Sunday with RoNi…

Sepuluh tahun lalu, aku mengenal beliau untuk pertama kali dalam misa besar KMK UI. Ketegasannya membuat kami menjadi segan, bahkan senior-senior kamipun enggan untuk berurusan dengan beliau.
Namun… aku akhirnya harus berurusan dengan beliau sebelum waktunya.. Jabatan sekretaris weekend Kuktek membuatku harus menghadapi kata-kata beliau yang pedas namun berbobot… Berkali-kali aku harus maju mundur dan kembang kempis setiap mau menghadap beliau…
Ketika kepanitiaan berakhir, hubungan kami dengan beliau masih belum berakhir. Beliau ternyata mengajar mata kuliah agama bagi angkatan kami. Terbayang sekali kedisiplinan dan standar beliau yang tinggi bagi para mahasiswanya. Beberapa saat sebelum periode perkuliahan dimulai, seorang senior berkisah tentang cara-cara bertahan hidup di hadapan dosen kami yang tercinta ini…
Ternyata beliau itu hobby sekali mengadakan ujian lisan. wedeh… Terus kalaupun ujiannya tertulis, pasti harus dijawab dengan logika, karena beliau tak pernah memberikan hal-hal untuk dihafal.. nah lho…mau pingsan kan..Namun senior kami itu berkata, jika ditanya oleh beliau apa bukti Allah mengasihi manusia, maka jangan jawab yg aneh-aneh (jangan jawab gw masih hidup hari ini, atau ada hujan, matahari, alam yang indah, atau segala hal yang terlihat….) tapi jawablah dengan apa yang Yesus katakan dalam Yoh 3:16, yakni “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal…”

Dan memang betul, sepanjang satu semester perkuliahan agama, beliau berulangkali menekankan hal tersebut..
Ada banyak hal pula yang kami pelajari dari beliau, ketegasannya, kedisipilinannya, dan bagaimana beliau menekankan pentingnya sebuah ketaatan pada aturan sebagai konsekuensi iman kita.. Beliau juga amat sering mengingatkan kami tentang pentingnya memiliki prinsip hidup yang benar, kepedulian pda lingkungan, dan agar kami sebagai orang muda tidak menggampangkan hal-hal dalam hidup…
Ada banyak hal yang beliau sampaikan dan masih membekas dalam ingatan saya… Dan ingatan itu sering juga menegur saya hingga saat ini…
Mungkin tak banyak mahasiswa yang menyukai gaya beliau, tapi memang tak selamanya sesuatu yang benar akan selalu disukai…

Pada ujian akhir semester, kami diminta untuk membuat paper mengenai lingkungan, dalam arti yang luaas, beserta permasalahan yang ada, serta solusi yang tepat atas masalah tersebut. Saya dan kelompok memilih tema tentang kasus pencemaran Teluk Buyat yang saat itu sedang hot. Kami maju ujian pada sebuah pagi yang cerah, setelah tahun baru 2004. Dan akhirnya, setelah melalui banyak pertanyaan yang diajukan oleh beliau, akhirnya beliau menyalami kami bertiga dengan ucapan :”Selamat, anda lulus…” konon tindakan beliau ini adalah pertanda bahwa mahasiswa itu akan lulus dengan nilai A.
Dan beberapa minggu kemudian..mitos itu terbukti tepat.. Kami mendapat nilai A… hahaha…

Pada awal tahun ajaran 2004, kami mendengar kabar bahwa beliau dipindahtugaskan, namun tak ada yang tahu kemana beliau akan pergi… tak ada kabar yang kami dengar tentang beliau setelahnya…

Waktu berlalu, saya sudah lulus dan bekerja.. Pada suatu terbitan majalah Hidup yang membahas tentang paroki ekspatriat, beliau ada disana. Ternyata beliau adalah pastor paroki ekspatriat…

Namun, tak lama kemudian, terdengar kabar yang menyedihkan, beliau terkena stroke.. dan saya tak pernah punya kesempatan untuk mengunjungi beliau.. Bahkan hingga akhirnya saya punya kesempatan untuk satu bulan sekali melalui gereja tempatnya bertugas… saya tak pernah bisa mampir untuk mengetahui kondisinya…

Hari ini, setelah melalui pengharapan dan permohonan maaf , saya akhirnya datang ke Gereja Theresia, Menteng, tempat beliau bertugas. Saya sengaja ikut misa Bahasa Inggris, dengan harapan beliau yang akan memimpin misa itu. Dan Tuhan menjawab harapan saya, beliaulah yang akan memimpinnya…
Beliau sudah cukup pulih dari strokenya, meskipun masih harus dituntun saat melangkah. Beliau terlihat agak kurus dan lelah, namun semangatnya ketika berkhotbah tetap sama seperti 9 tahun yang lalu…
Ada perasaan bahagia melihat beliau disana, seperti kembali pada masa kuliah dulu… memperhatikan khotbah beliau seperti dulu memperhatikan beliau mengajar di kelas… Bahagia melihat senyumnya masih hangat seperti dulu…
Dalam khotbah beliau, tak lupa beliau sisipkan ayat favorit beliau, yakni Yoh 3:16…. Semakin terasalah perasaan nostalgia itu…

Semoga beliau bisa pulih seperti dulu lagi… Semoga semangat dan kedisiplinannya tak memudar termakan usia dan kesehatannya….

Beliau, RP Nico Dumais, SJ… yang sering kami sebut sebagai RoNi… terima kasih atas segalanya…
kami sayang padamu…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s