Oleh-Oleh dari Hari Raya Penampakan Tuhan

Hari ini adalah Hari Raya Penampakan Tuhan. Dan saya bersyukur, pada hari raya ini bisa mengikuti perayaan Ekaristi berbahasa Inggris di Paroki Internasional Petrus Kanisius, Gereja St. Theresia, Menteng. Injil hari ini berkisah tentang tiga orang majus yang datang dari jauh untuk menghormati Yesus, sang Raja yang lahir dalam kesederhanaan. Mereka membawa emas, kemenyan dan mur.  Dalam homilinya, Romo Nico Dumais menjelaskan bahwa emas menunjukkan kemuliaan. Dengan mempersembahkan emas, orang majus menunjukkan bahwa mereka mempersembahkan kemuliaan diri mereka di hadapan Sang Raja. Sedangkan kemenyan adalah getah dari tanaman, yang menghasilkan bau harum jika dibakar. Ini sebetulnya memberi makna bahwa diri kita sendiri harus “harum” bagi orang lain. Kita adalah kemenyan-kemenyan itu. Salah satu cara untuk menjadi harum adalah dengan memberikan pengampunan. Selain itu, dalam ibadat Yahudi, kemenyan ini biasanya dipakai oleh imam ketika melakukan ibadat kurban. Maka dengan memberikan persembahan kemenyan ini menunjukkan mereka mengakui Yesus adalah Imam Agung.

Mur adalah sejenis getah tanaman berharga yang juga digunakan untuk wewangian, yang biasanya dipakai dalam kosmetik dan pengurapan. Biasanya mur ini dipakai untuk membalsam jenazah. Mur melambangkan sengsara dan penderitaan kita yang juga harus kita persembahkan bagi Yesus. Sekaligus juga seolah menubuatkan kematian Yesus yang diawali dengan kesengsaraan.

Dari Injil Matius ini tidak dikatakan ada berapa orang majus yang datang, dari mana asal mereka, dan sebetulnya apa sih profesi mereka? Dari kecil kita selalu diajarkan bahwa para majus itu adalah para raja dari Timur, dan selalu dikatakan bahwa ada tiga orang majus, yang menurut tradisi gereja bernama Kaspar, Melkior dan Baltasar. Dari hasil browsing-browsing, akhirnya saya menemukan artikel menarik mengenai para majus ini disini : http://yesaya.indocell.net/id652.htm

“Seringkali para majus disebut juga sebagai ahli perbintangan. Dalam bahasa Yunani, bahasa asli Injil, kata “magos” (magoi, jamak) mempunyai empat arti: (1) seorang dari golongan imam Persia kuno, di mana astrologi dan astronomi berperan penting pada masa Kitab Suci; (2) seorang yang memiliki pengetahuan dan kuasa gaib (= okultisme), dan mahir dalam menafsirkan mimpi, perbintangan, ramal, hal-hal klenik, dan perantara roh; (3) seorang ahli nujum; atau (4) seorang dukun, yang memeras orang dengan mempergunakan praktek-praktek di atas. Dari definisi yang mungkin di atas dan dari gambaran dalam Injil, para majus kemungkinan adalah para imam Persia ahli perbintangan yang dapat membaca bintang-bintang, teristimewa makna bintang yang mewartakan kelahiran Mesias. (Bahkan ahli sejarah kuno Herodotus (wafat abad ke-5 SM) menegaskan keahlian kaum imam Persia dalam perbintangan). Pada umumnya, kita berpikiran bahwa ketiga majus tersebut adalah tiga orang raja. Kita biasa menempatkan patung tiga raja di gua natal kita. Kita bahkan menyanyikan, “Kami tiga raja dari Timur….” Di sini, ketiga persembahan, Mazmur 72 dan bintang yang terbit di Timur secara bersama-sama menggambarkan para majus sebagai tiga raja yang datang dari Timur. Sebenarnya, tradisi awali tidak konsisten mengenai jumlah para majus. Tradisi Timur menyebutkan ada dua belas orang majus. Di Barat, beberapa Bapa Gereja perdana – termasuk Origen, St. Leo Agung, dan St. Maximus dari Turin – setuju ada tiga orang majus. Lukisan Kristen Perdana di Roma yang diketemukan dalam makam St. Petrus dan St. Marcellinus menggambarkan dua orang majus dan di makam St. Domitilla, empat orang. Sejak abad ketujuh di Gereja Barat, para majus diidentifikasikan sebagai Kaspar, Melkior dan Baltasar. Dalam suatu karya tulis berjudul Excerpta et Collectanea yang ditulis St. Beda (wafat 735) tercatat demikian, “Para majus adalah mereka yang membawa persembahan bagi Tuhan. Yang pertama dikatakan bernama Melkior, seorang tua berambut putih dan berjenggot panjang… yang mempersembahkan emas kepada Kristus bagai kepada seorang raja. Yang kedua bernama Kaspar, seorang muda tanpa jenggot dan kulitnya kemerah-merahan… menyembah-Nya sebagai Tuhan dengan persembahan kemenyan, suatu persembahan yang layak bagi yang ilahi. Yang ketiga, berkulit hitam dan berjenggot lebat, namanya Baltasar… dengan persembahan murnya memberikan kesaksian pada Putra Manusia bahwa ia akan wafat.” Suatu kutipan dari penanggalan para kudus abad pertengahan yang dicetak di Cologne berbunyi, “Setelah mengalami banyak pencobaan dan kelelahan demi Injil, ketiga orang bijaksana tersebut bertemu di Sewa (Sebaste di Armenia) pada tahun 54 untuk merayakan Natal. Kemudian, setelah Perayaan Misa, mereka wafat: St. Melkior pada tanggal 1 Januari, dalam usia 116 tahun; St. Baltasar pada tanggal 6 Januari, dalam usia 112 tahun; dan St. Kaspar pada tanggal 11 Januari, dalam usia 109 tahun.” Martirologi Romawi juga mencatat tanggal-tanggal di atas sebagai pesta masing-masing majus.”

Yang menarik, Romo Nico juga menjelaskan, bahwa pada masa kecilnya beliau diajarkan bahwa warna kulit para majus yang berbeda ini menunjukkan bahwa mereka mewakili bangsa-bangsa di dunia yang berkulit putih (Eropa, Australia), hitam (Afrika), dan coklat/ kemerah-merahan (Asia, Amerika). Jadi ternyata kisah tentang kehadiran para orang majus ini bukan hanya sekedar cerita pengantar tidur bagi anak-anak, tapi memiliki makna yang begitu mendalam.
Menjelang akhir misa, saya sudah nggak konsen, masalahnya bapak yang bacain berita gereja adalah sorang bule yang Inggrisnya Inggris banget,,, alias saya nggak ngerti apa yang dia omongin… Dia menunjukkan sebuah kertas dan kemudian menjelaskan ada bagian dari kertas itu yang harus dikoreksi. Saya kira ah, pasti ini permintaan sumbangan,,hehehe,,,
Namun, sebelum berkat penutup, Romo Nico berkata bahwa tradisi pemberkatan air dan garam adalah tradisi umat Katolik Jerman. Masih juga saya ngga ngerti. Baru setelah para misdinar mengeluarkan box-box air mineral, dan keranjang-keranjang, saya agak sedikit mudeng. Oh, mau ada pemberkatan air dan garam. Romo mendoakan air dan garam, dan setelahnya umat mulai mengantri. Saya yang nggak ngerti ikutan aja ngantri, dan ternyata selain air dan garam, ada juga kapur. Hah? Kapur? Untunglah dibagikan juga kertas petunjuk penggunaannya.
Jadi, sepulangnya ke rumah, kapur itu digunakan untuk menulis di ambang pintu rumah. Tulisan apa?
20 C + M + B 14. 20 dan 14 menunjukkan tahun 2014. C, M, dan B adalah inisial nama para majus, yakni Caspar, Melchior dan Balthasar. Namun sebetulnya CMB in adalah singkatan dari Christus Mansionem Benedicate yang artinya Kristus berkatilah rumah kami. Sambil menuliskan tulisan tersebut, kita juga mengucapkan : May Christ Bless Our Home (Semoga Kristus memberkati rumah kami). Makna perbuatan itu adalah agar kita yang masuk dan keluar rumah melalui pintu itu mengingat teladan para majus yang merendahkan diri dan menghormati Yesus, Sang Raja. Juga agar kita mengingat perlindungan Tuhan bagi rumah dan keluarga kita. Menurut sumber-sumber yang saya baca, tulisan itu harus bertahan di ambang pintu rumah hingga Hari Raya Pentakosta.
Selain itu, ada pula petunjuk penggunaan garam dan air, yakni garam dilarutkan pada air yang sudah diberkati, lalu dipercikkan ke seluruh bagian rumah dengan diiringi doa ” Semoga Kristus memberkati rumah kami.” Sejak dulu, gereja memang percaya bahwa air dan garam yang diberkati memiliki kekuatan untuk mengusir roh jahat.
Biasanya ritual tersebut dilakukan oleh ayah atau kepala keluarga dalam rumah itu, dan biasanya pula, pemberkatan di Gereja tidak hanya dilakukan bagi air, garam, dan kapur, tapi juga bagi roti, telur, minyak, emas, kemenyan dan mur.
Wuih, setelah menjadi umat Katolik selama 28 tahun, baru kali ini nih saya merayakan Penampakan Tuhan dengan memperoleh suatu hal yang baru. Gereja Katolik kaya banget yaa,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s