Sampai jumpa lagi, Pak Udin…

Sudah empat hari beliau tidak ada di bus jemputan. Katanya beliau sakit. Namun siang ini, kabar dukacita itu datang, seolah ingin menambah suram hari yang mendung ini.
Tak pernah menyangka, kami akan menerima kabar duka ini, beliau masih muda dan selalu tampak sehat. Selama ini tak pernah kami mendengar ia mengeluh sakit, bahkan sehari-hari ia selalu energik memantau pelaksanaan prosedur keselamatan kerja di pabrik kami.Sosoknya begitu erat dengan ht dan helm merah, yang menunjukkan tugasnya sebagai staff Safety Department.
Pak Udin, begitu aku biasa memanggil beliau. Rekan satu bus jemputan selama 6 tahun. Bahkan ruangan kerja kamipun berdekatan. Cukup menjulurkan kepala, dan kami bisa saling bertegur sapa. Meskipun hubungan kami tak dekat, namun kepergian beliau menyadarkanku, bahwa ada banyak hal yang telah aku alami bersama beliau selama 6 tahun ini. Ada banyak hal yang selama ini tak kusadari, dan baru aku ingat setelah beliau pergi.
Tepat 40 hari yang lalu, kami sama-sama pulang selepas lembur hari Sabtu. Sudah sering kami sama-sama terjebak lembur di hari Sabtu. Namun hari itu ada yang beda. Ia lebih banyak bicara daripada biasanya.Ketika itu beliau menceritakan perjuangannya bolak-balik Cilegon-Lampung setiap weekend untuk merebut hati kekasihnya, yang kini telah menjadi istrinya. Beliau juga merencanakan untuk pulang mudik pada liburan tahun baru. “Anak-anak minta pulang”, begitu kata beliau. Sore itu beliau banyak bercerita tentang diri dan keluarganya. Tak menyangka itu adalah ceritanya yang terakhir padaku.
Aku juga mengenang kebaikan beliau ketika aku jatuh saat turun dari bus, dan perjuangan beliau untuk menahanku saat aku hampir terusir dari bus jemputan. Beliau orang terakhir yang kukenal di dalam bus jemputan ini, dan yang pertama kali mencetuskan untuk membagikan makanan saat ada warga bus yang mengalami momen bahagia…
Beliau pula yang selalu sigap membelikan gorengan saat kami sebus mengeluh lapar.
Beliau yang rumahnya paling jauh dari pabrik, sehingga setiap hari harus dijemput paling pagi, dan pulang paling malam. Dan sering diledek jika kami mengalami macet di jalan, karena beliau pasti tiba di rumah paling akhir, sedangkan yang lain sudah berkumpul dengan keluarganya..
Beliau yang selalu menyapa dengan santun, meski tak kadang mengagetkan kami dengan terikan “Masya Allah”nya yang khas dan heboh… Beliau dengan logat Jawa-Lampung yang kadang terdengar seperti Jawa ngapak, yang selalu begitu antusias jika bercerita…
Pak Udin yang selama ini tak pernah kuperhatikan secara khusus, ternyata kepergiannya membuatku meneteskan air mata..
Tempat duduk itu sekarang kosong. Pak Udin tak akan duduk disitu lagi. Beliau takkan lagi menagih uang kas bus saat gajian tiba. Dan tak ada lagi yang turun membelikan gorengan saat kami lapar.
Pak Udin, selamat jalan, kau akan selalu ada dalam hati dan kenangan kami.
Esok, lusa, mungkin akan ada orang lain yang duduk di kursi itu mengantikanmu. Tapi kau selamanya takkan terganti di hati kami..
Sampai jumpa lagi, Pak Udin….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s