Melintasi Perbatasan Thailand – Laos : Menyeberangi Mekong dengan Kereta

Beberapa bulan sebelum keberangkatan saya dan bokap ke Thailand dan Laos, saya sudah mencari banyak informasi mengenai moda transportasi yang paling tidak merepotkan untuk melintasi batas negara Thailand dan Laos. Dari contekan yang saya dapat (dih tua-tua masih nyontek aja yaa…), untuk masuk Laos, tepatnya Vientiane, kita harus melewati Friendship Bridge yang membelah Sungai Mekong dan menghubungkan kota Nong Khai di Thailand, dengan Vientiane (bagian pinggiran) di Laos. Jembatan ini berfungsi sebagai jalan raya, dan juga rel kereta. Uniknya karena perbedaan letak stir antara mobil Thailand dan Laos, yang juga menyebabkan perbedaan lajur lalu lintas (di Thailand menggunakan jalur kiri, sedangkan di Laos menggunakan lajur kanan), maka setelah melewati pos perbatasan jembatan ini, terjadi perubahan lajur kendaraan. Jembatan ini dibuka pada 8 April 1994, dan merupakan jembatan pertama yang melintasi Mekong, sedangkan jembatan kedua terletak di Savannakhet, yang dibuka tahun 2007. (see http://en.wikipedia.org/wiki/Thai%E2%80%93Lao_Friendship_Bridge)

Friendship Bridge Thailand-Laos
Friendship Bridge Thailand-Laos

Katanya sih , meskipun Friendship Bridge sudah dibuka sejak tahun 1994, namun perjanjian pembangunan rel kereta antara kedua negara ini, yakni dari Nong Khai (Thailand) ke Thanaleng (Vientiane, Laos) baru dibuat oleh pemerintah Thailand dan Laos pada tahun 2004. Bahkan konstruksinya baru mulai tahun 2007, dan stasiun Thanaleng baru resmi dibuka pada Maret 2009. Dan ini adalah jalur kereta pertama di negara Laos… wow… Sepertinya sih secara management ticketing, jalur Nong Khai – Thanaleng ini masih dikelola oleh pihak Thailand, karena tiket ke dan dari Thanaleng sama dengan tiket kereta di Thailand (lengkap dengan logo State Railway of Thailand). See http://en.wikipedia.org/wiki/Thanaleng_Railway_Station

Jadi, moda apa yang harus kami pilih? Suer, susah banget dah membuat pilihan yang tepat, murah, dan cepat. Banyak banget yang merekomendasikan naik bus dari Bangkok (Terminal Mo Chit) hingga Nong Khai, lalu dari terminal Nong Khai, tinggal beli tiket bus antar negara ke Vientiane. Bus ini akan menunggu para penumpang pada saat mengantri di imigrasi perbatasan. Untuk WNI yang ngga perlu visa, kabar ini cukup melegakan, soalnya kita nggak perlu lama-lama di pos imigrasi. Kalau kita kelamaan, busnya suka bete dan bakalan ninggalin deh… Bisa juga naik tuk-tuk dari terminal Nong Khai, tapi hanya sampai perbatasan, dan harus nyambung tuk-tuk lagi dari perbatasan ke Vientiane. Jadinya boros biaya, karena sekali naik tuk-tuk harganya bisa sampai 100 Baht/ tuk-tuk (1 Baht = =/- Rp. 350). O iya, dilarang nekad jalan kaki melintas Friendship Bridge (entah kenapa ya?). Sebetulnya kami agak ogah naik bus, mengingat perjalanan Bangkok-Nong Khai sekitar 10 jam. Saya masih trauma dengan sleeping bus Vietnam-Kamboja yang bikin klaustrofobia (karena posisi seatnya begitu dekat dengan langit-langit bus), dan juga bikin mati gaya karena gak bisa kemana-mana saking sempitnya. Padahal saya juga nggak pernah tau apakah bus dari Bangkok-Nong Khai separah itu atau jangan-jangan malah lebih baik… hehehe, tapi udah parno duluan untuk naik bus… Selain itu, hal yang membuat kami agak ogah untuk naik bus adalah posisi hostel yang cukup jauh ke Mo Chit, tapi sangat dekat ke stasiun Hua Lamphong, jadi malas juga kalau harus ngejar bus ke Mo Chit… apalagi takutnya ada jalan yg diblokir demonstran… Bus terakhir jurusan Nong Khai ada di Mo Chit jam 21.00, dan menurut teman yang sudah pernah ke sana, kita harus mengusahakan agar jam 19.00 sudah ada di Mo Chit. Nggak perlu booking siy, langsung aja kayak naik bus biasa.

Stasiun Hua Lamphong, Bangkok
Stasiun Hua Lamphong, Bangkok

O iya, ada bus langsung (no 825) dari Bandara Suvarnabhumi ke Nong Khai, yang berangkat pk. 20.15.

Ada juga yang merekomendasikan untuk naik bus ke Udon Thani, lalu naik bis langsung ke Vientiane dari sana. Atau naik pesawat langsung dari Bangkok ke Vientiane. Tapi sekali lagi, kami adalah turis kere, jadi hentikan ide untuk naik pesawat!

Pilihan berikutnya adalah naik kereta malam dari Bangkok hingga Nong Khai, lalu nyambung kereta ke Thanaleng, dan dari Thanaleng baru naik tuk-tuk ke pusat kota Vientiane. Tapi banyak yang bilang Thanaleng itu adanya ‘in the middle of nowhere’, alias bakalan susah kemana-mana, dan masih jauh banget dari pusat kota Vientiane (sekitar 20-25 km). Selain itu, selisih waktu antara kedatangan kereta di Nong Khai, dengan keberangkatan kereta dari Nong Khai menuju Thanaleng hanya sekitar 85 menit. Jadi hanya segitu waktu yang akan kita miliki untuk beli tiket ke Thanaleng, ngurus imigrasi dll. Dan katanya, jangan harap kereta Thailand itu on time,,, hampir pasti selalu telat…mati dah,,, jadi walaupun WNI bebas visa ke Laos, tetep aja bikin ngeri kalau ketinggalan kereta, soalnya bakalan boros deh naik tuk-tuk…belum lagi harus adu urat untuk negosiasi harga… ngebayanginnya aja udah bikin urat-urat muka nongol ke permukaan…

Makin deket hari H, makin bingunglah sayah… harus naik apa neh??? Secara tiba-tiba, mbah Google memberi jawaban, saya dapat buklet transportasi rel di Thailand dari link ini http://www.fahrplancenter.com, kata kuncinya thai railways guide. Gara-gara baca buklet ini, saya jadi ngiler untuk naik kereta malam, dan ambil gerbong kelas 2 AC, dengan tempat tidur bagian bawah a.k.a lower berths (jiah spesifik amat ya…). Selain itu, lokasi hostel kami kan dekat banget dengan stasiun Hua Lamphong, dan ditambah dengan pertimbangan kondisi Bangkok yang mungkin diblok sana sini, menggunakan kereta sepertinya adalah pilihan yang tepat..O iya, ini lho kalimat yang bikin saya ngiler :

Air conditioned sleeping cars accommodating 30, 32, 36 or 40 persons in semi-private berths both sides of a center aisle (privacy is provided by curtains). Each car is equipped with toilets and a shower. The day configuration is facing seats. At night the facing seats are drawn together to form the bottom sleeping berth and the upper sleeping berth folds down from the wall. The car attendant will convert room from day to night configuration and provides sheets, blankets and pillows. The berths are large enough to comfortably accommodate adults. Luggage is stored in racks next to the berths. Meals may be served by attendant in the room or consumed in the restaurant car. Lower berths are slightly larger and have a window and are slightly more expensive than upper berths.

Hehehe…kayaknya pewe banget yah… dan mengingat body kami segede gaban, jadi sepertinya akan lebih pewe untuk booking yang lower berths.

Tapi, saya masih agak galau mengenai pemesanan tiket. Saya tanya ke hostel, katanya bisa pesan langsung di stasiun. Jujur saya masih trauma kehabisan tiket bus dari Saigon ke Siem Reap. Mau booking via hostel, gak dilayanin, mau nggak mau deh harus beli langsung di stasiun. Akhirnya pakai jurus pasrah juga. Whatever will be will be lah…

Titik terang muncul ketika kami membeli tiket kereta ke Ayutthaya di hari kedua perjalanan kami. Kami sempat bertanya kepada seorang petugasnya, apakah kami bisa booking tiket ke Nong Khai sekarang, jika mau naik kereta ke Nong Khai besok malam? petugas itu bilang, kami bisa booking sekarang, atau booking besok pun bisa. Wah, ada harapan… Udah lah, belinya besok pagi aja,,,

Pagi-pagi buta di hari ketiga… (boong dnk,, nggak pagi-pagi buta… wong kami baru keluar hostel jam 8.30), kami booking tiket 2nd class sleeper with AC-lower (panjang banget ya pesanannya,,,), harganya 758 Baht, masih belum berubah dengan contekan saya yang valid tahun 2013. O iya, untuk loket-loket tujuan jauh adanya di loket nomor 15-18, di sisi kanan pintu masuk peron…
Ah, lega sekali rasanya, sudah punya tiket buat malam nanti… Sebetulnya sih ada beberapa kereta tujuan Nong Khai, yakni kereta no. 77, yang berangkat pk. 18.35 (tiba pk 05.15), kereta no 69, berangkat pk. 20.00 (tiba 07.45), dan kereta no.133, berangkat pk. 20.45 (tiba 09.35). Kereta dari Nong Khai ke Thanaleng ada pk. 09.10, jadi kami pilih kereta no. 69, karena kalau pakai kereta no.77 kayaknya bakal kepagian banget. Ngeri juga sih subuh-subuh di negeri antah berantah. Selain itu, takutnya imigrasi juga belum buka kan… Sedangkan kalau naik kereta yang no. 133 nggak akan keburu ngejar kereta ke Thanaleng.

Setelah membungkus makan malam, kami segera beranjak ke stasiun Hua Lamphong, dan kereta yang akan kami naiki ada di jalur 5. Kami segera mencari nomor gerbong (car) yang ada di tiket. Pada saat kami hendak menaiki tangga menuju gerbong, ada seorang suster (biarawati) yang juga sedang berdiri. Dengan baik hati dan tanpa diminta, beliau menunjukkan tempat duduk kami berdua… Makasih, suster…

Kereta kami...  Ada tag rutenya lho... Jadi nggak akan salah naik kereta...
Kereta kami…
Ada tag rutenya lho… Jadi nggak akan salah naik kereta…

Dan awalnya kami sangat kaget… Lho, kami kan beli tiket sleeper berths, kok ini bentuknya bangku yang saling berhadapan yaa… Yang upper berths sih memang udah kelihatan bentuk ranjangnya. Kami mencoba menganalisa apakah kursi ini akan disulap jadi tempat tidur? Gimana caranya ya? Kami ubek-ubek bangkunya, dan sempat hampir bikin si bangku patah tulang, dan nggak berhasil juga diubah jadi tempat tidur. Waktu salah seorang petugas (yang menawarkan makanan) mengambil sebuah papan dari bawah kursi, kami dan beberapa penumpang lain langsung pasang mata, kirain dia bakal nyulap kursi jadi tempat tidur. Eh ternyata dia mau pasang papan itu untuk jadi meja. Jiahhhh… *pingsan* dan *malu*

Sebelum "disulap" : masih beebentuk kursi berhadapan...
Sebelum “disulap” : masih berbentuk kursi berhadapan…

Kami yang penasaran (dan juga pengen bobo) akhirnya mananyakan kepada petugas lainnya, yakni bapak-bapak yang berseragam resmi, dan beliau bilang nanti ada petugas yang akan “membereskan” kursi-kursi ini.

Tepat pk. 20.00, kereta bergerak perlahan meninggalkan Stasiun Hua Lamphong. Kami sudah menghabiskan makan malam kami. Tempat duduk bokap masih dijajah seorang abg yang ngincer colokan listrik yang cuma ada satu-satunya disitu. Tak sampai sejam setelah kereta berangkat, seorang petugas mulai beraksi. Dengan gesitnya ia menyulap bangku-bangku di bawah menjadi ranjang, dengan cara menarik kedua bangku itu hingga bertemu di tengah, dan menurunkan sandaran kursi sehingga menjadi sebuah ranjang sempurna. Tak lupa ia melapisinya dengan kasur, memasang seprai, memasang tirai, memasang sarung bantal, dan memberikan selimut dalam plastik yang tersegel… Wah,,, sampe takjub deh melihat kegesitannya itu. Tak sampai 5 menit, “ranjang” kami berdua telah siap…

Disulap....
Disulap….
Tadaa... jadilah ranjang....
Tadaa… jadilah ranjang….

Melihat tempat tidur yang kayaknya nyaman itu (dan memang empuk dan nyaman…), saya langsung ngantuk,,,hahaha,,, so, saya menunaikan kewajiban sebelum bobo, yaitu gosok gigi dan pipis. Pas pipis, langsung kaget, soalnya dari lubang toilet kita bisa langsung melihat rel,,, waaaa,,,,vulgar sekali,,, buangan manusia langsung jatuh ke rel donk,,,, wah bisa bikin korosi dan bau juga yah,,, ihhh.,,jijay,,, tapi karena pipis sudah mendesak minta dikeluarin, akhirnya saya pake jurus ‘sebodo amat jangan mikirin yang aneh-aneh…’

Selagi mata belum bisa terpejam, saya mencocokkan waktu aktual pemberhentian kereta di setiap stasiun dengan jadwal yang saya punya. Dan bisa dibilang akurasi waktunya cukup bagus. Setelah stasiun Ayutthaya, saya sudah terlelap, dan beberapa kali terjaga karena kedinginan…(saya akhirnya mengeluarkan pashmina andalan untuk menghangatkan diri… selimut aja nggak cukup hangat,,,).

Stasiun Ayutthaya di waktu malam...
Stasiun Ayutthaya di waktu malam…

Ternyata malam itu bokap berkontribusi membuat tangan seorang penumpang terjepit di pintu WC… hahaha,, jadi si om itu lagi pipis, tapi pintu wcnya nggak dikunci. Bokap mendorong pintu itu dari luar, dan si om menahan dari dalam, dan akhirnya dia kejepit pintu deh… Pagi-paginya si om dengan tampang jutek memamerkan hasil karya bokap itu ke saya…hahaha,, maaf, om… BTW, si om ini penampakannya cukup bikin merinding, body gede, pake kalung rantai dan wajah sangar… Jadi kita jaga jarak deh dari doi…

Kami tiba di Udon Thani pk 06.43, lebih cepat 2 menit dari jadwal seharusnya. Petugas yang kemarin menyusun ranjang mulai berkeliling membangunkan penumpang. Penumpang yang sudah bangun langsung digusur, tempat tidurnya diubah lagi jadi kursi. Wow,,, lagi-lagi saya tercengang-cengang melihat cara kerjanya itu.

Pukul 07.45, kami tiba di Nong Khai, dan langsung disambut dengan angin yang dingin banget. Ketika kami turun dari kereta, kami langsung mencari loket untuk beli tiket ke Thanaleng, dan petugas tiketnya nanya, apakah kami hanya mau sampai Thanaleng, atau mau ke Vientiane. Ternyata pihak stasiun bekerja sama dengan travel agent untuk memfasilitasi penumpang yang mau ke Vientiane dengan harga 300 Baht, meliputi tiket kereta Nong Khai-Thanaleng seharga 20 Baht, dan mini van dari Thanaleng ke Vientiane. Ada juga paket ke Vang Vieng seharga 600 Baht.

Daripada bingung, kami langsung ambil paket itu (walaupun katanya kemahalan sih,,, tapi daripada repot dan bingung nawar-nawar tuk-tuk kan…). Setelah selesai urusan pertiketan, kami diberi stiker orange yang harus ditempel di pakaian kami, lalu kami langsung mengantri di pos imigrasi, dan hebat sekali, posnya belum buka.. Dan posnya memang nggak dibuka, petugasnya hanya pakai meja seadanya untuk mengambil kartu departure kami dan menstempel pasport kami. Keluarlah kami dari Thailand…

Sambil ngantri imigrasi, kami melihat petugas-petugas di dalam kereta yang sedang membereskan sisa kekejaman para penumpang.. Hehehe,,, tau gak mereka semua bekerja bertelanjang dada, sementara kami sudah merapatkan kancing jaket saking dinginnya…

Posko Imigrasi Nong Khai...
Posko Imigrasi Nong Khai…

Ternyata kereta menuju Thanaleng sudah stand by di jalur 1, dan hanya terdiri dari 2 gerbong saja dengan kapasitas 80 orang. Kereta ini berangkat 10 menit lebih cepat dari jadwal, yaitu pk. 09.00. Dan nggak seperti yang saya pikirkan sebelumnya, bahwa kita harus buru-buru untuk mengurus imigrasi, ternyata semua berjalan dengan tenang dan cukup santai. Seluruh penumpang ditunggu hingga selesai mengurus imigrasi. Wah, rasanya lega dan excited banget.

Angin kencang menerpa kami, saat kami menjulurkan kepala memandang perbatasan Thailand Laos yang memang ada di tengah Sungai Mekong. Deretan bendera Thailand berganti dengan satu bendera Laos di tepi jembatan, dan disusul dengan kalimat “Welcome To LAO PDR”. Sampailah kami di Laos. Hanya 10 menit perjalanan yang diperlukan dari Nong Khai ke Thanaleng.

Selamat datang di Laos :-)
Selamat datang di Laos🙂

Di Thanaleng, barulah dibagikan kartu imigrasi untuk masuk Laos. Para bule mengurus visa, dan kami berusaha secepat mungkin mengisi form imigrasi itu. Kami berhasil selesai duluan (nikmatnya jadi warga ASEAN di negara ASEAN…Hihihihi,,,) dan dapat izin tinggal selama 30 hari disini. Di parkiran ada mobil sejenis L-300, yang kami kira akan mengantar kami hingga Vientiane, tapi apa yang terjadi sodara-sodara,,, yang dimaksud mini van adalah mobil bak terbuka yang dikasih atap dan pagar. toweeeww… kebayang kan kena angin super kenceng dan dingin,,, Tas-tas kami ditaroh di atap mini van… Selama sekitar 10 menit, kani menunggu hingga semua penumpang ditungguin sampai selesai urusan imigrasinya.

Dari 10 penumpang mini van, hanya ada kami berdua yang berwajah Asia, sisanya adalah orang Perancis… jreng jreng jreng…maklum, mantan penjajahnya sih,,,hahaha… Salah seorang kakek yang sudah lama tinggal di Vientiane (dan waktu itu menjemput anaknya) menjelaskan apa yang harus kami lakukan, dan dimana kami harus turun nantinya.

Tak berapa lama mini van masuk ke sebuah terminal (entah apa namanya). Si Opa itu nunjukin bus berwarna hijau dan kami ikutan turun bersama rombongan dia. Saya sempat menukar uang ke Kip di money changer, dan tiba-tiba bokap memanggil, katanya kami masih ditunggu oleh mini van. Kenek mini van dengan muka bete ngoceh-ngoceh dan nanya kenapa kami turun, padahal kami belum sampai ke tujuan. Kami langsung jawab dengan polos bahwa kami disuruh turun ama si opa… hehehe… maaf ya, bang, kan kita kagak ngarti, bang… Kami naik lagi ke mini van, dan setelah melalui perjalanan panjang yang dingin dan berdebu selama hampir 1 jam,,, sampailah kami di pemberhentian akhir yang ada di samping National Museum, dan hanya berjarak beberapa puluh meter ke hostel…

Sepanjang jalan, saya dan bokap mendiskusikan bagaimana caranya kami kembali ke Thanaleng. Dari contekan, ada beberapa kereta dari Thanaleng – Nong Khai – Bangkok, yaitu kereta pk. 17.00 dari Thanaleng untuk nyambung dari Nong Khai dengan kereta no. 70 yang berangkat pk 18.20 (tiba di Bangkok pk. 06.00), atau nyambung kereta no  134 yang berangkat pk.19.15 (tiba pk. 08.00). Ide saya, kami naik tuk-tuk sepagi mungkin (maksudnya tengah hari gitu deh,, bukan pagi-pagi subuh, apalagi pagi-pagi buta…) dari hostel, di Thanaleng beli tiket, nunggu kereta ke Nong Khai, dan lanjut ke Bangkok. Sempat terpikir untuk nanya travel agent yang tadi nganter kami, cuma kami malah kelupaan karena sibuk baca peta… hahaha…

Sampai di hostel, kami malah mendapat jawaban dari diskusi kami itu. Hostel kami (Vientiane Backpackers), dan hampir semua hostel di sekitarnya membuka jasa pemesanan tiket bus dan kereta. Bahkan jasanya itu meliputi penjemputan dari depan hostel. Wew,,, tau gitu sih tadi nggak usah mikir banyak-banyak…

List harga bus dan kereta segala jurusan...
List harga bus dan kereta segala jurusan…

Kami akhirnya memesan tiket kereta via hostel. Harganya 260.000 Kip/ orang (+/- 32.5 US$). Sebelumnya kami sudah berhitung pengeluaran kami ketika berangkat. Total pengeluaran kami dari Bangkok hingga Vientiane adalah 1058 Baht (+/- 33 US$), jadi harga pesen dari hostel ini malah lebih murah dikiiit… Pakai dijemput di depan hostel pula kan, jadi ngga usah pakai panik-panik ketinggalan kereta atau nyari titik penjemputan… Jadwal penjemputan kami sekitar pk. 15.00 – 15.30, dan benar tim penjemput bermini van tidak ngaret lho.. hehehe… Mini van masih berkeliling Vientiane untuk menjemput beberapa penumpang lain, hingga totalnya 20 penumpang.

Tiba di Thanaleng, sopir mengabsen para penumpang (dia udah punya catatan lengkap lho mengenai titik penjemputan, jumlah orang yang dijemput, dan tujan akhir setiap penumpang), dan kenek langsung membelikan tiket kami semua, serta memberikan penjelasan kepada setiap penumpang. Mereka bekerja dengan gesit dan profesional banget dah… Kami kemudian mengurus imigrasi dan ternyata harus bayar 10.000 Kip (untung masih ada sisa duit sebesar 34.000 Kip di dompet… walaupun bisa juga sih dibayar pakai Bath).
Di atas kereta ada seorang petugas yang menanyakan setiap penumpang dengan ramah apakah passport sudah dicap? apakah tiket anda sudah lengkap? Form imigrasi untuk masuk Thailand dibagikan di atas kereta, dan kami langsung ngebut mengisinya supaya nggak terburu-buru saat di Nong Khai nanti. Dan lagi-lagi, semua penumpang ditunggu hingga urusan imigrasi dan ticketingnya selesai… Baik banget yaaa…. mungkin karena penumpangnya nggak terlalu banyak kali ya,,, jadi masih banyak toleransi…

Stasiun Thanaleng
Stasiun Thanaleng

Dan saya masih menjulurkan kepala saat melewati perbatasan di Sungai Mekong, dan melihat mobil-mobil yang berhenti menunggu kereta lewat…hehehe…norak ya… sebodo ah,,,

Perbatasan Thailand Laos di Friendship Bridge
Perbatasan Thailand Laos di Friendship Bridge

Prosedur masuk Thailand dari jalan darat ternyata sama detailnya dengan dari udara, kita difoto dengan kamera mini, form arrival diambil, dan pasport dicap, ternyata izin tinggalnya hanya 15 hari, sementara kalau masuk melalui airport kita dapat 30 hari.

Stasiun Nong Khai...
Stasiun Nong Khai…

O iya, kami lagi-lagi sudah membungkus makan malam, dan sesaat setelah kereta mulai bergerak meninggalkan Nong Khai pukul 18.20, kami mulai makan. Petugas penyulap tempat tidur mulai berkeliling, mengubah kursi menjadi ranjang sambil mengingatkan bahwa kami akan dibangunkan pk 05.00 keesokan paginya. Menjelang pk 20.00, kami sudah nguantuk,,, jadi kami langsung sikat gigi, masuk wc, dan siap-siap bobo…

Pukul 05.00 lewat sedikit, petugas mulai berkeliling membangunkan kami, dan mulai beraksi melipat kasur, menggabungkan seprai, selimut dan sarung bantal menjadi satu. Dan tepat pukul 06.00 kami tiba di Bangkok. Wahh,, masih ngantuk, dan langit Bangkok masih gelap. Tapi Hua Lamphong sudah dipenuhi oleh para pendemo yg bersiap-siap memasang atribut…

So…nggak nyesel deh pilih sleeper train, 2nd class, lower berths.. Dan setelah dijalanin ternyata semua prosedurnya nggak seseram dan seribet yang dibayangkan kok… So,, pilihlah kereta,,, untuk mengurangi kemacetan… (Lho..kok promosi sih…)


23 thoughts on “Melintasi Perbatasan Thailand – Laos : Menyeberangi Mekong dengan Kereta

  1. Nice story sangat informatif, tapi boleh nanya gak, kalau dari bandara Don Mueang mau ke nong Khai naik apa ya? ada bis yang paling malam gak? karena landing jam 8 malam di Don Mueang airport…terimakasih..salam kenal_Afni

    1. Halo, Mbak Afni… Mbak, maaf sekali aku ndak dapat info mengenai bus dr Don Muang ke Nong Khai… saya hanya tahunya bus dari Mochit… maaf yaa,,,,
      tapi bandara Don Muang terkoneksi dg stasiun kereta Don Muang, jadi bisa naik kereta ke Nong Khai. Ada dua kereta malam dari Bangkok, yakni kereta no. 69, berangkat dari Bangkok jam 20.00, dan tiba di Don Muang jam 20.50, sampai Nong Khai jam 07.45, dan kereta no 133, dari Bangkok jam 20.45, tiba di Don Muang pk.21.31, sampai di Nong Khai jam 9.35.
      Biasanya tiket bisa dibeli langsung di stasiun Don Muang, Tapi, kalau dekat Tahun Baru Songkran (pertengahan April), bisa jadi agak susah nyari tiket langsung. Menurut info, tiket kereta bisa diorder 60 hari sebelum keberangkatan. Coba telepon stasiun Don Muang 025662957, atau buka http://www.railway.co.th, atau email ke passenger-ser@railway.co.th atau fax 0 2225 6068. Kode negaranya +66. Katanya sih ada tambahan biaya kalau pesan by email.

      1. wah makasih banyak infonya seneng banget deh nemu blog nya Mb Celina…saya rencana ke Bangkok tgl 13 Maret-19 Maret, rencana siy Laos-Hanoi-Bkk… mungkin buat mb M4rtha_fun kita bisa jalan bareng…🙂

      2. E iya,Mbak…sering2 monitor facebooknya Komunitas Indonesia di Thailand dan Michael Yon untuk monitor kondisi di Bangkok… kemarin (18 feb) saya dengar ada bentrok di dekat grand palace… selamat jalan2…🙂

      3. Mbak….dicek juga web resminya state railway ya..takut ada perubahan… O iya, kereta ngga selalu ontime, dan kalau beli tiket dr stasiun pertengahan seperti Don Muang, kadang tdk ada banyak pilihan….

      1. Mbak… aku dapat link jadwal bus dr mochit http://www.thailandee.com/eng/transportation-thailand/bus/buses-from-bangkok-to-nong-khai... disitu schedule terakhir pk. 21.45. Kalau dr Don Muang jam 8 malam, saya masih ragu apakah bisa sampai di Mochit jam segitu. Kalau saya boleh usul, apakah sebaiknya menginap dulu semalam di daerah dekat Don Muang. Lalu keesokan paginya booking tiket kereta malam dr Don Muang… atau menginap di Bangkok, sambil explore Bangkok, dan menjelang sore baru beranjak ke Mo Chit… hehehe..kalo saya soalnya orangnya parnoan, jadi kalau waktunya mepet, saya bisa senewen sendiri…heheehe….

    2. Makasih banyak y mb Celina, gak nyangka bisa dapat informasi sbegitu banyaknya…pengennya juga begitu tapi saya janjian ama teman di Laos tanggal 14, jadinya ya, langsung kesana tpi kalo mmg kondisi nya tidak memungkinkan yah apa boleh buat, terimakasih banyak ya,,,,

  2. Hallo salam kenal btw cerita perjalanannya sangat menarik sy jg ada plann bln Maret mau Bangkok ke Laos, kalau boleh tau perjalanannya itu brp hari ya trus di perjalanan msk imigrasi tdk sulit ya??

    1. Halo….salam kenal juga… perjalanan Bangkok ke Laos hanya 12 jam dengan kereta, dan sekitar 10-12 jam dg bus… untuk kita yg WNI sudah sangat mudah urusan imigrasinya. Cukup mengisi form imigrasi (arrival & departure). Dan pada saat keluar Laos kita cukup membayar 10000 kip…

    2. O iya, untuk masuk Thailand juga kita harus isi form arrival departure juga, hanya untuk Thailand itu semua gratis… yg agak ketat hanya di sisi Thailand, karena kita difoto dg kamera imigrasi (sambil ngurus sambil difoto), dan pengecekannya lebih teliti di sisi Thailand… menurut saya…heheheh

  3. Halo salam kenal. Infonya ngebantu bgt krn saya akan ke thai & laos bulan mei tahun dpn. Saya mau tanya, itu utk urusan imigrasinya kita butuh pas foto/ga ya? Saya lupa baca di blog mana katanya perlu.. Dr thailand saya jg akan menggunakan jalur darat ke laos seperti anda 😁😁 saya orgnya jg panikan jd mau prepare dr skrg. Terimakasih

    1. Hi, Nopita… karena sama2 negara ASEAN dan sudah bebas visa… so all we need is passport only.. ngga pakai foto dsb2… cukup isi immigration form aja n tunjukin passport.. selamat jalan2…rencana kemana saja niy?🙂

      1. Aku enaknya manggil apa ya? Mba aja blh? Makasih infonya & mau nanya lg blh ya 😁 Ini rencananya 4days di thai & yg paling jauh di thailand mau ke mini siam pattaya & wat rong khun. Nah wat rong khun kan di chiang rai & baca2 itu kan udh dkt bgt sama laos. Tadinya mau ngikutin gaya mba yg via train tp jd berubah krn mau langsung aja dr chiang rai & sekarang permasalahannya gimana caranya pp Chiang rai-vientiane-vang vieng-bkk. Buntu bgt ini 😭😭 butuh info makasih 🙏🏻🙏🏻 oia rencananya mau sehari di vientiane & sehari di vang vieng.. Maaf ya nanyanya panjang bgt 😁😁

  4. Waduh aku malah blm berminat bgt ke luang prabang soalnya nntn di tv medannya & jauhnya parah 😭😭 yaudah deh mau ga mau ikut model mba aja via train yg udh jls 😁😁 soalnya msh hrs blk ke bkk buat ktmu tmn lama tp makasih loh mba infonya 👍🏻👍🏻

  5. permisi yang punya blog.. (dari nama sih kaya nama cewek tapi ntah ya~😀 )
    Mau tanya donk.., itu selama keliling-keliling komunikasi’nya sama orang setempat pakai bahasa apa ya?
    bahasa Melayu? Inggris..? atau…??

    1. hi, Yume…yup, I am a woman…
      saya pakai Bahasa Inggris.. memang di Lao dan Thai mereka agak kurang menguasai English..jadi mau ga mau pake bahasa kalkulator, tunjuk sana tunjuk sini.. selalu siap kertaa dan bolpen, kalau mereka ngga ngerti bahasa lisan, tulis aja di kertas.. begitu juga kalau naik taxi or transportasi umum lain, biasakan untuk tulis alamat di kertas yah…

  6. Hahaha…. blogmu muncul pertama di google saat aku search, ternyata aku ketawa ngakak baca soal kejepit pintu itu… astaga gawat bener…
    aku lagi prepare nulis lintas batas thai – laos selatan kemarin ini… mudah2an ada waktu deh…

    1. Ayo mbak…. aku menunggu cerita dari sisi perbatasan yang lain… hehehe…
      Mbak… waktu itu kita berdua udah takut dikeplak sama om berbadan guede itu… kalau diinget sekarang sih pengen ketawa… tapi waktu itu…beuh…tegang betul…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s