Hal Kekhawatiran

Salah satu ayat  kitab suci yang begitu mengesankan dan menggema dalam kehidupan saya adalah : “Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat 6:27).

 

Itu adalah sabda Yesus kepada orang banyak sebagai bagian dari khotbah di bukit (Mat 5:1 ~ 7:29), yang berisi pernyataan dari prinsip-prinsip kebenaran iman. Ayat ini terletak dalam perikop mengenai Hal Kekhawatiran (Mat 6:25-34). Dalam perikop ini, Yesus berkata “jangan khawatir”, hingga sebanyak empat kali. Jangan khawatir ini sesungguhnya bukanlah larangan untuk mengantisipasi dan merencanakan masa depan, namun lebih kepada larangan untuk khawatir mengenai kebutuhan sehari-hari. Yesus menunjukkan bahwa hidup yang telah diberikan kepada manusia jauh lebih penting daripada hal-hal duniawi. Allah telah memberikan hidup kepada manusia, maka Allah pasti memelihara manusia itu. Dan pastilah Allah bisa diandalkan untuk memperlengkapi manusia dalam setiap langkah hidupnya.

Pada ayat 27 ini, dikatakan bahwa kekhawatiran tidak dapat menambah sehasta saja pada jalan hidup. Hasta adalah satuan panjang, yakni sekitar 18 inci. Dalam alkitab bahasa Yunani, ayat ini dapat diterjemahkan sebagai “menambah sehasta saja pada tinggi tubuhnya”, yang menunjuk pada pertumbuhan badan (penambahan tinggi badan), dan sesungguhnya lebih cocok dengan isi perikop yang menyinggung soal makanan. Makanan diperlukan untuk pertumbuhan badan (menambah tinggi badan),  namun dalam terjemahan Bahasa Indonesia, sehasta itu digunakan sebagai ukuran waktu. Tapi maknanya sama, kekhawatiran tidak akan menambah apapun dalam kualitas hidup kita, baik secara fisik, maupun secara psikis.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kekhawatiran adalah takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yg belum diketahui dengan pasti. Ada banyak sinonim yang menggambarkan kata khawatir ini, antara lain asan tak asan, berwalang hati, bimbang, bingung, buncah, cemas, empot-empotan, galau, gamam, gamang, gelisah, gerun, harap-harap cemas, jeri, kacau, karut, kusut, ngeri, nyanyang, prihatin, pusang, renyang, resah, risau, rusuh, samar, selempang, takut, dan was-was. Kekhawatiran dan ketakutan adalah suatu respon yang normal atas situasi yang mengancam. Tidak ada seorang pun yang dapat terbebasdari kekhawatiran, dan bisa dikatakan bahwa setiap orang sesungguhnya hidup dalam kekhawatiran. Jika ada orang yang berkata bahwa ia tidak khawatir dengan apapun, maka bisa dipastikan bahwa orang itu hidup dalam penyangkalan dan kepura-puraan.

Perasaan khawatir ini biasanya terkait dengan pikiran-pikiran negatif atas sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan.  Merasa khawatir berarti merasa takut, cemas, bingung, dan akibatnya pikiran menjadi terbagi-bagi. Sebuah penelitian di bidang psikologi mengatakan bahwa 40% kekhawatiran kita adalah mengenai hal-hal yang tidak akan terjadi, 30% kekhawatiran mengenai hal-hal yang sudah terjadi, 12% kekhawatiran kta mengenai kesehatan, dan 10% kekhawatiran kita adalah mengenai keresahan sehari-hari. Jadi, 92% kekhawatiran kita adalah sebenarnya tidak berdasarkan pada alasan yang kuat. Dan khawatir itu sama sekali tidak memberikan solusi atas segala sesuatu. Menurut ilmu kedokteran, kekhawatiran dapat memicu stress yang berujung pada penyakit yang malah dapat mengurangi kualitas hidup.  Kekhawatiran dapat mengarah pada kekosongan fisik, penyakit, gangguan psikologis, kehilangan logika berpikir, bertindak yang tidak masuk akal, dan mengacaukan hubungan antarpribadi. Penyakit yang sering muncul pada seorang yang khawatir berlebihan antara lain gangguan lambung, kanker, penyalahgunaan obat, narkotika dan alkohol.

Terkadang (dan seringnya), saya sering sekali membayangkan skenario terburuk yang akan terjadi dalam suatu kondisi. Dan setelah saya renungkan kembali, hampir dalam setiap ruas hidup, saya begitu khawatir. Sejak kecil dulu, saya terkenal sebagai seorang yang perfeksionis, dan mungkin itulah yang memang dituntut dari diri saya. Dan akibatnya, saya harus berusaha mencapai nilai yang sempurna, membuat segala sesuatu tanpa cela, tidak mau terlihat bodoh, tidak mau rencana saya gagal, tidak mau dipermalukan, tidak mau dicap buruk, tidak mau dituduh bersalah, takut dikhianati, takut ditinggalkan, takut menyusahkan, takit membebani, takut menyakiti, dan takut menyusahkan orang lain, dan sebagainya. Tak hanya dalam pekerjaan, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari, dalam relasi dengan teman-teman, bahkan dalam karya pelayanan di Gereja. Alhasil, saya seringkali merasa tertekan dan stress, bahkan seringkali merasakan putaran waktu yang begitu panjang. Sering pula saya bertanya pada diri saya sendiri, mengapa saya tidak bisa santai menjalani hidup, tidak seperti teman-teman saya yang lain? Bahkan saya seringkali menyeret teman-teman saya ke dalam pusaran kekhawatiran saya.

Kekhawatiran terbesar dalam hidup saya terjadi di dalam lingkungan pekerjaan. Dalam bekerja sehari-hari, saya harus berkoordinasi dengan banyak divisi, dan saya termasuk sebagai salah satu yang paling junior di lingkungan kerja saya. Secara otomatis, ada begitu banyak orang yang memandang sebelah mata pada saya. Apapun yang saya kerjakan dan saya putuskan pasti dikritik dan dianggap tidak bermutu. Memang saya belum berpengalaman, dan saya tahu saya harus berusaha lebih keras dan belajar lebih banyak agar tidak direndahkan. Namun tetap saja, setiap saat saya merasa khawatir, saya takut bahwa keputusan saya salah, saya takut jika keputusan saya berefek buruk untuk divisi dan perusahaan, saya takut menghadapi para senior yang seolah-olah siap menerkam saya, dan saya merasa khawatir ada orang yang tidak menyukai saya. Oleh karena itu saya paling enggan jika harus menghadiri meeting management, yang dilaksanakan satu minggu sekali, karena saya takut apa yang saya katakan atau saya usulkan itu salah, dan mengingat tipikal atasan saya yang mudah tersulut amarah, saya begitu takut jika apa yang saya sampaikan akan “membunuh” teman-teman yang lain. Akibatnya saya selalu pasif jika harus mengikuti meeting. Beberapa kali, karena saya terlalu khawatir, saya mencoba melarikan diri dari meeting-meeting itu, dengan alasan sakit, terlambat datang karena ada keperluan pribadi (padahal saya memang sengaja bangun terlambat) agar tidak perlu mengikuti meeting. Pernah beberapa kali terjadi masalah besar di perusahaan, dan dengan konyolnya saya malah berdoa agar saya terkena penyakit supaya saya tidak perlu masuk kerja untuk menghadapi masalah itu. Dan sejujurnya, melarikan diri itu begitu melelahkan, mencari alasan pun semakin lama semakin sulit, dan setelah saya lihat kembali ke masa itu, sebetulnya saya terlihat begitu berlebihan dan bersikap kekanak-kanakkan.

Entah mengapa saya malah mendapatkan promosi yang tidak saya harapkan, dan pastinya tuntutan serta tekanan yang saya alami pun semakin besar. Rasa khawatir dan takut pun semakin bertumbuh subur dalam diri saya. Setiap hari saya awali dengan perasaan khawatir. Saya membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi pada hari itu dengan pertanyaan : “Bagaimana jika……” Setiap pagi saya selalu membuat berbagai rencana antisipasi atas hal-hal yang mungkin menimpa saya hari itu. Misalnya, jika saya tahu mood atasan saya sedang buruk, maka saya sudah merencanakan untuk menjaga jarak dari beliau agar tidak kena imbas mood buruknya itu. Mungkin bisa dikatakan, bahwa saya selalu menyiapkan senjata-senjata untuk melawan dan mengelak dari hal-hal buruk dan dari masalah-masalah yang bisa saja saya alami.  Dan sialnya, seringkali senjata yang saya siapkan tidak cocok untuk menghadapi masalah yang datang. Peluang munculnya masalah seringkali lebih besar daripada jumlah antisipasi yang saya siapkan. Memang rasa khawatir ini kadang memberi dampak positif juga, karena saya selalu bersiap-siap, maka kadang untuk masalah-masalah yang bersifat teknis, seringkali bisa ditangani dengan teori-teori yang sudah saya siapkan, namun jika yang terjadi berkaitan dengan hubungan antar manusia, dan dengan masalah sentimen pribadi, like dan dislike, itu jauh lebih sulit dihadapi oleh apa yang dikatakan buku-buku tentang kepribadian. Akhirnya saya menjadi stress sendiri.

Awalnya saya tidak sadar dengan “penyakit khawatir” itu, hingga seorang sahabat menegur saya, ketika saya berkali-kali meminta maaf padanya, karena saya merasa telah merepotkan dirinya untuk mengantarkan saya ke suatu tempat. Ia berkata : “Mengapa ada banyak hal yang kamu khawatirkan? Kamu khawatir saya sudah merasa direpotkan olehmu kan? Kamu khawatir saya marah karena kamu susahkan ya? Kamu itu kok seperti tidak menikmati hidup sih?” Kata-kata itu menohok saya, namun sekaligus menyadarkan saya, bahwa memang benar saya begitu mengkhawatirkan banyak hal, mungkin lebih banyak daripada yang dikhawatirkan orang lain bila menghadapi kasus serupa. Sekian lama saya memikirkan kata-kata teman saya itu, saya masih menyangkal dan tidak mau mengakuinya. Akan tetapi, semakin lama dipikirkan, saya malah semakin termakan dengan teguran teman saya itu.

Pada suatu hari, di sebuah toko buku rohani, saya menemukan sebuah buku berjudul “Touch Points for Women; God’s Answer for Your Every Need”, terbitan Tyndale House Publishers, Inc. Buku itu berisi jawaban-jawaban untuk menemukan apa kehendak Tuhan pada setiap kondisi yang mungkin dialami para wanita. Yang istimewa adalah jawaban-jawaban itu diambil secara langsung dari kutipan kitab suci. Buku itu bukan untuk dibaca sekaligus dari awal hingga akhir, dan juga bukan berisi hal-hal untuk dihafal, namun berisi point-point permasalahan. Pada setiap item permasalahan dibahas apa yang menjadi penyebab masalah itu, apa yang mungkin terjadi jika masalah itu tidak dipecahkan, apa kata Tuhan mengenai masalah itu, dan apa yang Tuhan janjikan bagi kita terkait dengan masalah itu. Dan semua jawaban didasarkan pada ayat-ayat kitab suci.

Pada halaman mengenai kekhawatiran, saya menemukan bahwa kekhawatiran itu adalah suatu respon normal dalam kondisi yang mengancam, namun seringkali kita berimajinasi terlalu jauh dan menciptakan sebuah skenario buruk yang mungkin terjadi, dan sebagian besar kekhawatiran itu tidak pernah terjadi. Dikatakan pula bahwa tokoh-tokoh besar dalam alkitab pun mengalami kekhawatiran, seperti Daud (Mzm 55:4), Musa (Kel 4:1), dan Yeremia (Yer 1:6). Dikatakan pula bahwa kekhawatiran dapat melahirkan dosa, karena dengan kekhawatiran yang berlebih dan tidak terkendali, kita hanya akan berpusat pada diri kita sendiri, serta apa yang harus kita lakukan, dan akhirnya mencegah Tuhan berkarya untuk menumbuhkan kehidupan kita. Pengertian kita sendiri membuat kita membesar-besarkan objek ketakutan kita dan mengecilkan kekuatan Allah. Kekhawatiran itu adalah penyalahgunaan dari kemampuan manusia untuk berimajinasi. Pada akhir bagian itu dicantumkan ayat dari Matius 6:27 (“Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” ). Dan ditambahkan pula sebuah pesan : Kekhawatiran sama sekali tidak menambah waktu dalam kehidupan, atau kualitas hidup, namun malah berpengaruh buruk pada kesehatan dan membunuh perasaan bahagia.

Kutipan Matius 6:27 itu memang sudah seringkali saya dengar, karena memang seringkali dijadikan bahan renungan harian, namun baru kali itulah saya merasa ayat ini pas sekali dengan apa yang sedang saya alami dan saya gumulkan. Ayat ini membuktikan bahwa kekhawatiran sama sekali tidak menambah waktu dan kualitas hidup saya, yang ada kekhawatiran itu dapat berdampak buruk pada kesehatan dan membunuh kebahagiaan saya. Ayat ini juga sebetulnya bersifat menantang saya, apakah saya bisa menunjukkan bahwa saya bisa menambahkan sesuatu dengan kekhawatiran itu? Dan jawabannya adalah kekhawatiran itu tidak akan mengubah apapun. Apapun yang akan terjadi, baik maupun buruk, tidak akan bisa diubah hanya dengan khawatir saja. Kekhawatiran tidak akan menghapus kesedihan di hari esok, tetapi merampas daya hidup hari ini. Dan itulah yang sering terjadi, saya sudah khawatir selama berjam-jam, namun ternyata yang saya temui adalah hal yang baik-baik saja, atau setelah saya khawatir berjam-jam, ternyata yang saya hadapi jauh lebih mengerikan daripada yang saya bayangkan. Benarlah apa yang dikatakan oleh ayat itu, bahwa kekhawatiran itu adalah sia-sia. Bahkan saya mulai sadar bahwa sakit maag saya yang tidak pernah sembuh mungkin saja berasal dari kekhawatiran saya yang berlebihan. Kekhawatiran yang tidak terkendali dapat membuat saya membentengi diri dari uluran tangan Tuhan yang siap membantu saya, karena dengan kekhawatiran itu, saya membuat begitu banyak antisipasi, yang seluruhnya hanya berdasarkan jalan pikiran manusia. Membuat rencana A, B, C, D, dst untuk melawan dan mengantisipasi hal yang terburuk, yang mungkin terjadi.

Saya menyimpan kutipan ayat dari Matius 6:27 itu dalam hati dan pikiran saya. Saya juga menuliskannya pada selembar kertas dan menempelkannya di sudut kalender di atas meja kerja saya. Setiap kali saya merasa khawatir dan takut dengan apa yang akan terjadi, saya memandang kertas itu dan membaca kutipan ayat itu berulang-ulang. Kekhawatiran dapat dilawan dengan mengingat dan mempercayai kesetiaanTuhan, sabdaNya, dan meletakkan semua kekhawatiran saya di dalam tanganNya. Jadi ketika saya mempunyai relasi yang akrab dengan Tuhan dan memiliki kepasrahan padaNya, serta kesadaran bahwa Tuhan pasti memelihara dan menjaga saya, kekhawatiran itu sedikit demi sedikit bisa saya kurangi. Saya mulai bisa memandang semua yang terjadi melalui sudut pandang positif dalam kaca mata iman. Hal buruk yang saya alami, pasti tak selamanya buruk, begitu juga dengan hal baik yang saya nikmati, tak selamanya baik.  Apapun yang terjadi pastilah Tuhan yang kehendaki. Jalan hidup saya pastilah sudah diatur Tuhan, jadi apapun yang saya alami dan rasakan pastinya adalah yang terbaik untuk saya. Kekhawatiran tidak akan mengubah apa yang sudah Tuhan rencanakan untuk saya. Saya juga belajar untuk merelakan yang telah terjadi. Begitu juga dengan masa depan yang begitu gelap tidak saya ketahui, hendaklah saya percayakan pada Allah yang maha tahu.

Kini, meskipun saya masih sering merasa khawatir dalam menghadapi pekerjaan, namun saya merasa bahwa kadar kekhawatiran saya sudah mulai rendah. Setiap kali saya menghadapi masalah, atau menghadapi rekan kerja yang sulit, saya selalu mengkomunikasikannya dengan Tuhan melalui doa, dan akhirnya saya dapat berkata pada diri saya sendiri bahwa  Tuhan jauh lebih besar daripada segala masalah yang akan saya temui. Saya juga memohon agar Ia mendampingi saya dalam mengambil keputusan sulit, agar keputusan itu baik bagi semua orang. Dan doa itu dapat menjembatani rasa khawatir dengan perasaan damai. Dan saya semakin bisa merasakan bahwa Tuhan hadir di tengah rasa khawatir dan takut saya, melalui orang-orang di sekitar saya. Dengan kadar kekhawatiran yang semakin berkurang, saya mulai merasa lebih ringan melangkah dalam menghadapi hidup. Puji Tuhan, Ia pun memberikan saya seorang sahabat yang selalu mengingatkan saya ketika kekhawatiran saya sudah tidak logis lagi.

 

*Kebetulan sekali ketika saya mencari teori tentang kekhawatiran, saya menemukan lirik lagu ini

I Know Who Holds Tomorrow

words and music by: by Ira F. Stanphill

 

I don’t know about tomorrow, I just live from day to day;

Aku tidak mengetahui apa yang akan terjadi hari esok, aku hanya menjalani hidup ini, hari lepas hari.     

I don’t borrow from its sunshine, For its skies may turn to gray.

Aku tidak meminjam apapun pada matahari di esok hari, karena besok, mungkin saja langit akan mendung.

I don’t worry over the future, For I know what Jesus said;

                Aku tidak khawatir pada masa depanku, karena aku tahu apa yang disabdakan Yesus.

And today I’ll walk beside Him, For He knows what lies ahead.

Dan hari ini aku akan berjalan bersamaNya, karena Ia yang mengetahui apa yang ada di depan sana.

 

Many things about tomorrow I don’t seem to understand;

                Ada banyak hal mengenai hari esok yang tidak kupahami.

But I know who holds tomorrow, and I know who holds my hand.

Tapi aku tahu siapa yang berkuasa atas hari esok, dan aku tahu siapa yang memegang tanganku.

 

Ev’ry step is getting brighter, As the golden stairs I climb;

                Setiap langkah menjadi lebih cerah, seperti tangga keemasan yang aku tempuh.

Ev’ry burden’s getting lighter, Ev’ry cloud is silver-lined.

                Setiap beban menjadi lebih ringan, dan setiap awan menjadi bergaris perak.

There the sun is always shining, There no tear will dim the eye;

Dan mentari selalu bersinar, tidak ada lagi air mata yang membuat pandangan menjadi kabur.

At the ending of the rainbow, Where the mountains touch the sky.

                Di ujung pelangi, dimana puncak gunung menyentuh langit.

 

Many things about tomorrow I don’t seem to understand;

Ada banyak hal mengenai hari esok yang tidak kupahami.

But I know who holds tomorrow, and I know who holds my hand.

Tapi aku tahu siapa yang berkuasa atas hari esok, dan aku tahu siapa yang memegang tanganku

 

I don’t know about tomorrow, it may bring me poverty.

Aku tidak mengetahui apa yang akan terjadi hari esok, mungkin saja kemalangan akan menimpaku.

But the one who feeds the sparrow is the one who stands by me.

                Tapi Seseorang yang memberi makan burung pipit, Ia juga yang berdiri di sampingku.

And the path that be my portion may be through the flame or blood.

                Dan mungkin saja aku akan melalui jalan yang penuh api dan darah.

But His presence goes before me and I’m covered with His blood.

                Tapi Ia hadir di sisiku, dan Ia melindungiku dengan darahNya.

 

Many things about tomorrow I don’t seem to understand;

Ada banyak hal mengenai hari esok yang tidak kupahami.

But I know who holds tomorrow, and I know who holds my hand.

Tapi aku tahu siapa yang berkuasa atas hari esok, dan aku tahu siapa yang memegang tanganku.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s