Cerita Sepanjang Jalan : Inilah Hidup…

Kali ini, saya ingin sekali berbagi cerita tentang para tour guide yang saya pernah temui sepanjang perjalanan. Tentang kisah-kisah yang mereka sampaikan, yang begitu memberikan banyak inspirasi bagi saya. Semoga berkenan…

Miss Cha… 

Perkenalan saya dengan Miss Cha terjadi ketika saya mengikuti half day tour ke Grand Palace, Bangkok… Kami berjumpa di kantor World Travel Service (WTS) di jalan Charoen Krung. Saya adalah peserta tour pertama yang tiba disana dan langsung disambut dengan ramah oleh Miss Cha dan salah seorang rekannya. Miss Cha memandangi wajah saya yang memiliki tanda lahir, dan ia langsung bercerita bahwa ia pun dulu memiliki tanda lahir serupa, dan baru saja mendapatkan operasi plastik yang berhasil membuat tanda itu hilang tanpa jejak dari wajahnya. Ternyata tanda lahir itulah yang mendekatkan kami berdua sejak awal perjumpaan. Kedekatan itu semakin terasa ketika ia tahu bahwa saya dari Indonesia. Ia bilang kami punya akar sejarah dan kebudayaan yang hampir serupa. Kami sama-sama paham dengan Garuda, Meru, Ramayana, Mahabharata, Naga, dan macam-macam tradisi ketimuran lainnya… Ya, kita memang bersaudara. 

Ia juga banyak menjelaskan tentang filosofi Buddha, tentang kebijaksanaan rajanya, juga bagaimana ia menyayangkan kondisi Indonesia yang awalnya adalah lumbung padi Asia Tenggara, namun sekarang lebih sering mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam… Ia juga menceritakan tentang profesinya sebagai tour guide, yang meskipun mendapat libur satu hari dalam seminggu, namun ada kalanya begitu sibuk dan nyaris tanpa istirahat. Ditambah lagi dengan permintaan para peserta yang beraneka ragam. Namun, ada kebanggaan dalam nada bicaranya, ia bisa menyebarluaskan tentang Thailand kepada dunia melalui profesinya.. Ia bilang, banyak anak muda yang merasa PeDe bisa jadi tour guide, hanya dengan bermodal bahasa Inggris (atau bahasa lainnya) yang di atas rata-rata. Padahal itu tidak cukup, yang terutama adalah apakah mereka memahami dengan benar apa yang mereka jelaskan pada orang-orang asing yang tidak memahami apa yang mereka lihat dan kunjungi. Apakah mereka sudah paham benar dengan sejarah bangsanya? Apakah mereka bisa menjamin bahwa mereka memberikan informasi yang tepat? Dan apakah mereka sudah bisa menularkan kebanggaan menjadi orang Thailand kepada para turis tersebut? Wah, ternyata menjadi tour guide tidak sesederhana yang saya pikir selama ini. Tidak cukup dengan kursus conversation Bahasa Inggris saja. Tidak cukup dengan menghafal tanggal-tanggal dan tokoh-tokoh bersejarah saja. Dan lagi, ketika kita belum punya kebanggaan atas bangsa dan negara kita, mana mungkin bisa membuat orang lain bangga pernah menginjakkan kakinya di negara kita. Dan satu yang terpenting adalah bagaimana membuat seorang turis merasa diterima di negara itu.

Miss Cha membuka mata saya tentang kebijaksanaan seorang raja yang amat mencintai dan dicintai oleh rakyatnya. Bagaimana uang bukan menjadi segala-galanya, karena ketika tak ada beras, orang tak bisa makan uang. 

Hingga hari ini, saya masih sering kontak dengan Miss Cha, via sms atau facebook. Kadang ia lama sekali menjawab pesan-pesan saya, tapi pastilah karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. 

Suatu pagi, pernah tiba-tiba ia menelepon saya, dan saya begitu terkejut dibuatnya. Ternyata hari itu adalah off daynya… Dan apa yang ia lakukan? Ia sedang menghabisakan waktu untuk merawat anjing-anjingnya… Betul-betul sosok yang sederhana…

Giulio

Dari namanya saja, sudah ketahuan kan negara asalnya? Yup, ia seorang pria Italia. Saya bertemu dengannya dalam city tour di kota Ho Chi Minh. Berawal dari kondisi berdesakan di mobil van yang membawa grup kami, lalu saling sapa saat berpapasan di museum, dan berlanjut ketika akhirnya kami duduk semeja saat makan siang. Waktu itu kami semeja terdiri dari Giulio, sepasang warga Australia, saya dan papi, dan sepertinya ada 2 orang lain, tapi lupa dari negara mana. 

Dengan kesotoyan tingkat tinggi, saya mencoba membuka percakapan dengannya, yakni dengan mengkonfirmasi bahwa bahasa Italia dari “makan” adalah “mangiare”, dan ketika ia bilang benar, percakapan pun berlanjut dengan lebih akrab lagi. Bahkan ia mengajari saya untuk mengucapkan banyak kata dalam Bahasa Italia, dimulai dengan urutan angka, nama hari, dan macam-macam, yang sulit untuk saya ikuti (maklum saya pernah WO dari kursus Bahasa Italia… jadi bloon banget deh…), dia dengan sabar mengulanginya berkali-kali… hingga akhirnya pasangan dari Australia itu ikut tertawa dan nimbrung ngobrol dengan kami… Mangiare,,, sebuah kata dan kondisi yang mampu mencairkan keadaan. Betul juga kata orang, makan semeja itu bisa membuat yang kaku menjadi cair, dan bisa meluruskan kesalahpahaman. 

Kebersamaan kami berlanjut dengan saling bertukar kamera (soalnya si Giulio ini solo traveller niy,,,) untuk saling memotret. Dan di Reunificaton Palace, kami akhirnya salng bercerita tentang diri kami masing-masing. Giulio adalah seorang tour guide di Antalya, Turki. Sudah lama sekali dia menjalani pekerjaan ini. Dia sempat mengira saya dan papi adalah suami istri,,, jiah,,, pas kami bilang kami adalah ayah dan anak, barulah dia ngeh kenapa muka kita berdua mirip…. hohoho…

Tapi, kelanjutan cerita dari dia sangat membuat kami miris, bagaimana tidak, dia bilang dia juga pingin banget punya keluarga, pingin juga punya anak, Initinya sebuah rumah yang menunggunya pulang. Waktu kami tanya kenapa dia tidak menikah, jawabannya cukup mengejutkan, pekerjaannya tidak memungkinkan untuk punya keluarga. Mungkin sih mungkin, tapi kasian banget keluarganya. Kenapa? karena paket-paket tour yang dipandunya berdurasi panjang, bisa dua minggu bahkan lebih, dan nonstop sepanjang tahun, kecuali pada masa liburannya, yang “hanya” 2-3 bulan dalam setahun. Jika tour yang dipandunya menginap di suatu hotel, diapun harus menginap disana. Jadi bisa dibilang dia jarang pulang ke rumah… Wew,,,kalo punya anak, bisa jadi tuh anak lupa ama muka bokapnya… 

Tapi, dia bercerita pula, bahwa dia punya girlfriend (terserah deh mau diartiin secara harafiah atau nggak…) di Vietnam. Jadi selama ia berada di Vietnam, dia sangat memanfaatkan setiap waktu yang dimilikinya untuk bersama dengan si girlfriend itu (yang sayangnya harus tetap masuk kerja selama si Giulio ada di Vietnam…).

O iya, selama ini saya pikir menjadi tour guide itu pasti menyenangkan, bisa ketemu orang dari macam-macam budaya dan negara, lalu bisa berwisata gratis. Ternyata bayangan itu salah! Giulio bercerita, awalnya memang membahagiakan… tapi setelah sekian tahun bergelut dengan hal yang sama, mengunjungi tempat yang sama, akhirnya ia terjerumus dalam pusaran kejenuhan. Makanya begitu dapat libur, dia langsung ngacir jauh-jauh deh… Terus, ditambah lagi dengan kelakuan para turis yang aneh-aneh, banyak komplain dan banyak permintaan… kadang bikin batin juga…

Ada hal yang lucu dan berkesan dari perkenalan saya dengan Giulio. Setiap saya memegang kameranya untuk memotret dirinya, dia meminta saya untuk menghitung dalam bahasa Italia… Uno due tre… Dan harus bilang grazie, bukannya thank you… Dan akhirnya ketika saya mengajaknya untuk mengunjungi Indonesia yang amat indah ini. dia bilang, “Ya, suatu hari saya akan kesana, tapi pastikan ketika saya kesana, kamu yang menjadi guide dan harus dengan Bahasa Italia….” ups…. tulung,,,tulung,,,Aiuto!!!

Giulio… oh Giulio… Buona Fortuna… Tanti auguri ate,,,

Win

Masih dengan cerita city tour Ho Chi Minh. Win adalah tour guide kami. Gayanya yang tomboy, Bahasa Inggrisnya yang OK, serta hobbynya melototin peserta yang telat kumpul, membuat saya begitu terkesan dengannya. Tapi bukan hanya itu, Win ini memiliki aura “saya amat bangga menjadi warga Vietnam, tak peduli apapun sejarah bangsa saya di masa lalu” yang kerasa banget. 

Ketika kami mampir di sebuah toko kopi, Win mengisahkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, Vietnam selalu dikalahkan oleh Brazil dalam peringkat produsen kopi dunia, namun pada tahun 2011, Vietnam berhasil mengalahkan Brazil dan menjadi peringkat pertama penghasil kopi dunia. Dan terihat sekali Win begitu bangga dengan apa yang telah diraih bangsanya. Perkataan Win itu menohok saya, jika saya memperkenalkan Indonesia pada orang-orang dari bangsa lain, apa yang akan saya katakan sebagai bentuk kebanggaan saya atas bangsa ini? Di tengah banyak hal buruk yang sedang terjadi (dan dibuat) saat ini, apakah masih ada sisa kebanggaan yang bisa saya bagi bagi mereka, bukan hanya sekedar kritik dan celaan…

Martin

Martin adalah bule Inggris pemilik Hostel Nomads a.k.a Encounters di kota Phnom Penh… entah bagaimana ceritanya sampai dia bisa terdampar di Phnom Penh…

Martin si pecinta detail terlihat dari penjelasannya yang begitu detail kepada setiap tamunya. Begitu juga dengan penjelasan yang ia pasang di dinding hostelnya. Martin yang gila kerja, habisnya setiap kami meninggalkan atau kembali ke hostel, dia pasti sedang duduk di meja kerjanya yang juga merangkap meja resepsionis. Bahkan pada malam kami check out, dia baru makan malam sekitar pukul 10 malam… butet,,, eh buset….

Keindahan kota Phnom Penh, khususnya di dekat hostel ini begitu terasa. Ramainya hiburan malam juga terasa banget… Terus hostel ini dekat kemana-mana, mau ke Wat Phnom tinggal ngesot, mau ke National Museum dan Royal Palace juga tinggal jalan kaki… Mau ke Victory Monument juga bisa jalan kaki,,, walaupun agak capek… mau ke tepi sungai Mekong juga udah deket banget…. kayaknya kok asyik banget ya jadi si Martin ini, setiap hari menikmati pemandangan kayak begini. Apalagi waktu itu cremation site untuk King Norodom Sihanouk sudah mendekati tahap finishing, dan rakyat Phnom Penh beramai-ramai ingin melihat site itu dari dekat, jadi selama dua petang disana, banyak sekali warga yang berdatangan, baik untuk berdoa bagi Raja, namun juga untuk melihat krematorium yang megah itu…

Tapi ternyata karena kesibukannya sebagai solo director atas hostelnya itu, Martin malah gak bisa menikmati semuanya itu. Ketika kami cerita bahwa kami barusan mampir di depan krematorium, Martin hanya terbengong-bengong. Wah, dia malah nggak ngeh krematorium ini sudah hampir mau digunakan. Dia malah belum pernah lihat sama sekali sejak pertama kali didirikan… Jiah… Martin…

Ternyata,,, inilah yang dibilang dekat di mata jauh di hati…. 

Cemungudh, Martin,,, 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s