….

Aku tahu saat ini ia sedang tertekan… Ada banyak masalah dan kekhawatiran dalam hati dan pikirannya. Namun ia begitu cerdas bisa menyembunyikan semua itu dalam tawanya, dalam candanya, dalam cerianya.
Ia bisa menutupi perasaannya itu pada teman-temannya, namun ia tak bisa menyembunyikan itu semua dariku.
Aku melihat semuanya tanpa perlu ia berkata sepatah katapun. Aku tahu bahwa sebetulnya ia sedang berusaha keras menahan tangis dan amarahnya. Aku tahu ia hanya berpura-pura kuat, padahal ia adalah gelas rapuh dengan banyak retakan. Satu sentuhan saja bisa meremukkannya menjadi kepingan.
Aku melihatnya melamun, melihatnya tertidur, menenggelamkan dirinya pada sebuah buku tebal. Ia mencoba melarikan dirinya, mencoba bersahabat dengan dirinya sendiri. Tapi ia gagal, ia tidak bisa menyembuhkan luka hatinya dengan semua cara itu.
Ia membutuhkan seseorang untuk memeluknya, dan sebuah bahu untuk menyandarkan kepalanya yang begitu berat. Ia ingin menangis, melampiaskan semuanya. Tapi ia tak bisa. Karena ia hanya sendirian. Ia tak ingin sendiri, tapi takdir selalu membuatnya sendiri. Ia membutuhkan seseorang untuk berbagi, tapi tak ada yang datang padanya.
Ah, andai saja aku bisa duduk di sampingnya, akan kutarik tubuhnya mendekat, dan kubiarkan ia bersandar di bahuku, akan kurangkul dirinya erat agar ia bisa menangis puas, tanpa ragu, tanpa malu.. Andai saja.. aku bisa berpindah ke dimensinya, andai saja aku masih bisa menyentuhnya, andai saja aku masih bisa berbagi nafas dengannya…
Tapi…
Aku tak bisa.. dan tak akan pernah bisa…
Andai aku bisa…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s