk kemuliaan Allah. Maria yang telah memilih mereka, dan mereka maju untuk berjuang bersama Maria, dengan keyakinan bahwa mereka akan berhasil dan mempertahankan persatuan mereka dengan Bunda Maria. Mereka melayani Bunda Maria bukan hanya dalam perkataan, namun juga dalam perbuatan. Mereka melayani Puteranya, Yesus, dalam setiap manusia yang mereka jumpai, baik dalam diri para pasien, orang yang kesepian, anak-anak, orang muda, orang yang letih lesu, bahkan pada diri setiap pendosa.

Meskipun dilahirkan di Irlandia, namun pengakuan pertama dari pimpinan Gereja bukan datang dari Uskup Dublin, melainkan dari Mgr. Donald McIntosh, Uskup Agung Glasgow, Skotlandia pada tahun 1928. Ketika itu Frank Duff melakukan kunjungan kesana, dan sebuah presidium langsung didirikan di Kota Glasgow. Dalam waktu singkat Legio Maria berkembang di Skotlandia dan Inggris. Menjelang akhir 1930, wakil Paus, Kardinal Marchetti Selvaggiani mengundang Frank Duff ke Roma untuk menjelaskan tentang Legio Maria. Pada tahun 1931, Frank Duff memenuhi undangan tersebut dan mendapat kesempatan untuk menjelaskan tentang Legio Maria di hadapan Paus Pius XI, yang kemudian memberikan restu bahwa Legio Maria boleh menyebar ke seluruh dunia. Presidium pertama di luar Inggris dibentuk pada tahun 1931 di New Mexico, Amerika.

Pada tahun 1932, diadakan Kongres Ekaristi Internasional di Dublin, dimana para uskup dan imam dari seluruh dunia hadir disini. Pada kesempatan ini, mereka diperkenalkan dengan Legio Maria, dan setelah mereka pulang, mereka mendirikan Legio Maria di tempat asalnya masing-masing. Legio Maria masuk ke Afrika berkat jasa Pater James Moynagh, seorang imam misionaris Irlandia yang  bekerja di Nigeria, dan Micahel Engkeng, seorang awam yang berdedikasi pada Gereja dan Legio Maria. Penyebaran Legio Maria di benua hitam ini juga tak lepas dari peran martir pertama Legio, yaitu Edel Quinn. Ia menjelajah ribuan kilometer untuk memperkenalkan Legio Maria di Kenya, Uganda, Afrika Selatan, Mauritius, dan Danau Victoria.

Kelahiran Legio Maria di Amerika Latin dimulai pada tahun 1953, ketika konsilium (dewan tertinggi Legio Maria) mengirimkan Alphonsus Lambe ke Kolombia, Equador, Brazil, Argentina, dan negara-negara lain. Para utusan ini, atau yang sering disebut sebagai envoy, juga dikirim ke Indonesia. Miss Theresia Shu adalah legioner di Universitas Hongkong yang ditunjuk sebagai envoy bagi Indonesia. Pada tahun 1951 ia masuk ke Indonesia melalui Medan, Sumatera Utara dan mendirikan presidium pertama disana. Legio kemudian menyebar ke daerah lain di Indonesia, yaitu Padang, Pekanbaru, Sidikalang, Tanjung Karang, Pangkal Pinang, Pontianak, Sintang, Singkawang, Sambas, dan Maumere.

Perkembangan Legio Maria di Pulau Jawa bermula di Kediri, ketika Pater Paul Janssen CM kembali dari Filipina, dan memperkenalkan Legio Maria yang saat itu sudah berkembang pesat di Filipina. Tak lama kemudian, muncullah presidium-presidium baru di kota Surabaya, Malang, Blitar dan Madiun pada tahun 1953. Di daerah Jawa Barat, Legio Maria bermula di Cirebon pada tahun 1956, sedangkan di Jawa bagian Tengah, Legio pertama lahir di Yogyakarta tahun 1969, dan kemudian meluas ke Semarang dan Surakarta. Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki dua dewan senatus untuk memegang pimpinan Legio Maria di Indonesia, yaitu Senatus Jakarta (untuk Indonesia bagian Barat), dan Senatus Malang (untuk Indonesia Bagian Timur).

Tahun ini, Legio Maria sudah berusia 92 tahun. Sebuah perjalanan yang panjang telah ditempuh oleh para legioner di seluruh dunia. Perjalanan yang kadang sulit dan berbatu. Banyak pandangan skeptis dan sinis dilontarkan sejak awal kelahiran organisasi ini, namun Legio Maria tetap bertahan dan berkembang di berbagai negara. Inilah karya Allah yang tak akan dapat dilenyapkan oleh manusia. Tiga orang anggota awal Legio tengah dalam proses penyelidikan untuk dibeatifikasi. Mereka adalah Frank Duff, Edel Quinn, dan Alphonsus Lambe.

Perjuangan bersama Bunda Maria masih berlangsung hingga saat ini dan akan terus berlangsung untuk melawan dunia dan kekuatan jahatnya.

“Bila mengikuti Maria, engkau takkan tersesat.

Bila memanggil Maria, engkau takkan putus asa.

Bila memikirkan Maria, engkau takkan keliru.

Bila dibantu Maria, engkau takkan jatuh.

Bila dilindungi Maria, engkau takkan takut.

Bila dibimbing Maria, engkau takkan jemu.

Bila dikaruniai Maria, engkau mencapai tujuanmu.

Berkat perantaraanmu, O Maria, kami dengan pasti memiliki janji kebangkitan kami.”

(St. Ephraem)


2 thoughts on “Sejarah Legio Maria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s