Cerita dari Filipina : A Memorable Trip To Corregidor Island

Corregidor Island (Isla ng Corregidor), pulau berbentuk kecebong yang dikenal sebagai The Rock (karena struktur tanahnya tersusun dari batuan granit), adalah sebuah pulau yang menjadi saksi sejarah Perang Pasifik tahun 1941-1945. Pulau ini terletak sekitar 48 km dari Manila, posisinya tepat di mulut Manila Bay. Dalam sejarahnya, pulau ini adalah pulau terakhir dari Filipina yang jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942. Saat ini pulau yang berukuran 6.5 km panjangnya dan lebarnya 2 km ini masuk dalam area propinsi Cavite.

Kenapa saya ingin banget berkunjung ke pulau ini? Alasannya semata-mata karena saya cinta segala hal yang berbau sejarah.. Apalagi punya bokap yang senang juga dengan sejarah membuat buku-buku di rumah juga isinya tentang sejarah. Jadi pergi ke Corregidor adalah jalan-jalan yang menambah pengetahuan sejarah saya…

Perjalanan ke pulau ini diadakan dalam bentuk paket-paket tour oleh Sun Cruises. Mereka menyediakan ferry, guide dan hotel di pulau. Untuk guidenya sendiri, katanya sih berstatus pegawai pemerintahan, dan bukan karyawan Sun Cruises. Saya booking tour ke pulau ini 20 hari menjelang keberangkatan. Bookingnya online karena menurut contekan yang saya punya, kalau beli tiket langsung kadang suka kehabisan. Jadi daripada gambling dan menyesal, mending booking online aja deh… Cukup masuk ke webnya Sun Cruises di http://www.corregidorphilippines.com/, nah tinggal pilih paketnya. Saya sih pilih paket yang daily tour package. Ada juga paket yang Overnight, yaitu menginap di Corregidor Inn. Tinggal klik “Book and Pay Online” di sisi kiri halaman web, pilih paketnya, pilih cara pembayaran, dan selesai.. Tinggal tunggu email konfirmasi (ini harus dicetak dan dibawa pada saat check in).

Harga paket weekend dan weekday ternyata berbeda, karena waktu itu saya di Manila hari Sabtu dan Minggu, so mau gak mau pilih yang weekend deh… Harga weekday sebesar 2200 Peso, sedangkan yang weekend sebesar 2399 Peso (sekitar 600 ribuan deh)… Itu sudah termasuk ferry bulak-balik, bus keliling pulau, guide (ada macam-macam bahasa yang digunakan, yaitu Tagalog, Inggris, Jepang, Mandarin, Korea, dll), tiket masuk, dan makan siang (prasmanan,,, pssttt,,,makanannya enak lho…).

Dari hostel saya di M Adriatico St, saya jalan kaki (jalan sangat cepat) ke komplek CCP (Cultural Center of the Phillipines), karena posisi dock Sun Cruises ini ada di belakang gedung CCP,, yaa, sekitar 3o menit lah,,, untung sempat nyalin peta GPS,,, soalnya saya gak punya peta.. hehehe Pukul 06.45 saya sudah tiba di Sun Cruise Harbour dan mengantri untuk check in. Meskipun dikatakan check ini mulai pukul 07.00, namun ternyata sudah ada pegawai yang melayani para calon penumpang. Saya diberi stiker tanda pengenal yang bertuliskan nomor bangku saat di atas ferry dan nomor bus yang akan membawa saya di pulau nanti.

Menjelang pk. 07.30, sebagian besar penumpang sudah naik ke atas ferry. Agak bete juga karena posisi duduk saya ditengah-tengah, sementara space untuk dengkul mungil sekali, so saya harus bilang “excuse me” berkali-kali karena bangku di samping-samping sudah terisi semua.

Sekitar pukul 08.00 ferry bertolak dari Manila Bay. Saat ferry mulai berjalan, tayangan di TV menampilkan doa sebelum perjalanan *Filipina banget yaa,,, tapi doanya bagus banget lho… cocok dan mengena sekali untuk para solo traveller seperti saya. Mereka lalu memeragakan prosedur keselamatan secara langsung dan diulang melalui tayangan di TV juga… Setelah itu, saya terlelap,,, ngantuknya gak tahan apalagi suasana di atas ferry dingin banget.. .mendukung sekali kan… Tapi gara-gara tidur ini saya gak nonton dengan lengkap tayangan tentang sejarah Corregidor Island… hiks,,hiks,,, ada yang jual DVD nya ga? Saya hanya nonton ketika Jendral MacArthur memulai strategi “lompat kataknya”, dan kemudian Corregidor berhasil dikuasai lagi oleh tentara Amerika dan Filipina.

Menjelang setengah sepuluh, ferry merapat di dock Corregidor, dan kami semua sibuk mencari bus masing-masing. Satu bus (yang pinggir-pinggirnya terbuka ini) berisi sekitar 30 orang. Guide kami bernama Stella, bahasa Inggrisnya TOP banget, sehingga saya bisa paham dengan penjelasannya.

Pulau ini dibagi menjadi 4 area : Topside (titik tertinggi dari pulau; Mile Long Barrack, Cine Corregidor Movie Theatre, golf and tennis court, Old Spanish Pole, Spanish Lighthouse dan Pacific War Memoria), Middleside (Middleside Barrack, sekolah Amerika dan Filipina), Bottomside (titik terendah dari pulau; MacArthur Park, docks, Malinta Tunnel, Kapel San Jose, Corregidor Hotel), dan Tailside (patung Filipino Woman, Sergio Osmena, Manuel Quezon, Filipino Heroes Memorial, dan Japanese Garden of Peace).

Sejarah Pulau Corregidor ini ternyata sudah bermula jauh sebelum Perang Pasifik pecah. Tahun 1570 Spanyol tiba di Manila Bay, dan pulau ini dijadikan sebagai tempat pertahanan sekaligus tempat pemeriksaan dokumen-dokumen bagi kapal yang hendak masuk ke Manila Bay (Corregir = to correct => Island of The Corrector). Pada tahun 1647, pulau ini dikuasai oleh Belanda yang menjadikannya sebagai basis untuk menyerang Spanyol di Cavite. Pada tahun 1762, Inggris menjadikan pulau ini sebagai tempat penambatan kapal perang mereka. Namun akhirnya, pulau ini kembali dikuasai Spanyol.

Tanggal 6 Mei 1898, Amerika berhasil mengambil alih pulau ini dari tangan Spanyol sekaligus mengakhiri kekuasaan Spanyol selama 328 tahun disini. Tentara Amerika menjadikan pulau ini sebagai pusat pertahanan bagi Manila dan Teluk Subic. Mulai tahun 1908, dibangun pusat ketentaraan di pulau ini, dan pulau ini mendapat julukan baru, yaitu Fort Mills (sebagai kenangan dan penghargaan bagi Samuel Meyers Mills, kepala Artilerry US Army). Menyusul kemudian, dibangun pula bangunan-bangunan beton anti bom, sekolah-sekolah, transportasi publik, bioskop, lapangan oleh raga dan kolam renang disisi Topside.

Selama Perang Pasifik, pulau ini menjadi tempat pertempuran antara tentara Jepang dan Amerika pada tahun 1942 dan 1945, yakni pada saat Jepang merebut Corregidor dari Amerika, dan saat Amerika kemudian merebutnya kembali dari Jepang. Sejak bulan Desember 1941, Jepang mulai memasuki Filipina, dan Jendral Douglas MacArthur memusatkan pertahanan sekutu di pulau ini hingga Maret 1942, ketika MacArthur, atas perintah Presiden Roosevelt terpaksa meninggalkannya untuk bertolak ke Australia (mungkin kalau beliau gak pergi, Corregidor masih mungkin dipertahankan atau bisa saja beliau jadi bagian dari tawanan perangnya Jepang). Bahkan pada tanggal 30 Desember 1941, Presiden Quezon dan Wakilnya Osmena yang dievakuasi dari Manila, dilantik disini, tepatnya di bagian luar Malinta Tunnel, untuk masa jabatan mereka yang kedua.

Ketika Bataan jatuh ke tangan Jepang pada bulan April 1942, tentara Amerika menjadikan Corregidor sebagai pusat pertahanan mereka. Namun setelah 27 hari bertahan, melalui The Battle of Corregidor, akhirnya pasukan Amerika dan Filipina dibawah pimpinan Jonathan Wainwright  menyerah ke tangan Jepang (dibawah pimpinan Masaharu Homma) pada tanggal 6 Mei 1942 (tanggal yang sama ketika Spanyol ditaklukan oleh Amerika di pulau ini). Untunglah Presiden Quezon dan Wakilnya Osmena sudah berhasil diungsikan ke Australia pada 28 Maret 1942.

Kembali ke tahun 2013,,, kami di bus #5 memulai perjalanan di Middleside area, yakni Middleside Barracks, dan lanjut ke kumpulan senjata di (bentuknya sih meriam, tapi kayaknya bukan meriam…jadi apa dnk? PR deh… kalo menurut kamus, battery itu artinya senjata penangkis udara) Battery Way, serta Battery Hearn, dimana kami diceritakan tentang heroisme para engineer Amerika. Ketika itu mereka dipaksa oleh Jepang untuk memperbaiki dan merekonstruksi senjata-senjata besar ini. Namun karena mereka tahu bahwa senjata ini digunakan untuk memusnahkan pasukan mereka sendiri, maka mereka malah melakukan sabotase, sehingga senjata ini malah gak bisa dipakai lagi,,, KEREN….

Perjalanan dilanjutkan ke Battery Grubbs, yang dikatakan sebagai salah satu dissappearing gun, Kenapa? soalnya setelah dinaikkan untuk menembak, senjata gede ini langsung diturunkan lagi dan posisinya ngumpet, ketutup tembok pelindungnya, sehingga musuh jadi bingung, ini yang nembak siapa dan dari bagian mana ya? hohohoho… Dari atas Battery Grubbs ini, kami bisa melihat Bataan dari kejauhan, dan pulau mungil bernama Monja (La Monja = Nun).

Di sini pula, Stella menceritakan tentang Death March, yakni ketika Bataan dan Corregidor jatuh ke tangan Jepang, sekitar 60.000-80.000 orang tentara Amerika dan Filipina dipaksa berjalan kaki sejauh 128 km, mulai dari Bataan hingga ke Pampanga. Pasukan Jepang awalnya terkejut dengan jumlah tentara Amerika dan Filipina di Corregidor, yang jauh lebih banyak daripada prediksi mereka. Mereka memperlakukan para tawanan perang ini dengan semena-mena, disiksa, susah makan dan minum, serta dipaksa berjalan jauh. Untuk satu tawanan yang kabur, 10 nyawa akan jadi penggantinya. Ini semata-mata untuk menurunkan jumlah tawanan perang yang tersisa. Namun sebagian tentara Filipina justru dilepaskan dengan sukarela di kawasan pedesaan yang mereka lewati, karena katanya Jepang datang untuk membebaskan Filipina dari penjajahan Amerika… Nah, jadi bingung kan… Padahal 95% rakyat Filipina waktu itu mendukung Amerika lho…

Perjalanan kami lanjutkan ke bagian Topside, dimana kami melihat reruntuhan Cine Corregidor Movie Theatre, Pacific War Memorial yang berbentuk dome berlubang dengan altar di bawahnya. Pada saat yang tepat, sinar matahari yang melalui lubang ini akan jatuh tepat di atas altar itu. Di belakang dome ini terdapat patung tembaga Eternal Flame of Freedom, sedangkan di bagian depannya ada Pacific War Museum serta patung Brothers in Arms, yaitu patung tentara Amerika yang sedang memapah tentara Filipina yang terluka (katanya patung serupa bisa ditemukan di negara bagian Georgia, USA). Selepas dari tempat ini kami melalui Old Spanish Pole, sebuah tiang bendera bersejarah, karena disinilah bendera Amerika dinaikkan setelah menaklukan Spanyol, lalu kemudian bendera Jepang sempat pula berkibar disini, dan akhirnya MacArthur menaikkan kembali bendera Amerika saat pulau ini berhasil direbut dari Jepang. Lalu kami melewati middleside barrack, dan akhirnya mendaki mercusuar Spanyol. Disinilah kameraku tercinta jatuh dari ketinggian 2 meter karena pemiliknya terlalu serius mendaki tangga curam mercusuar. Dari atas mercusuar pemandangannya mantab sekali,,, sayang saya takut ketinggian,,,,huhuhu.

Perjalanan dilanjutkan  ke Malinta Tunnel. Di dalam Malinta Tunnel terdapat light and sound show. Kalau mau menyaksikan harus bayar 200 Peso, tapi bebas, mau masuk atau nggak, ga ada yang maksa. Cuma sayang banget kalau gak masuk, karena di dalamnya dijelaskan sejarah sejak Presiden Quezon diungsikan ke pulau ini, masuknya Jepang, hingga akhirnya Corregidor berhasil direbut kembali. Bunyi letusan senjata, bom, bahkan sampai bunyi korsleting listrik betul-betul dibuat menyerupai aslinya. Ada pula potongan lagu Moonlight Serenade nya Glenn Miller yang menjadi lagu latar bagi scene tentara Amerika yang berdansa dalam keterasingan Malinta Tunnel. Di akhir show kami mendengarkan lagu kebangsaan Filipina : Lupang Hirirang di hadapan bendera nasional Filipina.

Malinta Tunnel ini dibangun tahun 1922-1932, dengan panjang 835 ft, lebar 24 ft, dan tinggi 18 ft. Ada 13 terowongan lateral di sisi utara, dan 11 di sisi selatan. Rata-rata panjang terowongan ini adalah 160 ft dengan lebar 15 ft. Malinta tunnel ini pernah jadi tempat persembunyian Pres. Quezon dan Wapres Osmena, juga pernah dijadikan rumah sakit… Idih, kebayang gak sih, terowongan yang lembap ini menjadi rumah sakit. Eh, tapi terowongan ini ternyata didesain anti bom lho,, hebat kan….

Dan kemudian setelah keluar dari Malinta Tunnel, inilah saat yang paling ditunggu : Makan siang,,, sambil menikmati pemandangan… sedap…

Perjalanan dilanjutkan ke bagian bottomside, yaitu MacArthur Park (sambil foto narsis bareng si Jendral…), dan melalui dock-dock serta Kapel San Jose,,, ya, semuanya terpaksa dilewati saja karena waktunya sudah hampir habis…

Kami lalu singgah di Japanese Garden of Peace yang terletak di tail end. Sepanjang perjalanan kesini, Stella menceritakan tentang Richard Sakakida, seorang mata-mata Amerika pada Perang Dunia 2. Ia direkrut sebagai intel oleh Amerika karena kefasihannya berbahasa Jepang, Ia sempat tertangkap dan disiksa oleh Jepang, namun dilepaskan karena ia mengaku hanya warga biasa. Ia kemudian dimasukkan ke 14th Japanese Army, meskipun masih dicurigai. Ia berhasil mengumpulkan informasi dan meneruskannya ke pihak tentara Amerika. Bahkan ia merencanakan pelarian dari 500 tawanan Filipina (katanya sih dia berhasil membuat atasannya mabuk…hehehe). Richard Sakakida ini pernah menjadi salah satu peserta tournya Stella. Jadi ketika Stella bercerita tentang kisah ini, Sakakida mengangkat tangannya sambil berkata : “I am Sakakida…”, jaminan mutu seluruh peserta tour saat itu pasti shock.

Kembali ke Japanese Garden of Peace. Awalnya daerah ini adalah kompleks pemakaman tentara Jepang. Ketika Amerika berhasil merebut kembali pulau ini, tentara Jepang memilih untuk melakukan harakiri daripada menyerah kalah. Dari 5000 tentara Jepang, hanya 26 orang yang menyerahkan diri, sedangkan sisanya meledakkan terowongan yang berisi para tentara dan keluarga mereka, dan ada pula yang membunuh diri mereka dengan pedang atau granat. Tentara Amerika kemudian mengumpulkan jasad yang ditemukan dan menguburnya di pemakaman ini. Seiring berjalannya waktu, makam ini tertutup oleh rimbunan pohon, sehingga tak ada yang tahu lokasinya lagi kecuali mantan penduduk asli. Hingga suatu hari seorang veteran Amerika menemukan foto pemakaman Jepang ini. Entah bagaimana caranya, akhirnya lokasi pemakaman ini menjadi “terbuka”, dan akhirnya para keluarga Veteran Jepang kembali lagi kesini untuk membawa sisa-sisa tubuh yang tersisa untuk dikremasi.

Di tempat ini pula, Stella menceritakan kisah Hiroo Onoda, seorang intel Jepang yang dikirim untuk bertugas di Pulau Lubang pada tahun 1944, Ia ditugaskan untuk menyerang semua kapal dan pesawat musuh di dekat pelabuhan. Ketika tentara Amerika mendarat di pulau ini pada Februari 1945, ia dan 3 anak buahnya bersembunyi di gunung, bahkan sempat melakukan serangan gerilya. Pada bulan Oktober, mereka memperoleh leaflet yang berisi bahwa perang sudah usai, namun mereka tidak percaya, dan menganggap ini adalah trik sekutu untuk memancing mereka keluar. Pada tahun 1952, foto keluarga mereka disebarkan oleh kapal terbang, Intinya sih untuk meyakinkan mereka untuk menyerahkan diri karena perang sudah usai, tapi lagi-lagi mereka gak percaya. Satu persatu anak buahnya mati terbunuh, hingga tahun 1974, salah seorang teman sekolah Onoda yang bernama Suzuki datang ke pulau itu. Onoda tetap menolak keluar, dan Suzuki akhirnya mengambil foto mereka dan menghubungi pemerintah Jepang. Pemerintah Jepang kemudian menghubungi ex atasan Onoda, yakni Yoshimi Taniguchi yang saat itu berprofesi sebagai penjual buku. Taniguchi inilah yang akhirnya mengunjungi Onoda di Pulau Lubang tahun 1974 dan menjelaskan bahwa perang sudah berakhir dan ia sudah dibebaskan dari tugasnya. Onoda mendapat pengampunan dari presiden Marcos dan pulang ke Jepang. Gila, hampir 30 tahun dalam kesetiaan… Sampe gak percaya sama siapa pun kecuali komandan… entah harus salut atau geleng-geleng kepala deh…

Dari posisi ini kami bisa melihat Pulau Caballo, Fort Drum yang mirip kapal tempur, sehingga dibom berkali-kali oleh Jepang (pasti mereka kaget, karena “kapal” ini gak hancur-hancur….hihihi), Pulau Lubang (yang jauh banget) dan Pulau Carabao.

Karena waktu yang betul-betul mepet, maka kami hanya melewati saja area Filipino Heroes Memorial, dimana terdapat patung Filipino Woman, Pres. Manuel Quezon dan Wapres Sergio Osmena. Kami segera kembali ke north dock, dimana ferry kami sudah menunggu,,,

O, iya, saya ingin menutup cerita ini dengan kisah dari Stella di awal perjalanan kami tentang seorang wanita Jepang yang menjadi peserta tournya. Wanita itu sejak awal hingga akhir duduk tenang mendengarkan penjelasan Stella. Di akhir perjalanan, ia baru membuka suara dan menjelaskan bahwa maksud kedatangannya ke Corregidor adalah untuk mengetahui sejarah masa lalu bangsanya. Ia tak pernah tahu apa yang terjadi di luar Jepang, dan apa yang dilakukan tentara Jepang disana. Yang ia tahu adalah keluarganya menderita karena menjadi korban bom atom Hiroshima. Karena ikut tour ini, ia jadi tahu fakta sejarah yang selama ini ditutupi.

Betapa banyak hal buruk yang terjadi karena perang. Betapa banyak kehilangan dan kesedihan yang diakibatkan oleh perang. Bisakah kita hidup sebagai satu keluarga besar yang saling melindungi satu sama lain? Let’s make love, not war!!

Corregidor, I Shall return!!!

see the pictures here : https://celina2609.wordpress.com/2013/06/19/inside-of-corregidor-island/

read the complete references here :

http://corregidorisland.com/ http://en.wikipedia.org/wiki/Corregidor_Island

PS : berkunjunglah ke Corregidor Island pada bulan Februari-Juni ketika cuaca sedang OK. Jika datang pada musim hujan dan cuaca buruk, biasanya peminat tour sangat sedikit dan tour sering dibatalkan…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s