I’m starting with the woman in the mirror….

Perjalanan ke Filipina, nonton drama kisah nyata DaAi TV, perkenalan dengan Buddha Tzu Chi, dan bergaul dengan rekan-rekan legioner Senatus Bejana Rohani, membuat saya (tiba-tiba) memiliki satu tekad dalam diri saya untuk bisa menjadi lebih ramah terhadap lingkungan.

Ketika saya ke Filipina, saya mendapatkan cerita dari para suster di komunitas FMM Sariaya mengenai program “ramah lingkungan” yang sudah mulai digalakkan disana. Salah satu yang paling terlihat adalah pengurangan penggunaan plastik, dan penggantian plastik dengan kertas daur ulang. Jadi mau beli roti, mau beli siomay (baca : siomay pakai kuah asam), rosario atau beli apapun, pasti dikasihnya wadah kertas yang bisa direcycle (tanpa lapisan laminated seperti kertas nasi disini). Jangan harap bakalan dapet kantong keresek atau kertas nasi. Plastik sih memang masih dipakai,,, tapi jumlahnya sedikit, dan hanya untuk membungkus hal-hal yang benar-benar diperlukan saja (misalnya untuk membungkus roti agar tidak lengket ke kertas atau benda rohani yang ukurannya mungil dan disertai kertas doa). Dan ternyata ini adalah program pemerintah yang didukung oleh Gereja Katolik Filipina. Para imam, biarawan dan biarawati punya hak untuk menegur para penjual yang masih menggunakan plastik, dan bisa meminta mereka untuk segera mengganti kantong keresek dengan kantong kertas. Saya sangat salut dengan kebijakan ini. Terutama karena pihak religius dilibatkan secara langsung dalam usaha pelestarian lingkungan. 

Awalnya saya pikir aturan ini baru berlaku di Sariaya saja, yang notabene adalah kota kecil yang relatif lebih mudah “diatur”. Tapi ternyata saya salah. Di Corregidor Island dan juga di Manila, penggunaan kantong kertas yang bisa didaur ulang sudah lebih luas digunakan. Seperti ketika saya hunting buku di salah satu toko buku di SM Mal Ayala, disana meskipun masih pakai kantong keresek, namun mereka sudah menempel pemberitahuan bahwa per tanggal 1 Juli 2013, mereka akan mulai menggunakan kantong kertas. Dan mereka minta dimaklumi atas kondisi ini (maksudnya belum bisa pakai kantung kertas untuk membungkus belanjaan). O iya, biasanya di Indonesia, kita menemukan buku-buku yang tersegel rapi dengan plastik bening, nah disini, buku-buku tidak disegel, semuanya dilepas begitu saja, jadi calon pembeli bisa sekalian ngintip isi bukunya dulu sebelum beli,.,,,hehehe,,,, mungkin ini juga salah satu bentuk diet plastiknya mereka… Begitu juga ketika saya beli roti isi,,, dibungkusnya juga pakai kertas minyak, dan diberi kantong kertas coklat. Bahkan saat saya mampir ke toko buku di Ninoy Aquino International Airport, saya menemukan hal yang sama, yakni buku tidak disegel, dan dibungkus dengan kantong kertas. Awalnya pramuniaganya menawarkan apakah saya butuh plastik, dan dengan pedenya saya jawab saya tidak butuh plastik, dan cukup dengan kertas saja. Kan dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung… Jadi saya pikir saya harus belajar menyesuaikan diri dengan kebiasaan hidup para local people yang lagi pada diet plastik…. hehehe…

Makanya begitu saya membereskan tas sepulang dari Filipina, saya agak wonder karena hanya sedikit sekali keresek yang mampir di tas saya, dan tas saya malah dipenuhi serpihan kantong kertas yang sobek karena dipaksa masuk ke dalam tas yang sudah overload… atau rontok karena kena basah dari handuk dan baju kotor..  Saya ingat ketika pulang dari Singapura, tas saya penuh dengan koleksi plastik keresek, karena di Singapura, setiap belanja apapun pasti dikasih keresek,,, (padahal bendanya kecil doang,,,,). Saya juga jadi ingat perilaku saya kalau belanja di Indonesia sini,,, semakin banyak keresek yang bisa saya dapatkan dari kasir, semakin senanglah hati saya.. Lumayan kan buat alas tempat sampah, dan buat hal-hal lain…

Entah kenapa, pesan dari Filipina itu terus bergema dalam diri saya. Kok, rasanya saya merasa berdosa pada lingkungan saya karena sudah terlalu banyak mengkonsumsi plastik… Apalagi sebagian besar dari plastik itu akhirnya hanya berakhir di tong sampah… 

Dan, saya bertekad untuk mengubah diri saya sendiri agar tidak membebani lingkungan lagi. Dimulai dengan beli green bag saat belanja di suatu pertokoan, dan dilanjutkan dengan menggunakan green bag itu setiap belanja disana, supaya saya gak perlu pakai kantong keresek lagi. Lalu, setiap membeli makanan (roti) tanpa kemasan, saya meminta kepada pramuniaga untuk menjadikan satu saja semuanya. Biasanya pramuniaga akan membungkus makanan itu satu persatu dengan plastik, nah sekarang saya selalu meminta agar semuanya dijadikan satu dalam satu plastik saja. Pernah si mbak pramuniaganya menolak, karena waktu itu saya beli donat yang lapisan glazenya masih basah. Ia khawatir jika dijadikan satu dengan yang lain, maka glazenya akan menempel di makanan yang lain. Saya bilang agar ia tidak usah khawatir, toh kan nanti semuanya akan nyampur juga di perut… Dan glaze yang menempel di plastik juga masih bisa dicomot atau dijilatin…. hihihihi…. Dan saya juga langsung memasukkan “paket” itu ke dalam tas, agar mereka tidak perlu lagi memberikan keresek lagi,,, 

Terus, biasanya setiap kita belanja di supermarket, kasir akan memisahkan benda-benda toiletries, kosmetik dan sabun ke dalam keresek tersendiri, tidak digabung dengan barang-barang seperti makanan. Nah, kayaknya gak semua perlu pemisahan seperti itu. Untuk benda-benda kosmetik dan sabun yang kita yakin dengan kualitas packagingnya (maksudnya peluang untuk bocornya relatif kecil, dan tidak menyebarkan bau aneh) dan tidak menimbulkan peluang bahaya jika bercampur dengan benda lain, sebaiknya gak usah dipisah-pisah,… kan ini bisa bikin konsumsi keresek jadi jauh lebih sedikit… Kemarin sudah dicoba,,, dan kasirnya mau mengerti…. hehehe…

Dan, green bag gaban saya yang selalu nangkring dengan manis di dalam tas sangat berguna untuk diet plastik ini. Soalnya tiap mampir belanja di toko, barang belanjaannya bisa langsung dicemplungin ke dalem si green bag tanpa perlu keresek dari si toko itu…

Nah, sekarang mengenai penggunaan keresek sebagai wadah sampah… Sampai sekarang sih, saya masih pakai plastik keresek untuk wadah sampah… Cuma, sekarang frekuensinya lebih sedikit karena diusahakan waktu pemakaiannya lebih lama. Caranya adalah memisahkan sampah basah (bekas makanan) dengan sampah kering. Dan memaksimalkan isi keresek wadah sampah ini sampai sepenuh mungkin baru dibuang ke tong sampah utama. 

Hmmm,,,, memang baru ini yang bisa saya lakukan untuk diet plastik,,, Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih berdiet lagi…. Soalnya plastik itu kan sulit banget untuk terurai di alam…. Kebayang deh kalau tanah dan air kita tertutup dengan plastik…

Terus, beberapa bulan terakhir, saya lagi seneng banget nontonin DaAi TV, dan kebetulan salah satu tante dan sepupu saya jadi relawan Buddha Tzu Chi. Jadi mereka mengajak saya untuk memisahkan sampah dan menyumbangkan yang masih bisa didaur ulang kepada mereka. Memang sih, katanya kita belum punya sarana untuk daur ulang, jadi sampah yang dikumpulkan akan dikelompokkan berdasarkan jenisnya, lalu dijual kepada pihak ketiga. Uang yang terkumpul akan digunakan untuk membiayai kegiatan mereka yang berfokus pada orang-orang yang tidak mampu (misalnya untuk bantuan pengobatan pasien miskin, untuk memberikan beasiswa pada murid yang tidak mampu, untuk mengunjungi panti jompo dan panti asuhan, dsb.,,,dsb,,,silakan hubungi relawan Tzu Chi di kota anda). Awalnya sih saya gak terpikir untuk bisa ikut serta dalam proyek pemisahan sampah ini. Maklum saya memiliki prinsip “dibuang sayang”, alias saya sendiri adalah pengumpul sampah,,,hehehe,,, 

Namun, suatu pagi, saat saya beres-beres meja dan lemari kerja saya, saya sempat bingung dengan banyaknya kertas-kertas yang sudah dipakai bolak balik. Mau dibuang sayang, tapi kalau ngga dibuang juga menuh-menuhin tempat… Alhasil saya langsung teringat sepupu saya yang di Tzu Chi itu, dan mereka bersedia menampung. Sekarang saya juga jadi lebih bijak dalam menggunakan kertas. Memang di tempat kerja saya sudah ada kebijakan untuk memakai kertas bolak-balik sampai ga bisa dipakai lagi. Nah, kadang yang terjadi adalah pemborosan kertas karena salah tulis atau salah ngeprint. Saat ini saya sedang belajar untuk lebih teliti dalam bekerja, biar gak boros kertas… soalnya,,,, nanti kalau pohon-pohon itu habis untuk buat kertas,,, mau jadi apa kita di masa depan… kagak bisa napas kan…

Selain kertas, ternyata saya menemukan banyak benda-benda yang dibuang sayang tapi menuhin tempat, antara lain : disket bekas, bolpen bekas, botol kaca bekas, botol plastik bekas, majalah bekas, brosur-brosur.  Dan Tzu Chi mau menampung itu semua,,,,, sekarang saya sudah mulai bisa meninggalkan prinsip “dibuang sayang”, kan kalau disumbangkan ke Tzu Chi bisa memberi nilai lebih pada barang-barang bekas tersebut…. Di rumah, saya dan keluarga sudah mulai menyeleksi sampah kami. Botol plastik, stoples plastik, styrofoam,  gelas bekas juice, sebisa mungkin dibersihkan dan ditaruh di satu kantong tersendiri. Setelah banyak, baru disumbangkan ke Tzu Chi. Di kantor pun saya mengumpulkan kertas-kertas bekas yang biasanya langsung mendarat di tempat sampah… Agak repot sih, tapi kan bermanfat buat lingkungan dan orang lain lhooo….

Pergaulan dengan para legioner dari Senatus Bejana Rohani juga banyak membuka cakrawala saya tentang peduli lingkungan. Setiap penyajian konsumsi (makan siang) seusai rapat senatus pasti selalu menggunakan piring yang bisa dicuci (dan biasanya mereka langsung mencucinya setelah selesai digunakan). Awalnya saya sempat aneh dan bingung, kok mereka mau repot-repot sih,,, kenapa gak di styrofoam atau kertas nasi saja? Tapi jawabannya amat jelas : dengan menggunakan piring dan alat makan yang dapat dicuci dan dipakai ulang, maka akan mengurangi sampah yang dibuang ke lingkungan. Hebat kan?

Dan bulan lalu, Romo Pemimpin Rohani kami juga mengingatkan untuk lebih peduli lingkungan dan mengurangi sampah dengan cara bawa botol minum dan tempat makan yang bisa dicuci dan dipakai ulang, jangan pakai sumpit kayu, kalau pakai alat makan plastik jangan langsung dibuang, tapi sebisa mungkin dicuci dan dipakai ulang, jangan makan dengan styrofoam, kertas nasi, gelas air mineral ukuran kecil (yang biasanya langsung dibuang setelah digunakan). Dan pesan itu bergema di telinga saya. Saya mulai mencoba menyimpan setiap sendok plastik yang saya dapatkan setelah makan di tempat tertentu. Saya mulai mencoba memakai sumpit logam yang bisa dicuci. Walau agak ribet makan dengan sumpit logam yang berujung pipih, karena saya biasanya makan dengan sumpit kayu yang ujungnya kotak lebar. hehehe…. sempat sedikit melukai bibir saya nih,,,, tapi ada rasa bangga ketika saya menolak untuk menerima sumpit kayu, dan lalu menggunakan sumpit sendiri yang bisa dicuci dan dipakai ulang. Bangga karena saya berkontribusi untuk mencintai lingkungan ini.

Hmmm, next time kalau beli roti untuk sarapan sepertinya langung dimasukin ke ompreng aja kali ya,,, biar gak usah dibungkus plastik,,,, baru kepikiran nih…

Setiap hari, saya mikir apa lagi ya yang bisa saya lakukan untuk mencintai lingkungan ini. Dan selalu ada ide-ide baru yang muncul.. Walaupun dipandang aneh oleh para kasir yang bertransaksi dengan saya, tapi saya senang melakukan ini,,, ini salah satu bentuk untuk mengurangi rasa berdosa saya pada lingkungan yang saya tinggali…

Cuma masih ada satu kendala nih… saya belum bisa hemat tissue…. Saya menggunakan tissue untuk banyak hal, mulai dari hal yang bersih sampai yang paling gak bersih… dan susah untuk mencari substitusinya…. secara saya orangnya sok apik gitu,,,hehehe,,, Ada yang punya ide?

Beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan teman seruangan saya di tempat kerja. Menurutnya pemerintah kita kurang peduli dengan lingkungan, buktinya gak ada aturan tegas untuk masalah pelestarian lingkungan dan pembuangan sampah yang makin gak terkendali. Hmmm,,, mungkin bener juga sih yang dia bilang. Tapi saya jawab, kenapa gak mulai dari diri kita sendiri? Dia bilang, kalau hanya kita sendiri percuma saja,,, satu orang yang peduli lawan seisi dunia yang nggak peduli, pasti bakal kalah dan sia-sia kan?

Iya sih,,, tapi bukankah semua harus dimulai dari diri kita sendiri ya? Kebiasaan positif yang kita mulai mungkin bisa menginspirasi dan menular ke orang lain kan? Saya yakin ada banyak orang yang peduli dengan kelangsungan hidup bumi ini, hanya saja selama ini mereka pun berpikir bahwa mereka sendirian saja dan tak bermakna… 

Saya ingat sebuah iklan di DaAi TV yang isinya adalah seorang pemuda yang membuang bekas botol air mineralnya ke tanah, dan diikuti olah orang lain yang berpikiran sama. Perilaku “saya juga” ini bisa berefek negatif, karena ketika kita melihat satu contoh yang tidak baik (misalnya membuang sampah sembarangan), kita akan beranggapan bahwa itu boleh untuk ditiru (apalagi jika tak ada aturan yang melarang dengan tegas), dan kalau semua orang berpikir begitu, mau jadi apa bumi kita?

Nah, sekarang kalau yang terjadi adalah sebaliknya, dengan memulai dari diri kita yang bertekad bahwa saya akan membuang sampah di tempatnya,,,, siapa tahu perilaku “saya juga” yang positif bisa diikuti orang lain. Dengan melihat lingkungan yang bersih, sampah yang tertata di tempatnya, semoga orang lain akan enggan untuk membuang sampah sembarangan,,, Nah,,, bersih kan jadinya?

I’m starting with the man in the mirror…
I’m asking him to change his ways…
And no message could have been any clearer…
If you want to make the world a better place…
Take a look at yourself, and then make a change,,,,

(The Man In The Mirror – Michael Jackson)

 Mulailah dari dirimu sendiri… Sebetulnya itu pesan utama dari lagunya si MJ… kalau kita mau mengubah dunia menjadi lebih baik, maka kita harus mulai dengan satu langkah sederhana : mengubah diri kita dulu untuk menjadi pribadi yang lebih baik! 

Monggo disharing cerita peduli lingkungannya,,, biar saya makin semangat nih mencintai bumi ini,.,

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s