Kicauan Seorang Jomblowati : Sindrom 28

Kisah ini dibuka dengan sebuah obrolan ngelantur di kelas KPKS beberapa minggu yang lalu… Jadi ceritanya, sore itu, kelas kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berdiskusi dan menjawab pertanyaan tentang surat Paulus kepada umat di Tesalonika. Entah bagaimana mulanya, salah seorang ibu di kelompok saya, yang sangat ayu (baik wajahnya dan tutur katanya), bercerita tentang masa lalunya (jiah….), tentang bagaimana beliau di usianya yang sudah diatas 25 namun belum dapat jodoh, sehingga membuat ibunya kebat-kebit mencari jodoh untuknya. Memang ibunya itu tidak memaksa atau mendesaknya untuk segera mencari jodoh atau menikah, tapi ya, kerasa lah, ibunya itu mulai khawatir dengan anak gadisnya yang anteng-anteng saja menjalani kesendiriannya. Apalagi pada masa itu, di kampung beliau, sebagian besar anak gadis sudah menikah pada awal usia 20 tahun. Beliau juga cerita bahwa pada saat itu, beliau tidak terpikir untuk mencari pacar, yang ada malah makin serius dengan pekerjaannya. Nah, ini juga yang bikin ibunya jadi makin khawatir. Akhirnya sih happy ending : beliau menikah di usia 28…

Cerita ini memancing cerita seorang ibu yang lain di kelompok kami. Jika tadi saya mendengar cerita dari sisi seorang anak, kali ini saya mendengar cerita dari sudut pandang seorang ibu, yang sempat khawatir dengan anak gadisnya yang sangat konsen dengan pekerjaan, sehingga seperti melupakan urusan romantisme (alias : kayaknya kok nih anak gak niat berkeluarga yaa,,,). Ibu ini sempat bertanya ke anaknya : “kamu ini sebenarnya pengen punya keluarga gak sih?” Anaknya menjawab dengan ringan : “ya, mau lah, Bu, tapi kan belum ada yang cocok…” Alhasil, ketika sang anaknya ini menemukan pasangan jiwanya, si ibu nggak banyak protes atau komplain dengan pria pilihan anaknya (yang sebetulnya di bawah standar sang ibu), dan akhirnya anak gadisnya itu menikah di usia 28 tahun…

Dua cerita yang hampir serupa, namun dari sudut pandang berbeda. Tapi yang paling menohok saya adalah, dua cerita itu menyebutkan kalimat : “menikah di usia 28 tahun…” jreng-jreng,,, kok cerita ini seperti menyindir saya sih, yang menjelang usia 28 masih berstatus : gak laku-laku. Saya ngerasa (sok ke-GRan gitu), bahwa umur saya sudah mendekati batas expire… Namun ketika saya ungkapkan pernyataan itu kepada kedua ibu yang tadi bercerita itu, mereka bilang : “ah, mbak, jangan terlalu dipikirkan, apalagi terlalu ditarget, jodoh kamu pasti datang pada waktu yang tepat kok…”

Jujur, kalimat itu tidak memberi penghiburan apapun. Saya malahan jadi membuat banyak analisa dan pemikiran. Mungkin saya masih bisa mentoleransi kekhawatiran diri saya sendiri dengan menenggelamkan diri dengan berbagai kesibukan. Tapi bagaimana dengan perasaan orang tua saya? Apakah mereka juga merasa khawatir dengan masa depan saya? Apalagi pada saat reuni dengan teman-teman SMAnya, mami saya sering banget ditanya mengenai “kelanjutan keluarganya”, atau dengan kata lain, beliau ditanya : “anak lo udah kawin belum?” atau “cucu sudah berapa?” (jiah, jangankan cucu,,, wong anaknya aja belum pernah pacaran…). Apalagi, beberapa bulan yang lalu, anak dari sahabat mami (yang juga teman saya waktu SMA) baru aja nikah,,, wah, makin kerasa aja aroma kekalahan itu… hahaha…

Saya juga tiba-tiba banyak menghabiskan waktu untuk membuat analisa tentang diri saya. Setelah hidup menjelang 28 tahun, belum pernah sekalipun saya pacaran. Mungkin ini bisa dimasukkan ke dalam buku rekor MURI. Banyak yang bilang saya terlalu pemilih. Hah, masak sih? Milih? Emang nyari pasangan hidup itu kayak mau beli ayam di pasar ya? nggak kaleeee…. Menurut pandangan sederhana saya, mencari pasangan hidup itu membutuhkan cinta yang saling timbal balik, dan juga komitmen. Jadi gak mungkin lah, saya langsung menunjuk seorang pria (bahkan salah satu sahabat saya sendiri), dan langsung bilang : “saya memilih kamu menjadi pasangan hidup saya…” jiah,,, kan tadi saya udah bilang, pasangan hidup saya tidak sama dengan ayam di pasar.. 

Banyak juga yang bilang ada banyak pria yang sebetulnya “pernah” mendekati saya, tapi sayanya yang terlalu dablek, alias gak ngerasa bahwa para pria itu memberikan perhatian spesial. Iya sih, setelah dipikir-pikir, memang saya sadar saya kadang suka terlalu dablek,,,, dan gak peka… dan sejujurnya ada banyak hal yang saya sesali akibat kedablekan saya itu. Tapi saya positif thinking aja, kalau pria itu memang benar jodoh saya, pasti saya akan merasakan perhatian yang ia berikan. 

Ada juga yang bilang bahwa saya kebanyakan belajar. Yah, memang saya dulu kuper…. semasa kuliah saya adalah tipe kupu-kupu : kuliah-pulang, kuliah-pulang… dan mungkin mengurangi peluang untuk bertemu dengan si Mr. Right itu… 

Masa lalu sih… ya,,, udah gak bisa dibalik lagi… Dan saya juga sadar kadang saya sering terperangkap dalam masa lalu. Saya sulit sekali untuk move on dari tragedi dan kenangan masa lalu. Satu kaki saya seperti masih ada di masa lalu, dan satu kaki lagi ada di masa kini… Mungkin ini juga penyebab yang mengakibatkan saya selalu tampak moody… 

Ada lagi, kadang saya juga suka minder,,, emang ada ya, pria yang mau dengan saya? Saya yang jauh sekali dari gambaran perempuan ideal yang mungil, kurus, putih, cantik, bertutur kata lemah lembut, tanpa cacat, bisa masak dan berjalan dengan anggun. Kalau dipandang dengan realistis, sepertinya gak ada ya… Saya terlahir dengan membawa genetika giant, alias tubuh saya punya efisiensi pencernaan yang  tinggi. Apapun yang saya makan, hampir 100% nya menjadi daging. Hahaha,,, jadi kebayang kan berapa besar ukuran saya… Dan tahukah anda, dengan keadaan seperti ini, sangat sulit untuk menyulap diri menjadi mungil dan kurus seperti gambaran wanita yang diidam-idamkan para pria…

Tapi, orang bilang, kecantikan yang utama berasal dari hati. Dan itulah yang sedang saya upayakan : cantik dari hati. Menjadi lebih sabar, lebih lembut, lebih dekat dengan Tuhan, dan lebih bisa mengendalikan emosi. Tapi tujuannya bukan hanya untuk dapat jodoh, yang terpenting adalah supaya bisa masuk surga (bertemu dengan seseorang yang pasti 100% mencintai saya apa adanya… )

Dan, mungkin karena sudah terlalu lama menjalani hidup sendiri, saya jadi terlalu mandiri (entahlah, apakah ini bisa dijadikan suatu kebanggaan atau tidak…), alias keenakan hidup sendiri dan jadi terlalu cuek. Saya jadi merasa punya ketakutan dengan komitmen pernikahan. Saya takut menyakiti dan disakiti, saya takut merasa jenuh, saya takut tidak bisa membahagiakan, saya takut menciptakan konflik, saya takut ditolak oleh keluarga suami saya, saya takut tidak bisa beradaptasi dengan keluarga suami saya, saya takut tidak bisa menjadi menantu yang baik, saya takut kehabisan waktu untuk diri saya sendiri, saya takut tak bisa lagi melakukan hal-hal yang saya sukai, saya takut menghadapi kesulitan ekonomi, saya takut tak bisa memberikan keturunan, saya takut melahirkan, saya takut tak bisa menjaga dan mendidik anak-anak dengan benar, saya takut terkurung di rumah, saya takut tak bisa bergaul dengan sahabat-sahabat saya lagi. Buset,,, banyak banget ya yang ditakutkan..

Tapi begitulah manusia, saat menjadi jomblo, dia memiliki masalah sebagai jomboler. Setelah menikah, mungkin masalah jombloernya hilang, tapi muncul masalah sebagai seseorang yang sudah menikah. Intinya hidup itu tak akan lepas dari masalah. 

Dan entah mengapa, saya menikmati masa jomblo ini… dimana saya bisa bangun sampai siang tanpa ada yang protes, begadang sampai malam tanpa ada yang ngomel (paling nyokap doang yang ngoceh…), gak mikirin anak sakit, gak perlu bangun tengah malam ngurusin bayi, bisa jalan-jalan sesuka hati (asal masih punya tabungan cuti dan simpanan di bank), gak takut berantem sama mertua, bisa ngerajut tanpa berhenti dan nulis blog sampai pagi…hehehe

Tapi, sejujurnya, saya juga seriiiing banget ngerasa kesepian, pingin punya seseorang untuk berbagi cerita (kalau cerita sama teman takut ember, kalo cerita sama ortu takut mereka jadi kepikiran), dan kadang saya juga butuh seseorang untuk dipeluk, untuk bersandar ketika hari terlalu melelahkan, dan saya butuh bahu yang kokoh untuk menopang kelemahan saya. Dan, yang paling utama, saya ingin menyalurkan kebutuhan saya untuk memberikan cinta bagi seseorang yang berarti bagi saya, seseorang yang layak menerimanya. Saya ingin memberikan perhatian dan diri saya untuk seseorang yang akan melakukan hal yang sama untuk saya. Saya ingin terbangun di sisi seseorang yang saya kagumi, dan menatapnya sebelum saya bermimpi. Merasakan kehangatan dan kenyamanan ketika berada bersamanya. Mungkin pemahaman saya itu dangkal banget ya,,, jangan-jangan ketika menghadapi konflik saya bakalan langsung ambil langkah 1000…. hahaha

Kembali ke usia 28, yang sepertinya sudah begitu dipandang tua (jujur menjelang umur 28 saya jadi sering lupa dan bengong…) Saya mematikan channel impian saya dan mulai berpikir realistis. Jujur saya mulai lelah menunggu dan mencari.. Karena selama ini, setiap kali saya menyukai seorang pria, saya selalu merasa bahwa pria itu tak mungkin balik menyukai saya. Mungkin kami akan bisa menjadi teman yang baik, Tapi tidak untuk menjadi pasangan hidup. Saya pasti tak akan cukup layak baginya. Yah, sepertinya saya mencintai seseorang hanya untuk menyakiti hati saya saja. Parah banget ya, sepertinya saya punya penyakit minder stadium tinggi banget nih…

Bahkan saya pernah ditolak oleh seorang pria bahkan sebelum saya menyatakan perasaan saya. Mungkin karena tindak-tanduk saya yang “kebaca” banget lagi ngegebet dia…  Jadi saya belajar untuk tidak menaruh harapan terlalu tinggi, karena itu hanya memperburuk rasa sakit hati saja. Jatuh dari ketinggian itu amat menyakitkan lho…

Memang sih, gak ada yang tahu tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin saja saya akan menemukan seseorang yang tepat itu, yang saya cintai dengan sepenuh hati, dan mencintai saya dengan keadaan yang saya miliki. Menjalani hari demi hari, yang meskipun tak selalu indah, tapi selalu bisa kami selesaikan dan tutup dengan senyum. Dan pada saat itu, saya akan berkata : Akhirnya aku menemukanmu..

Dan saat ini sepertinya lagu yang paling cocok untuk mewakili perasaan saya adalah lagunya The Carpenters yang berjudul : Goodbye to Love…

I’ll say goodbye to love
No one ever cared if I should live or die
Time and time again the chance for love
has passed me by
And all I know of love
is how to live without it
I just can’t seem to find it.

So I’ve made my mind up I must live my life alone
And though it’s not the easy way
I guess I’ve always known

I’d say goodbye to love.
There are no tomorrows for this heart of mine,
Surely time will lose these bitter memories
And I’ll find that there is someone to believe in
And to live for, something I could live for.

All the years of useless search
Have finally reached an end
Loneliness and empty days will be my only friend
From this day love is forgotten
I’ll go on as best I can.

What lies in the future is a mystery to us all
No one can predict the wheel of fortune as it falls
There may come a time when I will see that I’ve been wrong
But for now this is my song.

And it’s goodbye to love
I’ll say goodbye to love.


4 thoughts on “Kicauan Seorang Jomblowati : Sindrom 28

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s