Oleh-Oleh dari Laos : Menggigil Kedinginan di Vientiane

Day 1 : January 15, 2014

Kami tak pernah berpikir bahwa Vientiane di bulan Januari dapat membuat kami menggigil kedinginan. Januari 2013, ketika kami ke Vietnam dan Kamboja, kami kepanasan tingkat tinggi, bahkan jaket kami sama sekali tidak pernah digunakan. Kami berasumsi bahwa Vientiane akan menyiksa kami juga… Tapi ternyata kami salah besar…

Begitu kami turun dari kereta di Stasiun Nong Khai, kami menggigil kedinginan. Awalnya, kami kira kami kedinginan karena AC di kereta, tapi ternyata udaranya memang dingin, paka angìn pula… kami langsung merapatkan jaket, dan jaket kami tetap melekat di tubuh saat kami tiba di Stasiun Thanaleng untuk kemudian melawan angin yang lumayan kencang ketika kami harus naik mini van yang semi terbuka. Setelah melewati jalanan yang berdebu, bergelombang, dan sepi, lalu berganti dengan jalanan yang mulus dan ramai, akhirnya kami tiba di pusat kota Vientiane, tepatnya di Samsenthai Road, tepat di sisi Lao National Museum. Dari situ kami jalan kaki menuju Vientiane Backpackers, tempat kami akan menginap, yakni di Norkeokoummarn Rd (susah yoo). Di seberang pemberhentian mini van, nama jalan Norkeokoummarn sudah terlihat. Jadi kami langsung menyusuri jalan itu. Saya ingat patokannya ketika booking, yakni hostel kami terletak tepat di depan Wat Mixay. Tapi sampai jalan itu hampir berakhir di sebuah perempatan, kami belum menemukan hostel kami. Akhirnya kami mampir ke sebuah toko buku yang bernama Monument Books, untuk nanya jalan… Hehehe… untunglah Vientiane Backpackers sangat ngetop, dan ternyata Norkeokoummarn Rd masih berlanjut hingga setelah perempatan. Setelah melewati perempatan, Vientiane Backpackers ada di kiri jalan, sementara Wat Mixay ada di sebelah kanan.

Sambil beranjak menuju hostel, kami melihat sebuah warung makan yang sedang membakar ikan. Bukan bakar ikannya yang bikin kami bengong. tapi ukuran ikannya yang segede gaban (halah lebay….), dan papi langsung aja pengen nyoba makan disana. Memang sih itu sudah hampir waktunya makan siang (sekitar pk. 11.15), meskipun panas matahari tidak menyengat seperti jam 11 siang disini. Alhasil setelah kami check in dan beres-beres, kami langsung melangkah ke warung ikan tadi, dan dengan pedenya memesan seekor ikan gaban, plus 2 nasi ketan (pesannya pakai bahasa tarzan dan sedikit Inggris…). Kami kira nasinya ditaruh di piring, tapi ternyata, nasinya diletakkan dalam sebuah keranjang bambu kecil (yang kalau dituang ke piring, pasti jadinya sementung deh,,, asli banyak banget…). Kami langsung shock, tapi berupaya menghabiskan sedikit demi sedikit. Dan lebih konyol lagi, waktu kami sedang asyik makan, ada rombongan karyawan yang memesan satu ekor ikan dan 4 porsi nasi untuk enam orang. Kami kaget dengan pesanan mereka,  dan mereka juga bengong lihat kerakusan kami…😄. Ikannya disajikan dengan bumbu (entah bumbu apa) dan nikmat banget…

Akhirnya kami berhasil menandaskan ikan gaban itu (sampai hari ini kami nggak tahu ikan yang kami makan itu dari spesies apa.. Kalau menurut nyokap sih, kayaknya ikan gurame..), dan menyisakan setengah porsi nasi ketan yang kami bungkus di plastik bening. Niatnya sih kalau lapar di jalan kan bisa dicemilin. Hihihi…gak mau rugi… Kami membayar 53000 Kip untuk makan kenyang ini…. (1 US$ = 8100 Kip)

Selesai makan dan kekenyangan, kami mampir ke Wat Mixay. Sempet ragu apakah boleh masuk atau nggak ke Wat ini, soalnya banyak Bikkhu yang berdiri di bagian dalam pagarnya. Jadi kami takutnya Wat ini tertutup untuk umum. Tapi akhirnya kami memberanikan diri untuk masuk dari pintu yang berseberangan dengan hostel kami. Ternyata di dalam Wat itu ada sekolahan juga, dan saat itu pas banget anak-anak sekolah sedang pada istirahat. Kami masuk dan memotret sepuasnya, karena para Bikkhu itu sudah lenyap dari pandangan. Yang menarik dari Wat Mixay adalah lukisan tentang kehidupan Buddha Gautama di dindingnya, dan bentuk pintunya itu membuat saya tertarik. Kelihatan unik banget deh… Kami keluar dari pintu gerbang yang berlawanan arah dengan pintu gerbang yang kami masuki tadi. Dan kami menemukan dinding gerbang yang dilubangi untuk meletakkan abu jenazah… hiyyy.. (waktu siang sih nggak memberi efek apa-apa, tapi pas kami melewati Wat ini di malam hari, kami merinding disko juga…).

Kami menyusuri Rue Francois Nguin mengarah ke Sungai Mekong, dan kami menemukan taman bermain yang sepi,,, tapi rapi dan bersih… Sayangnya matahari cukup terik (walaupun angin dingin tetap terasa….), dan tak ada tempat duduk kosong, sehingga kami tidak mampir di taman ini. Kami meneruskan perjalanan kami untuk melihat Sungai Mekong, dan sebelumnya foto-foto dulu di depan sebuah rumah bergaya China (yang kami curigai sebagai rumah abu…hahaha…). Dan kami menyeberang taman dan jalan raya, untuk menyaksikan…. gundukan tanah di tepi Sungai Mekong… Lha,,, ternyata ada endapan tanah yang lumayan luas (bahkan bisa dilalui pejalan kaki), tepat di tepi sungai. Jadi dari batas jalan hingga ke batas air masih cukup jauh… nggak kaya tepian sungai yang biasanya langsung ketemu dengan air (duh,,,ribet ama ya penjelasannya…)

Saya dan papi sempat berdebat mengenai rute perjalanan kami. Apakah kami mau menyusuri Mekong ke arah barat? atau ke timur? jalan kaki? atau naik sepeda? Hostel kami nggak menyediakan city tour (dan memang nggak perlu juga siy,,,,).

Saya pengen banget ke Patuxay dan Pha That Luang yang merupakan land marknya Vientiane. Dari info yang saya dapat, lokasi keduanya ada di luar pusat kota. Patuxai terletak 1 km dari pusat kota, sedangkan Pha That Luang terletak sekitar 4 km dari pusat kota. Dan siang itu saya ogah jalan. Saya pengen naik sepeda, sementara bokap pengen jalan kaki. Memang sih, pusat kota Vientiane itu tidak terlalu luas, mungkin panjang kali lebarnya nya hanya 2 km x 2 km. Akhirnya kami membulatkan suara, untuk siang itu kami berjalan dulu ke arah timur, sejauh yang kami sanggup. Rute yang di luar pusat kota kami sisakan untuk besok. Kami juga menargetkan untuk merasakan suasana sunset di tepi Mekong.

Sambil kami melangkah, kami melihat sebuah patung di kejauhan. Begitu kami dekati, patung itu sepertinya patung seorang pahlawan dengan topi caping. Patung itu berpose seperti hendak bersalaman. Sayangnya semua keterangan ditulis dalam tulisan keriting Lao. Kami nggak ngerti… hiks..hiks… Ketika saya bertanya pada anak-anak sekolah yang duduk-duduk berteduh di bawah patung itu, mereka juga hanya menggelengkan kepala. Entah apakah mereka tidak tahu tokoh ini, atau tidak mengerti apa yang kami katakan ya? Kayaknya mereka nggak ngerti deh…

Dari peta yang nantinya kami dapatkan, kami baru tahu bahwa itu adalah Patung Chao Anouvong. Siapakah Chao Anouvong itu? Menurut Wikipedia, Chao Anouvong adalah Raja terakhir dari Kerajaan Lan Xang. Beliau adalah orang yang berupaya memerdekakan Laos dari penjajahan Kerajaan Thailand (Siam) pada tahun 1826-1828, meskipun tidak berhasil, dan bahkan pasukan Siam menghancurkan Vientiane pada tahun 1828. Nah, kan beliau ini pahlawan besarnya Laos….

Tepat di belakang patung Chao Anouvong, kami menemukan Presidential Palace (Hor Kham), dan tidak seperti istana presiden di Indonesia, Hor Kham ini terlihat sepi, tanpa penjagaan ketat. Kami jadi bingung, beneran ngga sih, ini istana presiden? Kami mengkonfirmasi pada penjual cenderamata di belakang patung Chao Anouvong, dan beneran itu adalah istana presiden… Waaaa… kok simple dan sepi sekaliii…

Setelah puas foto-foto di depan istana presiden, kami mengitarinya, dan malah melihat sosok That Dam (Black Stupa) di kejauhan,  sementara tepat di belakang istana ada Wat Sisaket. Kami memutuskan untuk ke Wat Sisaket dulu. That Dam kan nggak akan ditutup, jadi nanti sore aja sekalian balik ke Mekong. O iya, di titik ini barulah terlihat sisi istana yang  tertutup dan teramankan, hohoho… ternyata pusat aktivitasnya malah ada di sisi belakangnya…. (atau jangan-jangan ini sisi depannya ya?)

Untuk masuk ke Wat Sisaket, kami harus membayar 5000 Kip, dan belum apa-apa kami sudah takjub dengan deretan pemakaman unik di dekat gerbang… Haduh,,,, ini kuburan-kuburan bikin kagum sekaligus merinding…

Wat Sisaket didirikan dengan model Siam, pada tahun 1818 atas perintah Chao Anouvong. Ketika Vientiane diserang tentara Siam tahun 1828, Wat ini bertahan dan tidak dihancurkan, bahkan digunakan oleh tentara Siam sebagai pusat kendali. Alhasil Wat Sisaket adalah bangunan tertua di Kota Vientiane. Pada tahun 1924 dan 1930, Perancis melakukan renovasi terhadap Wat ini. Di Wat ini kami melihat berbagai macam Patung Buddha dalam berbagai material (kayu, batu, tembaga), ukuran dan pose mudra. Bahkan ada banyak relung yang di dalamnya diletakkan patung Buddha berukuran kecil. Konon ada sekitar 6800 patung Buddha di dalam Wat ini. Dan kami juga melihat sepasang muda-mudi sedang menjalankan sebuah upacara yang dipimpin oleh seorang Bikkhu. Entah apakah ini upacara perkawinan atau pre wed… Di samping Wat ini ada tempat tinggal Bikkhu, dan saya lagi-lagi dibuat takjub oleh pintu antik dan atap cantik…

Keluar dari Wat Sisaket, kami melihat sebuah Wat lagi di seberangnya, yaitu Ho Phra Keo. Ada yang aneh dengan namanya? Yup, mirip kan dengan nama Wat Phra Kaew di Grand Palace, Bangkok. Ho Phra Keo berarti altar dari Emerald Buddha. Ya, Emerald Buddha yang sekarang ada di Grand Palace Bangkok, tadinya sempat ditempatkan di Wat ini, sebelum dipindahkan ke Bangkok pada tahun 1778.

Wat ini sendiri dibangun tahun 1565 oleh salah satu keluarga bangsawan di Lao, namun dihancurkan pada saat Tentara Siam menyerang Vientiane tahun 1828-1829. Proses rekonstruksi dilakukan atas supervisi Prince Souvanna Phouma pada tahun 1936-1942, dengan tetap mengabadikan gaya arsitektur abad 16. Sayangnya nih, di dalam Wat ini kita nggak boleh motret. Wat ini menyimpan benda-benda bersejarah, mulai dari batu bertulis, takhta perunggu, drum perunggu berhias kodok, dan berbagai macam patung Buddha dari berbagai model. Hanya beberapa menit kami berkeliling disini, karena betul-betul minim informasi sih (ngga ada brosur, dan keterangan untuk setiap benda juga hanya sedikit sekali…). O iya, tiket masuknya sama dengan Wat Sisaket, yaitu 5000 Kip.

Kami mengaso sejenak di tangganya Ho Phra Keo, sambil menentukan rute kami berikutnya… Ups, ternyata ada problem dengan kaki bokap,,, Gara-gara pakai sendal baru, kaki bokap terkelupas… waduh,,,bagaimana ini… saya nggak bawa peralatan P3K pula.. Kami memutuskan untuk nyari warung untuk beli sendal jepit atawa betadine, perban, plester, atau sejenisnya lah… Tapi kami nggak sadar bahwa mencari warung di kampung orang tidak semudah di kampung sendiri….

Tak jauh dari Ho Phra Keo, kami menemukan Mahosot Hospital, harusnya ya ada apotik lah disini… Tapi yang kami temukan adalah mini market. Disini kami hanya bisa menemukan perban doang. Waktu kami tanya ke kasirnya apakah ada betadine dan plester, dia cuma geleng-geleng aja, dan bahkan ngajak kami ngobrol pakai bahasa Lao… mau pingsan dahh… Kayaknya sebagian besar warga Lao tidak bisa berbahasa Inggris deh, persis kayak kita disini…

Setelah mengupayakan prosedur P3K buat kaki bokap, kami lanjut jalan kaki lagi, kali ini tanpa tujuan. Kami hanya mengikuti jalan saja, dan berharap akan menemukan sesuatu yang unik. Nah, ternyata kami malah menemui kesulitan… hihihi…aya aya wae nya…

Jadi begini,,,di tengah perjalanan, bokap pengen pipis… nah lho… kami mau numpang pipis di Asian Development Bank, dan mereka (satpam, karyawan) ngga ada yang ngerti dengan kata “toilet” atau “WC”… Mereka semua geleng-geleng doang… makkk…. akhirnya setelah kami pasrah dan balik badan dari tempat itu, salah seorang karyawan perempuan mengejar kami… Oh ternyata beliau baru ngeh kami nyari WC… kami disuru ke Mal Talat Sao yang memang sudah terlihat dari situ….baiklah…

Kami melangkah cepat menuju mal, dan jangan kira lambang WC mudah ditemukan.. Susah cuy…susah… sekalinya ketemu lambang WC, eh, malah ada panah ke lantai 2. Pas kami ke lantai 2, WCnya ditutup. Kami balik lagi ke lantai 1, dan akhirnya ku menemukanmu…. WC oh WC…. ada di pinggiran….

Setelah legaaa…. kami keluar mal, dan menemukan kios-kios di pinggir mal, yang mirip dengan pasar pagi. Kios yang paling depan jualan buku… Langsung deh saya kalap…. nyari kamus, nyari gantungan kunci, peta, dst dst..

Karena hari sudah semakin sore, toko-toko itu sudah mau tutup… Dan kami pun melangkah menuju Patuxay… tadaaa… tadinya nggak direncanain mau kesini nih,,, tapi karena udah kelihatan, jadi dilanjutin aja deh kesananya…

Saat kami jalan, kami dilewati orang gila yang ngacir sambil dikejar-kejar orang sekampung (hahaha,,,nggak sebanyak itu sihh… ), dan tau gak,,,, kami juga menemukan toko obat, dan kali ini penjaganya bisa mengerti kata-kata “iodine”, “plester”, “betadine”,,, ahay,,,, padahal toko ini sudah mau tutup, tapi pemiliknya masih melayani kami dengan ramah…

Kami tiba di Patuxay, saat mentari sudah condong ke barat. Katanya sih Patuxay itu bisa dinaiki hingga lantai ketujuh. Tapi pas kami datang,,, Patuxay udah tutup. Petugasnya bilang “close….tomorrow open…” (maksudnya udah tutup, baru buka lagi besok…)… Owww…oke dah, kami hanya foto-foto di depan Patuxay yang berwarna keemasan memantulkan matahari yang hampir terbenam… Setelah puas, kami mencari jalan pintas menuju That Dam. Kami akhirnya membatalkan rencana menikmati sunset di Mekong.

Ternyata yah, si That Dam yang dari tadi kelihatan terus, bisa mendadak hilang… Jalan pintas yang kami pilih ternyata malah bikin kami nyasar… Halah… Patokannya That Dam itu kan Kedutaan AS, tapi tetep aja nggak ketemu… Tolong…. Kami nanya penjual sim card tentang arah ke That Dam, dan dia menjawab dalam Bahasa Lao,,, dan akhirnya geleng-geleng kepala… Ampun mak…. ampun…

Setelah melintir-melintir kesana kemari, akhirnya kami menemukan That Dam. Stupa hitam itu nggak hilang kok… Dia masih berdiri tegak disana… Kitanye aje yang nyasar….

That Dam ini nggak sehitam namanya kok… Konon stupa ini dilindungi oleh naga berkepala tujuh. Awalnya stupa ini berlapis emas, namun pada invasi Siam tahun 1828-1829, tentara Siam merontokkan emas di stupa ini, jadilah stupa ini tinggal warna hitamnya doang… hiks…

Biar nggak penasaran dengan Mekong, kami pulang melalui tepi Sungai Mekong. Dan nggak nyesel,,, disini rameeee banget dengan orang-orang yang jogging, sepedahan, nongkrong, main bola, badminton, bawa guguk jalan-jalan, dan macam-macam aktivitas lain… Seru deh pokoknya…. Dan kami mampir ke pasar malam, yang letaknya bersisian dengan taman bermain yang sepi banget pas siang hari… Disini kami beli kaos Laos dan kain tenunan khas Laos (harganya mulai dari 25.000 Kip per potong). Bahagia sekali kami mendapat kain Lao dengan harga relatif murah… Lalu kami pulang ke hostel menaruh barang-barang.

Di hostel ini kami sempat berdebat panjang lebar mengenai rute kami keesokan harinya. Jelas kami nggak akan mungkin ke Luang Prabhang. Mau ke Vang Vieng atau Thousand Islands juga terlalu beresiko nggak keburu. Akhirnya kami memutuskan untuk berkeliling Vientiane saja dengan santai. Siapa tahu kami bisa menemukan kejutan yang tidak tertulis di buku Lonely Planet…. Malam itu kami makan Pad Thai (hahaha,,,kok makan Pad Thai di Laos ya, bukan di Thailand…. ck ck ck,,,). Dan pulang sambil merinding saat melewati Wat Mixay…hahaha…

Day 2: January 16, 2014

Kami meninggalkan hostel sekitar pk 09.00, dan kami merencanakan naik tuk-tuk ke Pha That Luang. Menurut si mbak penjaga hostel, untuk mencapai Pha That Luang hanya perlu membayar 30.000 Kip. Namun sepanjang jalan semua sopir tuk-tuk menawarkan 40.000 Kip. Kami berjalan sampai ke pangkalan mini van, dan akhirnya malah memutuskan mampir sejenak ke Stadion Chou Anouvong. Nah, kan, di kampung sendiri saya belum pernah masuk stadion, malahan di kampung orang saya bisa mampir narsis di dalam stadion… Bahkan di kota ini, saya bisa merasakan berjalan di depan kantor kementrian tanpa dipelototin penjaga… hehehe.. Kemanapun melangkah pasti ketemu kantor-kantor pemerintahan… Bener-bener kota yang istimewa nih…

Di pangkalan mini van ini, kami berhasil menawar tuk-tuk hingga 30.000 Kip. Dan ternyata sepanjang jalan ke Pha That Luang, sopirnya tetep narik penumpang lain… Lha, kok gw jadi rugi atuh…. Bodo ah, yang penting nyampe di land marknya Laos, bahkan That Luang ini dijadikan lambang negaranya Laos lho…

Dari gerbang utama sudah terlihat bentuk antik dari That Luang yang sebetulnya mirip dengan benteng berwarna keemasan. Sepanjang dinding That Luang dipenuhi oleh relung-relung berisi patung Buddha kecil.. Menurut sejarah, That Luang aslinya didirikan pada abad ketiga untuk menyimpan relikwi tulang dada Buddha, yang dibawa oleh para Bikkhu dari India. Akan tetapi, That Luang yang kita lihat saat ini dibangun oleh Raja Setthathirat pada tahun 1566. Beliau juga yang menjadikan Vientiane sebagai ibu kota negara pada pertengahan abad 16. That Luang sempat hancur total akibat invasi Burma, Siam dan China pada abad 18 dan 19. Namun proses pembangunan kembali dimulai lagi oleh pemerintahan Perancis pada tahun 1900 dan 1930.

Bisa berfoto di depan That Luang itu rasanya sesuatu banget… hahaha… Kami meniru pose-pose yang biasanya muncul di koran dan brosur tentang Laos… Kami juga berfoto di taman yang dipenuhi banyak bunga berwarna warni. Sayangnya kami tak bisa naik ke puncak That Luang. Tapi rasanya puaaaas banget bisa melihat langsung land marknya Laos… O iya, untuk masuk That Luang, kita harus membayar 5000 Kip…

Kami juga mampir ke kuil-kuil di sekitar That Luang, dan menemukan patung Buddha tidur berwarna keemasan, dan senangnya adalah saya bisa motret patung ini dengan utuh…. hehe… Kami juga menemukan sebuah hall yang langit-langitnya dipenuhi lukisan Buddha full colour… Takjub… gimana ya cara ngelukisnya….

Setelah puas dengan That Luang, kami melanjutkan rencana kami, yakni jalan kaki sampai ke hostel… Tapi tak sekedar jalan, kami berencana melewati Kedutaan Indonesia, naik ke Patuxay, ke National Museum, dan menikmati suasana sunset di Mekong… Dan baru saya sadari, dalam keadaan happy, 4 km bukanlah jarak yang terlalu berat untuk dijalani kok…

Kami sempat putus asa karena kami sempat tak menemukan kantor kedutaan Indonesia. Padahal kami yakin kami melalui jalan yang benar. Kami sudah menemukan kedutaan Thailand, tapi kok ga ada tanda-tanda Bendera Merah Putih (mendadak nasionalis…). Kami akhirnya makan mie instan di warung pinggir jalan, soalnya perut udah protes. Mangkoknya segede… wow… gede banget… kuahnya banyak…  Dan disini kami mendapat bantuan dari seorang karyawati yang menjadi penerjemah antara kami dan si ibu penjual mie,,, Untuk mie segede gaban ini kami cukup membayar 10000 Kip per mangkuk…

Tak jauh dari tukang mie, akhirnya…. akhirnya…. akhirnya… kami melihat tulisan Kedutaan Besar Republik Indonesia… senangnyaa,,,,, tapi ternyata satpamnya orang asli Laos… jiah,,,mau bersilaturahmi malah ngga jadi, kendala bahasa euy sama satpamnya… kirain satpamnya orang Indonesia… yah,,,akhirnya kami foto-foto doang di depannya…

Kami melangkah lagi menuju Patuxay, tapi sebelumnya kami menemukan Gong Perdamaian Dunia yang merupakan hadiah dari Pemerintah Indonesia kepada Pemerintah Laos… Tiba-tiba saya bangga jadi bangsa Indonesia…

Kami mencapai Patuxay dari sisi yang ada air mancurnya (aduh maaf saya buta mata angin…), yang bisa menari saat malam tiba. Patuxay berasal dari dua kata Sansekerta, yakni Patu (pintu/ gerbang) dan Jaya (kemenangan), dan didedikasikan kepada para warga Laos yang sudah mengorbankan hidupnya dalam memerangi penjajahan Perancis, Siam, China dan Burma. Secara sekilas, monumen ini mirip sekali dengan Arc de Triomphe di Paris, namun dengan ornamen khas Laos, yakni stupa, lotus, naga, kinari, gajah, dewa-dewi, dsb…

Monumen ini didirikan antara tahun 1957 hingga 1968, dan didanai oleh Pemerintah Amerika Serikat. Ada tujuh tingkat yang bisa dinaiki dengan membayar 3000 Kip (murah kan…). Dan di dalamnya ada kios-kios yang menjual buku, pernak-pernik, kain, dan kaos. Seru deh pokoknya.. Hanya saja kami lagi mikir, kalau penjual yang di lantai paling atas pingin ke toilet, kasihan banget ya kalau harus turun ke lantai terbawah…. Aduh… kok ngebayangin yang aneh-aneh ya….

Saya yang agak-agak takut ketinggian terpaksa harus sering-sering merapat ke tembok untuk menghindari histeris tak terkendali… hahaha… berlebihan dnk… Dan bisa menikmati Vientiane dari puncak Patuxay itu beneran tak akan tergantikan deh (abstrak banget yaa…), asli lah, Vientiane itu memang kota yang cantik, teratur, dan bersih… Dan juga nggak terlalu banyak kendaraan bermotor lalu lalang di kota ini…

Kami melangkahkan kaki menuju National Museum. Waktu sudah menunjukkan hampir pk 15.00. Kami nekad saja masuk ke Museum, dan memang masih buka siy. Harga tiketnya 10000 Kip per orang, tapi sayangnya di dalamnya nggak boleh motret…huhuhuhu.. Dan kami berhasil menangkap sedikit kisah Laos sejak masa prasejarah hingga kondisi terbarunya dalam waktu 1 jam saja… Kami sampai ditegur oleh mbak-mbak penjaganya, karena mereka mau tutup pk, 16.00.

Setelah “diusir” dari Museum, kami balik ke hostel, dan ngaso sebentar… Lagi-lagi kami membatalkan rencana menikmati sunset di Mekong. Kami malah berniat mencari sesuatu yang bernama Namphu Fountain. Dimana-mana kami temukan petunjuk jalan menuju ke air mancur ini. Tapi ternyata sodara-sodara, air mancur ini hanyalah bagian dari restoran dan nggak terlalu gede… Jiah… mungkin kalau  matahari sudah terbenam bakalan cantik kali yee dengan lampu-lampunya…

Kami beranjak dari sini dan berniat menemukan Gereja Katolik yang letaknya dekat Kedutaan Perancis. Dan lagi-lagi kami menemukan suasana yang sepiiii mencekam… Gerejanya bagai tanpa kehidupan… gerbangnya terbuka tapi tidak ada orang. Pintu gerejanya tertutup jadi kami tidak bisa masuk. Gereja ini terletak di Rue de la Mission. Kami tak berlama-lama disitu, dan langsung menuju tujuan berikutnya, yaitu ke Patung Sisavangvong yang lokasinya dekat Wat Si Muang. Dan apa yang di peta terlihat dekat ternyata lumayan jauh dan cukup bikin bingung. Dah gitu jalanannya gak terlalu ramai. Jadi makin meragukan deh.. Akhirnya kami melihat tulisan besar warna putih berdasar biru : Wat Si Muang. Tadaaa,,,, kami numpang pipis dulu disini, dan menikmati keramaian Wat yang dikunjungi umat yang mau sembayang, karena malam itu adalah malam bulan purnama. Wat ini katanya adalah wat yang paling populer, dimana kaum animis bercampur dengan umat Buddha Theravada untuk sama-sama beribadat. Wat Si Muang ini sebetulnya sudah ada di luar pusat kota Vientiane. Menurut legenda setempat, Wat Si Muang didirikan tahun 1563, yakni ketika seorang wanita muda yang sedang hamil bernama Si Muang, mengorbankan dirinya untuk meredakan kemarahan dari kekuatan jahat. Ia menceburkan dirinya ke dalam sebuah lubang, yang kini di atasnya terletak pilar utama dari Wat ini. Namun bangunan yang ada sekarang adalah hasil pembangunan kembali pada tahun 1915, karena bangunan aslinya dihancurkan pada tahun 1828 oleh tentara Siam. Di dalam Wat ini ada patung Buddha berwarna hijau, sepertinya terbuat dari batu giok…

Dan, akhirnya kami menemukan patung Raja Sisavangvong, tepat di depan Wat ini. Raja Sisavangvong, atau Sisavang Phoulivong adalah Raja dari Kerajaan Luang Prabhang (1904-1945), yang kemudian menjadi Raja Laos (1946-1959). Pada tahun 1945, Lao Issara menyatakan kemerdekaan Laos, dan Raja Sisavangvong menolak bersatu dengan para kaum nasionalis ini, dan beliau sempat diasingkan oleh kaum nasionalis. Namun ketika Perancis mengambil alih kembali Laos, beliau diangkat kembali menjadi Raja, dan terbentuklah kerajaan Laos yang wilayahnya sama dengan Laos hari ini…

Matahari sudah benar-benar terbenam ketika kami meluruskan kaki di bawah patung Sisavangvong. Dan kami mengambil rute yang berbeda dengan arah datang kami. Sempat keder banget, soalnya jalanannya sepi dan remang-remang. Mana harus melewati beberapa Wat yang gelap (secara kami tahu di pekarangannya ada kuburan…). Setelah menemukan persimpangan jalan menuju Mekong, kami langsung menuju jalan raya di sisi sungai yang relatif lebih ramai.

Malam itu ditutup dengan makan malam yang ajaib. Saya pesan omelet pakai nasi, dan yang keluar adalah telur dadar, semangkuk kuah kaldu dan nasi putih. Jiah….dalam bayangan saya, yang namanya omelet kan bukan telur dadar polos doang…. Kami pesan sayuran aneh bernama kongkang, dan keluarnya adalah tumis kangkung,, persis banget dengan tumis kangkung rumahan… sejauh-jauhnya kakimu melangkah, masih saja kau mencari tumis kangkung…

Day 3 : January 17, 2014

Pagi ini, kami sudah nggak tau lagi mau kemana. Semua objek yang saya list sudah dikunjungi semua. Akhirnya kami putuskan untuk menyusuri tepi Mekong, dari ujung sampai ujung… O iya, walaupun kami tahu bahwa Sungai Mekong ini adalah perbatasan negara antara Thailand dan Laos, tapi kami sempet nggak ngeh dengan status perbatasan ini. Soalnya suasananya tenang sih, ngga ada pengamanan yang gimana gitu… Tapi pas kami baca peringatan di hostel, ternyata di area tepi sungai banyak polisi berpakaian preman, yang mengawasi setiap orang yang beraktivitas disitu. Bahkan ada larangan untuk beraktivitas disana setelah pk 23.00, karena akan didenda 1.000.000 Kip. Wew.. Pentesan aja nggak ada terminal penyeberangan kapal kayak Mekong yang di Kamboja… ternyato…

Kami menyewa sepeda di hostel seharga 15000 Kip per sepeda, dan kami akhirnya menyusuri sisi Mekong (yang bisa diraih deh…), dari sisi barat ke sisi timur… Mengamati arus sungai dan mencari jejak-jejak polisi preman di perbatasan (dan nggak nemu sama sekali…).

Kami juga masuk ke setiap Wat yang bisa dimasuki, mengamati kegiatan para Bikkhu (sekalian numpang ke toilet…hehehe…), beli mangga (suer, mangganya aseeem bangeeet…ampe meringis dan bikin gigi ngilu…), narsis di pinggir sungai dan danau (yang mungkin menurut ukuran orang Indonesia belum layak dibilang danau… karena ukurannya mungil…). Kami juga menengok kesibukan pasar, dan mampir lagi ke Wat Si Muang… Masih penasaran dengan patung Buddha hijau itu,,,

Menjelang pk 12.30, kami menggenjot sepeda kami menuju warung makan di dekat hostel. Kami makan siang dan memesan nasi goreng untuk makan malam di atas kereta menuju Bangkok. Kami menyempatkan diri untuk mandi di hostel, dan menunggu van yang akan menjemput kami ke Stasiun Thanaleng…

Vientiane… kota kecil yang memberikan kesan. Dimana orang-orang berjalan tanpa tergesa. Dimana aku menemukan banyak senyuman yang terabadikan di dalam benak… Kota yang damai, ramah, tenang, dan sejuk… Ahhhh,,,,rasanya berat sekali meninggalkan kota ini…

Lewat pk 15.00, van datang dan kami melambaikan tangan kepada penjaga hostel, ada rasa haru dalam dada ketika meninggalkan kota yang penuh kedamaian ini. Apalagi ketika van menjemput seorang gadis di salah satu sudut Vientiane. Gadis itu diantar oleh seorang pria, mungkin kekasihnya. Saat van bergerak menjauh, mereka tak henti saling melambaikan tangan… Hingga akhirnya pria itu tak terlihat lagi dalam pandangan. Ah, mengapa perpisahan ini membuatku semakin haru…

Perjalanan penuh debu menyertai kami menuju stasiun Thanaleng. Kami mengurus imigrasi dan duduk di atas kereta yang akan membawa kami memasuki perbatasan Thailand. Pedih di bibirku yang kering tak terasa lagi, tergantikan sesak di dada yang masih belum rela meninggalkan Vientiane….

Bendera Laos tergantikan oleh bendera Thailand… Dan aku tahu, aku akan selalu merindukan Vientiane…


9 thoughts on “Oleh-Oleh dari Laos : Menggigil Kedinginan di Vientiane

  1. Halo mbak… Aku suka baca info nya mengenai Laos..informatif sekali..hehe..
    Pengen minta saran..saya cmn punya waktu 1hari di Vientiane. Enaknya ngunjungi apa?? Bingung euy.. Mhn sarannya.. Mksh🙂

    1. Hai, Mba Mia… sebenarnya sayang banget kalau hanya 1 hari.. Soalnya menurutku Vientiane itu kotanya unik, sepi, tenang dan suasananya enak buat dikelilingi..
      Tapi kakau waktunya terbatas, ini ideku : pagi ke Pha Tat Luang, soalnya ini land mark dan lambang negaranya Laos, lalu ke Patuxay, jangan lupa naik sampai ke lantai 7 yaa, terus ambil rute jalan kaki yg ngelewati That Dam, terus masuk ke Wat Sisaket, dan Ho Phra Keo. Kalau sempat belanja di pasar malam yg di tepi Mekong, dan foto2 di depan patung Chao Anouvong…

      1. Maturnuwun sanget idenya.. Ada 1 tempat yg pengeen bianget tak liat jg..Buddha park. Pdhl katane agak di luar kota. Jd bingung. Soale ini kesana sendirian..dn meski umur sdh banyak..tp blom nekat buat jalan sendiri..hiks. Awalnya ga sebingung ini soale perkiraan punya waktu 1,5hari. Tp jdwl jd berubah.. Tgl 18 Mei saya di Vientiane. Dan 19Mei pagi sdh plg😦
        Oya,kalo sewa motor boleh tha pake SIM Indonesia??
        Trus kalo cari hostel go spot gmn?? Kan katane Mei itu low season ato mending booking dulu??? Maap banyaak tnyk🙂

      2. hooo…iya ya…kayaknya kalau pakai motor harus pakai SIM Internasional, mbak…
        Aku waktu itu nginep di vientiane backpackers,, kamarnya mix dorm, antara 12 sampai 20 orang.. booking via hostelworld.com.. sebenernya banyak hostel disana, terutama di dekat Mekong, cuma mereka ngga buka akun di hostelworld dkk gitu,mbak…
        Kalau mau ke Buddha Park bisa naik bus umum no 14 dr morning market… jaraknya sekitar 25 km dr pusat kota Vientane… kayaknya klau mau kesini udah makan setengah harian sendiri,mbak…

      3. Mei memang low season.. Kalau mau go spot, cari di daerah dekat Wat Mixay dan pinggiran Mekong.. disitu banyak hostel..
        Kalau ga salah bulan Mei sudah masuk musim agak hujan…siap2 payung ya,mba…

      4. Kyk e emg harus di skip kali ya ke Buddha park. Biar sehari itu puuas puter2 Vientiane🙂
        Saya cmn ke Laos ae kok..jd nyampe Vientiane tgl 14 lanjut ke Luang Prabang sampai 17. Jd bnr2 pengen “jalan pelan2″di LPB..hehehe
        Otre deh mbak..kyk e kalo kepepet ya ntr booking ..dan kalo nekat ya go spot deh🙂
        Siip..iya..mksh..ntr bawa payung. Ntr kalo tyk2 lg blh ya??? Tengkiuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s