Til we meet again, Rob….

…ketika aku lagi-lagi terobsesi pada seorang pria yang tak mungkin digapai…

Aku bertemu dengan Rob dalam paket tour ke Pulau Corregidor, yang terletak di “mulut” Manila Bay. Kami bernasib sama : single traveller.

Akulah yang memulai segalanya dengan sebuah tawaran untuk memotretnya. Ya, konsekuensi seorang single traveller adalah sulit sekali untuk memiliki foto diri. Dalam memory card kamera pastilah akan lebih banyak terisi foto objek wisata dibandingkan dengan foto diri sendiri. Dan aku ingin memiliki fotoku di pulau ini sebagai bukti yang valid bagi generasi penerusku. Itulah mengapa aku menawarkan bantuan itu, agar kami bisa saling membantu mengambil foto.

Mengapa harus dia, dan bukan single traveller yang lain? Entahlah… mungkin karena dia yang paling “terlihat”, atau dengan kata lain, ada sesuatu dari dirinya yang menarik perhatianku. Meski awalnya aku begitu ragu, namun di Battery Hearn, aku memberanikan diriku untuk menawarkan bantuan itu.

Gayung bersambut : tawaran diterima. Entah mengapa, pada akhirnya aku merasa tak keberatan jika ia tak melakukan hal sebaliknya padaku. Cukup aku saja yang berbuat kebaikan itu baginya.

Namun dia ternyata paham apa maksudku, dan menawarkan diri untuk melakukan hal serupa. Dan di Pacific War Memorial, tepatnya di depan patung Brothers in Arms, kami membuat kesepakatan yang tak terucapkan. Dalam senyum yang diam, kami saling berkomitmen untuk melakukan kebaikan satu sama lain. Dalam struktur kalimat yang berbeda, kami tanpa disengaja menyampaikan tawaran secara bersamaan di depan monumen Eternal Flame of Freedom. Dua orang yang sama-sama asing ini akhirnya larut dalam tawa dan percakapan.

Dia bilang aku mirip orang asli Manila, aku katakan bahwa aku dari Indonesia. Ia bilang ia berasal dari Washington, USA, hingga aku bertanya apa nama 5 negara bagian terakhir dari Amerika yang membuat perbedaan pada jumlah bintang dalam bendera Amerika yang kami lihat di Corregidor. Dia tertawa malu saat mengakui bahwa ia lupa nama 5 negara bagian itu. Ia kemudian bertanya tentang invasi Jepang di Indonesia. Aku kesulitan mengatur kalimatku untuk menjelaskan sejarah bangsaku di masa lampau.

Kami berjalan menyusuri altar di bawah dome memorial itu, dan dia berkata bahwa kami akan saling menjadi teman baik dalam perjalanan ini. Ya, aku bilang, karena kita senasib, sama-sama single traveller. Ia tertawa lagi, dan ada sesuatu yang terasa familiar dalam tawanya. Tawa yang canggung namun hangat. Dan aku ingin mendengarnya lagi… dan lagi,,,

Di mercusuar Spanyol, dia awalnya tak ingin difoto, entah mengapa.. Ia malah memotretku terlebih dulu. Namun ketika aku tawarkan lagi, akhirnya ia mau menerima tawaranku. Kami mencoba naik mercusur bersama-sama, meskipun akhirnya ia meninggalkanku di belakang. Namun aku sempat melihat ia mengulurkan tangannya ketika aku ada di anak tangga terakhir. Andai aku sambut uluran tangannya, apakah ia selanjutnya tidak akan meninggalkanku sendirian saat turun? Ada rasa kecewa saat ia melangkah menjauh dariku yang berdiri dalam ketakutan di puncak mercusuar..

Di dalam Malinta Tunnel, barulah aku sadar bahwa berdiri di dekatnya memberikan rasa nyaman, apalagi di terowongan gelap ketika kami menyaksikan light and sound show. Dan aku tersenyum senang saat beberapa kali ia memalingkan wajahnya memandangku. Ah,, rasanya ada sesuatu yang melompat-lompat di dalam dadaku… Hingga akhir perjalanan di Malinta Tunnel, aku tak jauh-jauh darinya, dan aku memang tak ingin jauh,,,

Dan, puncaknya, ketika makan siang, ia mengizinkanku untuk duduk bersamanya di sebuah sudut, dimana kami bisa memandang panorama yang istimewa, sudut lain dari Corregidor. Awalnya ia bilang tak mau makan, namun setelah aku mengambil makanan, ia memintaku untuk menjaga tasnya, untuk kemudian mengambil makanan, yang menurutku amat sangat sedikit untuk perut Amerikanya.

Ia bercerita, bahwa ia masih memiliki waktu selama dua minggu di Filipina, dan ia akan pergi ke pantai, untuk surfing dan snorkelling.. Dan aku tahu apa yang berbeda dari dirinya. Ia begitu sopan dan cerdas, tak seperti para backpacker yang kebanyakan tampak asal-asalan. Ternyata ia bekerja di departemen forreign affair, dan perjalanan ini adalah bagian dari tugasnya. Ini membuatku semakin kagum padanya. Benarlah dugaanku, bahwa ia bukan sembarang backpacker.

Ia lagi-lagi meninggalkanku sendirian di sudut itu. Ia bilang ia ingin mengeksplor lebih banyak tentang sisi lain pulau ini. Aku tersenyum melepaskannya, meskipun hatiku tak rela dan ada rasa kesal ditinggalkan sendiri. Hey, mengapa aku merasakan kekesalan ini? Bukankah sejak awal aku harusnya sadar bahwa menjadi solo traveller harus siap melakukan dan mengalami segalanya sendiri? Aku tak mengerti dengan perasaan ini. Ada apa dengan hatiku?

Namun, kekosongan yang ditinggalkan oleh Rob membuatku berkenalan dengan rekan-rekan sebusku yang lain. Ya, kekosongan itu dengan cepat diisi oleh seorang solo traveller asal Australia, dan keluarga Cristina dari Filipina. Bahkan akhirnya semua orang tahu bahwa aku berasal dari Indonesia, sebuah kenyataan yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Dan Rob? Ia sedang berdiskusi serius dengan Stella, tour guide kami.

Bus kami akhirnya datang, dan kami duduk di posisi semula. Rob, yang duduk di sudut berlawanan denganku, namun tepat di barisan depanku, memalingkan wajah kepadaku dan memberikan sebuah senyum, yang menurutku paling indah dan paling ramah dalam perjalanan itu.

Ah, lagi-lagi ada perasaan aneh itu. Dan untuk menutupinya, aku berupaya membuat diriku keluar dari cangkangku sebagai turis pendiam. Di hadapan patung Mc Arthur, untuk terakhir kalinya kami melakukan komitmen kami, yakni saling memotret satu sama lain. Tak ada kesempatan lagi bagi kami untuk saling mengulurkan kamera.

Menjelang boarding, aku sempat meminta alamat emailnya, dan ia menuliskannya di agendaku. Akhirnya aku sadar, bahwa tempat duduk kami di atas ferry tak berjauhan. Dan akhirnya aku pun sadar bahwa di jari manis kirinya terlingkar sebuah cincin. Ah, mengapa aku tak menyadarinya sejak awal. Namun, apakah cincin itu memang mempunyai arti yang spesial baginya? Aku tak tahu, dan tak mungkin aku tanyakan padanya.

Di Pelabuhan CCP, kami berpisah tanpa kata-kata. Aku menjaga langkahku agar memiliki jarak yang cukup di belakangnya. Cukup untuk memandanginya dari jauh, dan cukup untuk tidak membuatnya menyadari pandanganku.

Ia kemudian menaiki sebuah taxi, dan itulah terakhir kali aku melihatnya..
Sebuah pertanyaan besar terbersit di kepalaku. Kami tinggal di bumi yang sama, di dua titik yang saling berjauhan satu sama lain. Kami bertemu di tempat ini, tanpa pernah kami rencanakan sebelumnya. Kami berkenalan dalam sebuah momen yang begitu istimewa, yang mungkin hanya terjadi satu kali dalam hidup kami. Ya, tak ada yang tahu, apakah akan ada kesempatan lagi bagi kami untuk kembali ke Corregidor Island…Dan juga tak ada yang tahu, apakah dalam sisa waktu hidup kami berdua, kami masih diberi kesempatan untuk bertemu? Jika ya, dimana? dan dalam momen apa? Ah, rasanya peluang itu begitu kecil sekali. Hanya sebuah alamat email yang aku pegang di tanganku yang seolah bisa menjadi kunci untuk menghentikan perjumpaan ini di titik ini, atau meneruskannya menjadi percakapan dunia maya.

Apakah aku akan bisa bertemu dengannya lagi?

Aku berharap masih bisa menemukannya di tengah keramaian Intramuros dan kota Manila, namun aku tak melihat jejaknya disana..

Aku berharap masih bisa mendengar tawa hangatnya lagi dalam hidupku…

Di tengah dunia yang begitu luas, apakah ada setitik kemungkinan untuk saling bercakap bertukar cerita lagi?

Rob, this is a song from Johnny Reid. I found it while I was waiting in Ninoy Aquino International Airport. The memory of Corregidor kept running in my head, and so I searched a song to express my feeling for you, and my wish that someday we’ll meet again. And this is what I got :

-Til We Meet Again-

May the sun shine on your shoulders
May luck and love be your friends
For now, always, forever; til we meet again

May your troubles be few
I hope life’s good to you
May your heart beat steady and strong
Yeah I wish you the best

May you find happiness
Every step of the road you’re on
May the wind fill your sails through the rain and the hail
Carry you safely back home
May your journey unfold to a big pot of gold
At the end of your way home

May the sun shine on your shoulders
May luck and love be your friends
For now, always, forever; til we meet again

May life fill you glass
May the memories last
Let the whiskey kiss you good night
May you wake every day with a smile on your face
And the ones that you love by your side

May the sun shine on your shoulders
May luck and love be your friends
For now, always, forever; til we meet again

May the sun shine on your shoulders
May luck and love be your friends
For now, always, forever; til we meet again

(Johnny Reid)

“I don’t want to have to say goodbye
tonight…, so till we meet again,
maybe another place, another time
I don’t know when
but I’ll think of you till then
till we meet again” (Dakota Moon – Til We Meet Again)

Yes, I’ll always think of you, and of the memories in Corregidor Island, til we meet again, Rob…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s