Tadi malam ia tersenyum,,, dalam mimpiku…

Dua hari lagi seharusnya menjadi hari ulang tahunmu yang ke-34… 

Tapi sejak hampir lima tahun yang lalu, kamu tak lagi merayakan ulang tahunmu bersama kami.. Karena kamu sudah pergi.. pergi jauh.. menuju surga..

Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk melupakan segala kenangan indah. Dan lima tahun bukan pula waktu yang cukup untuk menyembuhkan pedih di hati karena kepergianmu.

Tak pernah ada batas waktu untuk berduka, dan hati pun tak bisa dipaksa untuk merelakan… 

Bahkan kata-kata penghiburan terdengar begitu menyakitkan.. Pelukan dan tepukan di bahu tak bisa mengurangi rasa kehilangan…

Aku takut ketika aku merelakan kepergianmu, ingatan tentangmu akan memudar…

Dan setelah kehilanganmu, aku tak mau kehilangan kenangan tentangmu…

 

Orang bilang, waktu akan menyembuhkan segalanya… Ya, mungkin mereka benar…

Tapi, setelah selama ini, mengapa air mata ini masih jatuh saat memandang fotomu, mengapa senyumku berubah jadi isak ketika aku mengingat semua hal indah yang pernah kita lalui..

Dan mengapa sesal itu masih juga menyesakkan dadaku..

Bagaimana aku bisa menebus rasa sesal ini, agar beban ini terasa ringan?

Apakah kamu dengar kata maaf yang berulang kali aku teriakkan? 

Setiap hal yang aku lakukan, setiap tempat yang aku kunjungi selalu mengingatkan aku padamu. Bahkan hal-hal kecil tentangmu, yang dulu tak pernah aku perhatikan, kini selalu muncul di benakku.. 

 

Mereka bilang ketidakrelaanku akan memberatkan langkahmu, setiap tetes air mataku akan menjauhkanmu dari kebahagiaan surga.. Mereka bilang kamu tidak akan rela melihat aku bersedih…

Tapi mereka tak tahu betapa sakitnya hatiku. Mereka tak pernah mengerti betapa dirimu begitu berarti bagiku, dan mereka tak pernah tahu, bahwa kamu sudah membawa separuh jiwaku pergi dari tubuhku…

Mereka tak pernah sadar, bahwa aku berjuang begitu keras untuk bisa melalui hari-hariku yang begitu berat dan nyaris tanpa semangat sejak kau pergi…

Setiap pagi, ketika aku terbangun, ingin rasanya aku menutup mataku lagi.

Aku butuh waktu yang lama untuk menguatkan diriku, dan mengumpulkan semangatku untuk melewati satu hari lagi dalam hidupku.. Dan tiba-tiba aku tak bisa mensyukuri nafas hidup yang masih Tuhan berikan padaku… Kadang dengan lancang aku berkata, “Tuhan, kapan aku bisa bertemu dengannya?”

Dan mereka tak pernah tahu, bahwa senyumku adalah kepura-puraan. Ceria adalah upayaku untuk meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Padahal saat ini aku begitu jauh dari kata “normal..”

Karena aku tak bisa menangis, dan mereka bilang aku tak boleh menangis… Mereka bilang aku harus kuat, mereka bilang aku harus sabar… 

Aku hanya bisa menjadi diriku sendiri saat aku berdiri di depan lemari abumu, aku bisa bebas menangis saat aku menatap fotomu disana. 

Biarlah, mereka tak perlu tahu dan mereka tak perlu mengerti…

 

Katanya, saat seseorang meninggalkan dunia, ia melangkah sambil tersenyum, karena ia semakin dekat dengan sang pencipta… karena ia semakin dekat dengan surga…

Seharusnya aku berbahagia, karena kamu pun semakin dekat dengan sumber kebahagiaan itu..

Mestinya aku iri, karena aku belum bisa merasakan bahagia sejati itu… 

 

Dan katanya, orang-orang yang kita sayangi akan menyambut kita saat kita pergi ke sana..

Saat aku datang ke sana, apakah kau akan berdiri menyambutku? Apakah aku akan berjumpa denganmu lagi?

Ah, aku tak sabar sekali menunggu hari itu..

Saat aku memandang wajahmu lagi, saat aku melihat senyummu lagi, saat aku menggenggam tanganmu lagi, saat kamu memelukku lagi…

Bisakah aku minta pada Tuhan, agar aku bisa segera menemuimu?

Aku sudah tak bisa menahan rasa rindu di dadaku ini…

Aku rindu senyummu, senyum yang selalu membuatku tenang ketika aku khawatir dan takut. Aku rindu tawa lepasmu yang begitu tanpa beban. Aku rindu dengan kejutan-kejutan yang kamu berikan, yang kadang tak pernah kuduga.. Aku rindu semuanya tentangmu.. 

 

Tadi malam, lagi-lagi aku terjaga hingga menjelang fajar..

Aku berusaha tidur sambil memegang album foto kita..

Dan ketika akhirnya aku bisa terlelap, aku melihatmu datang.

Kamu mendekatiku, tersenyum, dan seperti biasa membelai rambutku..

Tak sepatah katapun yang kau ucapkan, hanya senyum yang begitu damai..

Seolah ingin berkata bahwa meskipun kita sudah berjauhan, hati kita tetap dekat..

Meskipun tak bisa lagi bersentuhan, tapi kamu akan tetap menjagaku,

menjadi bintang penerang saat malamku begitu pekat.. 

 

Dalam setiap doa yang aku ucapkan, selalu ada namamu,,

Semoga doa itu menjadi jembatan antara duniaku dengan surgamu..

Dalam setiap langkah yang aku pijakkan, aku merasakan semangatmu,,

Semoga aku tak perlu menunggu terlalu lama untuk bisa berjumpa lagi denganmu…

 

#Buat seorang sahabat, kehilangan memang begitu menyakitkan,, Kamu punya hak untuk bersedih, lepaskan saja tangismu itu.. Tapi aku ingin kamu tahu, bahwa kamu pun memiliki banyak orang yang menyayangi kamu…  dia pun menyayangi kamu dan ingin kamu bahagia…#

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s