Surat dari Jogja : The Sweet Escape

Galau, suntuk, mumet, kecewa, yang pada awalnya berhasil disembunyikan dibalik tawa dan canda, akhirnya tak tertahan lagi. Rasanya ingin sekali pergi jauh dari rutinitas, melangkahkan kaki di tempat lain, dan mengizinkan diri untuk melangkah dalam lamunan (tanpa ada yang protes atau ngerecokin).

Entah mengapa, saya malah mencari solusi pada apikasi Air Asia di handphone. Memandangi kalender dan mengusahakan cara kreatif untuk mendapat libur panjang. Tiba-tiba ada banyak destinasi yang ingin dikujungi. Dan saya merasa begitu beruntung, bahwa meskipun hanya berselang 16 hari dari libur yang direncanakan, saya mendapatkan harga tiket yang cukup bersahabat.

Akhirnya setelah menimbang dan memperhitungkan budget yang ada, termasuk mempertimbangkan keinginan untuk melamun sambil jalan, dan bengong sambil duduk, juga konsep liburan tanpa harus banyak berpikir dan merepotkan diri sendiri, akhirnya saya memilih Yogyakarta sebagai tujuan pelarian.

Sudah lama sekali,,, Saya ingin kembali ke kota ini.. Usia saya belum genap 4 tahun ketika aku pertama kali berkunjung ke kota ini. Sudah sering saya memandang foto-foto masa kecil di Sendang Sono dan Candi Borobudur. Dan saya baru bisa kembali ke kota ini ketika  duduk di  kelas 3 SMP, hampir 14 tahun yang lalu. Masa-masa ketika saya baru mengenal rasa cinta, bahkan hingga kini saya masih ingat dengan jelas, segala hal-hal yang manis yang terjadi pada saat itu. Ya, kini saya kembali untuk mengulang kembali segala kenangan itu.. Dan untuk itu, yang saya butuhkan adalah kesendirian. Saya hanya ingin sendiri, seolah dengan kesendirian itu, saya bisa mengembalikan semua kenangan yang sudah dimakan waktu. Jangan temani saya, izinkan saya untuk bersahabat dengan diri saya sendiri (bahkan saat seorang teman ingin ikut, saya mencari sejuta alasan agar ia tidak jadi ikut..)

Ternyata keputusan saya untuk memilih Jogja tidak salah… Jogja adalah tempat yang sangat tepat untuk melarikan diri… 

Saatnya menurunkan kecepatan dan memperhalus bahasa…

Bekerja di area Banten yang terkenal keras, dan hidup di perbatasan metropolitan membuat bahasa saya juga menjadi keras. Saya sudah terbiasa berbicara dan bertanya dengan keras, cepat, dan bertubi-tubi. Dan saya juga terbiasa untuk mengharapkan jawaban yang cepat dan tepat sasaran. Selain itu, rutinitas harian menuntut saya untuk melakukan segala sesuatu dengan cepat, seolah waktu tak berhenti mengejar. Saya datang ke Jogja membawa semuanya itu. Hingga saya “disadarkan” oleh mbak-mbak penjual tiket Trans Jogja, yang menjawab pertanyaan saya dengan sabar dan pelan, walaupun saya bicara dan bertanya dengan ngebut… Saya merasa malu sendiri, karena di halte itu sayalah yang paling berisik… Dan akhirnya saya belajar untuk bertutur kata lebih pelan dan lembut,,, biar terlihat sebagai wanita yang ayu gitu loh…

Terus,, karena diri saya sangat bergantung pada angkutan umum dan sepasang kaki saya sendiri, maka pada awalnya merasa dikejar waktu, maklum angkutan umum disini tak sebanyak di kampung sendiri, ditambah lagi untuk beberapa area, suasananya tidak begitu ramai. Namun ternyata ketika saya menurunkan kecepatan, menjalani setiap langkah dengan penuh penghayatan, waktu itu malah berhenti mengejar saya. Dan semua target yang saya rencanakan bisa terpenuhi. 

Belajar Percaya : Jauh = Tidak Dekat

Saya dapat peta Jogja dari internet, jauh sebelum hari keberangkatan. Dalam peta itu tidak dicantumkan skala, jadi ada banyak tempat yang terlihat begitu “dekat”. Di hostel, saya juga mendapat peta wisata, lagi-lagi tanpa skala. Karena sudah punya pegangan dua peta ini, saya hampir gak pernah buka si google maps. 

Menurut peta, jarak dari Malioboro ke hostel  saya di Ngampilan tidak terlalu jauh. Makanya saya pede banget menawar becak dengan murah dari depan Malioboro Mal. Si mas becak protes, katanya jauh. Karena udah capek, akhirnya saya sepakat dengan harga yang ia tawarkan. Dan ternyata sodara-sodara, itu beneran jauhh,,,, coba kalo nekad jalan kaki… bisa pingsan… 

Kejadian berikutnya masih soal nego perbecakan, kali ini dari Gereja Kemetiran ke Kantor Pos.. beneran deh, yang saya pikir deket ternyata jauhhh,,,, dan masih juga soal perbecakan. Kali ini di terminal Prambanan. Gerombolan tukang becak mengerumuni saya, dan saya dengan pede menolak mereka. Wong candinya udah kelihatan kok… Mereka terus menawarkan sambil bilang “jauh, Mbak…”, saya terus melangkah dengan pede… Sampai akhirnya saya tanya ke Pak Polisi, dan teryata emang jauhhhh…. Ah, kadung malu, jadi terusin aja deh jalan kakinya…

Alhasil sejak saat itu, saya belajar percaya, bahwa jauh itu berarti tidak dekat…. hehehe…

Ternyata begitu dekat…

Siapa sangka, saya malah bertemu guru-guru SMP saya di kota ini… hahaha,,,baru saja bernostagia dengan diorama-diorama di Museum Vredeburg sambil mengingat teman-teman masa SMP, eh, pas keluar museum malahan ketemu guru-guru dan rombongan pelajar dari SMP saya… Nostalgia yang lengkap yaa…

Semoga bisa jadi Ibu cerdas… Amin….

Agak gemas ya, waktu denger percakapan seorang ibu dan anaknya di Candi Prambanan. Sang anak yang begitu bersemangat meminta ibunya untuk naik ke setiap candi yang ada di kompleks prambanan. Dan ibunya yang sudah bete dan capek menjawab anaknya, “Udah, ah, mau ngapain sih, isinya sama kok, batu semua…”, jiah,,, kok gitu sih,,, ada pula sepasang muda-mudi yang mengira bahwa patung yang terdapat di dalam Candi Brahma adalah Patung Siwa,,, lah,,namanya aja Candi Brahma,,, isinya yang pasti patung Brahma lah, Mas…

Saya berdoa, jika Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menjadi istri dan ibu, saya ingin sekali bisa menjawab dan memuaskan setiap pertanyaan dan keingintahuan anak-anak saya… aminnn,,,,

Selalu merasa beruntung saat travelling,,

Hehehe,,, kalau lagi jalan-jalan, saya selalu merasa beruntung bisa menemukan spot-spot ajaib, yang awalnya tidak saya ketahui, atau tidak ada dalam list tujuan wisata saya. Biasanya spot itu tiba-tiba jreng muncul di depan mata saya… Seperti pas saya kepagian waktu mengunjungi Taman Sari, seorang warga malah mengajak saya melihat Sumur Gumuling, Pulau Cemeti, Mesjid Bawah Tanah, dan Pasarean.. Wuih,,, beneran deh, nggak nyangka banget bisa menemukan spot yang mistis (dan gak ada dalam peta) ini… 

Trus waktu saya niat nyari beringin kembar yang entah ada di bagian mana keraton. Seorang abdi dalem bilang, beringin kembar ini ada di alun-alun utara dan selatan, namun yang terkenal adalah yang di selatan. Beliau bilang saat itu sedang banjir hingga selutut. Jadi sebaiknya nggak kesana. Yah,,, ya sudah lah… Beliau juga bilang, jarak kesana masih cukup jauh (dan saya percaya bahwa jauh itu artinya tidak dekat), dari tempat saya berdiri. Jadilah saya mengurungkan niat kesana. Eh, tapi waktu saya mencari Plengkung Gading, dan akhirnya menemukannya,,, saya malah tanpa sengaja menemukan beringin kembar ini, yang banjirnya sudah agak surut.. Juga waktu saya menemukan counter Dagadu karena niat mencari Museum Sono Budoyo… hahaha,,,nggak nyangka banget nih,,,

Nah, ada lagi, disini juga, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya menyaksikan sendiri akrobat roda gila, alias tong setan. Itu loh, akrobat pakai sepeda motor di dalam tong raksasa, dengan ketinggian sekitar 10 meter… walaupun nontonnya pakai nutupin kuping, trus pakai gemeter dan keringet dingin… Sampai sekarang masih wondering,, kok bisa ya? Mohon kepada para ahli fisika untuk menjelaskan mekanisme dan hukum-hukum fisika yang berlaku pada atraksi ini…

 

Tuh beruntung kan? Tapi kenapa ya, kalau lagi kerja, rasanya saya siaaaallll melulu??

Setangkup Haru dalam Rindu….

Di pelataran Borobudur, air mata saya menetes,,, begitu pula di pelataran Prambanan… semua kenangan kembali melintas di benak dan pikiran saya,,, ada rasa rindu dengan masa lalu,,, yang tak mungkin bisa diulang.. Begitu pula pada saat menginjakkan kaki di Malioboro Mal,, saya serasa kembali ke masa 14 tahun yang lalu, bersama sahabat-sahabat yang sekarang sudah melanglang buana,, saya masih ingat dengan jelas counter Dagadu dan Gramedia di lantai bawah, yang menjadi tempat favorit kami. Dan juga McD di lantai 1, tempat kami makan malam di meja dekat jendela, saat kami malas untuk menawar harga di tempat makan lesehan… Aku rindu kalian… dan aku sadar,,, tak mungkin kembali lagi kesini bersama kalian… Semua telah berubah…

Daerah Istimewa,,, yang betul-betul istimewa…

Ada candi,,, ada keraton,,, ada benteng,, perpaduan berbagai budaya, etnis, dan agama. Yang kuno berpadu dengan yang modern… Filosofi orang tua yang tetap dijaga, dan adat istiadat yang tetap ditegakkan. Ditambah dengan kisah sejarah, yang dibumbui hal-hal magis “believe it or not…”, So,,, Jogja memang betul-betul istimewa… Jadilah pribadi yang istimewa saat datang kesini,,, tinggalkan keangkuhan hidup modern,, lupakan kehidupan sebagai manusia kota,, nikmati setiap moment, karena disini,, setiap detik adalah istimewa….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s