Serpihan Cerita dari Cambodia : Kangen Phnom Penh….

Saya baru saja selesai membaca buku Life Traveller karyanya Windy Ariestanty. Di dalam buku itu, saya menemukan cerita tentang Marjolein, si tour guide asal Paris yang mencintai dan merindukan indonesia…. Dan pertanyaan dari sang penulis tentang kapan terakhir kalinya ia merasa rindu pada suatu tempat, yang menggebu, tanpa alasan yang jelas, namun merasa seperti ingin hendak pulang ke rumah…

Dan sepertinya saya sedang merasakan rindu itu,,, Saya rindu pada kota Phnom Penh…

WHAT?!!! I know, you will think that I am an abnormal girl, yang merindukan Phnom Penh dan bukan tempat lain yang lebih wah….And if you ask me why do I miss that city? I can’t give you an answer,,, because I don’t know the reason…

OK, now you can call me crazy…

Ketika saya memutuskan untuk menabung dengan giat supaya bisa pergi ke Kamboja, hampir semua orang menggeleng-gelengkan kepala mereka, Why did you choose Cambodia? Why not Thailand, Malaya, Phillipines, or Europe?

And I didn’t know how to answer that question…

Dan seperti saya sudah ceritakan pada kisah sebelumnya, bukan Angkor yang memanggil saya ke Kamboja, tapi Phnom Penh dengan segala sejarah gelapnya di masa silam… Kenapa? Lagi-lagi saya tak bisa jawab alasannya.

Memang ada apa di Kamboja sih? itu pertanyaan ibu saya… saya jawab ada Angkor (dengan lantang), lalu ada banyak kuil cantik (masih lantang), Tuol Sleng (mulai lirih) dan killing field (nyaris tak terdengar). Saya yakin jika saya menempatkan dua destinasi terakhir itu menjadi urutan pertama yang diucapkan dengan lantang, saya akan dicap gila, bahkan oleh ibu saya sendiri… hahaha….

Tuol Sleng Genocide Museum
Tuol Sleng Genocide Museum
Gerbang Choeung Ek
Choeung Ek Genocidal Center

Entah kenapa, saya begitu tertarik dengan hal yang berbau genocide dan holocaust… Mungkin saja (kalau anda percaya reinkarnasi), pada kehidupan sebelumnya saya adalah salah satu korbannya, atau salah satu pelakunya? Saya juga gak tahu, pokoknya saya tertarik dengan kedua hal itu…

Pokoknya jangan tanya kenapa Kamboja, khususnya Phnom Penh menjadi prioritas utama saya sejak pertama kali saya punya passport… karena saya lagi-lagi tak punya jawabannya….

Bisa menginjakkan kaki di Phnom Penh membuat hati saya bersorak. Kelelahan setelah meringkuk hampir 10 jam di atas sleeping bus sirna sudah, namun hanya 1 jam saja saya singgah disini, karena saya harus melanjutkan perjalanan ke Siem Reap. Di atas bus dalam perjalanan menyusuri sisi luar kota Phnom Penh menuju Siem Reap, saya membayangkan hal gila : saya akan kembali lagi kesini, namun untuk tujuan “pulang”. Saya pun masih bingung dengan makna “pulang” yang terbersit di otak saya… Saya tahu rumah saya disini, di Indonesia, dan saya masih cinta banget sama Indonesia. Tapi saya juga tak mengerti kenapa kata “pulang” itu selalu hadir di pikiran saya selama saya berada di Kamboja. “Pulang ke Phnom Penh…” aneh banget sih… Namun itulah yang bercokol di pikiran saya. Saya ingin menemukan seorang sahabat disini, yang bisa menjadi tujuan saya, ketika saya “pulang” kesini suatu hari nanti… Ya,,,,”pulang” ke rumahnya,,,, dan “pulang” bersamanya….

Sebelum saya berangkat, saya bergabung di grup facebook ASEAN Community, dan mencari teman-teman asli Kamboja. Ya, tujuannya sih untuk meminta rekomendasi mereka atas rencana perjalanan saya. Kemudian untuk lebih mengenal budaya dan tujuan wisata mereka… Hingga kini masih ada satu orang yang berkontak rutin dengan saya… Dan menurut saya dia itu begitu istimewa… seorang warga asli Kamboja, namun fasih berbahasa Inggris dan Jepang… Bahkan rencananya ketika saya ke Phnom Penh saya ingin sekali berjumpa dengannya, meskipun rencana itu akhirnya batal, karena dia sedang test untuk mendapatkan beasiswa S-2 nya di Jepang… dan dalam hati saya berjanji, saya akan kembali ke Kamboja, ketika dia sudah kembali dari studinya… Berkali-kali saya memaki dalam hati, kenapa bisa jadwal testnya bareng dengan kedatangan saya disini… Selama saya di Kamboja, saya tak henti membayangkan bahwa suatu hari nanti, dialah yang akan menjadi tempat saya untuk “pulang….”

Perjalanan di Siem Reap, menikmati misteri Angkor Wat memang merupakan pengalaman hebat untuk saya. Tak pernah saya bayangkan bisa ada disini, salah satu legenda dunia… Tapi sekali lagi, Phnom Penh memanggil saya untuk segera datang kesana…. dan saya begitu tak sabar untuk segera menginjakkan kaki kembali di Phnom Penh…

Front Officenya Hostel Nomads
Front Officenya Hostel Nomads

Dan, setelah meringkuk selama 6 jam di sleeping bus dari Siem Reap ke Phnom Penh, saya sudah tak sabar ingin menjelajah kota Phnom Penh… Saya berjalan dengan penuh semangat mencari hostel yang sudah dibooking.. Dilanjut dengan half day tour ke Tuol Sleng dan Choeung Ek… Dua tujuan aneh inilah yang saya prioritaskan,,, dan ini bikin bokap bingung,,,, dari mana saya bisa tahu dua tempat aneh ini, dan bagaimana saya bisa-bisanya memprioritaskan dua tempat mengerikan ini dalam daftar destinasi saya…

Salah satu sudut Tuol Sleng
Salah satu sudut Tuol Sleng

Dan sekali lagi, anda bisa bilang saya gila….

Memorial Stupa Choeung Ek
Memorial Stupa Choeung Ek

Keanehan muncul, karena saya seperti telah mengenal detail Tuol Sleng dan Choeung Ek, mungkin karena saya sudah banyak membaca dan sudah pernah menonton tentang sejarah kedua tempat ini. Tapi sepertinya bukan itu… saya tak mengerti, dan setelah bokap bilang merasa deja vu di Choeung Ek, saya juga jadi yakin saya merasakan deja vu juga…. Malam itu, dua kali saya bermimpi bersambung tentang sebuah desa di tengah hutan yang dihujani tembakan. Lalu saya mimpi bahwa saya dan bokap sedang berupaya mencari perlindungan di kota Phnom Penh, karena ada serangan udara yang dilancarkan oleh Vietnam. Buset gak sih, mimpinya nyambung ke sejarah gitu… Dan saya mulai merasa bahwa mungkin saya memang punya ikatan yang tak bisa dijelaskan dengan kota ini…. entah apakah saya boleh percaya dengan reinkarnasi atau tidak, tapi ada yang aneh dengan saya dan kota ini,,,

Telaga yang sukses bikin deja vu...
Pematang telaga yang sukses bikin deja vu…

Dua hari satu malam yang saya lewati di Phnom Penh betul-betul membuat saya bisa tersenyum lebar meskipun saya mengalami kelelahan yang amat sangat. Menikmati keindahan Royal Palace, yang walaupun sedang ditutup karena jenazah King Norodom Sihanouk masih disemayamkan disana, mampir di Silver Pagoda, dan tanpa sadar duduk dengan santainya di depan stupa yang merupakan tempat persemayaman abu jenazah keluarga kerajaan. Berlama-lama mengitari Silver Pagoda meskipun tidak ada yang memandu…. kok betah banget ya…

Preah Tineang Chanchhaya - Royal Palace
Preah Tineang Chanchhaya – Royal Palace
Two Monks in front of The Supreme Court Building
Two Monks in front of The Supreme Court Building
Silver Pagoda (Wat Preah Keo Morokot) "Temple of The Emerald Buddha"
Silver Pagoda (Wat Preah Keo Morokot) “Temple of The Emerald Buddha”
The Sanctuary of Princess Norodom Kantha Bopha. Alias bukan sekadar stupa, tapi stupa ini adalah tempat neletakkan abu jenazah. Katanya abu dari Raja Norodom Sihanouk juga disimpan disini...
The Sanctuary of Princess Norodom Kantha Bopha. Alias bukan sekadar stupa, tapi stupa ini adalah tempat meletakkan abu jenazah. Katanya abu dari Raja Norodom Sihanouk juga disimpan disini…
Miniatur Angkot Wat di depan Silver Pagoda
Miniatur Angkot Wat di depan Silver Pagoda
Dhamasala...
Dhamasala…
Silver Pagoda...
Silver Pagoda…
The wooden reclining Buddhas
The wooden reclining Buddhas

Duduk di tepi sungai Mekong, menantikan datangnya malam dan akhirnya mendapat kesempatan untuk menyeberanginya menuju Arey Ksat… Jalan kaki menyusuri tembok Royal Palace hingga menemukan Independence Monument, Naga Casino, dan berputar hingga menikmati senja di depan Royal Palace bersama local people…

Foto King Father Norodom Sihanouk at Sihanouk Boulevard
Foto King Father Norodom Sihanouk at Sihanouk Boulevard
Independence Monument
Independence Monument
Wat Langka,,,, sepertinya stupa-stupa ini adalah tempat penyimpanan abu juga....
Wat Langka,,,, sepertinya stupa-stupa ini adalah tempat penyimpanan abu juga….
Tiba di Arey Ksat Port, Kandal Province
Tiba di Arey Ksat Port, Kandal Province
Ferry dari Phnom Penh ke Arey Ksat
Ferry dari Phnom Penh ke Arey Ksat
Ferry Port Phnom Penh - Arey Ksat
Ferry Port Phnom Penh – Arey Ksat

Memandangi para umat yang bersiap masuk istana untuk berdoa bagi sang Raja, melihat para biksu yang berkumpul di lapangan depan istana, dan melihat para penjual bunga, dupa, lilin dan cenderamata Raja.

First Sunset in Phnom Penh...
First Sunset in Phnom Penh…
Ready to pray for the king...
Ready to pray for the king…
Terima kasih,,,,,
Terima kasih,,,,,

Menyusuri jalan menuju Wat Phnom tanpa makan pagi, jalan ke pasar tradisional hanya untuk beli mie instant.. Ikut berdesakan dengan warga Phnom Penh untuk melihat cremation site bagi Raja, bahkan ikutan dimarahi oleh penjaga kemanan gara-gara pengen difoto di depan site ini dan hampir nginjek trotoar yang baru dicat,,,

Patung Daun Penh di depan Wat Phnom
Patung Daun Penh di depan Wat Phnom
Wat Phnom...
Wat Phnom…
Ternyata stupa putih ini berisi abu dari King Ponhea Yat, Raja yang memindahkan ibukota Khmer dari Angkor ke Phnom Penh
Ternyata stupa putih ini berisi abu dari King Ponhea Yat, Raja yang memindahkan ibukota Khmer dari Angkor ke Phnom Penh
Bagian dalam Wat Phnom
Bagian dalam Wat Phnom
Patung Daun Penh yang baru selesai didandani (beneran dikasih bedak, lipstik dan parfum lho....)
Patung Daun Penh yang baru selesai didandani (beneran dikasih bedak, lipstik dan parfum lho….)
I love their simplicity....
I love their simplicity….

Hunting buku di toko buku pinggiran, mampir di National Museum,,, Menyapa para biksu di belakang Wat Ounalom,,, Menemukan jalan kecil di belakang istana dan makan kelapa muda di warung kecil,,,,

Arjuna dan Krisna di depan Wat OunaLom
Arjuna dan Krisna di depan Wat OunaLom
Wat OunaLom
Wat OunaLom
National Museum... Cantiknyaaa....
National Museum… Cantiknyaaa….
Masih di National Museum,,,
Masih di National Museum,,,
Statue of King Jayavarman?? lupa....
Statue of King Jayavarman?? lupa….
Naga...
Naga…
...dan Garuda... pada dasarnya mereka ini bermusuhan, namun jika mereka muncul bersamaan maka menjadi lambang perdamaian dan harmonisasi...
…dan Garuda… pada dasarnya mereka ini bermusuhan, namun jika mereka muncul bersamaan maka menjadi lambang perdamaian dan harmonisasi…

Duduk beralaskan koran di depan Royal Palace,, dikelilingi burung merpati menjelang senja…

How I miss this moment....
How I miss this moment….

Itu semua membawa sensasi yang luar biasa di hati saya. Membawa senyum saya pada lengkungan yang paling sempurna. Saya seperti merasa ada di rumah, meskipun dikelilingi oleh wajah-wajah asing dan pemandangan yang tak lazim… Ya, saya merasa nyaman ada di kota ini… saya ingin duduk lebih lama di setiap sudutnya, saya ingin berjalan lebih jauh lagi ke seluruh pelosoknya… saya ingin menghabiskan waktu yang lebih panjang lagi…. tapi itu semua tak bisa saya lakukan… disinilah, saya merasa kaki saya tak pernah lelah berjalan, dan merasa betapa cepat waktu berputar,,,,

Cremation Site for King Father Norodom Sihanouk
Cremation Site for King Father Norodom Sihanouk
ikutan berjubel di depan cremation site....
ikutan berjubel di depan cremation site….
ngintip bagian dalam cremation site....
ngintip bagian dalam cremation site….
The final touch for the cremation site...
The final touch for the cremation site…

Ketika malam akhirnya datang, saya harus beranjak pergi dari sini… Saya menatap Wat Phnom yang disinari cahaya putih,, Tanpa terasa, saya merasa dada saya sesak seperti ingin menangis… Saya belum rela untuk beranjak pergi…

Saya berjanji,,, saya akan kembali,,, walaupun belum tahu kapan dan bagaimana caranya…

Sepulang saya dari Kamboja, saya masih tetap memonitor setiap hal yang terjadi di sana. Mulai dari prosesi kremasi Raja Sihanouk dan berita-berita lainnya, hingga pemilu yang berlangsung pada bulan Juli lalu. Jujur saya bukan orang yang peduli politik, namun saya begitu peduli ketika muncul berita bahwa Sam Rainsy mendapat pengampunan dari Raja, begitu juga ketika hasil pemilu keluar, saya begitu ingin tahu hasil akhirnya. Dan saya begitu merasakan kekhawatiran ketika tahu minggu lalu ada ancaman bom di depan gedung parlemen dan Wat Phnom, dan yang lebih membuat saya khawatir adalah demo besar-besaran karena pihak oposisi menganggap hasil pemilu itu diwarnai dengan kecurangan. Saya begitu sedih mendengar Raja Norodom Sihamoni memohon agar tidak terjadi kekerasan di sana. Dan saya amat geram ketika rencana perundingan yang dimediasi oleh Raja Sihamoni hanya berlangsung selama 20 menit dan tidak memberikan hasil positif, bahkan ditinggal WO..

Dan baru kali ini saya berdoa untuk perdamaian bagi negara lain.. Ya, saya mendoakan Kamboja, saya mendoakan Phnom Penh, saya mendoakan Raja Sihamoni dan keluarganya… Saya berdoa agar sejarah gelap mereka di masa lalu tidak berulang lagi…. saya tak rela jika Phnom Penh harus kehilangan keindahannya karena masalah politik,,, Saya berdoa semoga mereka sadar betapa indahnya kota mereka, sehingga mereka tidak merusaknya karena egoisme satu kelompok saja,,,

And once again, you can call me crazy…

Dan sepulangnya dari sana, entah mengapa (banyak sekali kata “entah mengapa” pada tulisan ini) saya merasa tak rela jika ada yang menjelek-jelekkan Kamboja… Ketika tante saya bilang Bangkok itu “biasa banget”, saya tidak protes walaupun menurut saya Bangkok itu “sangat luar biasa”. Tapi ketika ada yang bilang Kamboja itu “gak ada apa-apanya”, saya langsung melancarkan serangan sekaligus pertahanan berupa bukti-bukti bahwa ada banyak sekali hal yang luar biasa disana… (dan sekarang saya punya pendukung,,, sapa lagi kalo bukan bokap…)

Ketika teman saya (yang saya tahu tidak punya rasa cinta dengan kisah sejarah) merencanakan untuk travelling ke Phnom Penh, saya langsung serta merta melarang dia untuk ke Phnom Penh, saya tidak mau dia menjelek-jelekkan Kamboja, khususnya Phnom Penh. Saya bilang jika ia tak peduli dan tak cinta dengan sejarah, sebaiknya tak usah datang ke Kamboja, karena ia pasti hanya membawa komentar negatif tentang Kamboja dan Phnom Penh… dan saya tidak rela mendengarnya,,,,

Parah banget yaa.,,,, Phnom Penh Obsession Syndrome….

sekarang saya jadi fansnya Sinn Sisamouth....
sekarang saya jadi fansnya Sinn Sisamouth….

Saya betul-betul rindu Phnom Penh, saya rindu senja di halaman Royal Palace, saya rindu suasana pagi di Wat Phnom, saya rindu dengan mie di sudut jalan dekat pasar, saya rindu dengan mie instant Kamboja, saya rindu dengan pemandangan Mekong, bahkan saya rindu dengan Tuol Sleng dan Choeung Ek… saya rindu segalanya tentang Phnom Penh…

Saya ingin pulang kesana…. apakah saya bisa memanggil Phnom Penh dengan sebutan “home” ?

tunggu aku,,,, aku akan "pulang"....
tunggu aku,,,, aku akan “pulang”….

Saat kangen sudah tak terbendung, sementara belum punya cara untuk “pulang” kesana, maka yang bisa saya lakukan adalah memandang lagi foto-foto ketika di  Phnom Penh, memajangnya di facebook, memasangnya menjadi desktop background, browsing berita terupdate tentang kondisi di sana,,, dan pada akhirnya ketika benar-benar rasa rindu sudah mencapai tahap akut, maka saya mulai “mengganggu” teman facebook saya yang asli Kamboja itu… meski hanya sekadar menanyakan bagaimana kabarnya, bagaimana studinya, atau berbicara apapun tentang Kamboja…. Yaa,,, ada sedikit rasa terobati sih,,, namun tetap saja, rindu itu datang dan datang lagi,,,,

Hmm, sepertinya saya harus mulai menabung lagi untuk bisa pulang kesana…


8 thoughts on “Serpihan Cerita dari Cambodia : Kangen Phnom Penh….

  1. so I got a sista! you’re not alone… yihaaa…. sangkain saya saja yang ‘gila’ cambodia!
    Kalau dirimu merasa pulang di PP, saya merasa pulang di Angkor Wat. Asli, kaki melangkah seperti di rumah sendiri padahal itu baru pertama kali ke angkor. Pada tahun 2011 saya bisa tiap 3 bulan ke SR-PP, and recharge kesana kalo bisa yearly…😀

    1. Ahayyy… I am not alone… I am so happy to find you….🙂
      Wow… mbak pernah tinggal di Kamboja? Pasti asyik bangeeeet… aku udah pengen balik ke PP n SR tapi tabungan dan cuti belum memadai nih.. padahal udah kangennn banget… serasa ingin pulang… hehehe…
      satu hal yang pengeeeen bangeeet aku rasain adalah di PP pas ultahnya Raja Sihamoni… uuh…kapan ya bia kesampean….

      1. Kan ultahnya minggu depan…? Biasanya hanya ada fireworks depan Royal Palace, kalaupun ada peringatan biasanya internal di dalam istana
        BTW, aku ga pernah tinggal di Kamboja cuma sering aja bolak balik (kan rumah? :D) Kita email-emailan aja ya, mau cerita banyak niiih..

      2. Lhah? Jadi belum pernah ke RP? Ga boleh foto sih didalam, tetapi rekam pakai mata dan pikiran, luarbiasa deh…
        BTW – aku sdh email yaaa…

      3. belum, mbak…waktu itu pas jenazahnya King Sihanouk disemayamkan, jadinya ga boleh masuk… Tadinya aku sama bokap udah niatin mau ikutan masuk sama warga yang berdoa, tapi ternyata dari kostum aja kita udah ngga lolos…mereka rapi2 pakai atasan putih dan bawahan hitam.. belum lagi kalau diinterogasi ama petugasnya…waduh… bisa mendadak pingsan…. hehehe…

  2. I can feel your deepest love to this country.. wow.. amazing..
    Mungkin di kehidupan lampau..celina ratu kamboja..atau biksu. Atau mungkin warga yg sangat cinta rumahnya..
    We never know… 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s