Melangkah Dalam Galau : Kembali ke Bangkok

April 2012 : Aku memejamkan mata saat pesawat mengambil ancang-ancang take off di runway Airport Suvarnabhumi… Rasa lega memenuhi hatiku, ahh,,, tugasku sudah selesai.. Bibirku mengucap sebuah janji : Bangkok, aku akan kembali… Sebagai turis…

April 2013 : Seorang sahabat menelepon, katanya ada promo Tiger Air Mandala untuk tujuan Bangkok, tiket pulang Rp. 0. Setelah berkoordinasi dengan bokap (baca : ngerayu bokap), akhirnya aku booking tiket untuk keberangkatan tanggal 12 Januari 2014, dan pulang tanggal 19 Januari 2014. Setelah dihitung-hitung, tiket pp per orang seharga Rp 1.250.000, yang menurutku tidak terlalu mahal, karena waktu itu aku sempat survey ke maskapai lain dan memang untuk tanggal itu Tiger yang ngasih harga paling murah. Tapi tetep aja ada yang bilang harga segitu kemahalan… wew…

Oktober 2013 : tiga bulan sebelum berangkat, mulai nyoba nyusun itinerary, baca buku Lonely Planet, survey di internet, dan booking hostel di Bangkok. Sejak awal, kami memang merencanakan untuk “mampir” di Laos. Selain Vientiane, Luang Prabang adalah destinasi favorit yang direkomendasikan oleh banyak sumber. Tapi masalah muncul, kami hanya punya waktu efektif 6 hari. Ada banyak rute yang kami ingin kunjungi,  antara lain Bangkok, Ayutthaya, Sukhothai, Vientiane, Luang Prabang, Chiang Mai. Semua itu bisa tercapai kalau saja ada teknologi yang namanya “Pintu Kemana Saja”. Tapi karena gak ada robot ajaib bernama Doraemon, alhasil kami harus memilih. Hiks,,, Sukhothai kami coret dari rencana, karena agak repot kalau kesana. Sementara Luang Prabang dan Chiang Mai masih dalam pertimbangan. Karena masih serba tidak pasti, alhasil kami hanya booking hostel di Bangkok untuk 2 malam, dengan maksud supaya Bangkok nggak cuma dijadiin tempat transit doang. Pokoknya harus puas keliling Bangkok. Barulah di hari ketiga kami merencanakan ke Ayutthaya, lalu lanjut ke Nong Khai dengan kereta, untuk selanjutnya melintasi perbatasan menuju stasiun Tha Na Leng di Laos. Ternyata kami dapat info yang menghancurkan segalanya (jiah lebay). Awalnya kami mau booking tiket kereta ke Nong Khai dari Ayutthaya, tapi seorang teman facebook (dan temannya lagi di Ayutthaya) bilang bahwa tidak bisa booking tiket dari Ayutthaya. Mati dah… Padahal setelah kami melewati rute ini, barulah kami tahu bahwa tiket ke Nong Khai juga bisa dibooking dari Ayutthaya.

Setelah dihitung-hitung mengenai waktu tempuh, ternyata waktu kami tidak memungkinkan untuk menempuh perjalanan ke Luang Prabang. Dari Vientiane butuh waktu 10 jam untuk mencapai Luang Prabang, terus masalah juga untuk pulang ke Bangkok, karena kalau balik lagi via Vientiane-Nong Khai-Bangkok by train atau bus akan makan waktu. Atau kalau mau mampir Chiang Mai, harus menempuh rute via Huay Xai, nyebrang boat ke Chiang Kong, dan waktu tempuh totalnya bisa 21 jam dengan bus maraton alias nyambung-nyambung.(See http://www.lonelyplanet.com/thorntree/thread.jspa?threadID=2177791). Atau kalau pakai boat bisa 2 hari. Sebetulnya ada teknologi yang namanya pesawat. Bisa dari Bangkok-Vientiane-Luang Prabang-Chiang Mai-Bangkok, tapi mengingat kami adalah turis kere, kami menghalau jauh-jauh rencana menggunakan jasa penerbangan… Hohohoho.

Karena pusing, akhirnya itinerary digantung dulu….Pencarian data juga dihentikan sementara…  😄

Akhir Desember 2013 – Awal Januari 2014 : hari-hari sibuk, terutama dengan Natalan dan perjalanan dadakan ke Jogja. Hingga pada H-10 sebelum berangkat barulah mulai panik. Itinerary belum disusun.. Mana kerjaan banyak pula (baca : jadi gak bisa nyuri waktu bikin itinerary dan ngumpulin data sambil kerja).

Mendadak inget, waktu akhir Desember sempat ada kabar demonstrasi heboh di Bangkok mengenai pemilu dan tuntutan agar PMnya mundur, dan baru inget juga kami akan tiba di Bangkok tepat H-20 sebelum pemilu. Akhirnya terpaksa nanya sama si Mbah Google mengenai keadaan Bangkok hari ini. Dan hasilnya… jreng jreng jreng,,, bikin lemes, pake pucet, dan hampir pingsan… Media-media internasional menyampaikan adanya rencana Bangkok Shut Down tanggal 13 Januari 2014. Apak itu Bangkok Shut Down? Jadi pihak oposisi (yang dikenal berkaos kuning) akan memblokir ruas-ruas jalan utama di Bangkok, terutama yang terkait dengan pemerintahan seperti di Siam, Sukhumvit, dsb-dsb (total ada 7 area utama, dan 14 area yang mungkin terkena imbas. Duh, nama-nama daerahnya susah diinget). Mereka menuntut agar pemilu dipercepat. Ah, pokoknya saya mah kaga ngarti lah ama nyang beginian. Mereka sih janji nggak akan ngeblokir bandara. Jalur kereta,  MRT, BTS, Airport rail link akan tetap jalan. Jalan yang ditutup pun akan disisakan satu jalur untuk keadaan darurat. Tempat wisata dijanjikan tidak akan ditutup.

Jiah, macam apa pula ini,,,, Saking panik, saya bertanya kepada page facebook Komunitas Indonesia di Thailand, Backpacker Dunia, dan Asean Community (yang terakhir ini merekomendasikan pagenya Michael Yon kepada saya. Michael ini adalah seorang jurnalis Amerika yang sudah lama tinggal di Thailand). Saya mengirim message kepada Miss Cha, tour guide World Travel Service, tapi nggak dijawab2. Salah seorang teman lama bahkan memperkenalkan saya pada seorang pastor Indonesia yang sedang tugas di Thailand. Bak orang kebakaran jenggot (dan untungnya saya belum pernah punya jenggot), semuanya saya interogasi : “Is it safe to travel in Bangkok?” Jawabannya beragam ada yang bilang : aman, ada yang bilang aman asal menjauhi kerumunan, ada yang menganjurkan agar saya membatalkan keberangkatan (huhuhuhu,,, tiket hangus dnk,,,,). Saya juga “meneror” hostel @Hua Lamphong, yang sudah kami booking… Mereka bilang area Hua Lamphong aman dan bukan area yang akan diblokir oleh demonstran. Padahal di list yang sudah direlease ada tulisan Hua Lamphong… Gimana tuh? Akhirnya saya mencoba percaya aja deh ama si hostel… Tapi semua orang yang saya tanyai tersebut berkesimpulan, para demostran tidak akan mengganggu atau menghambat turis, karena mereka sadar bahwa Thailand hidup dari sektor pariwisata. Tapi nggak ada yang bisa menjamin bahwa disana kita akan aman seutuhnya. Dalam suasana politik yang keruh seperti itu, apa saja bisa terjadi, dan bukan nggak mungkin kejadian lempar-lemparan bom, dan bakar-bakaran tahun 2010 akan terulang lagi.

Berita berikutnya yang saya dapat nggak kalah serunya, pihak pro pemerintah (kaos merah) bilang mereka akan bertahan agar Bangkok tidak jadi di shut down. Ini sih indikasi bakalan bentrok dah… Makin galau cuy…. help…. bagaimana ini…. ogah banget mati di negeri orang,,,

Saya mengambil smart phone saya, mencoba mencari alternatif rute jika terjadi travel warning, atau jika bandara Suvarnabhumi diblokade. Pilihan terakhir saya adalah transit di Bangkok untuk cabut lagi ke Hanoi, Vientiane, atau Luang Prabhang, dan akhirnya menemukan tiket yang agak murah ke Hanoi (sekitar 30 US$ pp) pakai Viet Jet Air. Udah siap dibooking kalau pemerintah Indonesia akhirnya mengeluarkan travel warning.

H-10 : “Hallo, Kmren udah jd ke Bangkok?” Sebuah pesan di BBM dari Mas Jay Asean Community memecahkan lamunan saya. Wah, kok pas banget ya,,, saya lagi galau dan mempertimbangkan untuk cancel keberangkatan.. Merasa dapat teman curhat, saya langsung menumpahkan segala kekuatiran dan ketakutan saya padanya. Apalagi dia pernah tinggal di Bangkok, jadi pasti lebih tahu tentang karakter dan situasi demo disana. Dan jawabannya menenangkan saya : “Gpp, tenang aja. Di berita aja yang berlebihan. Media khan biasa”, wah, langsung jadi tenang deh,,,, Mas Jay,,, matur nuwun sanget yo…

Malam itu juga, saya katakan kondisi aktual Bangkok ke bokap, dan bokap bilang : “Go On…”, hahahaha,,, lega,,,, Ternyata yang saya khawatirkan bukan kondisi di Bangkok, tapi apakah bokap mau ambil resiko jalan kesana dengan kondisi yang lagi rawan… kami memutuskan untuk tidak ada di Bangkok pada 13 Januari, dan merencanakan untuk booking tour ke Ayutthaya via hostel. Kami berharap, tanggal 14 Januari situasi Bangkok sudah membaik.

H-6 : Mulai nyusun itinerary. Walau sudah mencoba berbagai cara, tetep aja nggak akan sempat kalau mau ke Luang Prabang dan Sukhotai, paling bisa hanya ke Vang Vieng doang, itupun masih dikasih tanda tanya gede. Akhirnya dibikin itinerary kasar : Hari 1 : tiba di Bangkok, Hari 2 : Ayutthaya (pakai travel), Hari 3 : Keliling Bangkok (Grand Palace, Wat Arun, Wat Pho, Wat Traimit), malamnya naik kereta ke Nong Khai. Day 4 – Day 6 : keliling Laos (gak jelas mau kemana dan masih nggak tau spot apa yang bisa dikunjungi di Vientiane dan sekitarnya). Naik kereta malam ke Bangkok. Day 7 : Tiba di Bangkok, nyari oleh-oleh di Siam, pulang ke Indonesia. Nantikan cerita lengkapnya pada posting selanjutnya…

Saya menghubungi hostel untuk booking travel ke Ayutthaya (dengan harga 850 Baht. 1 Baht = +/- Rp. 350), dan hostel minta untuk mengkonfirmasi lagi beberapa hari kemudian. Berita-berita yang muncul tentang Bangkok semakin mengerikan. Tapi saya selalu mengingat kata-kata Mas Jay : media kadang suka berlebihan.

H-2 : Hostel mengirim kabar buruk, travel agent langganan mereka stop beroperasi pada tanggal 13-14 Januari, Mateng,,,, Dan mereka ngga bisa ngasih rekomendasi travel agent di Ayutthaya. Mereka bilang naik kereta aja. Wah, makin tegang aja… Saya mulai meneror Mbah Google lagi untuk mencari spot-spot yang harus didatangi di Ayutthaya (dan Vientiane).

Bos marketing yang pernah ngajak saya ke Bangkok menghubungi saya dan memberikan kata-kata kekuatan : “Tenang aja, kamu kan udah pernah kesana. Jangan lupa ambil peta di bandara yaa…” (apa hubungannya ya?) Beliau juga memberikan patokan daerah-daerah yang akan menjadi pusat demo (daerah ini letaknya disini,,,, ada objek wisata ini…kondisinya begini,,,,)

Bokap bilang : “udah tenang aja… Kita lihat aja sikon disana gimana.. Siapa tahu jadi saksi sejarah… ” Hahaha,,, iya yah,,, kapan lagi nekad dateng ke negara orang pada saat kondisinya lagi kritis,,,, toh pemerintah juga nggak ngeluarin travel warning kok…

12 Januari 2014 : diiringi hujan deras dan ancaman banjir, kami meninggalkan tanah air menuju Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Saya membuat pengakuan ke bokap, bahwa kepala saya blank, alias nggak punya plan A, plan B, dst dst, kalau terjadi sesuatu. Pesawat hanya terisi setengahnya saja. Mungkin banyak orang yang membatalkan keberangkatannya, entah karena situasi Bangkok, atau karena banjir di ibukota. Kami tiba disana menjelang pukul 8 malam, dan melanjutkan perjalanan dengan airport rail link (ada dua jenis, yang ekspress bertanda warna merah seharga 150 Baht langsung ke dari Suvarnabhumi ke Makassan dan Phaya Thai, sedangkan yang biasa bertanda warna biru seharga 15-45 Baht) hingga Makassan dan MRT dari Phetchaburi hingga Hua Lamphong yang paling ujung, untuk sampai ke @Hua Lamphong di seberang stasiun Hua Lamphong. Ternyata suasanya tidak setegang yang kami kira. Di bandara semua aktivitas berjalan normal dan wajar. Area Hua Lamphong pun begitu tenang, kami bahkan sempat masuk ke area stasiun, dan memang ada banyak demonstran membawa bendera Thailand yang melantai di teras stasiun… wew…mungkin untuk persiapan demo besar-besaran alias Bangkok Shut Down keesokan harinya.

Dari Facebook Komunitas Indonesia di Thailand dikabarkan bahwa ribuan demonstran tumpah di kawasan Siam dan Pathumwan, sehingga mal-mal di sekitar area itu (MBK, Siam Discovery, Siam Paragon, Central World, dll) tutup lebih cepat, dan banyak toko yang tidak buka. Ah, semoga saja tidak ada bentrokan parah atau lempar-lemparan bom…

Kita skip dulu ya, cerita mengenai perhostelan dan Ayutthaya…

Hari ketiga, 14 Januari 2014, kami mengubah keputusan. Awalnya kami mau ke Grand Palace dan sekitarnya, eh, akhirnya kami malah ke area Siam Square, ke Maddame Tussauds di Siam Discovery, hunting kaos dan pashmina di MBK, dan makan siang juga di MBK. Waktu turun MRT di stasiun transit Silom, suasana demo begitu terasa, banyak orang-orang memakai kaos bertuliskan “SHUT DOWN BANGKOK, RESTART THAILAND”, atau “BANGKOK SHUT DOWN JANUARY 13, 2014”, sambil memakai peluit yang dikalungkan, dan bertepuk tangan dengan tangan plastik. Ada juga panggung seperti panggung seni, dan diputarkan lagu-lagu non stop dari mobil pick up berspeaker gaban, sambil beberapa orang mengibar-ngibarkan bendera. Wah, demonya kok seru juga ya,,, Coba di negara sendiri, begitu ada yang demo, pasti langsung ngacir. Eh, ini yang demo malah ditontonin rame-rame. Dan yang demo juga nggak maksa para pejalan kaki untuk ikutan demo. Suasananya malah mirip pasar, banyak penjual atribut demo di pinggir jalan. Seru dah beneran,,, hahaha,,, kapan lagi lihat demo dari deket kan… Jalanan di depan Hotel Dusit Thani ditutup, namun toko-toko di area itu tetap buka. Banyak pendemo yang duduk-duduk di jalan. Yang tegang sih waktu nyebrang dari Siam Paragon ke MBK dong. Demonstran banyak yang bikin tenda, ngampar, bahkan tiduran di jalan. Ada area yang dikasih tenda besar, jadi bisa dipastikan mereka banyak yang bermalam disana. Kami terpaksa melewati para pendemo itu, yang sedang menyimak orasi. Wah, beneran padat, susah jalan, dan seringkali dengan terpaksa kami menginjak tikar para demonstran. Mereka terlihat tenang saat beraksi, kecuali saat tepuk tangan dan tiup peluit… Wah, meskipun tegang, tapi ada rasa seru juga menyebrang jalan di tengah para whistlers ini…

Suasana Demo di Seberang Stasiun MRT Silom
Suasana Demo di Seberang Stasiun MRT Silom
Para Demonstran Melantai di Lobby Stasiun Hua Lamphong
Para Demonstran Melantai di Lobby Stasiun Hua Lamphong
Sekitar MBK...
Sekitar MBK…
Goleran Masal di Depan MBK
Goleran Masal di Depan MBK

Kami bahkan sengaja nyari kaos bertuliskan Bangkok Shut Down dan peluit berbendera Thailand… hihihihi…walaupun nggak berani pakai juga sih,,, Setelah puas hunting oleh-oleh, kami kembali ke area Hua Lamphong, untuk lanjut ke Grand Palace dan Wat Pho. Dari atas rel BTS terlihat tenda-tenda demonstran yang memenuhi Taman Lumpini… Padahal semalam sebelumnya diberitakan ada penembakan, tapi yang demo tetep aja tenang,,,

O, iya, untuk sistem ticketing MRT, BTS dan airport rail link disini cukup unik. Untuk Airport rail link dan MRT, kita bisa membeli token (yang mirip dengan koin karambol) dari loket. Token itu lalu ditempelkan (ditap) pada sensor pintu masuk, dan dimasukkan ke lubang pada pintu keluar. Bisa juga dengan mesin otomatis, kita cek berapa harga tiket hingga stasiun tujuan, lalu masukkan koin (1, 5, dan 10 Baht), nanti tokennya keluar. Sedangkan kalau BTS, hanya bisa lewat mesin saja. Kalau ngga punya koin, bisa tuker di loket, setelah tahu harga hingga stasiun yang dituju, tekan deh angka tersebut di mesin, lalu masukkan koin-koin (1, 5, dan 10 Baht), hingga saldonya terpenuhi, nanti kartunya keluar dari mesin, dan tinggal dimasukin ke pintu masuk (kartunya akan keluar lagi, jadi jangan langsung ditinggal setelah pintu terbuka), sedangkan di pintu keluar, kartunya dimasukkan ke mesin, dan otomatis ditelan.

Tap Token MRT
Tap Token MRT

Ini nih link buat moda transportasi di Bangkok http://www.transitbangkok.com/

Dari depan hostel, kami naik bus no. 40. Kami sih diajarin oleh resepsionis hostel untuk naik bus no. 53 dengan tarif 7 Baht. Tapi kok di halte itu yang ada hanya no. 40 aja ya? Kami tanya ke sopirnya, dan dia bilang iya, bisa ke Grand Palace. Tapi apa yang terjadi, kami diturunkan di tengah jalan… gebleg… kelakuannya gak jauh beda ama di kampung halaman nih… Mana buta arah pula… Mau nanya tapi nggak ada polisi atau tentara.. Untunglah saat sedang panik, muncul bus 53 (langsung lompat-lompat girang), dan kami minta supaya keneknya menunjukkan letak Grand Palace. Keneknya ibu-ibu yang sudah cukup tua, namun murah senyum dan benar-benar helpful. Meskipun ia tidak bicara sepatah katapun pada kami, tapi kode-kode bahasa tubuhnya menunjukkan kepada kami apakah kami sudah boleh turun atau belum…

Kami tiba di Grand Palace menjelang pk. 16.00, dan sudah tutup pada pukul 15.30,, Jiah…. lemes…. Petugas Grand Palace bilang, ke Wat Pho ajah, buka sampai jam 18.00 kok… Jadilah kami berbalik arah, kembali ke arah Wat Pho. Wat Pho ini isinya patung reclining Buddha berlapis emas, dengan panjang 46 m, dan tinggi 15 m. Walaupun sudah pernah kesini, tapi tetap aja ada rasa gemetar di dada waktu menyaksikan wajah sang Buddha. Kali ini, saya gagal dalam tantangan memasukkan 108 koin… Kok lebihan koinnya banyak banget yaa… dan bokap malah pas. Akhirnya kami menuduh (pakai Bahasa Indonesia) petugas penghitungnya nggak teliti… Iya,,, orang saya yakin 100% nggak ada wadah yang kelewatan kok…

Puas keliling Wat Pho, kami menyeberang jalan ke tepi Chao Praya. Niat mau menyeberang ke Wat Arun kami batalkan mengingat takut tertinggal kereta malam ke Nong Khai. Alhasil kami hanya foto-foto di tepi sungai, dan menyimpan rencana Wat Arun untuk hari terakhir. Menjelang pukul 18.00 kami naik bus no 1 yang berhenti sebelum perempatan Rama IV, jadi kami harus sedikit jalan ke hostel.

Wat Arun menjelang sunset
Wat Arun menjelang sunset

Setelah mandi, repacking tas (yang mendadak jadi gembrot) , dan membungkus makan malam, kami bergegas naik ke kereta malam menuju Nong Khai… Cerita di kereta dan perbatasannya nanti dulu yaaa….Langsung kita beranjak ke hari terakhir… tadaa….

Rencana awal kami di hari terakhir adalah ke Grand Palace, Wat Arun, dan langsung balik ke airport. Namun kami harus memodifikasi rencana kami, karena kami harus kembali ke area Siam-Pathumwan, untuk beliin sea weed titipan Mas Jay di Big C seberang Central World.

Pukul 6 pagi kami sudah tiba di Stasiun Hua Lamphong, dan setelah titip tas di Hostel @Hua Lamphong, kami langsung nyegat bus no 53 untuk ke Grand Palace. Dan jreng jreng,,, nggak ada keneknya… So, semua penumpang nggak ada yang bayar…lho kok bisa… aneh ya…dikasih gratis malah bingung…. hihihihi..

Grand Palace buka jam 08.30, Wat Arun buka pk. 08.00. Kami masih punya banyak waktu untuk mengeksplor daerah sekitarnya. Dari seberang Wat Pho, kami naik perahu untuk menyeberang ke Wat Arun (bukan dermaga resmi Tha Tien. Kalau dari Tha Tien, kapalnya menyusur sungai, bukan menyeberang sungai), ada loket kecil di bagian kiri, dan cukup membayar 3 Baht untuk sampai ke seberang.
Nama Wat Arun diambil dari nama dewa Khmer, Aruna, yang adalah dewa matahari. Wat Arun berarti Temple of The Dawn, dan saat kami kesana, matahari memang baru saja terbit, jadi beneran cantiknya polll.. Wat Arun memiliki bentuk khas Khmer dan permukaannya dilapisi oleh porselen dan kulit kerang. Dari jauh hanya terlihat abu-abu, dan saat malam terlihat putih, padahal kalau dari dekat… wuih penuh warna,,, cantik banget deh…. Kami akhirnya memutuskan untuk tidak masuk Wat Arun, karena kondisi bokap tidak memungkinkan untuk menaiki tangga Wat Arun yang gede-gede…Padahal tiketnya murah, hanya 50 Baht.

Setelah puas, kami menyeberang kembali, dan siap memasuki Grand Palace. Ada usul gila dari seorang teman, untuk pede masuk ke line untuk orang Thailand yang notabene gratis… Secara tiket masuk Grand Palace mahal banget, 500 Baht… Bisa buat makan enak berapa kali yaa… Tapi karena kami orang Indonesia yang jujur, akhirnya kami ngantri juga beli tiket… (takut juga sih, kalau tiba-tiba diajak ngobrol sama petugas pake Bahasa Thailand…)

Grand Palace masih tetap memukau, Emerald Buddha yang saat itu memakai pakaian musim dingin tetap mempesona, dan bangunan-bangunan di dalamnya masih membuat aku terkesima… Kali ini aku membuat satu janji baru, untuk membaca ulang kisah Ramayana, dan mengaitkannya dengan lukisan yang aku saksikan di dinding Grand Palace… hohoho… Meskipun Bangkok dinyatakan sebagai area kritis, tapi area Grand Palace ini seolah tak terpengaruh, para wisatawan asing berjubel di area Grand Palace.

Kami keliling Grand Palace hingga lewat tengah hari, dan kemudian mencoba moda transportasi air. Kami kembali ke dermaga Tha Tien, untuk naik kapal ke Central Pier (Sathorn, yang terkoneksi dengan BTS Saphan Taksin), Petugas disinipun ramah, informatif dan sangat menolong…Menurut beliau ongkos sampai ke Central Pier hanya 15 Baht per orang, tapi di atas kapal, seorang perempuan judes yang adalah keneknya, menagih 20 Baht per orang.. wew,,, tanpa tiket pula… Tapi pengalaman menyusur separuh Chao Praya sangat berkesan, walaupun hanya bisa melewati Memorial Bridge dan Yok Yor Marina. Lumayan untuk sedikit bernostalgia…

Dari BTS Saphan Taksin, kami lanjut menuju Siam, untuk kemudian melangkah ke Big C. Di atas Lumpini, kami masih melihat kesibukan dan kepadatan para demonstran. Di atas jembatan Siam-Chit Lom, kami melihat keramaian serupa pasar, meskipun semalam sebelumnya di dekat sini diberitakan ada ancaman bom. Ada demonstran yang melakukan hal konyol seperti mencorat coret tembok atau mengganti lambang kepolisian dengan gambar buaya. Wew, kalo polisi ngamuk bisa jadi ada tembakan membabi buta nih,,,,

Pasang Atribut untuk Persiapan Demo (6 am @ Hua Lamphong Train Station)
Pasang Atribut untuk Persiapan Demo (6 am @ Hua Lamphong Train Station)
Siam Square : Dah kayak pasar aje...
Siam Square : Dah kayak pasar aje…

Akhirnya mission completed, sea weed ketemu, dan kami kembali ke hostel @Hua Lamphong, mengambil tas, melakukan repacking (yang makin susah aje…), dan menumpang MRT serta airport rail link menuju Suvarnabhumi. 

Ini loh seaweednya....
Ini loh seaweednya….

Tak lama setelah kami pulang, saya mendengar berita bahwa Bangkok mendapat status darurat sejak 21 Januari 2014 hingga 60 hari ke depan, dan kami juga mendengar beberapa kali ada penembakan kepada para demostran. Pemilu sendiri tetap dijadwalkan tanggal 2 Februari. Banyak negara yang sudah memberlakukan travel warning, dan banyak penerbangan yang dicancel. Pihak KBRI di Bangkok sudah memberi peringatan kepada WNI di Bangkok, bahwa meskipun suasana demo mirip dengan pasar, namun tetap harus dihindari, karena akhir-akhir ini banyak peristiwa penembakan, apalagi jika kita iseng memakai atribut demonstran.

Bangkok, semoga kondisimu baik-baik saja ya,,, Kamu begitu cantik,,, dan semoga kecantikanmu tak ternoda oleh sesuatu yang disebut “POLITIK”.

Pray for Bangkok


3 thoughts on “Melangkah Dalam Galau : Kembali ke Bangkok

  1. Celina.. 26 feb ini aku n keluarga mau ke BKK. Tapi raguuuu banget pergi apa enggak apalagi setelah ditambah berita smlm yg ktnya 1 wanita, 1 anak perempuan 5 taon dan 1 anak laki2 12 taon tertembak. Dan grenades udah mulai di t4 makan pinggir jalan. Bingungnua KBRI kok blm keluarin travel warning yah pdhal situasi di berita kian memanas? Tour semua dah aku bayar last wednesday.. Sebaiknya pegi atau tidak yah??? Hikzzzzz..

    1. Hi, Emily… memang suasana di Bangkok terasa lebih memanas akhir-akhir ini.. setahuku travel warning akan direlease jika hampir seluruh area negara dalam kondisi kacau. Dalam hal ini mungkin belum ada travel warning, karena hanya Bangkok dan sekitarnya saja yg bergejolak. Untuk daerah lain kondisinya masih kondusif… dan kadang media massa suka lebay juga. Waktu itu dikatakan bahwa Hua Lamphong dan China Town akan terkena imbas Bangkok shut down, tapi selama kami disana, area Hua Lamphong sangat aman dan kendaraan umum juga masih beroperasi…
      Btw Emily ikut tour selama di Bangkok? Tour lokal atau dari Indo? Apakah sudah ditanyakan ke pihak tour apakah mereka akan tetap beroperasi? Dan bagaimana penilaian mereka terhadap kondisi Bangkok? Lalu waktu itu saya juga sering nanya kondisi aktual bangkok ke hostel yg akan saya inapi. Dan ketika mereka bilang area mereka aman, kami jadi pede untuk berangkat. Istilahnya kalau kami sampai ngga bisa kemana2, kami masih bisa diam di hostel…
      Pada dasarnya, hampir semua org (yg pernah tinggal di Bangkok) yg saya tanyai, bilang bahwa mereka sadar mereka hidup dari turisme, jadi kecil kemungkinan bahwa akan terjadi penyerangan terhadap turis. Tapi, yg perlu diingat, wajah kita mirip dg warga lokal. So, hindari tempat2 yg sedang ramai demo (dan tempat2 yg dikabarkan sedang rawan), untuk area mana yg perlu dihindari, aku sarankan Emily untuk memantau dr page facebooknya Michael Yon dan Komunitas Indonesia di Thailand (mereka sangat update thd kondisi yg terjadi), jangan memakai baju berwarna merah atau kuning, mungkin lebih oke kalau pakai suatu atribut yg Indonesia banget… dan hindari untuk membicarakan politik dg warga lokal. Jauhi juga orang2 yg terlihat memprovokasi (misalnya lagi nyoret2 tembok atau nulis2 sesuatu yg jelas kita nggak ngerti apa yg mereka tulis, atau sedang merusak fasilitas umum, karena bisa jadi ada penyerangan dr polisi terhadap para perusak dan provokator ini, dan kalau kita lagi deket mereka, bukan nggak mungkin kita bisa kena cipratannya…). Meskipun suasana demo dan sekitarnya mirip kayak pasar, tapi sebaiknya dihindari.
      Menurutku kalau mau berangkat ke Bangkok go on aja… karena sayang juga sdh dibayar (dan rate Baht juga sedang agak menurun saat ini…hehehehe…) asalkan perlu lebih waspada. Diusahakan untuk naik airport rail link, mrt, dan bts untuk kemana2. Selain bebas macet, juga relatif lebih aman. Sebisa mungkin jangan pulang terlalu malam (lebih dr pk 22.00).
      O iya, rencananya Emily berapa hari di Bangkok? Dan rencananya mau mengunjungi apa saja? Jangan lupa untuk mencatat alamat dan no.telp KBRI…

    2. Oh iya, Emily… kalau seandainya ragu dg kondisi Bangkok, mungkin bisa buat rencana lain, misalnya ke Ayutthaya (76 km dr Bangkok) atau ke Laos sekalian (bisa naik kereta), atau ke phuket or pattaya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s