Cerita dari Filipina : Malaikat pelindungku dalam berbagai rupa…

Perjalanan saya ke Filipina ini bisa dibilang adalah sebuah perjalanan nekad.

Berawal dari obral buku di sebuah situs buku online, dimana ada buku tentang keliling Filipina dalam 10 hari (Sihmanto, 2010) yang bikin saya ngiler pengen kesana, ditambah dengan rencana kepindahan Suster Angel, FMM ke Filipina (Suster Angel adalah Asisten Pemimpin Rohani di Presidium Legio saya), yang memicu saya yang gila jalan-jalan untuk membuat rencana perjalanan ke Manila. Waktu itu, kami memang belum tahu dimana beliau akan ditugaskan, namun katanya, konsentrasi biara dan karya mereka ada di Manila, makanya saya langsung hunting tiket direct flight Jakarta-Manila. Pilihan jatuh ke Cebu Pacific Airline, karena pertimbangan harga yang cukup terjangkau, dan gak pakai transit di negara lain. Karena cuti saya yang limited edition, so saya mencari hari kejepit, yang cuma butuh cuti 2 hari bisa dapat liburnya 5 hari (4 hari perjalanan, dan 1 hari untuk istirahat), dan di hari yang saya pilih itu, hanya Cebu yang bisa memberikan harga termurah dari penerbangan langsung Jakarta-Manila. Karena saya pikir akan bareng-bareng suster selama  disana, maka dengan PeDenya saya hanya beli tiket untuk diri saya sendiri!

Beberapa bulan sebelum berangkat, saya sudah berkomunikasi via email dengan Suster Angel, dan ternyata beliau ditugaskan di Sariaya, sekitar 4-5 jam arah tenggara Manila. Jreng jreng… kota itu gak ada di semua atlas terbitan Indonesia yang saya punya.. ow,,ow..

Pada awalnya, saya berencana juga untuk ke Gua Sumaging di Sagada, yang jaraknya sekitar 12 jam dari Manila, tepatnya di bagian utara pulau Luzon, tapi sepertinya waktu tidak akan memungkinkan jika harus ke Sariaya, balik Manila, Sagada, balik Manila lagi. Alhasil,Sagadanya dilupakan dulu deh,dan fokus jalan-jalan hanya ke Sariaya dan Manila saja. Toh, gak enak juga udah jauh-jauh  mengunjungi Suster disana, tapi kok buru-buru pamitan lagi.. Tapi, berarti, saya akan 100% jadi solo traveller di Manila, karena belum tentu diizinkan untuk membawa suster jalan-jalan dari Sariaya ke Manila. Ah, gak masalah lah,,, kan udah punya contekan dari buku…(penyakit kepedean…)

Menjelang keberangkatan, saya malah sibuk dengan Ujian KPKS (Kursus Kitab Suci) yang semuanya adalah tugas paper, alhasil H-20 menjelang berangkat, saya baru mulai mikir dan menyusun itinerary.

Itinerary yang saya buat adalah sbb : Hari-1 :Tiba di Manila – naik bus ke Sariaya – overnight di Sariaya. Hari-2 : Keliling Sariaya-Siang pulang ke Manila-overnight di Manila. Hari-3 : Keliling Manila (Intramuros, gereja-gereja tua di Manila). Hari-4 : Corregidor Island. Namun setelah dipertimbangkan lagi, saya menukar jadwal hari ke-3 dan ke-4, untuk mencegah ketinggalan pesawat akibat ada masalah dalam penyeberangan dari dan ke Corregidor Island.

Setelah itinerary disusun, saya mulai hunting dan booking hostel di Manila. Lalu beberapa hari kemudian saya booking tour ke Corregidor secara online. Untuk rencana perjalanan di Sariaya, saya pasrahkan pada Suster saja lah…

Satu minggu sebelum berangkat, Suster punya rencana baru, yakni mengajak saya ke Tagaytay untuk menghadiri perayaan kaul sementara seorang suster disana, dan konsekuensinya adalah itinerary saya harus berubah total. Dalam hati sebetulnya pengennn bangetttt ke Tagaytay, apalagi berangkat kesananya ramai-ramai (dijamin gak nyasar), dan saya dapat tambahan satu spot di Filipina. Tapi,,, mereka akan ke Tagaytay  pada hari yang sama dengan rencana saya ke Corregidor. Wedeh, padahal untuk Corregidor  tour ini, pembayarannya sudah masuk 100%, maka dengan berat hati (berattt bangettt,,,), saya menolak ajakan suster ke Tagaytay, dan kembali ke itinerary semula (usulan ke Tagaytay ini adalah ide dari seluruh Suster di Komunitas Sariaya, maka ketika saya putuskan untuk keukeuh dengan itinerary saya, saya sempat khawatir mereka marah). Selain itu ada pula usulan dari mereka untuk dijemput di Manila dengan mobil sewaan dari Sariaya. Namun setelah dihitung-hitung biayanya hampir 1,5 juta rupiah… Wew,,, mahal sekaleee,,,, dengan halus saya menolak rencana itu, secara sayang duitnya boo,,, Tapi syukurlah mereka amat demokratis dan mengizinkan saya untuk mengatur perjalanan ini semau saya… hehehe.

Saya kemudian browsing bus jurusan Manila-Sariaya, dan menemukan facebooknya JAC Liner, yang memberi respon cepat dan detail atas pertanyaan saya. Selain itu, Suster juga mengajarkan segala hal supaya bisa tiba di biara mereka di Sariaya. “Turun di Gereja St. Fransiskus Assisi,, sebelah Sekolah St. Joseph…”, itu patokan yang dikasih suster,,,

Tiga hari sebelum berangkat, saya sudah selesai packing. Masih super duper pede…

Dua hari sebelum berangkat, saya “mohon restu” (jiahhh,,,) pada sahabat saya di pabrik. Eh, saya malah jadi down waktu dia tanya : “Kamu yakin jalan sendirian?”, dan entah kenapa, saya dengan jujur menjawab : “Nggak,,,,” Sejak saat itu, berbagai kekhawatiran berkecamuk di otak saya : Bahasa Inggris saya yang level jongkok, gak bisa baca peta, sering hilang orientasi, sering terkena serangan panik, gosip penculikan turis di Manila, wahhhh kok jadi takut….HELP!!!  Akhirnya saya sadar, saya gak sendiri, saya kan punya Tuhan. Justru dalam kondisi serba sendiri ini, saya ditantang untuk tidak mengandalkan kemampuan saya sendiri, tapi mengandalkan bantuan Tuhan. Aku pasrah aja ya, Tuhan…

Ketakutan dan kekhawatiran itu terus melanda, apalagi setelah saya betul-betul sendirian di dalam bandara. Padahal masih di kampung sendiri. Untunglah muncul seorang malaikat bernama Tia. Dia ini juga solo traveller yang mau terbang ke Korea Selatan. Ini pengalaman pertamanya terbang, jadi dia gugup banget, apalagi sendirian pula. Kami bertukar cerita, dan dengan Tia ini saya berhasil menumbuhkan kadar PeDe saya yang sudah low bat. Kami saling menguatkan dan menghibur satu sama lain.

Penerbangan yang delay, imigrasi Filipina yang reseh dan banyak tanya (mungkin karena saya travelling sendirian), dan negosiasi taxi tidak membuat saya gugup. Puji Tuhan,,, Padahal saya paling gampang panik, apalagi kalau berhadapan dengan imigrasi (ditambah lagi kalau harus jawab pakai Bahasa Inggris).

Setibanya saya di Buendia Taft (terminalnya JAC Liner), saya langsung melihat bus tujuan Lucena yang harus saya naiki untuk ke Sariaya. Setelah saya menunjukkan alamat yang saya tuju, saya diarahkan untuk langsung naik ke bus. Nah, masalahnya, apakah saya perlu beli tiket dulu? atau bayar di atas? saya gak ngerti.

Di atas bus, saya duduk di sisi kiri, dan setelah hasil celingak celinguk, saya menemukan seorang pria yang duduk di sisi kanan, satu row di belakang saya. Saya memberanikan diri bertanya kepada dia mengenai sistem pembayaran busnya, dia bertanya tujuan saya, dan lalu menjelaskan bahwa pembayaran dilakukan kepada kondektur… Oooh,,, jadi kayak bus kota di Jakarta denk,,,

Bus mulai jalan, dan kondektur mulai berkeliling memberikan tiket. Pas sampai bagian saya, kondektur ini bertanya dalam Bahasa Tagalog… wew… (Kayaknya sih dia nanya saya mau turun dimana, jadi saya dengan pedenya langsung menyodorkan kertas alamat ke dia), dan pria di seberang saya itu membantu menjelaskan tujuan saya kepada si kondektur. Pria ini juga yang menjelaskan bahwa uang ongkos akan ditarik setelah kondektur selesai memberikan tiket pada seluruh penumpang… Fyuhh,.. lagi-lagi saya menemukan malaikat…

Saking capeknya dan ditambah kurang tidur (gara-gara pakai penerbangan dini hari), alhasil mata saya tidak bisa dikendalikan lagi. Sebelum terlelap, saya sempatkan melirik peta Filipina ukuran A3 yang saya dapat di bandara (bayangkan negara seluas Filipina digambar dalam ukuran A3 saja,,, peta buta sekaleee….). Menurut suster, Sariaya hanya berjarak 6-7 km dari Lucena, jadi bus akan melewati Sariaya terlebih dahulu sebelum sampai ke Lucena. Menurut peta itu, seharusnya saya akan melewati kota bernama San Pablo. Hanya itu saja cluenya. Entah berapa lama yang diperlukan dari Manila ke San Pablo? lalu berapa lama yang dibutuhkan dari San Pablo ke Sariaya? jangan tanya saya, karena sampai sekarang saya juga masih gak tau….

Saya mulai terlelap tanpa sempat merasa khawatir,,, hehehe… saat saya terjaga, bus sedang berhenti untuk membagikan makanan (o iya, kita bisa pesan makanan fast food kepada kondektur). Saya melihat jam, ah, baru sekitar 1 jam perjalanan,  jadi saya masih bisa tidur lagi. Selain itu, saya juga yakin akan dibangunkan oleh kondektur, karena saya sudah menunjukkan dimana saya akan turun… (optimis sekali ya?)

Satu jam kemudian, bus berhenti lagi, dan saya terjaga lagi. Saya lupa dimana posisi saat itu. Dan memang disana jarang sekali ada penunjuk daerah. Toko-toko di pinggir jalan jarang ada yang menuliskan alamat lengkap mereka di papan reklamenya. Tak berapa lama, pria yang di seberang saya turun, dan entah kenapa rasa ngantuk saya jadi hilang lenyap.

San Pablo terlewati, dan saya melihat papan penunjuk Sariaya. Ah, berarti Sariaya masih belum terlewati kan? Kota demi kota terlewati, hingga akhirnya satu kota bernama Candelaria, hehehe,,, namanya aneh ya, kayaknya banyak pengrajin tempat lilin (candelar) kali yee disini. Nah, tiba-tiba kondektur mendatangi saya, meminta kertas berisi alamat yang tadi saya perlihatkan kepadanya… setelah menilik dan memandangi kertas itu sekian lama, ia kemudian membawa kertas itu ke sopir, namun sambil memberikan saya ekspresi dan gerakan-gerakan “saya tidak tahu alamat ini”. WHAT??? Jadi dia kagak tau?? Mana saya juga gak tau patokannya apa… gerejanya di sebelah kiri atau kanan juga kagak jelas… OMG… namun, Tuhan begitu baik,,, saat masuk perbatasan Sariaya, ada 2 orang perempuan yang naik ke bus. Saya sendiri sibuk pasang mata dan leher untuk mencari gereja St Fransiskus Assisi yang dimaksud ama Suster,,, tak lama kemudian, kondektur memberikan tiket kepada 2 penumpang itu, dan tanpa saya sadari, dia juga menanyakan alamat gereja itu kepada 2 penumpang tadi. Dan setelah dia tahu jawabannya, dia berdiri di depan saya, sambil memberi kode ” OK, saya sudah tahu tempat ini…”, fyuhhh,,, Puji Tuhan,,,

Saya diturunkan tepat di depan Gereja St. Fransiskus Assisi. Nah, sekarang saya harus kemana nih? Saya putuskan untuk  menelepon ke biara, sesuai pesan suster. Nah, ternyata yang angkat bukan Suster Angel, tapi rekannya yang lain. Beliau memberikan petunjuk yang detail, kemana saya harus menghadap dan arah mana yang harus saya ambil… (ternyata yang berbicara ini adalah Sister Theresa asli Hongkong. Dan saat berbicara langsung dengan beliau, saya agak bingung dan bengong dengan pronunciation Inggrisnya yang terdengar asing… Puji Tuhan sekali waktu di telepon saya bisa memahami petunjuk dari beliau…)

Saya disambut dengan ramah dan hangat oleh para suster disini… Mereka ada yang sedang rapat saat itu, dan merelakan waktunya untuk menyambut dan memeluk saya.. Betul-betul beda dengan bayangan saya tentang suster yang serius dan sangar…hehehe.

—– Cerita selama di Sariaya akan saya buat di post berikutnya yaa… ——

Setelah perjalanan di Sariaya berakhir, saya harus naik bus lagi ke Manila. Kali ini bukan Jac Liner, tapi Superlines, jurusannya juga bukan Buendia, tapi Cubao.. ya, sudahlah, toh kan sudah tanya kondektur, dia bilang lewat Buendia, trus udah bayar juga dengan tarif yang hampir sama dengan berangkat. Jadi pasti betul lah, bus ini lewat Buendia…

Lagi-lagi saya tertidur (hobby banget sih,,,), dan terbangun entah dimana,,, dan agak panik waktu lihat reklame toko bertuliskan : BATANGAS. Ow… kok muter lewat Batangas sih. Batangas kan ada di Barat Daya Manila… how come? tapi, kepanikan itu reda saat lihat di arah sebaliknya banyak bus-bus tujuan Lucena… oh, emang ini rutenya ya,,, wew… inilah akibatnya kebanyakan tidur di perjalanan… dan ternyata Batangas yang saya lewatin ini adalah pinggiran kotanya doang… alah alah,,,,,

Menjelang malam, bus memasuki area yang bernuansa kota, dan melihat pelang di depan toko, area ini bernama Alabang. Saya tanya pada penumpang yang duduk di sebelah saya, apakah Buendia masih jauh, eh ternyata dia juga gak tau,,, dan Bahasa Inggrisnya sama kacaunya dengan saya…hehehe

Tiba-tiba tuing,,, teringat bus ini menyediakan fasilitas wifi,,, langsung deh nyalakan GPS, nyari Buendia Taft… jreng jreng,, berhasil,,, menurut GPS masih 20 km lagi,,, fyuhhh… tapi ternyata bus ini gak ke Buendia Taft, terlihat di GPS jalannya lurus, di kenyataan busnya belok kanan… wedeh… nanya ke orang yang di seberang kursi, eh dia juga baru sekali ke Manila… aduh,,, gimana nih,,, kalau melihat peta LRT-MRT, saya malah makin menjauhi stasiun Quirino yang jadi patokan untuk ke hostel,,, mana jalanan macet pula… dan kok dari tadi gak ada yang turun ya,,,  setelah melewati MRT Ayala, saya melihat bangunan mirip stasiun dan langsung nekad minta turun karena yakin banget ini stasiun MRT Buendia… dan Puji Tuhan,… tebakan saya benar… minimal kalau sudah ketemu stasiun MRT-LRT, perjalanan akan relatif lebih mudah, karena peta yang saya punya adalah peta rute MRT-LRT, dan peta dari Stasiun Quirino ke hostel..

Tantangan berikutnya adalah naik MRT-LRT, saya beli tiket di loketnya, sambil ngomong Quirino… tring,,, petugasnya langsung ngasih tiket dan uang kembaliannya. Jadi ada range harga untuk stasiun-stasiun yg berdekatan,mulai dari 10 peso hingga 15 pesso. Begitu mau masuk peron, kartunya dimasukkan ke mesin (mirip dg sistem ticketing busway yg dulu) Karena gak ngerti, saya ninggalin kartu MRT di mesinnya saat masuk stasiun, padahal harusnya nunggu sampai kartu itu keluar lagi dr mesin, karena kartu itu dibutuhkan lagi untuk keluar stasiun. Alhasil kena denda 15 Peso deh,,, tapi bersyukur banget banyak orang yang memberikan informasi, mulai dari petugas LRT-MRT, polisi dan sesama penumpang.

Nah, yang paling rumit adalah mencari hostel. Bermodal printan peta bajakan dari google map, saya bingung membedakan jalan Quirino dan San Andres. Dah gitu, papan penunjuk jalannya sebagian sudah lenyap,,,berkali-kali nanya ke security dan petugas parkir… mana hujan pula,,, daerahnya mirip pasar, becek, gak ada ojek… dilihatin orang-orang karena terlihat turis (bawa ransel dan peta + muka bingung)… Thanks God, akhirnya nyampe juga ke friendly guest house,,,, beneran bersyukur banget sama Tuhan sudah bisa sampai sejauh ini… sendirian… dengan kadar panik yang lebih rendah dari biasanya…

Besoknya, muncul masalah lagi ketika mau ke CCP Harbour untuk check in ke Sun Cruise untuk tour ke Corregidor Island. Untungnya lagi, ada teknologi bernama GPS, dan untungnya (lagi-lagi), koneksi wifinya lancar, padahal semalam sebelumnya wifinya gak bisa konek… Nah, dari GPS itu terlihat jarak dari hostel ke CCP Harbour sejauh 2,7 km, yang berarti saya harus jalan kaki lebih dari 30 menit. Padahal dari contekan, katanya hanya butuh 15 menit dari hostel ke CCP Harbour. Wah, jam sudah menunjukkan pk. 06.15, maka saya langsung buru-buru menyalin peta GPS itu, dan langsung ngacir menuju CCP Harbour. Tepat 30 menit perjalanan (atau perlarian?) yang saya butuhkan untuk sampai ke sana. Thanks God, antrian check ini belum terlalu panjang,,, dan saya masih bisa meluruskan kaki yang hampir keram gara-gara lari-larian…

———————- see my other post about Corregidor Island Trip ——————

Dan Tuhan tak henti-hentinya menolong saya, yang amat tak tahu jalan. Di Corregidor saya menemukan penjual peta Filipina dan Metro Manila… Peta itu amat membantu saat saya melangkahkan kaki saya dari CCP Harbour ke Quirino, untuk selanjutnya ke SM Mall di Ayala.

Keesokan harinya saat saya hendak ke China Town, Quiapo, dan Binondo dari National Museum, saya dapat informasi dan travel warning dari petugas museum. Katanya hati-hati dengan tas, karena akan banyak sekali orang di sana. Mereka juga menjelaskan moda transportasi apa yang harus saya pakai, dan harus bayar berapa… Di atas jeepney dari National Museum ke Quiapo ada satu mbak-mbak yang nunjukin saya harus turun dimana,,,Betul-betul amat tertolong… Begitu pula ketika hendak ke Binondo dari Quiapo, entah berapa banyak petugas keamanan yang saya tanyai, hingga akhirnya saya tiba dengan selamat di depan Gereja Binondo… PS : Gereja Binondo ini gak ada di dalam peta… wew…

Tuhan bekerja dengan cara yang ajaib, melalui malaikat-malaikatnya di sekitar kita. Mulai dari hal kecil hingga hal besar semua dipikirkan dan direncanakanNya dengan matang. Dan semua tersedia bagi kita asalkan kita mau terbuka dan merendahkan diri kita untuk berpasrah pada bimbingan tangannya….Tuhan melindungi saya dengan tanganNya, melewati jalanan yang berbahaya, daerah yang ramai, daerah yang asing, Tuhan ada di samping saya. Dan saya pulang tanpa kekurangan apapun…

Thanks, God…

Thanks, My Guardian Angel…

Thanks, Mother Mary,,,,


2 thoughts on “Cerita dari Filipina : Malaikat pelindungku dalam berbagai rupa…

  1. Hai celina… aq yulie dr jakarta… kebetulan bln dpn tepatnya 2 juli sy jg akan ke manila… awalnya sy kesana karena ada kenalan 2 romo yg cukup dekat dg sy sdg study disana… tp apa daya terjyata 1 romo pas tanggal segtu hrs balik indo, dan romo 1 lgi ternyata bentrok dg kuliahnya… jd sepertinya sy hrs spt kamu jalan sendiri…😦 sbnrnya aq takut bgt… cm kl mau batalin sayang jg tiket dan hotel sdh dibeli dg hrg yg lumayan… tp si baca blog kamu ckp membuat aq PD si heheh… aq si take off di manila dan book hotel di quezzon city, Cubou… kl ada tips lgi untuk lsh masukan ya… thx… GBU…

    1. Hai, Yulie…. salam kenal yaa…. hehehhe…kalau usulku siy jangan dibatalin… ini kesempatan berharga banget buat lebih dekat dengan diri kita sendiri dan untuk membuka diri thd hal2 yg baru… Manila secara umum mirip dg jakarta, ramainya dan tipu menipunya…hehehe… tetap waspada dg barang berharga dan kalau mau naik tricycle dan pedicab, transaksi tawar menawarnya harus jelas n tegas…kalau kita ngga galak, mereka nipu harga…
      Aku waktu itu ke Sariaya (ke bukit jalan salib Kamay ni Hesus), ke Corregidor dan Intramuros… Monggo diubek2 ceritanya di blogku… Rencana berapa hari dan mau kemana saja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s