Cerita dari Filipina : Sariaya dan Kamay Ni Hesus, Lucban

Sariaya adalah kota pertama yang saya jelajahi di Filipina. Letaknya di Propinsi Quezon (ps : Quezon Province is not similar with Quezon City at Metro Manila), sebelah tenggara dari Manila. Menurut GPS (ciyee…), jaraknya dari Ninoy Aquino International Airport adalah 111 km.

Bagaimana cara kesana?
Ngesot aja… sampe pingsan di jalan juga kagak bakalan nyampe deh,,,hehehe… dari penelusuran di Mbah Google, saya menemukan ini :
http://www.virtualtourist.com/travel/Asia/Philippines/Province_of_Quezon/Sariaya-1381235/TravelGuide-Sariaya.html
disitu dijelaskan bahwa untuk mencapai Sariaya dari Manila adalah dengan menggunakan bus tujuan Lucena (ibukota dari Quezon province). Posisi Sariaya adalah 6-7 km sebelum Lucena (kalau kita beranjak dari arah Manila), Tinggal bilang ke kondekturnya (atau cukup tulis alamat tujuan kita di kertas dan tunjukkan ke kondekturnya), kita mau turun di Sariaya. Nah udah deh, tinggal pasrah aja ama bang kondekturnya (sambil berdoa semoga si kondekturnya bener2 tahu jalan,,, hehehe).

Naik bus apa? ada banyak merek bus tujuan Lucena, antara lain DLTB (Del Monte Land Transport Bus Company), JAC Liner, JAM, Superlines, dan masih banyak lagi.. Waktu itu saya browsing JAC Liner dan DLTB, mengikuti referensi yang saya dapat di google, dan petunjuk dari Suster Angel, FMM, yang akan saya kunjungi disana. Nih webnya :
DLTB : http://www.dltbbus.com.ph
JAC LINER : http://www.jacliner.com

Nah, masalahnya adalah meskipun web mereka semua berbahasa Inggris, tapi kita yang buta dengan Manila dan Filipina pastinya bakal bingung dengan alamat terminal mereka.. Harus naik bus dari terminal mana yang paling dekat dengan bandara? harus naik apa dari bandara kesana? Akhirnya saya mengikuti saran dari vitualtourist itu dengan mencari account facebook mereka (DLTB dan JAC Liner), dan menanyakan segala detail di timeline mereka. Yang merespon dengan cepat adalah JAC Liner. Mereka bilang, pool terdekat mereka dari Ninoy Aquino International Airport (NINA) adalah di Buendia (Buendia Taft), jadi saya dianjurkan naik taxi dari Bandara ke Buendia, dan dari situ naik bus jurusan Lucena, tinggal bilang ke kondektur atau sopir kita mau turun di Sariaya. Ongkosnya 190 Peso (1 Peso +/- Rp. 250), kenyataannya di atas bus saya ditagih 194 Peso, dan tarif pulangnya sebesar 198 Peso (Pakai Superlines). Yah, jadi kisaran tarifnya sekitar segitu lah…Mereka bilang tidak ada sistem booking, intinya siapa cepat dia dapat. Tapi tenang,,, bus ke Lucena berangkat setiap 20 menit sekali kok, jadi gak usah panik kehabisan bus…
Nih alamat JAC Liner di Buendia : Donada st. cor Buendia, Pasay City. Telp : 404-2073

Lama perjalanan yang dibutuhkan sekitar 3-4 jam, tergantung macet atau tidak. Waktu berangkat saya hanya butuh 3 jam lebih, karena masih pagi jadi jalanan relatif lancar. Tapi waktu pulang, saya butuh waktu 4 jam lebih karena macet berat, mungkin karena hari itu sudah sore menjelang malam (jam pulang kerja) dan hari Jumat (banyak yang mudik kali yee..). Tapi yang enaknya, di atas bus ada fasilitas wifi, lumayanlah buat update status, dan untuk ngecek posisi pakai GPS (terutama buat saya yang gak bermodal peta…hehehe)

Ada apa sih di Sariaya ?
Yang pasti ada Suster Angel, FMM yang mau saya kunjungi…hehehehe… sudut-sudut Sariaya yang saya kunjungi adalah rute wisata rohani yang bikin mulut ternganga… WOW,,, gak ada nih yang kayak begini di Indonesia…

Saya diturunkan dari bus tepat di depan Gereja Paroki St Fransiskus Assisi (Parokya St. Francis of Assisi), yang letaknya bersebelahan dengan St. Joseph Academy. Arsitektur gerejanya beda banget dengan gereja yang di Indonesia. Katedral-katedral di Indonesia memiliki struktur ramping dan jangkung, sedangkan gereja disana terlihat lebar dan gemuk…hehehe… mungkin karena gereja di Indonesia terpengaruh arsitektur Belanda, sedangkan disana terpengaruh arsitektur Spanyol.

Tepat di samping gereja adalah St Joseph Academy, salah satu sekolah favorit di kota ini, yang dikelola oleh suster-suster FMM. Terlihat sekali bagaimana disiplin dan tertibnya anak-anak disini. O iya, ada yang unik nih dari mereka. Pada bulan Juni, mereka baru memulai tahun ajaran baru setelah melewati libur paskah dan libur musim panas selama 2 bulan… Enaknya,…. Jam istirahat mereka juga mirip pegawai kantoran, yakni jam 12.00 – 13.00,,, wuih bisa goleran dulu di rumah nih… Namun mereka memiliki respek yang tinggi terhadap para pastor, biarawan dan biarawati. Mereka tak segan-segan meminta berkat pada suster yang lewat di hadapan mereka. “Bless Po,,,”, itu yang terucap dari bibir mereka, dan para kaum berjubah itu akan memberkati mereka dengan meletakkan kedua tangan di atas kepala anak-anak itu,,,

Setelah makan siang dan menaruh tas di biara FMM yang berjarak sekitar 1 km dari Gereja, saya diajak Suster Angel ke Biara Santa Clara yang terkenal dengan “ketertutupannya”. Dan disana kami sempat berfoto di depan kapel yang seluruhnya diberi terali besi (saat itu sedang marak perampokan gereja dan biara, dan tak segan-segan para perampok melukai dan membunuh para biarawan/ biarawati). Mereka saat itu sedang mempersiapkan perayaan Hati Kudus Yesus yang akan dilaksanakan esok harinya (Jumat, 7 Juni 2013). Di komplek biara ini saya melihat patung-patung Kanak-Kanak Yesus (El Nino) dan Bunda Maria yang diberi wig serta jubah yang semarak dan eye catching. Inilah salah satu keunikan devosi mereka yang gak ada di Indonesia.

Setelah puas foto-foto di biara ini, kami lalu mengunjungi sebuah komplek pemakaman yang amat megah, dan gak mirip dengan pemakaman, tapi mirip dengan perumahan. Satu makam ukurannya segede rumah. Ini tradisi unik mereka pula, mereka membangun makam berukuran besar karena biasanya dijadikan pemakaman untuk satu keluarga. Pada bulan November, yang dikhususkan untuk mendoakan arwah orang beriman, mereka berkumpul di pemakaman, mengadakan pesta, bahkan sampai semalam suntuk. Menurut Sister Norma , FMM, mereka seolah sedang melakukan reuni dengan para arwah keluarga mereka. Waw.. mantab… kalau di sini, berani gak ya, ngadain pesta semalam suntuk di kuburan? *mikir 1000 kali…* Di seberang komplek pemakaman elit ini, ada juga komplek pemakaman sederhana, dan yang bikin bengong lagi, nisannya disusun bertumpuk ke atas… wedeh, itu isinya bertumpuk-tumpuk bak laci atau bagaimana ya? gak usah dibayangin ah,,, serem,,, Tak jauh dari komplek pemakaman itu, saya menemukan deretan penjual peti mati dan funeral service. Buset dah, jualan peti matinya vulgar banget, dipajang di pinggir jalan serasa jualan bahan bangunan aja…

Kami melanjutkan perjalanan ke Gereja St Francis of Assisi, melalui pinggiran jalan raya yang tak punya trotoar… weeee…. ngeri,,,

Saya berkesempatan mengelilingi komplek Gereja St Francis of Assisi yang didirikan pada tahun 1748, meski sebelumnya sudah ada gereja yang dibangun tahun 1599, 1605 dan 1641. Kota sempat dipindahkan ke area Lumangbayan (Barangay Tumbaga) pada tahun 1703, namun tahun 1743 ada banjir besar yang menyebabkan penduduk pindah lagi ke tempat sekarang ini. Selain bangunan gereja utama, ada pula kapel adorasi, tempat melakukan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus. Saya masuk pula ke kapel ini, dan merasakan sensasi merinding disko. Kapelnya gelap, dengan interior yang juga berwarna gelap dan berbau lembap… Di sisi kanan gereja ada taman devosi. Isinya? berbagai patung orang kudus ada disini. Mulai dari patung para rasul, replika perjamuan terakhir, relief jalan salib Yesus, Bunda Maria, para kudus dari Ordo Fransiskan dan Klara. Banyak deh pokoknya…. sampai bingung untuk mengidentifikasikan ini patung siapa dan itu patung siapa,,,,

Cara mereka berdevosi berbeda dengan umat Katolik Indonesia. Kita disini cenderung berdoa dalam diam atau memandang patung, sedangkan mereka berdevosi dengan menyentuh bahkan mengusap-usap patung. Bagi para penderita sakit, mereka akan menyentuh patung dan kemudian menyentuh bagian tubuh mereka yang sakit. But it’s all about faith, right? Tapi perasaan damai langsung muncul saat kita memasuki taman devosi ini. Sambil duduk di depan replika perjamuan terakhir, kami mendengar dentangan lonceng tepat pukul 18.00 untuk mengingatkan kami berdoa Angelus. Dan tak lama kemudian kami mendengar lantunan doa rosario yang dibawakan oleh para ibu di dalam gereja.

Kami sebelumnya juga sempat mengelilingi bagian dalam gereja, bahkan foto-foto di altar gereja (aduh,, kalau disini pasti udah kena amuk koster,,,hehehe). Altar gerejanya masih asli terbuat dari batu, namun dimodifikasi dengan penambahan meja altar besar. Ini untuk menyesuaikan tata liturgi ekaristi sebelum Konsili Vatikan II dan sesudahnya. Sebelum KV II, Imam memimpin ekaristi dengan membelakangi umat, sedangkan setelah KV II, Imam memimpin ekaristi menghadap umat, inilah alasan penambahan meja kayu di depan altar batu itu.

Di belakang altar ada patung Yesus tersalib yang kakinya hitam (Cristo de Burgos). Di sisi Yesus ada dua patung lain, sepertinya Bunda Maria dan Maria Magdalena yang berwajah sedih memandang Yesus yang tersalib. Konon ketika penduduk pindah ke Lumangbayan, gereja mereka disana dibakar oleh ekstrimis Muslim, namun patung Yesus ini selamat dan hanya terbakar kakinya saja. Katanya, waktu mereka pindah lagi ke daerah yang sekarang, patung ini dibawa oleh 4 orang dan dibungkus dalam kain putih sambil mencari lokasi untuk gereja baru. Di tempat yang saat ini adalah gereja St Francis Assisi, patung itu menjadi begitu berat sehingga tidak bisa diangkat lagi, sehingga lokasi ini akhirnya dijadikan gereja. (see http://traveleronfoot.wordpress.com/2008/05/19/sariaya%E2%80%99s-santissimo-cristo-de-burgos/)

Bagian dalam gereja pun diramaikan oleh deretan patung yang begitu banyak (dan lagi-lagi sulit untuk mengidentifikasikan itu patung siapa,,,) hehehe,,,

Setelah puas mengeksplor dan foto-foto di Gereja, kami merencanakan untuk pergi ke Lucena. Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 lewat banyak. Di gerbang sekolah, kami bertemu dengan Sister Lita, FMM, direktris St. Joseph Academy. Kata beliau mau ngapain ke Lucena malam-malam begini, udah sepi dan gak bisa lihat apa-apa. Akhirnya kami bertiga pulang naik tricycle, dimana Sister Lita merelakan dirinya duduk di belakang pengemudinya, dan kami duduk di bangku utama,,, hehehe,,, thanks Sister…

Suasana biara FMM di Sariaya ini beda sekali dengan bayangan saya tentang biara yang sepi, suster yang sangar, gak boleh ketawa sembarangan, makan gak boleh sambil ngobrol. Disini, semua berjalan dengan ceria dan santai. Makan sambil mengobrol, cuci piring sambil nyanyi dan bercanda. Semua berusaha saling melayani satu sama lain. Mereka saling bercerita tentang aktivitas mereka hari itu, dan rencana mereka esok hari.. Wah, betul-betul beda banget dengan disini… hehehe…

Seusai adorasi, saya langsung mandi dan terkapar dengan sukses…
Pagi berikutnya diawali dengan ibadat pagi dan misa pagi. Sister Puri, FMM sangat peka dengan kondisi Bahasa Inggris saya yang jongkok, dan memberikan contekan doa-doa dan tanggapan misa versi Inggris. Wah, saya happy banget waktu Paternya memimpin misa dalam Bahasa Inggris, tapi langsung pingsan ketika beliau memberikan homili dalam bahasa Tagalog… *kyaaaa….*

Setelah selesai makan pagi, saya pamitan (diiringi tangisan bombay…hiks,,,berat banget meninggalkan tempat yang hangat ini), karena hari ini, setelah mengunjungi Kamay Ni Jesus bersama Suster Angel, saya akan langsung pulang ke Manila dan tak mampir dulu ke biara…

Kamay Ni Hesus (baca : Kamay Ni Hesu, karena disana ga kenal huruf J = Hand of Jesus), terletak di kota Lucban, sekitar 1 jam perjalanan dari Sariaya. Dari biara kami naik tricycle ke Patron (alias Petron; pombensin… halah…), dari situ kami naik jeepney ke Tayabas, dengan ongkos sebesar 19 Peso. Tenang, jangan takut nyasar, ada keneknya kok, tinggal bilang aja mau ke Tayabas, dan keneknya akan ngasih petunjuk, plus penumpang yang lain juga akan memberi tahu kapan kita harus turun… penumpang disini sangat helpful buat kami yang sama-sama buta arah…hehehe…

Kami diturunkan sebelum tikungan masuk terminal Tayabas, dan kami naik jeepney lagi yang menuju Lucban, tenang, ada keneknya juga kok.. Ongkosnya 20 Peso. Terasa jalannya mulai menanjak, dan sempat khawatir karena beberapa kali jeepneynya terbatuk-batuk,,, hehehe,,, untunglah kami sampai dengan selamat di depan gerbang Kamay Ni Hesus, betul kan, gak cuma kenek yang ngasih tahu, penumpang yang lainnya juga,,,

Disini, lagi-lagi saya tercengang,,,ngang,,,ngang,,, gimana nggak, selain banyak patung orang kudus ukuran besar, Kamay Ni Hesus ini adalah sebuah bukit utuh yang “disulap” jadi trek jalan salib, lengkap dengan patung-patung yang menggambarkan Via Dolorosa, mulai dari perjamuan terakhir, hingga kebangkitan Yesus yang digambarkan dengan patung Yesus yang merentangkan kedua tangannya di puncak bukit… mantab….

Di bawah bukit ada kapel, dan saat kami datang, sedang ada misa Jumat Pertama… Dengan semangat kami memasuki area jalan salib, tapi sebelum kami mulai menaiki tangga ke bukit, kami disambut dengan berbagai patung binatang dan bahtera Nuh,,, oh, ternyata itu hotel,,O,iya, kami juga sempat mencicipi siomay ala Filipina. Jangan harap siomaynya pakai bumbu kacang seperti di sini… Siomaynya sih sama persis, tapi bumbunya adalah kecap asin, wijen, bubuk cabe dan bawang goreng.. Bayangin sendiri deh gimana rasanya,,, maklum lah, disini mereka gak kenal kecap manis (dan gak kenal salak juga,,,)

Kami melangkah dengan gagah berani menapaki tangga satu per satu,,, wah, beneran berat denk,,, lama kelamaan peluh mulai mengucur, kaki mulai gemetar, sehingga beberapa kali kami memutuskan untuk berhenti sejenak, mengobrol sambil menikmati pemandangan Gunung Banahaw dan Quezon National Park. Dan akhirnya kami sampai di bawah Kamay Ni Hesus yang memberkati kami… Benar-benar sensasi yang tak terbayangkan ada disini, dibawah patung Yesus yang amat besar (katanya sih tingginya sekitar 15 meter…)

Kami menghabiskan sekitar 30 menit di puncak bukit, dan saat kami berjalan turun, baru terasalah kaki kami gemetaran. Perjalanan turun menjadi lebih berat, karena saat turun baru terlihat betapa tingginya bukit ini, ditambah kaki yang udah goyang-goyang minta diurut,,, hehehe,,,

Sepulang dari Kamay Ni Hesus, kami mampir untuk makan siang di restoran ternama di daerah itu yakni Palaisdaan. Menunya spesial ikan dan seafood. Lokasi restoran ini ada di pertangahan Lucban dan Tayabas. Kami memesan menu ginataan, yaitu ikan (entah namanya ikan apa) yang dimasak dengan santan,,, uenake,,, maknyus,,, padahal saya biasanya kurang suka dengan ikan dan makanan bersantan… tapi untuk yang ini, two thumbs up… Kami memesan mixed vegetable (dengan harapan ini adalah capcay), tapi apa yang keluar? lalapan dengan didampingi saus beraroma terasi yang asiiinn bangeetttt…. Lalapan ini terdiri dari 5 sayuran, dan hanya 4 yang bisa saya identifikasi : kangkung, tomat, terong dan lady’s finger,,, saya hanya bisa makan kangkungnya doang…. hihihi… 2 porsi nasi, 1/2 kg (2 ekor) ginataan plus lalap dan 2 gelas halo-halo (es campur ala Filipina yang isinya kacang-kacangan dan jagung) menghabiskan 375 Peso (sekitar 94.000), wah gak terlalu mahal deh, kenyangnya pol kok…

Seusai makan, kami melanjutkan perjalanan ke Tayabas, dan dari Terminal Tayabas, kami naik jeepney ke Sariaya. Di terminal Tayabas ini kami mencicipi jeepney yang ngetem lama banget (ada kali 45 menit,,,),dan dari depan gereja saya naik bus ke Manila… hiks,,, hiks,,, berat banget meninggalkan kota ini,,,

Selesailah perjalanan saya di Sariaya,,,, singkat tapi tak akan terlupakan….

Special thanks to Suster Angel, Sister Lita (sang direktris), Sister Nin (kepala biara), Sister Norma (yang tak pernah mengeluh), Sister Candy (the smiling sister), Sister Puri (the strongest sister), Sister Chay (the motherly sister), Sister Ave (suster termungil), Sister Theresa (made in Hongkong).
I love you full…

see the pictures here :

https://celina2609.wordpress.com/2013/06/18/kamay-ni-jesus-hand-of-jesus-lucban/

https://celina2609.wordpress.com/2013/06/18/palaisdaan-restaurant/

https://celina2609.wordpress.com/2013/06/18/st-francis-of-assisi-church-sariaya/


One thought on “Cerita dari Filipina : Sariaya dan Kamay Ni Hesus, Lucban

  1. hai sis kalo dari manila ke bundeo isa jepney ga? itu ke susteran pada kenal semua ya? bales di email aja ya sis. trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s