Cerita dari Filipina : Keliling Kota Tua Manila Part 2 : National Museum, Quiapo Church dan Binondo Church

Perjalanan dilanjutkan ke National Museum, Manila. Riko, si abang pedicab melepaskan saya disini. Tidak dipungut bayaran untuk masuk museum ini.

Gedung National Museum ini mulai dibangun tahun 1918 dan dibuka untuk umum mulai tahun 1926. Gedung ini awalnya digunakan sebagai gedung senat, perpusatakaan nasional, gedung konstitusi dan gedung legislatif. Gedung ini sempat hancur karena bom pada tahun 1945, namun direkonstruksi kembali pada tahun 1946. Pada tahun 1996, gedung senat dipindahkan keluar dari gedung ini, dan tahun 2003, gedung ini resmi dijadikan National Art Gallery.

Tadinya saya pikir, National Museum itu isinya mirip Museum Gajah di Jakarta atau National Museum di Phnom Penh yang isinya barang-barang purbakala, sisa kerajaan masa lalu dsb, tapi ternyata di dalam museum ini isinya sebagian besar lukisan, baik lukisan tentang sejarah, maupun lukisan yang betul-betul ekspresi seni. Ada juga galeri patung-patung orang kudus, Yesus, Bunda Maria, Lapu Lapu, Jose Rizal, dan tokoh lainnya. Ada pula tabernakel besar yang terbuat dari kayu. O iya, disini kita boleh motret, walaupun tidak boleh pakai blitz.

Ada satu ruangan khusus yang didedikasikan untuk Jose Rizal, ada lukisan, patung dada, foto dan salinan puisi beliau dimasukkan dalam ruangan ini. Ada pula satu galeri yang hanya berisi 4 lukisan tentang sejarah kedokteran di Filipina, mulai dari era perdukunan hingga era kedokteran modern. Ada pula galeri-galeri lukisan sejarah pemberontakan pada masa penjajahan Spanyol, galeri lukisan pada saat penjajahan Jepang, termasuk Bataan death march, pokoknya lihat lukisannya saja sudah ngeri dah,,,, O iya, saya juga senang banget di museum ini kita diwajibkan titip tas… lumayan mengurangi beban,,,

Setelah puas berkeliling menikmati hasil karya seni (yang sebagian besar tidak saya pahami…hehehe), saya bertanya pada petugas museum tentang bagaimana ke China Town, dan petugas museum memberi tahu saya untuk naik jeepney yang tujuan Santa Cruz. Ongkosnya 8 Peso saja. Sebelum saya beranjak, mereka mewanti-wanti saya untuk berhati-hati karena itu area yang sangat ramai, ditambah dengan bentuk saya yang kelihatan turis banget, mereka takut saya dicopet. Bahkan mereka cerita, pagi itu salah seorang teman mereka dicopet di China Town…ow ow ow… serem juga ya,,, langsung deh saya pasang gembok di resleting tas saya.

Saya jalan kaki sampai ke depan City Hall, dimana para jeepney terlihat ngetem. Saya sempat foto bagian depan City Hall. Sempet ragu-ragu, naik jeepney atau LRT ya? kalo naik jeepney takut nyasar… Gimana ya? eh, pas lagi bingung, datanglah satu jeepney bertuliskan Quiapo. Ah, nekad saja lah, toh saya memang ingin berkunjung ke Quiapo Church juga kan… Saya nanya ke drivernya : Quiapo Church, eh dia bingung, secara saya juga bingung gimana cara baca Quiapo. Untunglah seorang penumpang perempuan yang duduk di samping sopir jeepney itu paham maksud saya, dan dia bilang udah, nanti saya tunjukin. Di atas jeepney ini juga saya ngerasain kena operan ongkos… hehehe,,, sopirnya bingung karena saya gabungin ongkos saya dengan ongkos penumpang lain. Si mbak itu akhirnya turun tepat di pasar depan Quiapo Church, dan saya diajak turun juga.,. Duh,,,makasih ya, mbak. Dia sih ngajak barengan, tapinya dia malah nawar batere hp dulu…jiah… karena gerejanya sudah kelihatan, jadi saya nekad aja nyeberang sendiri lewat jembatan bawah tanah. Tadaa,,,munculnya di samping gereja, jadi saya bisa motret interior gereja yang waktu itu sudah dipenuhi umat untuk Misa Minggu, padahal itu sudah hampir pukul 13.30 lho,,, Waw, jam ngantuk nih…

Saya berhasil memotret sisi luar gereja yang ramaaiiii banget… banyak orang lalu lalang dan banyak tukang jualan benda rohani… Maklum gereja ini posisinya ada di depan mall. Nah, karena saya belum makan siang, saya masuk ke mall ini untuk nyari makan siang.

Setelah makan siang, saya mengintip peta, dan tidak menemukan Binondo Church disana, China Town aja cuma ditandai bintang, alias gak ada posisi spesifiknya… waduh…. bikin bingung… Nanya ke security mal, katanya masih jauh, naik tricycle aja ke Santa Cruz. tapi saya pikir kayaknya lebih seru untuk jalan kaki ngikutin peta, secara waktu saya juga masih banyak kok. Sambil ngetes juga tingkat kecerdasan saya membaca peta. Ransel saya taruh di bagian depan badan, dan benar saja apa yang dibilang oleh petugas museum, begitu berbelok kiri saya langsung menemukan keramaian pasar, wah beneran ramenya ampun-ampun, sampe nyangkut disana sini. Tapi seru deh,,, awalnya saya masih bisa mengikuti peta, tapi begitu gak ada tanda-tanda menara gereja, saya mulai panik. Saya malah ketemu dengan gereja St Cruz… Aduh, mana jalannya sepi,,, mondar mandir menuju tanda bintang China Town di peta (sebab katanya Binondo Church itu ada di area China Town), tapi kok ga ada juga,,, akhirnya terpaksa nanya security sambil nunjukin foto Binondo Church yang ada di bukunya Sihmanto…hihihi… setelah nanya 2 orang security, akhirnya saya ketemu juga dengan gerbang China Town dan menemukan Gereja Binondo yang begitu megah. Duh, rasanya seneng banget bisa menemukan gereja ini. Pas sekali di dalamnya ada misa kawinan. Misanya sudah selesai, jadi saya leluasa banget untuk foto-foto. Gerejanya berkubah besar mirip basilika St Peter. Disini saya juga membeli buku doa Bahasa Inggris.. lengkap deh, segala macam doa ada disini, bahkan doa untuk traveller yang saya dengar di atas kapal menuju Corrregidor pun ada di buku ini…

O, iya, ini nih alamat Binondo Church, supaya jangan nyasar kayak saya : Plaza L. Ruiz, Manila, Philippines. Dan ini alamatnya Quiapo Church : Quezon Blvd  Manila, Philippines.

Di depan Binondo Church, saya menawar tricycle untuk ke LRT Carriedo, eh dia minta 50 Peso, saya gak mau karena rasanya kemahalan. Tapi baru berjalan beberapa meter, kerasa banget capeknya, alhasil saya nego lagi dengan abang tricycle terdekat. Nah yang ini minta 40 Peso, lumayan lebih murah dikit… Akhirnya saya naik tricycle, dan pas lewat di depan St Cruz Church, lonceng berbunyi untuk mengingatkan kita berdoa Coronka pukul 15.00. Di negara ini lonceng gereja sering sekali berdentang, mengingatkan kita untuk berdoa Angelus pukul 06.00, 12.00, dan 18.00, juga untuk berdoa Coronka pukul 15.00.

Sampai di stasiun Carriedo, saya beli tiket ke Baclaran, karena menurut peta itu lebih dekat ke Bandara Ninoy Aquino, tapi akhirnya saya turun di terminal EDSA, karena lokasinya lebih ramai dan lebih mudah untuk dapat taxi.

Di sinilah akhirnya saya naik taxi ke Bandara Ninoy Aquino. Dan perjalanan nekad saya ke Filipina berakhir disini… Terima kasih, Filipina, untuk segala keramahanmu. Doakan saya supaya bisa mengunjungi bagian lain dari negrimu…

See the pictures here :

https://celina2609.wordpress.com/2013/07/08/kota-tua-manila/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s