Bertemu lagi..

Sudah lama dia menghilang. Ya, dia betul-betul menghilang. Bahkan teman serumahnya pun tak tahu dia kemana. Yang pasti dia pergi, meninggalkan banyak tanda tanya bagi kami semua. Dalam pandangan kami, ia tak mungkin melakukan hal itu, menghilang tanpa pamit, meninggalkan semua tugas dan kewajiban. Menyisakan sebuah stigma buruk atas dirinya.

Lebih dari 5 tahun aku tak pernah tahu dimana keberadaannya. Meskipun aku tahu alamat rumahnya, namun aku tak punya keberanian untuk mengirimkan surat padanya. Apalagi setelah aku sadar bahwa ia menghapus semua informasi dan jejaknya di friendster, aku semakin yakin bahwa ia memang dengan sengaja menyembunyikan dirinya.

Hingga akhirnya, pada suatu petang, jemariku mengetikkan namanya di kolom search pada facebook. Dan aku menemukannya. Tak yakin, aku melakukan konfirmasi pada temannya. Ketika jawaban yang kuterima positif, maka aku langsung mengajukan permintaan pertemanan padanya. Pada awal percakapan kami, aku tahu bahwa ia lupa padaku. Hingga aku, meskipun dengan berat hati, akhirnya memperkenalkan diriku lagi padanya, dan sedikit mengungkit kenangan kami sekian tahun yang lalu. Lalu, sepertinya ingatannya padaku muncul kembali. Ia berkisah tentang banyak hal, bahwa ia kembali lagi ke jalur yang dulu ia tinggalkan, meskipun di tempat yang berbeda. Bagaimana harus kusampaikan dengan kata-kata, kebahagiaan yang amat besar ketika menemukan seorang sahabat yang telah lama hilang. Aku sempat berpikir bahwa mungkin seumur hidup kami, kami tak akan pernah bertemu lagi, baik secara fisik, ataupun melalui dunia maya. Namun, aku ternyata mendapatkan kesempatan itu lagi.

Aku sangat bahagia bahwa ia kembali ke jalan itu lagi. Aku tahu ia sedang berupaya memperbaiki kesalahannya dulu. Namun, ia harus memulai segalanya dari awal, ia harus mengulangi semua hal yang telah ia pelajari. Dan untunglah ia tak pernah merasa terlambat untuk kembali ke titik nol itu.

Kini ia telah mencapai separuh perjalanannya. Dan aku begitu bangga ketika ia berkata bahwa tahapan pertama pendidikannya telah diselesaikan dengan nilai yang baik. Bahkan, sangat baik. Aku tahu, sejak dulu, ia memang termasuk kategori seminaris cerdas. Ia pasti bisa mengejar segala ketinggalannya.

Kemarin, aku menyampaikan kabar bahagia. Rekan-rekan seminarinya dulu telah ditahbiskan sebagai imam. Dan, kabar gembira itu juga mencairkan komunikasi kami yang selama ini begitu kaku. Kami berbincang panjang lebar walaupun hanya melalui fasilitas facebook. Bahkan akhirnya kami mempunyai sapaan baru : “Kakak”, dan “Adek”. Sebuah sapaan yang membuatku menangis terharu. Andai saja ia tahu, bahwa sejak perkenalan pertama kali 12 tahun yang lalu, aku memang telah menganggapnya kakak, walau tak pernah terucap. Dan meskipun dia menghilang, aku tak pernah sekalipun melupakannya.

Ketika ia menghilang, aku ingin sekali menanyakan sebuah pertanyaan : “mengapa kamu meninggalkan perjalananmu?”, namun saat ini, aku tak ingin lagi menanyakannya. Cukuplah bagiku, ia sudah kembali ke jalan itu.

Kakak Frater, semoga studimu dan segalanya dapat berjalan lancar. Aku ingin sekali melihatmu ditahbiskan menjadi seorang imam. Aku selalu berharap inilah jalan yang memang dipilih oleh Tuhan untukmu. 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s