Pendahuluan Kisah Para Rasul : Sumber dan Tujuan Penulisan

SUMBER TULISAN KISAH PARA RASUL

Dengan meyakini bahwa Kisah Para Rasul ditulis menjelang akhir abad pertama, maka pastilah Lukas ini termasuk dalam murid-murid Yesus generasi kedua atau ketiga yang tidak mengalami dan menyaksikan Yesus ketika masih berkarya di dunia. Oleh sebab itu, sebagian besar karyanya bergantung pada mereka yang menjadi saksi mata, yakni para murid generasi pertama. Para ahli menyimpulkan bahwa ada beberapa sumber yang digunakan Lukas sebagai sumber untuk tulisannya :

  • Tradisi

Bagian awal Kisah Para Rasul terdiri dari serangkaian cerita pendek yang dapat berdiri sendiri dan memiliki corak masing-masing. Cerita-cerita yang saling terkait dihubungkan oleh penulis dengan menyisipkan rangkuman-rangkuman. Cerita-cerita itu tampaknya tidak seluruhnya diciptakan oleh penulis, namun merupakan cerita yang telah beredar di kalangan para pengikut Yesus, dan penulis pun mendengar serta mengetahui tentang cerita-cerita itu. Dalam bagian berikutnya, sebelum Kis 16:10 yang berupa kisah perjalanan, pastilah bukan sekedar hasil imaginasi penulis karena ada begitu banyak detail yang disebutkan di dalamnya.

Maka bisa dipastikan penulis mengambil bahannya dari tradisi yang beredar pada masanya, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis. Tradisi ini mungkin dikumpulkan dari para tokoh yang dikisahkan dalam Kisah Para Rasul. Atau juga mungkin dari jemaat Yerusalem, Antiokhia, Ikonium, Listra, Derbe. Tradisi Kristen percaya bahwa sumber utama pewartaan Lukas adalah Paulus, yang begitu dekat dengan Lukas dan bersama-sama melakukan perjalanan ke Makedonia. Meskipun demikian, bukan tidak mungkin sang penulis menambahkan juga pengolahan dan menambahkan ceritanya sendiri, dan kini hampir tidak mungkin untuk memisahkan mana yang merupakan bahan tradisi dengan ciptaan si penulis.

  • Khotbah dan Nasehat

Sebagian besar isi kitab ini adalah khotbah dan nasehat yang diberikan oleh tokoh-tokoh yang berbeda-beda. Ada delapan khotbah Petrus, sembilah khotbah Paulus, dan satu khotbah dari masing-masing tokoh berikut : Stefanus, Yakobus, Gamaliel, Demetrius, Panitra kota Efesus, Advokat Tertulius dan walinegeri Festus. Adapun isi khotbah-khotbah itu adalah sebagai berikut :

1. Penginjilan: kepada orang Yahudi atau orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan (Kis. 2:14-40; 3:12-26; 4:8-12; 5:29-32; 10:34-43; 13:16-41) maupun kepada orang-orang kafir (Kis. 17:22-31).

2. Pengumuman (deliberative): yaitu khotbah yang menyampaikan keputusan atas persoalan yang terjadi dalam Gereja (Kis. 1:16-17,20-22; 15:7-11, 13-21).

3. Pembelaan (apologetic): yaitu khotbah yang membela pemberitaan Injil kepada orang yang belum menerima Injil (Kis. 7:2-52; 22:1-21; 23:1-6; 24:10-21; 25:8 & 10; 26:2-23; 28:17-20, 21-22, 25-28).

4. Dorongan (hortatory): yaitu kotbah yang memberi dorongan dan dukungan kepada anggota dan pemimpin Gereja (Kis. 20:18-35).

Khotbah-khotbah ini menimbulkan kesinambungan dalam karya ini, sekaligus mengungkapkan pandangan, penilaian dan penafsiran penulis atas peristiwa yang diceritakan, yang sesuai dengan isi khotbah itu. Satu hal yang perlu dipertanyakan : darimanakah Lukas memperoleh khotbah-khotbah itu? Jelas tidak mungkin ia mencatat atau merekam khotbah yang disampaikan oleh para tokoh. Mungkin Lukas memiliki beberapa khotbah dalam bahan yang ia kumpulkan, namun dalam tradisi penulisan Yunani, seorang penulis sejarah harus menuliskan kembali khotbah tersebut dengan kata-katanya sendiri untuk menjamin bahwa seluruh buku karyanya memiliki gaya bahasa yang sama. Bahan khotbah yang ia miliki kemudian disusun sesuai dengan situasi yang sedang ia ceritakan. Maka khotbah Petrus dalam Kis 2 14-40 memiliki kemiripan dengan khotbah Paulus pada Kis 13 :16-47, yakni tentang pemberitaan tentang Yesus yang ditolak orang Yahudi namun dibangkitkan Allah, lalu disusul dengan ajakan untuk bertobat dan percaya. Hal ini menunjukkan kemahiran Lukas dalam menyusun khotbah yang sungguh kena dengan situasi yang ingin ia tekankan. Mungkin juga penulis menyusun khotbah dengan bantuan tradisi tua yang beredar pada masa itu.

TUJUAN PENULISAN KISAH PARA RASUL

Seperti telah dijelaskan pada bagian pertama, Kisah Para Rasul melanjutkan kisah mengenai Yesus dalam Gereja Perdana. Namun sebaiknya dipandang bahwa Lukas bukanlah seorang penulis sejarah, namun sebagai seorang pemimpin rohani, yang menulis untuk membangun iman pembacanya. Maka jangan memandang Kisah Para Rasul sebagai kitab sejarah, melainkan pandanglah sebagai teologi naratif atau katekese naratif. Gagasan utama Kisah Para Rasul ialah: “BERSAKSI BAGI KRISTUS”, dan ayat kuncinya ialah. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”. Ayat ini menyatakan bahwa saksi-saksi Kristus diutus, diberi perlengkapan rohani dan daerah misi mereka.

Dalam pembukaan injil Lukas, Lukas menjelaskan bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepada Teofilus sungguh benar. Ungkapan sungguh benar ini menunjuk pada dua hal. Yang pertama “benar” yang menunjuk kepada akurasi fakta yang diungkapkan sang penulis. Sedangkan “benar” yang kedua menunjuk pada kebenaran janji-janji Allah. Lukas menunjukkan kepada pembacanya bahwa semua peristiwa dan perkembangan yang terjadi adalah pemenuhan janji Allah bagi Bangsa Israel. Ada kaitan antara nubuat dalam perjanjian lama terhadap apa yang terjadi pada Yesus dan Para Rasul. Kematian Yesus dijelaskan sebagai sesuatu yang harus terjadi sebagai pemenuhan rencana Allah. Juga para rasul dan misionaris lain menyebarkan injil sesuai dengan rencana Allah. Allah, melalui Roh KudusNya aktif dalam semua peristiwa yang mereka alami. Para murid dapat merencanakan perjalanan mereka, namun mereka tidak mendapat apa-apa jika tanpa bimbingan Roh Kudus. Tuhan, melalui Roh Kudusnya kadang mengubah rencana para misionaris ini, mengalihkan mereka dari satu jalan ke jalan yang lain, ke tempat-tempat dimana injil harus diberitakan.

Lukas juga berusaha menguatkan iman pembacanya dengan menunjukkan bahwa Injil Yesus tidak dapat dihambat oleh kesulitan dan penganiayaan. Injil berhasil dibawa hingga ke ujung bumi (kota Roma) atas bimbingan Roh Kudus. Ini harusnya menjadi kebanggaan bagi orang Kristen. Segala kesulitan dan penganiayaan yang dialami para murid telah diubah menjadi berkat yang membuat injil tersebar dengan luas. Di dalam Kis 14:22 dituliskan bahwa sekalipun banyak kesengsaraan, kita harus tetap memberitakan Kerajaan Allah. Allah tidak akan meminta kita untuk melakukan sesuatu tanpa memberikan kita kemampuan melakukan sesuatu tanpa memberikan kita kemampuan untuk melakukannya dengan baik.

Selain itu, Lukas juga ingin menjelaskan mengenai jati diri orang Kristen perdana. Jika mereka didirikan oleh Mesias orang Yahudi, maka mereka juga diandaikan menerima janji yang diberikan Allah kepada para Bapa Bangsa Yahudi. Namun mengapa banyak orang Yahudi yang tidak percaya pada Kristus? Apakah janji Allah tidak digenapi bagi mereka? Mengapa Bangsa Yahudi mengalami nasib buruk?

Pada awalnya, pengikut Yesus dianggap sebagai salah satu sekte Yudaisme (Kis 24:14), namun mulai muncul kerancuan ketika kelompok ini mulai mengakui orang non Yahudi sebagai sama-sama pengikut Kristus tanpa harus menjadi Yahudi (tanpa harus disunat). Muncul juga pertanyaan bagaimana hubungan antara kelompok ini dengan Yudaisme induk. Kisah Para Rasul mencoba menjawab masalah-masalah tersebut. Kitab ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada Yesus dan Gereja perdana adalah sesuai dengan rencana Allah pada perjanjian lama. Allah menghendaki pemulihan kembali Bangsa Israel dan juga berkat bagi semua bangsa melalui Kristus. Kisah Para Rasul menekankan bahwa orang Kristen yang tidak anti Yahudi adalah lanjutan dan penggenapan rencana Allah mengenai umat pilihanNya.

Ada kesan bahwa Kisah Para Rasul ditulis sebagai pembelaan terhadap agama Kristen. Kisah Para Rasul memperlihatkan bahwa agama Kristen tidak membahayakan negara dan pantas didukung oleh pemerintah. Hal ini didukung oleh catatan sejarah, dimana pada akhir abad pertama, mulai ada rasa curiga dan ancaman dari pihak Roma. Menurut Kisah Para Rasul, orang Yahudi menimbulkan kesulitan dan penganiayaan bagi para pengikut Kristus, dan para pejabat Roma malah bersimpatik kepada orang Kristen ini. Maka semua memperlihatkan bahwa orang Kristen tidak perlu dicurigai oleh negara. Perlu dicatat bahwa kitab ini tidak ditulis untuk kalangan di luar lingkup Kristen. Dapat disimpulkan bahwa kesan pembelaan ini bertujuan untuk meyakinkan para pengikut Kristus bahwa menjadi pengikut Kristus tidak berarti murtad terhadap pemerintahan Romawi. Tidak ada larangan langsung mengenai penyembahan kaisar dan dewa-dewa, meskipun ada pesan : “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” (Kis 5:29).

Bagi umat Kristen saat ini, Kisah Para Rasul adalah bagian dari kitab suci, yang menunjukkan bagaimana Allah bertindak terhadap umatNya, juga memberikan contoh kehidupan Kristen yang berkenan bagi Allah, seperti yang dilakukan oleh jemaat Gereja Perdana. Lukas menawarkan sebuah gambaran tentang kehidupan dan ibadah gereja yang tidak ragu sebagai sebuah pola untuk menyediakan petunjuk bagi gereja sekitarnya. Kita mendapatkan gambaran tentang persekutuan kelompok-kelompok kecil dalam pengajaran, pemuridan, ibadah, dan perjamuan. Hal-hal ini terdapat di dalam ringkasan singkat pada bagian awal Kisah Para Rasul. Lukas juga mencatat bahwa pentingnya peranan Roh Kudus di dalam kehidupan gereja. Roh Kudus merupakan milik dari setiap orang Kristen. Selain itu, Roh Kudus menjadi sumber sukacita dan kekuatan. Pemimpin-pemimpin Kristen sendiri merupakan orang-orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus untuk menunjukkan fungsi-fungsinya yang bermacam-macam.

BACA JUGA :

Pendahuluan Kisah Para Rasul : Garis Besar Isi Kitab https://celina2609.wordpress.com/2013/11/02/pendahuluan-kisah-para-rasul-garis-besar-isi-kitab/
Pendahuluan Kisah Para Rasul : Masa Penulisan dan Teknik Penulisan https://celina2609.wordpress.com/2013/11/02/pendahuluan-kisah-para-rasul-masa-penulisan-dan-teknik-penulisan-2/
Pendahuluan Kisah Para Rasul : Siapakah Penulis Kisah Para Rasul https://celina2609.wordpress.com/2013/11/02/pendahuluan-kisah-para-rasul-siapa-penulis-kisah-para-rasul-2/

DAFTAR PUSTAKA

Bergant, Dianne CSA dan Robert J Karris, OFM. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, Jakarta : Lembaga Biblika Indonesia

Groenen, C, 1984. Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama, Yogyakarta : Kanisius

Handojo, Agoes, 2013. Materi Kisah Para Rasul, Karawaci.

Handojo, Agoes, 2013, Injil Lukas; Pengantar Umum, Karawaci.

cddprov.blogspot.com/2011_03_24_archive.html; Kepekaan Akan Kehadiran Allah oleh Fr. Petrus Ruslan Suban Diaz CDD.

www.yabina.org/RENUNGAN/09/RJuni; Misi & Agama Lain.

lead.sabda.org/files/atitude02.htm; Sarana Dialog Dalam Pekabaran Injil

http://www.abbalove.org/index.php?option=com_flippingbook&view=category&layout=thumbnails&id=2&Itemid=26

http://en.wikipedia.org/wiki/Kisah_Para_Rasul

http://www.sarapanpagi.org/kisah-para-rasul-vt124.html

http://www.sabda.org/sejarah/artikel/pendahuluan_kitab_dalam_alkitab_kisah_rasul.htm

http://www.sabda.org/sejarah/artikel/pengantar_full_life_kisah_rasul.htm

http://www.sabda.org/sabdaweb/biblical/intro/?b=44&intro=pintisari

http://mangkecompany.net78.net/index_files/Page1831.htm

gkysydney.org/renungan-gema-2011/pemdekatan-misi-paulus.html

Seluruh kutipan ayat kitab suci dalam paper ini dikutip dari Alkitab Deuterokanonika © LAI 1974, LBI 1976.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s