Setengah Hari Bersepeda di Ayutthaya…

Ayutthaya adalah sebuah provinsi berbentuk pulau, yang terletak sekitar 76 km di sebelah utara Bangkok. Apa yang istimewa dari Ayutthaya? Ayutthaya pernah menjadi ibukota kerajaan Thai sejak tahun 1350 hingga 1767, dan kini telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO sejak tahun 1991. Sebagian besar objek wisata di sini adalah reruntuhan bangunan kuno. Kenapa? karena pada tahun 1767, kota ini dihancurkan dan dibakar oleh Burma, hingga kemudian ditinggalkan oleh penduduknya. Selama 417 tahun menjadi ibukota, ada 35 Raja yang pernah memerintah disini.. Dan pemerintahan mereka hampir didominasi oleh perebutan kekuasaan berdarah, karena mereka sudah meninggalkan filosofi Buddha tentang bagaimana seharusnya menjadi Raja dan pemimpin yang benar…

Lantas, Ada apa sih di Ayutthaya? Hmm, pernah lihat patung kepala Buddha yang “tercekik” di tengah batang pohon? Nah, itu tuh yang bikin saya pengen banget ke Ayutthaya… Sebetulnya kalau mau menjajaki sejarah Thailand yang lengkap, harusnya sekalian juga mengunjungi Sukhothai. Tapi,,, karena waktu kami hanya seminggu, dan agak susah untuk mencapai Sukhothai (katanya kalau naik kereta harus turun Phitsanulok, dan harus nyambung bus lagi dari situ…), akhirnya kami hanya menggapai Ayutthaya saja… Sekalian melarikan diri dari Bangkok yang saat itu sedang di-“shut down”.. hehehe.

Awalnya, kami berniat untuk booking tour ke Ayutthaya dari hostel, tapi karena peristiwa Bangkok shut down, operator tour menghentikan operasinya… Mateng dah… Mereka juga ga bisa rekomendasikan travel agent di Ayutthaya, alhasil kami benar-benar harus usaha sendiri. Si Hostel menyarankan kami naik kereta aja. Menurut mereka, jadwal ke Ayutthaya hampir setiap jam ada, dan dia bilang beli aja tiketnya langsung di Stasiun Hua Lamphong, ga usah pakai booking segala.. Jiah,,,  Kebayang deh rempongnya,,,

H-2 sebelum berangkat, barulah saya mencari-cari apa yang menjadi objek menarik di Ayutthaya, dan ternyata ada banyak objek dengan keistimewaanya sendiri. Dari Mbah Google, saya dapet peta Ayutthaya, dan kayaknya pulau ini ngga terlalu gede (PS : petanya tanpa skala… hehehe). Kayaknya sehari keliling-keliling jalan kaki cukup lah… Saya juga merencanakan untuk sekalian mengunjungi Bang Pa In Palace, yang juga dilewati jalur kereta (tapi suer, Bang Pa In Palace ini ngga kelihatan dari rel…). Jadi rencananya kami ke Ayutthaya, baru pulangnya ke Bang Pa In Palace, dan langsung naik kereta dari Bang Pa In Station (kalau dari Bangkok, stasiun ini tepat sebelum stasiun Ayutthaya).

Tapi apa daya,,, rencana tinggallah rencana…Kami tiba di Bangkok tanggal 12 Januari 2014 menjelang pk. 21.00, dan antrian imigrasi puanjang sekali.. Belum lagi harus nyambung airport link dan MRT, so, kami baru sampai hostel sekitar pk 22.30, dan setelah makan plus survey ke Stasiun Hua Lamphong, kami baru beranjak tidur menjelang pk. 01.00. Niatnya sih kami mau naik kereta pk. 06.40, atau 07.00, atau 08.20, atau 08.30… Tapi pas hari H, kami kesiangan keluar dari hostel (baca : kesiangan bangun..hehehe), dan pas nyampe Stasiun Hua Lamphong, kereta jam 08.30 baru aja berangkat… hiks,,hiks… Akhirnya kami beli tiket untuk pemberangkatan pk. 09.25. O iya, tiketnya murah banget, hanya 15 Baht (kurang dari Rp. 6000), dan kami dapet kereta ekonomi diesel.. Hmm, bayangkan kereta Jawa kelas ekonomi… Udah kebayang? kursinya 2-3 hadap-hadapan (maafkan saya karena lupa motret isi keretanya).

Tiket ke Ayutthaya
Tiket ke Ayutthaya

Sambil nunggu kereta berangkat, kami duduk di peron sambil makan baso ikan yang kami beli di peron. Harganya 15 Baht per tusuk isi 3 butir (ukuran gede, dan hebatnya nggak bau amis…), dan menjelang pk. 09.00 kami naik ke atas kereta. Kami duduk di depan seorang ibu yang mau pulang ke rumahnya di… di mana ya? lupa,,,, hehehe… Dia hanya bisa beberapa kata dalam Bahasa Inggris, jadi kami mengobrol dengan bahasa tubuh.. hahaha,,,, ya, sedikit-sedikit bisa nyambung kok… Kan bahasa tubuh+senyum+tawa adalah bahasa universal… Minimal kami bisa tahu bahwa dia kerja di daerah China Town Bangkok, dia hari itu sedang libur karena Bangkok Shut Down itu, makanya dia mau mudik. Dia tahu Indonesia, dan dia bilang Indonesia itu indah. Dan dia bilang saya cantik (hahaha,,, ini yang terpenting lho…). Dia juga jadi juru bicara dari ibu-ibu yang duduk di seberang kami, yang penasaran tentang status saya dan bokap. Pas kami ngaku bahwa kami bapak dan anak, dan lalu dia terjemahin ke para ibu-ibu itu, semua langsung kompak ketawa,,, Nah, hayo,,, kalian mikir apa tadi? *smirk..smirk…

Lama banget keretanya nggak jalan. Si ibu tadi bilang kereta memang sering terlambat.. Tapi hingga pk. 10.00 kereta masih stuck aja. Begitu ada petugas masuk gerbong, langsung deh diberondong pertanyaan, ternyata katanya jalur kereta kena mob (a.k.a diblokir ama demonstran). Jiah,,, 10.30 sudah terlewati. Akhirnya kereta kami baru berangkat sekitar pk. 10.50, itu pun sempat mandek di perbatasan Stasiun Hua Lamphong. Saat kereta lagi mandek itu, saya pipis di toilet kereta.. Udah sempet merinding duluan ngebayangin toiletnya… Tapi untunglah nggak parah, walaupun kata bokap, itu lubang toiletnya langsung blong ke rel, tapi karena relnya nggak kelihatan, jadi saya nggak mikir yang aneh-aneh. Eh, sebelum saya selesai pipis, keretanya jalan… Kyaaa…. baru kali ini nih pipis di toilet bergerak..

Akhirnya kereta berhasil keluar dari Hua Lamphong, dan lagi-lagi ngetem lama di Bang Sue Junction… Dan makin lama kereta makin padat, walaupun ngga separah commuter line disini kok… Terus banyak orang jualan benda-benda antik… O iya, sepanjang jalan, pemandangannya cukup monoton, dan didominasi oleh bayangan tanah gersang… hehehe… dan rasanyaaa lama banget,,, emang sih butuh waktu 2 jam untuk sampai ke Ayutthaya. Dah gitu, perut kami udah mulai protes minta diisi. Ada sih yang jualan makanan, cuma kami malas juga kalau harus tawar menawar pakai bahasa tarzan dan bahasa kalbu,,, untung di tas masih ada coklat, jadilah kami ngemilin coklat…

Sekitar pk 13.00 kami baru tiba di Stasiun Ayutthaya, dan disambut suasanan stasiun yang dipenuhi anak-anak pramuka (eh kalau disana apa ya namanya?). Mau baca peta, eh kami malah diikutin sama calo tuk-tuk yang nawarin 500 Baht untuk tour keliling Ayutthaya sampai sore. Lah,,, mahal amir ya… kayaknya ngga semahal itu deh.. Apalagi saya masih pede bahwa kami bisa keliling dengan jalan kaki… hihihi…

Peta Bahasa Keriting...

Peta Bahasa Keriting…

Karena perut udah ngga bisa diajak kompromi, kami akhirnya makan dulu di seberang stasiun, sambil merhatiin kemana para turis bule melangkah (harusnya sih kalau ngikutin mereka nggak akan nyasar… hehehe). Ternyata di depan stasiun ada gang kecil, nah para turis itu pada masuk dari sana. Nah, selesai makan, kami juga menempuh jalan itu, dan nggak tau harus kemana…hehehe… beneran dah, tiba-tiba kami berdua jadi bolot banget, ngga ngarti baca peta…

Pas banget, gak jauh dari situ ada penyewaan motor dan sepeda (merangkap hostel). Pemiliknya lagi jelasin rute Ayutthaya ke salah satu penyewa motor. Saya ikutan nguping deh… Dan ternyata sodara-sodara… Ayutthaya itu LUAS!! Mateng… Dia bilang untuk masuk ke setiap lokasi ada biaya tiket, mulai dari 10 Baht sampai 50 Baht, dan kalau mau beli tiket terusan tinggal ke tourism central aja, harganya 200 Baht. Karena denger cerita itu, akhirnya kami berdua berembuk (lama banget berembuknya…), dan akhirnya kami memutuskan untuk sewa sepeda. Harga penyewaannya  30 Baht. Plus dimodalin selembar peta yang udah kucel abis, satu set rantai, kunci dan gembok sama pemiliknya. Si pemilik sepeda percaya banget sama kliennya,,, gak pake nahan pasport atau bayar deposit.. cukup dicatat nama dan nomor passport di sebuah buku besar…

Eh iya, kami kan rempong banget baca peta, padahal rute sepeda ada disini nih http://www.ayutthaya-history.com/Bicycling.html. Begini deh kalau travelling tanpa survey yang cukup… huh…

Ibu pemilik sepeda menjelaskan rute untuk menyeberang sungai untuk menuju Ayutthaya (oh, ternyata harus nyebrang sungai ya?), bisa pakai jalan raya (dia bilang jangan lewat sini, soalnya traffic??), dia menganjurkan nyebrang pakai perahu aja. Harganya 6 Baht per orang. Kami masih nekad dan bandel nggak mau naik perahu, dan mencoba lewat jalan raya, jadi kami keluar dulu ke jalan utama, dan ambil ke sebelah kanan (ke arah selatan), dan langsung bingung, soalnya ketemu jalan layang. Dan setelah nanya satpam, jalan layang itulah yang harus kami lewati kalau mau nyeberang ke Ayutthaya… OMG… itu nanjak cuy,,, mana panas pula… saya langsung ngomporin bokap supaya membatalkan niat lewat jalan raya,,, kebayang nggak naik sepeda dan harus mendaki jalan layang dengan sudut kira-kira 45 derajat.. ups, kayaknya terlalu ekstrim deh,, ya udah deh 30 derajat ajah lah… ama temen bisa ditawar,,,,

Kami pun berputar balik, masuk ke gang kecil tadi, dan mencari tempat kapal bersandar. Setelah membayar 6 Baht per orang, kami harus berjuang menurunkan sepeda melewati deretan tangga yang lumayan curam.. Buset deh, saya hampir nyusrug, dan sepeda nyaris meluncur bebas… Belum lagi pas harus naikin sepeda ke atas perahu, harus nunggu orang-orang pada naik, baru kami dan sang sepeda bisa naik.. Dan begitu melihat ke seberang, kami melihat lagi susunan tangga curam.. Makkk…. harus nanjak naik tangga dan menggendong sepeda? Ummmmm…. Bisa nggak kita batalin aja perjalanan ini….

Di atas perahu, kami melihat seorang bapak paruh baya yang memakai kaus Bali, kayaknya warga Indo nih… Pas turun, kami memutuskan untuk turun terakhir, secara rempong dah bawa sepeda… Nah,sambil nunggu, bokap nekad nyapa beliau, dan ternyata betul sekali,,, beliau warga Indo… Rumahnya di Malang, namanya Pak Yanto,,, dan karena melihat kami rempong, beliau bantu ngangkatin sepeda saya dan membawanya sampai ke atas… Wuih, jangan tanya deh gimana ngos ngosannya kami pas sampai di atas tangga… (padahal saya nanjak doang..kagak pakai bawa sepeda). Dan ternyata di situ juga ada rental sepeda…. GYAAAAA… TAU GITU NGGA USAH NYEBRANG PAKE BAWA SEPEDA….

Pak Yanto bilang, kenapa nggak jalan kaki aja? Nah, kan, beneran bisa jalan kaki… Tapi beliau melanjutkan lagi, ternyata dia sudah 4 hari di Ayutthaya, dan sudah menjelajah semua objeknya. Jadi mari kita simpulkan begini : Kalau mau jalan kaki keliling Ayutthaya, butuh waktu 4 hari.. Begitu…

Setelah ngobrol sejenak (sambil ngos ngosan), akhirnya kami pisah jalan, beliau mau ke pasar dulu… Beliau nunjukin arah Wat Mahathat ke kami (itu lho, tempat kepala Buddha yang tercekik itu…). katanya tinggal belok kanan, belok kiri, belok kiri, nyampe deh…

Tau gakk…. kami nyasar… ternyata tidak sesimple yang beliau jelaskan, dan baca petanya pun nggak bikin jadi jelas… Akhirnya setelah nanya-nanya dan istirahat beberapa kali, sampailah kami di Wat Mahathat menjelang pk. 15.00. Suer… ini beneran jauh,,,, dah gitu mataharinya juga terik banget… Alamat-alamatnya nggak akan bisa ngejar semua objek di Ayutthaya neh… O iya, sebelum masuk Wat Mahathat, beli tiket dulu yaa,,, harganya 50 Baht…

Menurut sejarahnya (alias menurut buku panduan tentang Ayutthaya), konstruksi Wat Mahathat ini dimulai pada pemerintahan Raja Borommarachathirat I tahun 1374 (suer, ngetik nama Raja ini susah banget, apalagi bacanya yah…). Pembangunan selesai pada masa Raja Ramesuan. Stupa utama yang khas menara Khmer (mirip menara Angkor) pernah roboh, dan kemudian direstorasi lagi pada masa Raja Borommakot. Tahun 1767, Wat Mahathat dihancurkan ketika pasukan Burma menyerbu Ayutthaya dan reruntuhannya ditinggalkan. Wat Mahathat ini adalah biara kerajaan, dan merupakan kediaman kepala Biksu dari sekte Kamavasi. Dulunya disini ada patung Buddha dari batu hijau, namun pada masa Rattanakosin, patung ini dipindahkan ke Wat Naphrameru.

The Ruins of Wat Mahathat
The Ruins of Wat Mahathat

SN850029Pada tahun 1911, stupa utama runtuh lagi, dan banyak orang yang ingin mengambil harta yang mungkin masih terpendam disini, hingga pada tahun 1956, Departemen Purbakala melakukan eskavasi dan menemukan banyak sisa benda bersejarah di area ini. Nah, mengenai kepala Buddha yang tercekik itu sebetulnya masih misterius juga.. Kenapa itu kepala Buddha bisa ada di tengah batang pohon. Kayaknya sih ada pencuri yang mau mengambil kepala Buddha itu, tapi mungkin ia tak bisa membawanya karena terlalu berat atau ketangkep basah, jadi maling itu meninggalkan kepala itu di celah batang pohon, sampai sekarang deh.

Ini nih.. Kepala Buddha yang tercekik pohon
Ini nih.. Kepala Buddha yang tercekik pohon

IMG_20140113_153153IMG_20140113_152558

Agak susah untuk memotret disini, mungkin karena kami sudah kesorean, jadi setiap mau motret objek bagus, kami selalu menantang matahari… O iya, disini kami mendapat uluran tangan dari seorang pria Kanada bernama Ryan yang dengan rela memotret kami berdua..

Ryan...cheese...
Ryan…cheese…

IMG_20140113_151748

Kami keliling Wat Mahathat selama kurang lebih 1 jam… Dan masih punya target untuk keliling Ayutthaya sejauh mungkin…

Setelah puas di Wat Mahathat, kami meyeberang jalan ke Wat Ratchaburana, yang lokasinya ada di seberang Wat Mahathat. Tapi jangan bayangkan cuma nyeberang doang ya,,, agak lumayan juga jaraknya. O iya, disini bayar lagi 50 Baht buat tiketnya…

Wat Ratchaburana ini ternyata merupakan saksi bisu sebuah sejarah kelam dari keluarga Raja Intharachathirat (lagi-lagi nama yang rumit…). Raja ini meninggal tahun 1424. Beliau punya 3 anak, yaitu Chao Aye Phraya (berkuasa di Suphanaburi), Chao Yi Phraya (berkuasa di Sanburi), dan Chao Sam Phraya (berkuasa di Phitsanulok). Setelah Raja meninggal, Chao Aye dan Chao Yi berebutan tahta, dan akhirnya berperang di Jembatan Pa Than, Ayutthaya, dan keduanya tewas dalam pertempuran itu (dodol ya?) Chao Sam datang ke Ayutthaya dan membangun tahta untuk menyiapkan proses kremasi ayahnya dan kedua saudaranya. Wat Ratchaburana inilah situs kremasi bagi mereka. Dua stupa yang ada di Wat ini adalah tempat kedua saudaranya bertempur dan mati.

The Ruins of Wat Ratchaburana
The Ruins of Wat Ratchaburana
Naik ke stupa utama...
Naik ke stupa utama…

Bentuk wat ini masih bergaya Khmer, dan untungnya kami bisa naik ke stupa utama. Bangunan-bangunan yang tersisa di Wat ini masih terlihat megah, walaupun udah runtuh dan mengalami pergeseran, sehingga tembok-temboknya terlihat agak “keriting”… hehehe…

Tahta Penghormatan...
Tahta Penghormatan…
Stupa Utama
Stupa Utama

SN850075Walaupun kami berusaha nggak lama-lama disini, tetap saja kami baru keluar dari komplek ini menjelang pukul 17.00. Nah,,, bentar lagi matahari sudah mau terbenam, jadi kami harus menentukan prioritas mau kemana.. kemana.. kemana..

Setelah memandangi peta, kami memutuskan untuk ke Patung Buddha Tidur (Wat Lokayasutharam) sambil melewati Wat Phra Ram, yang dekat danau, soalnya kami tergoda ngelihat foto Wat ini yang terpantul di permukaan air… Eh, dari kejauhan aja udah kelihatan cantik, bayangannya beneran kelihatan jelas di permukaan air. Karena pose cantiknya udah kelihatan tanpa perlu masuk ke Wat, akhirnya kami ngga masuk, dan motret dari luar… Secara udah sore juga gitu lho… Tapi suer, cantik banget…

Ketemu gajah di tengah jalan...
Ketemu gajah di tengah jalan…
Wat Phra Ram.. Dari jauh...
Wat Phra Ram.. Dari jauh…

Wat Phra Ram dibangun oleh Raja Ramesuan pada tahun 1369, sebagai tempat kremasi bagi ayah dari Raja King U Thong. Katanya nih, Wat ini akan lebih cantik lagi kalau bunga teratai di kolam sedang musim berbunga…

Wat Phra Ram Terpantul di Danau Nong Sano
Wat Phra Ram Terpantul di Danau Nong Sano

Setelah puas motret di depan Wat Phra Ram, kami meneruskan pencarian Wat Lokayasutharam. Setelah melewati putaran, tempat pelatihan gajah, menyeberangi jembatan, melewati pasar sore, dan melewati jalanan sepi (sampai kami sempet panik…jangan-jangan nyasar, soalnya nggak kelihatan tanda-tanda turis disini..), akhirnya jreng-jreng, terlihatlah sebuah bentuk patung Buddha tidur berwarna abu-abu… Fyuh…. Lokasinya ujung sekaleeee… dan sepi,,, waktu kami tiba, toko-toko di dekatnya sudah pada tutup. Jadi kami beneran kesorean yaa….

Reclining Buddha : Phra Bhuddhasaiyarat
Reclining Buddha : Phra Bhuddhasaiyarat

Patung Buddhanya panjang banget, warnanya abu-abu, ada bercak hitam di beberapa tempat. Nama patung ini adalah Phra Bhuddasaiyarat, yang menghadap ke arah timur. Patung ini dibangun dari batu bata dan semen, dengan model Ayutthaya pertengahan.Mau tahu ukurannya? panjangnya 37 meter, dan tingginya 8 meter. Di belakang patung ini terdapat reruntuhan stupa, wat, pagoda, dan menara lonceng.

Kakinya Buddha...
Kakinya Buddha…

Kami melihat jam, ternyata sudah lewat dari pk. 17.30. Kami lalu mengecek jadwal kereta dari Ayutthaya ke Bangkok di contekan kami. Ada kereta pk. 18.47, 18.53, 19.05, 19.14, dan 21.46. Jadi, sial-sialnya kalau dapet kereta terakhir, berarti kami akan tiba di Bangkok sekitar 23.35. Karena waktu masih banyak, kami agak sedikit bersantai di sini. Sambil meregangkan kaki yang sudah mulai pegal mengayuh sepeda sejak siang tadi.

The Face Buddha...
The Face of Buddha…

Kalau mau melihat pinggiran pulau Ayutthaya, maka dari wat ini kita bisa mengambil rute jalan sisi terluar pulau. Tapi, karena matahari sudah akan terbenam (alias gelap), dan kami takut nyasar, maka kami mengambil rute balik ke Wat Phra Ram, lalu melewati dua bundaran, menyeberangi sungai, belok kanan, dan bersiap melewati jalan layang. Mari kita hadapi jalan layang itu sodara sodara… Tapi kalau kami menyeberangi lagi sungai yang tadi, alias naik perahu dan ngegotong sepeda, wah, bakal ngeri juga…

So,,,mulailah kami mengayuh sepeda menempuh perjalanan yang sepertinya akan paaaanjaaangg dan laaaamaaa. Beberapa kali kami berhenti karena sudah kehabisan napas, sambil lihat rute di peta.. Plus…tukeran sepeda (karena sepeda saya lebih ringan) dan mampir dulu di pasar sore yang jual macem-macem makanan. Kami beli sushi bohongan seharga 5 Baht/ pcs (walaupun boongan, tapi enak banget…), dan beli bubur jagung dan bubur mutiara (ini juga ueeennaaaakkkk).

Pasar Sore
Pasar Sore

Setelah melewati bundaran Wat Phra Ram, barulah terasa banget bahwa kami begitu kecil diantara bus-bus dan mobil-mobil yang melintas… Arus lalu lintas begitu ramai, sepertinya karena hampir semua turis bergegas pulang pada waktu hampir bersamaan. Beberapa kali saya teroleng-oleng saking grogi dan teriak-teriak histeris gara-gara panik pas start di lampu merah. Dah gitu saya kan kagak hapal peta, jadi harus ngintilin sepeda bokap, dan tugas ngintilin ini jadi begitu susah karena jalanannya rame banget… Asli lah, ini pengalaman pertama saya naik sepeda di tengah jalan raya nan padat (dah gitu jalan rayanya juga lebar coy… sekitar 2-3 lajur).

Tapi, bagian yang terberat baru saya hadapi di jalan layang. Kata bokap : “goes yang kenceng dari bawah, supaya jangan berhenti sampai di puncak jalan raya…” Setelah berupaya mengayuh sekuat tenaga. akhirnya sebelum sampai puncak, saya udah menyerah dan ngos-nosan tingkat kronis.. Sampe kaga bisa ngomong… Ternyata bokap juga sama… hahaha…

Masalah utamanya bukan hanya karena capek ngayuhnya, tapi karena jalanannya rameee abiiiisss…. Dalam kondisi ini, barulah saya ingat apa yang dikatakan ibu pemilik sepeda : “Jangan lewat jalan layang karena traffic…” Jadi ini toh yang namanya traffic.. ini mah bukan sekedar traffic, Bu… tapi dangerous traffic…

Bayangin ya, jalannya terdiri dari 2 lajur + 1 bahu jalan. Kami bersepeda di bahu jalan yang posisinya paling kiri, lajur kedua adalah lajur bus dan truk, dan lajur terakhir adalah lajur mobil biasa… Serasa bersepeda di tol Jakarta Merak. Mana bus-bus itu pada ngebut pula… Udah panik berat… Saya juga masih sering oleng dan akibatnya sepeda saya mengarah ke jalur bus. Padahal jalanannya cukup gelap, jadi agak khawatir kesundul bus… (ngeri dah….)

Karena kami sudah megap megap, maka kami berhenti dulu beberapa puluh meter sebelum puncak tanjakan. Kami sempatkan untuk memandangi Sungai Chao Phraya di waktu malam, dan sedikit bersyukur bahwa kami nggak perlu menyeberangi sungai dengan perahu sambil bawa sepeda… Setelah kami bisa bernapas dengan agak normal, akhirnya kami mendorong sepeda sambil berjalan menuju puncak (aseeekkk…)

Masalah muncul lagi. Menurut teori parabola yang terbuka ke bawah (jiahhh…), setelah mencapai puncak parabola, maka akan ada turunan. Maksudnya setelah kami sampai di titik puncak, kami harus melewati tahapan berikutnya, yaitu menuruni jalan layang. Kayaknya sih gampang, tapi ternyata menuruni jalan layang jauh lebih mengerikan daripada menaikinya. Kenapa? soalnya kita harus bisa mengendalikan kecepatan. Ngga pake digoes aja, itu sepeda udah meluncur otomatis. Nah, saya mendadak parno… ini sepeda kok kenceeeeng amatt…. saya takut nyusrug dan mencium bus… Saya juga makin sering oleng mengarah ke jalur bus…Bokap malah udah meluncur dengan santainya…. Kagak sadar anaknya masih tertinggal dan ngoceh-ngoceh panik beberapa puluh meter di belakangnya… huhuhuhuhu…. Kalau remnya nggak diteken, sepedanya meluncur bebas, kalau remnya diteken, dia malah berhenti dan miring… Serba salah… Akhirnya remnya saya tekan setengah, bodo amat dah kalo remnya abis… hehehe… jujur,,, jantung saya sampe deg-degan kenceng, dan tangan saya jadi dingin banget….

Setelah melewati perjalanan nan mengerikan, akhirnya sampailah kami di dasar parabola, eh…jalan layang… Tadinya kami mau meneruskan ke Wat Yai Chai Mongkhon yang adanya di arah timur stasiun. alias berlawanan arah dengan area yang tadi kami jelajahi. Cuma karena udah gelap, dan kemungkinan untuk nyasar semakin besar (dan nggak kebayang juga masuk kuil dalam suasana gelap…ihh,,,spooky kayaknya…), akhirnya kami putuskan untuk langsung pulang saja…

Kalau kami menaati lalu lintas, kami harus muter jauh banget untuk mencapai stasiun… Akhirnya kami nekad melawan arah, walaupun kami ke-gap dan dipelotoin sama polisi berbaju hitam… Untung gak sampe dipeluitin atau ditilang… Sekitar pk. 18.30 kami sudah sampai di tempat penyewaan sepeda. Dan baru kerasa, muka kami udah berlapis debu, tangan gemeteran, kaki keram, pinggang pegel dan maaf….pantat kebas…

Kami berjalan ke arah stasiun sambil setengah menyeret kaki… Asli lah, kami sudah bersepeda sekitar 5 jam. Rekor terlama saya dalam hidup.. Kami masih kebagian kereta pk. 19.05, dan waktu itu keretanya terlambat sekitar 10 menit. O iya, kalau disini nih, ada papan untuk mencatat status kereta. Di papan itu tertulis nomor dan tujuan kereta, jadwal seharusnya, berapa lama keterlambatannya, dan perkiraan tibanya kereta. Dan boleh dibilang, papan ini sangat informatif dan cukup akurat… Ditambah dengan petugas peron yang amat ramah dan sangat helpful. Walaupun Bahasa Inggrisnya tidak lancar, tapi beliau sangat baik hati. Kami cukup menunjukkan tiket, dan beliau menunjukkan di jalur mana kereta akan berhenti. Bahkan beliau mengingat wajah dan tujuan setiap penumpang. Jadi ketika ada kereta yang datang, beliau akan memanggil dan memandu penumpang yang harus naik kereta itu.

Stasiun Ayutthaya
Stasiun Ayutthaya

Sambil menunggu kereta, kami makan sushi boongan dan beres-beres barang-barang kami yang campur aduk di dalam ransel. Dan tiba-tiba kami baru sadar tiket kami entah ada dimana. OMG,,, penyakit pikun mulai kambuh lagi… Saya menginterogasi bokap, dan bokap ngecek semua sakunya, dan hasilnya NIHIL… Saya ngecek semua celah dan kantong di tas. Dan sama NIHILnya.. Saya ngecek map dokumen.. Nggak ada juga… Saya buka semua buku dan brosur… Ngga ada… Mateng,,, ini kumaha…kumaha atuh kumaha…

Dah gitu,memori otak juga ngga bisa diajak kompromi… Saya cuma inget, itu tiket terakhir kali ditunjukin ke petugas peron. Ow,,,jangan-jangan diambil beliau ya? (teori yang aneh,,, bisa-bisa langsung dikeplak ama petugas peron…hahaha). Setelah menenangkan diri dan hati, tiba-tiba saya inget bahwa tiket itu saya selipkan di bagian belakang map dokumen, dan bukan ditaro di bagian dalamnya… Wakakakaakak… kami serta merta langsung heboh waktu menemukan tiket itu… Sampai dilihatin orang-orang di peron. Untung mereka ngga ngerti Bahasa Indonesia… hihihihi

Tak berapa lama disampaikan pengumuman berbahasa Thailand (jelas lah kami ngga ngerti si announcer ngomong apa…), tapi ada kata-kata Hua Lamphong… Pasti ini kereta kami mau datang. So kami menyeberang ke jalur 3, dan menunggu di peronnya. Di sini kami melihat turis-turis bule yang membawa sepeda dan penduduk lokal yang membawa barang berukuran besar. Kami juga bertemu seorang gadis Singapura, dan konyolnya, kami udah ngobrol panjang lebar kali tinggi, tapi kami nggak nanya siapa namanya…hahaha… Dia mengeluhkan sulitnya untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan orang Thailand… Meskipun dia juga cerita bahwa di Singapura sendiri ia lebih sering menggunakan bahasa Mandarin.

Kereta pun akhirnya tiba. Sepeda dan barang-barang gaban dimasukkan ke gerbong khusus barang. Kami dan gadis Singapura akhirnya terpisah di gerbong yang berbeda. Suasana kereta cukup ramai, dan untunglah saya dan bokap masih dapat duduk berdampingan. Semakin mendekati Bangkok, kami bisa selonjoran sambil mengamati penumpang di dekat kami… Bokap bahkan mengamati ada seorang preman yang mengintai dua orang turis… Weww… serem juga yaa… Untung ada bokap… Jadi aman… \(^^)/

O iya,,, akhirnya kami nggak jadi ke Bang Pa In Palace, dan sebetulnya hanya sedikit objek yang kami jelajahi di Ayutthaya. Kami nggak ke Wat Phra Si Sanphet yang adalah Royal Palacenya Ayutthaya, padahal lokasinya dekat dengan Reclining Buddha. Kami juga melewatkan Wat Chaiwatthanaram yang begitu megah. Emang sih lokasinya sudah sedikit keluar dari pusat Ayutthaya. Dan kami nggak mengunjungi bekas desa Portugis yang unik, karena meninggalkan jejak agama Katolik di area seribu kuil Buddha ini..

Berarti,,, kami harus kembali lagi nih…. hehehe… Next time (walaupun entah kapan), harus nginep di Ayutthaya… Biar puas….

O iya ini nih jadwal kereta dari Bangkok ke Ayutthaya dan sebaliknya (per April 2013, dan masih valid ketika kami berangkat pada bulan Januari 2014). Semua kereta tujuan utara (Chiang Mai, Phitsanulok), dan timur laut (Udon Thani, Nong Khai) pasti lewat Ayutthaya.

Bangkok – Ayutthaya : 04.20; 05.20; 05.45; 06.40; 07.00; 08.20; 08.30; 09.25; 10.05; 10.50; 11.20; 11.40; 12.45; 12.55; 14.05; 15.20; 16.10; 16.30; 16.50; 17.15; 17.25; 18.10; 18.20; 18.35; 18.55; 19.35; 19.50; 20.00; 20.10; 20.30; 20.45; 21.50; 22.00; 22.25.

Ayutthaya-Bangkok : 02.33; 02.37; 02.54; 03.05; 03.14; 03.55; 04.04; 04.45; 05.12; 05.25; 05.50; 05.58; 06.24; 06.43; 06.45; 07.11; 08.27; 09.01; 09.41; 10.28; 12.18; 12.40; 13.17; 13.28; 15.35; 16.05; 16.37; 18.47; 18.53; 19.05; 19.14; 21.46.

Enjoy your trip in the ruins of Ayutthaya…


9 thoughts on “Setengah Hari Bersepeda di Ayutthaya…

  1. Hello celina, your blog is so awesome when i searched about ayuttaya. May i ask you some information? Because, i plan to be there around late dec 2014. 1. Any info for tour if i book directly at ayuttaya? 2. Is it safe to bike in there with youth? Because i’ll go with my young brother? 3. Accompany you, the express train is more effective in time to get there?

    1. Hai, Lola, saya jawab pakai Bahasa Indonesia saja ya..
      1. Untuk perusahaan tour yg melayani tour ke Ayutthaya saya kurang tahu, tapi saya waktu itu ditawarkan oleh hostel tempat saya menginap (@ Hua Lamphong). Saya sempat booking, tapi karena Bangkok Shut Down, tour tidak beroperasi.

    2. 2. Bisa bersepeda, cukup aman karena jalannya luas dan lengang, namun kalau seharian mungkin sangat melelahkan… sewa sepeda sebaiknya dilakukan setelah menyeberang sungai ke Ayutthaya, jangan sebelum menyeberang sungai, karena akan meepotkan membawa sepeda sambil naik perahu…

    3. 3. Ya, karena kereta lebih murah dan bebas macet. Jalan raya di Bangkok tidak bisa diprediksi kemacetannya. Selain itu,kami memilih naik kereta karena waktu kami kesana ada kejadian Bangkok Shut Down shg banyak jalan yg diblokir…

    4. Jika Lola mau, silakan kirimkan alamat email ke saya, untuk saya kirimkan paket2 tour yang waktu itu ditawarkan hostel ke saya. O iya, maaf saya lupa, bisa juga menghubungi facebook World Travel Service, atau langsung ke kantor mereka di Hotel Siam @Siam di jl. Rama VI, atau di lobby hotel Phatumwan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s