Cerita dari Filipina : Keliling Kota Tua Manila Part 1 : Malate Church and Intramuros

Hari terakhir saya di Filipina sudah saya alokasikan untuk berkeliling kota Manila. Targetnya adalah : Intramuros, Gereja Quiapo, Gereja Binondo dan China Town. Niat awalnya sih naik MRT dan jalan kaki saja. Maklum, turis kere… hohohoho… Semalam sebelumnya, saya sudah mengukur jarak dan rencana perjalanan sebagai berikut : Gereja Malate di Remedios Street (di peta sih kelihatannya dekat dari Friendly Guesthouse di M Adriatico Street, jadi no problemo lah kalo harus ngesot), lalu jalan kaki ke stasiun LRT Quirino Ave, naik LRT sampai stasiun UN (United Nation), nah terus jalan kaki lagi menyusuri Rizal Park, National Museum, dan Intramuros. Setelah puas disana, rencananya naik LRT lagi di stasiun Central Terminal sampai ke Carriedo, nah baru lanjut ke Quiapo yang ada di sisi timur stasiun, dan lalu ke Binondo plus China Town yang ada di sisi baratnya.

Saya menimbang-nimbang dan mengukur, kayaknya sih rencana itu bisa terlaksana dengan baik, tapi ada satu hal yang saya lupa, jalan kaki sambil membawa ransel yang super duper berat itu tidak mudah. Kenapa saya bawa ransel? Mengingat lokasi hostel saya yang agak jauh dari jalur LRT, makanya saya pikir bakal buang waktu kalau saya harus mampir dulu di hostel sebelum ke bandara. Selain itu, saya juga mendadak ogah nitip tas di resepsionis hotel,, Entah kenapa,,, padahal biasanya saya tipe orang yang gak mau rugi. Setelah check out, biasanya tas masih dijogrogin di hostel.

Pagi itu, saya mengatur ulang seluruh muatan dalam tas, supaya gak kelihatan gemuk dan buncit. Tapi secerdas apapun saya mengaturnya, tetap aja itu tas melembung dan beratttt sekaliii,,, Gak papa lah, kan nanti gak mungkin jalan non stop, pasti kan ada istirahatnya, nah harusnya sih kuat aja lah menggendong si ransel overload ini.

Setelah check out (yang prosesnya lama bangeettt, karena petugas resepsionisnya gak stand by –> tuh kan,  males juga nitipin tas kalo petugasnya sering ngilang begini…), saya langsung dengan semangat 45 melangkahkan kaki ke arah Malate Church di Remedios Street. Setelah sekitar 5 menit berjalan, sampailah saya di depan Malate Church, yang seperti gereja lainnya di Filipina, berperawakan lebar dan gemuk…hehehe… Isi Gerejanya juga bergaya Spanyol banget dengan Yesus dan Bunda Maria berambut panjang ikal…

Menurut contekan yang saya punya,,, (jiahhh) Gereja ini dibangun pada abad 16 oleh para biarawan Agustinian, dengan pelindung Nuestra Senora de Los Remedios (Our Lady of Los Remedios), yang patungnya dibawa dari Spanyol tahun 1624. Ketika Inggris mendarat di sini pada tahun 1762, gereja ini digunakan oleh mereka sebagai pos pertahanan terhadap Kota Manila. Tanggal 3 Juni 1863, gereja ini rusak parah karena gempa bumi, dan dibangun lagi oleh Pastor Francisco Cuadrado, OSA. Saat ini, gereja itu juga sedang direnovasi, khususnya pada bagian luar dimana sebagian batunya sudah mulai lapuk dan rontok termakan cuaca. Oiya, in alamat gerejanya :

Our Lady of Remedios Parish
(Malate Catholic Church)
2000 MH del Pilar, Malate, Manila
Tel. 400.5876; 523.2593; 524.6866

Saya melirik jam di hp, masih sekitar pukul 06.30. Saat itu di dalam gereja sedang dilaksanakan Misa Minggu. Setelah mengambil foto dari segala sisi dan sudut, saya menemukan jadwal misa yang posisinya semi teronggok. Ternyata di hari Minggu, misa diadakan satu jam sekali. Jadi setelah misa pk. 06.00, ada lagi misa pk. 07.00, dst (tapi saya lupa misa terakhirnya jam berapa). Nah, kesempatan nih untuk bisa ikut misa dalam bahasa Tagalog. Sambil menunggu, saya memperhatikan bagaimana warga Manila mengikuti Perayaan Ekaristi… Ternyata hampir tak jauh beda dengan di Indonesia. Hanya disini, sebagian besar umat berpakaian santai (bahkan ada yang amat sangat santai, alias pakai celana pendek dan kaos kutung…hihihi). Dah gitu, ada anjing masuk gereja. Digeret-geret pakai tali sama tuannya. Bahkan waktu saya ikut misa, ada anjing yang ikutan menjawab seruan Romo dengan “guk,,,,”. Setelah misa bubar, sang Pastor yang sepertinya diimpor dari negeri seberang, tidak langsung masuk ke sakristi, tapi berdiri di depan altar menyalami umat dan memberkati anak-anak dengan ramah dan full smile…

Misa pun dimulai, jreng jreng…. 100% pakai Bahasa Tagalog…. *mau pingsan karena gak ngerti apa-apa..* secara tata perayaan sih 99% sama dengan liturgi di Indonesia, hanya ada beberapa tata cara dan gerak tubuh yang sedikit berbeda. Di dinding dekat altar dipasang proyektor yang menampilkan teks lagu, doa, dan bacaan. Tapi percumah sajah… saya gak ngarti sama sekali… Saya mencoba mengikuti beberapa doa, dan bikin lidah saya keserimpet,,, soalnya mereka bacanya dengan ngebut,,,

Selama misa, saya sangat terperangah dengan lagu-lagu misa yang enak didengar di telinga. Maksudnya lagunya emang mendukung, dan suara koornya juga bagus… SATB pol. Tapi waktu saya maju untuk menyambut komuni, barulah saya sadar, ternyata yang saya anggap koor itu hanya terdiri dari 4 orang saja. Waaaaw…. 4 orang aja suaranya sedahsyat itu,,, apalagi kalo sekampung kayak di Indonesia ya??? Salam damai disana tidak dilakukan dengan bersalaman, tapi cukup memandang umat di kiri kanan kita sambil membungkukan badan sedikit dan jangan lupa untuk memberi ekstra senyuman.

Seusai misa, saya langsung melangkahkan kaki ke arah stasiun LRT Quirino, untuk melanjutkan perjalanan ke Rizal Park dan Intramuros.

Di stasiun LRT, tas saya yang sudah overload ini dicek oleh petugas. Wedeh, masalahnya adalah kalo tas udah terbuka bakalan sulit untuk nutupnya lagi. Untung petugasnya yang adalah seorang wanita yang amat manis ini bersedia membantu saya menutup tas…hehehe.

Dari UN Station, saya menyeberang jalan, dan bertemu sebuah taman bermain… lho,,, ini tah yang namanya Rizal Park? Pas dilihat lagi di peta, ternyata bukan…hehehe… Saya berjalan ke arah utara dan menemukan patung Lapu Lapu, yang kalau dilihat sekilas, stylenya mirip dengan Sisingamangaraja XII. Siapa sih Lapu Lapu ini? Katanya sih, Lapu Lapu adalah pahlawan nasional Filipina. Ia adalah pemimpin di Visayas yang berjuang mempertahankan daerahnya dari invasi Spanyol pada tahun 1521. Dan hebatnya, dia ini pula yang berkontribusi membunuh penjelajah Portugis, Ferdinand Magellan. wow,,,hebat yoo…

Puas foto-foto di sini, saya terpaksa menenggak parasetamol karena gigi saya nyut-nyutan,,,, Tak jauh dari sini, saya menemukan Japanese Garden, tapi gak ngerti dimana pintu masuknya,,, hadeh… Trus kok saya ga nemui patungnya Jose Rizal sih? Saya jalan lagi ke utara, dan menemukan gedung departemen keuangan, dan setelah menyeberang jalan Padre Burgos, saya menemukan National Museum. Waktu baru menunjukkan pukul 9 kurang, sementara menurut petugas museum, museum ini baru buka pukul 10.00…Jiah, masih lama banget dnk… ya sud lah, foto2 bagian depannya dulu ajah. Dari sisi National Museum, saya melihat sebuah pemandangan antik di depan mata, yaitu menara jam yang nongol dari balik bangunan. Menurut peta, itulah City Hall. Saya pun bergegas kesana, berharap bisa melihat bentuk utuh dari bangunan itu. Tapi, apa daya, City Hall tutup pada hari Sabtu dan Minggu.. nasib.. oh nasib…

Saya melanjutkan perjalanan lagi beberapa langkah ke utara, dan menemukan mural yang ada tulisan KKK, sepertinya sih itu ringkasan sejarah perjuangan Bangsa Filipina. Nah, disini saya duduk sebentar melepas lelah dan menyeka peluh.. Capek cuy,, berat cuy,,

Saya lalu menyeberang ke seberang (ya iyalah, kalo  menyeberang ya pasti ke seberang….) dan jreng jreng jreng,,,saya menemukan gerbang bertuliskan : Intramuros… karena tas berat, jadinya gak bisa lompat lompat kesenengan deh….Pas masuk gerbang ini, saya mencoba loading dulu dengan membaca peta. Eh, tiba-tiba ada tukang becak, alias pedicab yang menawarkan jasa keliling Intramuros. Saya awalnya jual mahal, tapi pas dia jelasin bahwa luas intramuros sebesar sekian hektar (menurut wikipedia, luas Intramuros adalah sebesar 0.67 km2), dan kalo jalan kaki bisa makan waktu 5-6 jam, saya langsung keder aje.. Mana ransel ini rasanya semakin berat. Dia menawarkan harga 300 peso, saya tawar ke 200 dan dia mau. Entah mengapa di akhir perjalanan (3 jam kemudian), dia minta bayaran sebesar 1500 Peso, katanya karena saya sudah melebihi waktu yang dijanjikan. Iya sih, awalnya cuma janjian sejam doang, tapi karena banyak sudut yang bisa dijelajahi, jadinya molor deh sampe tiga jam. Walaupun akhirnya pembayarannya membengkak, tapi saya pikir ya sudahlah… toh selama perjalanan dia mau motretin saya yang single traveller ini. Eh, iya, abang pedicab ini namanya Riko, dia ngaku punya 7 anak,,, buset…kagak kenal KB yaa…. Anaknya yang paling sulung baru lulus SMA, dan anaknya yang paling bungsu baru berumur 3 bulan. Jadi, ya sudahlah direlakan saja. Apalagi Riko ini juga banyak cerita tentang sejarah Filipina, khususnya Intramuros, jadi saya rela rela aja deh… Cuma, buat temen2 yang berniat sewa pedicab di Intramuros, sebelumnya nego harganya yang clear ya,,, tanyain abang pedicabnya sampe detail banget, supaya gak kejadian kayak saya.

OK, kembali ke gerbang Intramuros.

Intramuros adalah sebuah kata Spanyol yang berarti di dalam tembok (Intra = di dalam; Muros = tembok). Memang bagian kota ini dikelilingi oleh dinding sehingga menyerupai kompleks benteng. Intramuros adalah bagian tertua dan paling bersejarah dari kota Manila yang didirikan oleh Spanyol, tak lama setelah mereka merapatkan kapal mereka di tepi Pasig River yang sekarang ini menjadi batas utara Intramuros.

Lama sebelum Spanyol menginjakkan kaki disini, sudah terdapat pedesaan sepanjang tepi Pasig River (yang sekarang menajdi area Fort Santiago), dan salah satunya adalah sebuah benteng yang disebut Maynila dan dipimpin oleh Rajah Sulaiman (Soliman/ Sulayman). Pada masa itu, area ini dihuni oleh para pedagang dari berbagai bangsa. Bisa dikatakan pusat bisnis gitu deh. Bahkan Rajah Sulaiman ini pun adalah seorang pedagang besar pada zamannya. Eh, menurut Wikipedia, pada abad ke-14, area ini masuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit lho, namun lalu diinvasi oleh kesultanan Brunei dan akhirnya Malaysia.

Pada tahun 1570, para penjelajah Spanyol tiba di Pulau Luzon dibawah pimpinan Miguel Lopez de Legazpi. Muncul ketegangan antara Spanyol dengan penduduk asli, hingga akhirnya mereka berperang untuk memperebutkan area kekuasaan. Maynila pun terkena akibatnya. Benteng ini dibakar oleh Spanyol atas perintah Martin de Goiti, dan kemudian dibakar habis oleh penduduk setempat sebelum mereka menyerahkannya kepada Spanyol. Pada tanggal 24 Juni 1571, Legazpi membangun kota Manila di atas kota yang telah ditinggalkan oleh penduduk asli. Kota ini menjadi pusat pemerintahan Spanyol, dan juga menjadi pusat pertahanan dan keagamaan bagi Kerajaan Spanyol di Asia.

Awal mula konstruksi Intramuros terjadi pada tahun 1590, dan terus berlanjut hingga tahun 1872. Tembok-tembok yang tinggi (hampir 7 meter) dan tebal (sekitar 2.4 meter) sengaja dibangun untuk mencegah serangan dari para perompak yang berdatangan dari Pasig River. Di bagian dalam tembok ini terdapat kawasan pemukiman, gereja, istana, sekolah dan bangunan pemerintah lainnya. Dulunya, setiap pintu masuk Intramuros berbentuk jembatan parit yang akan ditutup pada malam hari dan dibuka kembali pada saat matahari terbit.

Pada saat Inggris datang ke Filipina tahun 1762, tembok Intramuros mengalami kerusakan parah dan banyak barang berharga dirampas oleh Inggris. Namun akhirnya dua tahun kemudian, mereka menyerahkan kembali Filipina ke tangan Spanyol.

Pada tahun 1898, terjadi perang antara Spanyol VS Amerika yang akhirnya dimenangkan oleh Amerika. Setelah melalui peperangan yang amat hebat, Intramuros berhasil dikuasai oleh Amerika. Ketika Perang Pasifik berkecamuk, Jepang menguasai Filipina, dan Intramuros menjadi area “Neraka”, karena disini, terutama di area Fort Santiago, Jepang membunuh banyak penduduk dan gerilyawan. Memang pada masa itu, Intramuros dijadikan tempat interniran. Salah satu yang paling terkenal adalah di University of Santo Tomas. Pada tahun 1945, dalam upaya pembebasan Filipina dari invasi Jepang, Amerika menjatuhkan banyak bom di area ini yang menghancurkan sebagian besar bangunan dan tembok disini. Hingga perang usai, Intramuros menjadi kota mati, bahkan kemerdekaan Filipina tidak menghidupkan kota ini lagi.

Bertahun-tahun setelahnya, area Intramuros dipakai sebagai kawasan pembuangan sampah bagi penduduk dan industri. Meskipun pada tahun 1951 telah dicanangkan bahwa Intramuros dijadikan sebagai cagar budaya, namun keterbatasan dana tidak memungkinkan untuk memperbaiki segala kerusakan yang ada. Hingga pada 10 April 1979, Intramuros Administration diresmikan untuk merestorasi Intramuros sebagai monumen peringatan atas masa penjajahan Spanyol di Filipina. Untung saja pemerintah Filipina cepat tanggap dengan kondisi Intramuros, coba kalau tidak, sekarang kita tidak bisa menikmati kawasan Intramuros lagi deh, dan tak bisa belajar sejarah darinya.

Kembali ke Intramuros masa kini… Pertama-tama, Riko membawa saya dari gerbang, menuju ke Puerta Real, melewati Manila High School, lalu Manila Bulletin dimana saya lihat buletin sedang dipacking, dan Departemen Tenaga Kerja. Puerta Real dibangun tahun 1663, dan sempat hancur pada saat invasi Inggris tahun 1762. Setelah renovasi tahun 1780, area ini dijadikan tempat penyimpanan amunisi. Pada masa penjajahan Jepang, tempat ini menjadi kawasan internir dan penjara, hingga sampai sekarang masih ada sisa-sisa bola dan rantai pengikat kaki tawanan. Ada pula nisan-nisan (kalo katanya Riko, disini juga pernah jadi pemakaman), meriam dan lonceng-lonceng tua. Kalau gak ingat dengan latar belakangnya yang menyeramkan, sebetulnya tempat ini keren dan cantik banget (bahkan sekarang sering dijadikan tempat shooting dan kawinan). Keren deh, beneran bangunan Spanyol jaman dulu gitu…

Perjalanan dilanjutkan ke Baluarte de San Diego, saya gak masuk tempat ini karena harus bayar 75 peso (pelit mode ON). Si Riko bilang sih tempatnya mirip dengan Puerta Real, jadi disini saya cuma foto bareng penjaganya yang pakai seragam tentara Spanyol tempo dulu. Padahal setelah saya ngeh sekarang, Baluarte itu adalah sudut-sudut benteng yang berbentuk seperti sekop. Wah,,, harusnya saya masukin aja tuh Baluarte yaa,,,

Perjalanan lanjut ke no.1 Victoria Street, yang dulunya disini pernah menjadi kantornya Jenderal Mc. Arthur, dan lanjut ke taman Presiden (entah  namanya apa), yang pasti disini dipajang ukiran foto seluruh Presiden Filipina. Unik banget karena dari beberapa Presiden ada yang memiliki hubungan keluarga (Arroyo, Aquino). Walaupun gak kenal, tapi ya, numpang mejeng ahhhh….

Berikutnya adalah : San Agustin Church and Convent… Ini nih yang sering disebut-sebut dan bikin penasaran… Dari luar aja udah bikin merinding, entah kenapa. Gerejanya megah dan besar (ukurannya 67.15 x 24.93 m2).. Dulu gereja ini punya dua menara, tapi sekarang hanya tinggal satu, karena yang satu roboh kena gempa. Saya masuk ke gerejanya dulu, dan ternyata saat itu sedang mau ada Misa Minggu. Jadi saya menebalkan muka untuk dengan cuek bebek mengelilingi bagian dalam gereja sambil foto. Interior gereja ini ramai banget, banyak patungnya, mulai dari patung para kudus, patung Yesus disalib, Yesus Raja, El Nino, jenazah Yesus, pieta, dan banyaakkk bangeeet… Gereja ini adalah gereja yang paling tua di Filipina, dibangun pertama kali tahun 1571, namun sempat dihancurkan oleh para perompak Cina tahun 1574, dan selama abad-abad berikutnya, gereja ini sepertinya harus mengalami banyak cobaan, seperti kebakaran, gempa bumi dan invasi bangsa asing, mulai dari Inggris, Amerika dan Jepang. Gereja yang berdiri sekarang ini dibangun pada tahun 1587-1606 oleh Juan Machias. Untunglah setelah berusia lebih dari 4 abad, gereja ini masih berdiri tegak. Pokoknya mantab banget deh,,, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata betapa indah dan misteriusnya gereja ini.

Saya kemudian melangkahkan kaki ke Museum San Agustin yang dulunya adalah biara bagi para Agustinian, lengkap dengan ruang kelas, ruang doa, ruang tidur, perpustakaan dsb dsb. Pada tahun 1973, biara ini diubah menjadi museum yang menyajikan harta karun dari berbagai budaya ; Filipina, Mexico, Spanyol dan China. Harga tiket masuknya 100 Peso, dan saya sangat bahagia karena tasnya harus dititip di resepsionis….hahahaha. Di depan pintu museum ada sebuah lonceng raksasa yang diambil dari menara gereja yang roboh karena gempa. Tahu gak berapa beratnya? 3400 kg lho.. kalo ketiban bisa remuk redam,,,,

Ada apa sih di dalam Museum San Agustin ini?  Ada banyak hal yang bikin berdecak kagum, bikin merinding, dan bikin takjub (sambil bilang WOW), sayangnya ada beberapa area yang gak boleh difoto. Ruang pertama berisi berbagai bentuk patung salib Yesus dan Bunda Maria, sayangnya gak boleh difoto, mungkin karena takut memperpendek usia material yang sebagian besar adalah kayu dan logam. Ada juga tabernakel dengan relief kisah hidup Bunda Maria. Detail banget… Begitu keluar dari ruang ini, saya melanjutkan ke arah lantai 2, dan saya langsung takjub memandang tangga berputar yang selama ini saya cuma lihat di TV. Khas banget biara tua dengan dome yang tinggi dan jendela-jendela besar.. beneran merinding dahhh….

Disini juga ada banyak lukisan, baik lukisan orang kudus, tokoh gereja Filipina, miniatur kapal-kapal Spanyol, relief-relief jalan salib dan cerita sejarah. Saya kemudian sampai ke bagian belakang atas gereja, yang kita kenal sebagai tempat untuk paduan suara (Choirloft). Ada orgel tua, partitur-partitur musik, bangku koor jaman dulu yang terbuat dari kayu-kayu hitam. Dari posisi ini saya bisa memotret atap gereja yang kaya dengan celah-celah 3 dimensi… aduh…. beneran harus lihat langsung kesini deh biar bisa ngerasain terpukau…

Next, saya masuk ke ruang display jubah dan pakaian misa jaman dulu. Ternyata bentuk dan ukurannya beda lho dengan pakaian misa di sini, mungkin karena pakaian misa di sini berbau Belanda, sedangkan disana berbau Spanyol kali yaa,,,

Saya turun lagi ke lantai bawah, dan menemukan sebuah ruangan di pojokan, yang berisi nisan-nisan. Yup, ini adalah pemakaman indoor, dimana makam-makam dipasang di dinding. Awalnya ruangan ini adalah ruang makan bagi para biarawan, namun pada tahun 1932 diubah menjadi mausoleum bagi para biarawan dan keluarga-keluarga Filipina. Pada masa invasi Jepang, banyak pula korban kekejaman Jepang baik dari tentara Amerika maupun orang Filipina dimakamkan disini. Tau gak, bulu kuduk langsung pada  berdiri waktu saya masuk ruang ini… Langsung ngacir…..

Di seberang San Agustin Church adalah Casa Manila. Ini adalah tiruan dari rumah bangsawan Spanyol di Calle Jaboneros, San Nicolas, sebuah distrik dekat sungai. Rumah ini terbuat dari kayu, dan memiliki ruang bawah tanah, lantai 1 dan lantai 2. Saya percaya banget, rumah ini termasuk rumah mewah sejak pada zamannya hingga masa kini. Sayangnya interior rumah gak boleh difoto… Penjagaannya ketat cuy… daripada gw ditendang, mendingan nurut aja dah… O iya, tiket masuknya seharga 75 Peso.

Bagian utama rumah ada di lantai 2. Bahkan kamar pelayannya ada lumayan guede…so, kamar utamanya guede buanget…furniturenya beneran model jadul khas rumah tua yang tinggi dan kokoh. Dapurnya juga masih pakai alat-alat tradisional. Yang lucu toiletnya… hehehe…. kebayang kan kursi kayu? nah sekarang bayangin dua kursi kayu disandingkan jadi satu, terus bagian tempat duduknya dilubangi diganti dengan lubang toilet… hihihi,,,udah kebayang? Toilet pada masa itu memang bisa dipakai oleh dua orang bersamaan, bahkan kadang bisa saling membantu untuk berdiri… Idih,,,kebayang gak sih….hihihihi…

Perjalanan dilanjutkan ke Manila Cathedral melewati replika rumah-rumah adat dari suku-suku bangsa di Filipina. Dan mohon maaf saudara-saudara, saat itu Manila Cathedral lagi ditutup untuk renovasi… menyebalkan…. jadi cuma bisa foto dari depan, nah kendala muncul karena ukuran gereja yang amat tinggi dan lebar… Duh, harus dipotret dari jauh kalau mau dapat semuanya. Manila Cathedral pertama kali dibangun tahun 1571 dan terbakar pada tahun 1583. Bangunan kedua dibangun tahun 1591 namun hancur oleh gempa bumi tahun 1599 dan 1600. Gereja ketiga dibangun tahun 1614 dan lagi-lagi hancur oleh gempa tahun 1621 dan 1645. Gereja yang keempat dibangun tahun 1654 hingga 1681, dan lagi-lagi hancur karena topan dan gempa bumi… Buset…

Bangunan kelima dibangun tahun 1760 dan hancur lagi oleh gempa bumi tahun 1863, jiah,,,jatuh bangun aku,,, lalu dibangun lagi tahun 1879, dan hancur lagi tahun 1880 karena gempa…lagi-lagi gempa,,, dan akhirnya benar-benar hancur pada perang tahun 1945. Katedral yang sekarang ini diperbaiki secara total pada tahun 1958, bahkan statusnya dinaikkan menjadi Minor Basilika oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 1983.

Setelah melewati bangunan-bangunan tua dan reruntuhan sisa perang, saya tiba di Fort Santiago. Setelah membayar tiket masuk seharga 75 Peso, saya masuk ke kompleks Fort Santiago. Benteng ini dibangun tahun 1571 dan berkali-kali jatuh bangun karena gempa bumi, hingga ahirnya berhasil direnovasi tahun 1778. Di area ini ada Baluarte juga…akhirnya,,,, Beneran benteng seperti yang ada di film-film ksatria. Benteng yang dibatasi parit, dengan jembatan batu… sayang kecantikannya berkurang karena sedang tertutup terpal untuk restorasi. Pintu benteng yang ada sekarang ini adalah tiruannya, karena pintu asli yang dibuat tahun 1714 hancur pada perang tahun 1945.Di dalam kompleks ini ada Rajah Sulayman Theatre (kayaknya bekas tempat pertunjukan gitu deh…soalnya ada bangunan mirip panggung), Rizal Shrine yang merupakan tempat pengasingan Jose Rizal (sayang waktu itu lagi ditutup untuk umum…), ex barak Amerika dan Spanyol, ruang bawah tanah, kapel Maria Guadalupe (lagi-lagi gak bisa masuk karena sedang ditutup), dan bekas penjara ketika Jepang masuk ke area ini. Yang paling wow adalah pemadangan Pasig River dari sisi terluar Fort Santiago, apalagi waktu itu hari sedang cerah banget (baca : panas).

Keluar dari area ini, saya ditunjukkan patung King Felipe II (Phillip) dari Spanyol, konon nama Filipina diambil dari nama beliau karena pada saat Spanyol menginvasi Luzon, raja inilah yang sedang memegang tampuk kekuasaan. Ada pula patung Queen Isabel, istrinya. Riko juga menunjukkan bekas reruntuhan bangunan yang sebagian masih terjaga, namun ex University of SantoTomas tidak ada sisanya..

Riko kemudian membawa saya ke Rizal Park, nah inilah yang saya cari. Tapi perjalanan kesana ternyata tidak mudah, harus mengantri di lampu merah, harus nekad masuk jalan raya (katanya pedicab tidak boleh masuk jalan raya,,, tapi kata Riko, karena ini hari Minggu, mungkin bisa nego sama polisinya,….hehehe). Sepanjang jalan Riko sempat curcol, katanya sekarang ini Amerika sangat mengintervensi kebijakan militer Filipina. hmmm,,,  Dia juga cerita tentang Lapu-Lapu, dan ini mengingatkan saya pada suatu hal yang dulu diajarkan guru sejarah saya waktu SMP : Perjanjian Saragosa, dimana Spanyol berhak atas Filipina, sementara Portugis menguasai Maluku. Inilah mengapa Spanyol tak bercokol lama di bumi Nusantara. Yap sejarah Indonesia memang memiliki keterkaitan dengan sejarah Filipina. Mulai dari masa kerajaan Majapahit, penjelajahan samudera hingga ke Perang Pasifik. Dan kini kedua negara ini juga menjalin sejarah dalam ASEAN.

Rizal Park, atau dikenal juga dengan Luneta Park adalah tempat eksekusi Jose Rizal, pahlawan nasional Filipina yang dengan berani mengumandangkan Revolusi Filipina sebagai perlawanan terhadap Spanyol. Disini pula dikumandangkan deklarasi kemerdekaan Filipina dari Amerika pada 4 Juli 1946, disini pula awal dari Revolusi EDSA yang menggulingkan pemerintahan Ferdinand Marcos.

Di tengah-tengah Rizal Park terdapat monumen obelisk Jose Rizal yang dikelilingi oleh diorama yang menggambarkan hari-hari akhir kehidupannya. Monumen ini diresmikan dan diperlihatkan pertama kali pada 30 Desember 1913, meskipun rencana pembuatannya sudah dibuat bertahun-tahun sebelumnya. Di puncak obelisk ini ada tiga bintang emas yang menggambarkan tiga  pulau utama Filipina, yaitu Luzon, Visayas dan Cebu. Dan ternyata monumen ini bukan hanya sebagai monumen peringatan, tapi juga mausoleum bagi Jose Rizal.

Perjalanan saya dengan Riko berakhir di depan National Museum. Saya minta ditinggal karena pastilah saya butuh waktu panjang di dalam museum ini.. Thanks Riko… Pulang dari Intramuros ini membuat kepala saya penuh dengan informasi sejarah. Benar-benar sebuah kota yang menjadi saksi bisu sejarah panjang bangsanya.

—-see my next post about National Museum, Quiapo and Binondo—-

see the pictures here :

https://celina2609.wordpress.com/2013/07/08/kota-tua-manila/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s