Oleh-Oleh dari Thailand dan Laos : The Hostels

Sejak pertama kali saya berani menapakkan kaki di luar Indonesia, saya selalu memiliki kekhawatiran tentang pos imigrasi… Hehehe… entah kenapa ya, yang namanya imigrasi, dimanapun selalu bikin saya agak-agak gimana gitu…. Makanya saya selalu membooking hostel jauh hari sebelum berangkat, untuk menghindari dianggap imigran gelap. Emang sih, gak semua negara imigrasinya nanya-nanya sampai detail. Tapi saya parno aja, gara-gara teman saya pernah diinterogasi petugas imigrasi Singapura gara-gara nggak hafal alamat tempat dia akan tinggal. Nah, makanya saya takut kalau belum punya pegangan bukti booking hostel, nantinya bakalan kena interogasi ama petugas imigrasi yang biasanya sangar… hehehe…

Perjalanan saya dan papi ke Thailand dan Laos pada awalnya penuh dengan kebingungan dalam menyusun itinerary. Ternyata 7 malam dan 6 hari tak cukup untuk menjelajah sebagian besar area Thailand dan Laos. Akhirnya kami membuat itinerary yang penuh dengan fleksibilitas. Kami hanya menargetkan 2 malam pertama untuk kami habiskan di Bangkok, secara jangan sampai kami cuma numpang lewat doang di Bangkok. Nah, hari-hari berikutnya masih penuh dengan tanda tanya dan kekosongan. Kacau bener yah…. Kami cuma berpikiran untuk menyempatkan diri ke Ayutthaya, dan pokoknya harus ke Laos, minimal Vientiane deh.

So, karena yang pasti baru 2 malam pertama, kami memutuskan untuk segera booking hostel di Bangkok. Bulan November 2013, dua bulan sebelum berangkat, saya mulai browsing hostel-hostel yang areanya strategis, dalam artian dekat dengan stasiun BTS, MRT, dan mudah dicapai dari bandara tanpa harus naik taxi (yang harganya selangit… apalagi kami takut akan susah untuk berkomunikasi dengan sopir taxinya). Banyak yang merekomendasikan Khaosan Road, karena disana memang areanya backpacker. Katanya rate hostel disana jauh lebih murah daripada di daerah lainnya. Selain itu banyak agen tur, makanan kaki lima, dan fasilitas lain yang mendukung para pelancong kere (seperti kami,,,hehehe…). Tapi katanya kalau kesana harus naik taxi atau bus. Wah, kami justru menghindari itu. Kalau naik taxi mahal, kalau naik bus malas nanya-nanya… hehehe… Kami akhirnya fokus pada lokasi yang dekat BTS, MRT, dan mudah untuk mencapai objek wisata seperti Grand Palace, Wat Pho, Wat Arun, dan kawasan Siam (ketahuan kan ilmu perBangkokan saya cuma segini doang). Bos saya menganjurkan untuk nginap di Lub d Bangkok, Silom. Udah sreg banget lihat hostelnya, tapi pas lihat ratenya waktu itu agak tinggi (entah kenapa sekarang malah murah….argghh…). Sambil browsing, kami rembukan juga tentang transportasi yang akan kami pilih untuk ke Vientiane dan Ayutthaya. Mau naik bus dari Mochit? atau naik kereta dari Hua Lamphong? Dan saya lebih sreg naik kereta (soalnya di Indonesia, saya belum pernah naik kereta ke luar kota… hihihihi….). Dengan tambahan pertimbangan itu, saya akhirnya langsung menetapkan pilihan pada Hostel @ Hua Lamphong…

Kenapa? Karena dekat dengan stasiun Hua Lamphong. Menurut petanya tinggal nyebrang doang. Dekat dengan MRT station. Dan dari penjelasan rute yang mereka berikan sih, kayaknya gampang dicapai. Dan, kalau lihat petanya, kayaknya dekat dengan sungai Chao Praya (padahal aslinya sih jauhhh,,,, hahaha,,, inilah akibat baca peta tanpa skala….). Kami booking standard 6 bed mixed dorm, dengan rate 400 Baht per orang per malam (1 Baht = Rp. 385 saat itu). Jadi untuk dua orang dua malam totalnya 1600 Baht. Kami order via hostelworld.com pakai kartu kredit, dan bayar 10%nya dulu (160 Baht), dan sisanya dibayar langsung saat kami datang di hostel.

O iya, ini alamatnya @ Hua Lamphong Hostel : 326/1 Rama 4 Road, Bangrak, Bangkok 10500, telp +66-2-639-1925. Webnya http://www.at-hualamphong.com. Email : at.hua.lamphong@gmail.com. Setelah booking, pihak hostel langsung mengirimkan email yang berisi ucapan terima kasih mereka, dan disertai dengan dua file mengenai pengurusan visa, transportasi, paket tour serta list tiket kereta dan bus (namun terbatas pada beberapa tujuan saja). Mendekati hari keberangkatan, saya menemukan berita bahwa ada rencana Bangkok Shut Down. Wah, karena panik, saya mengirim email kepada hostel untuk menanyakan kondisi di sana. Dan jawaban mereka positif. Mereka menjelaskan bahwa daerah mereka tidak ada dalam daftar yang akan diblokir oleh para demonstran. Saya agak nggak percaya, karena berita di internet mengatakan bahwa kawasan Hua Lamphong akan kena blokade juga. Saya pikir pihak hostel menutupi ini supaya saya jangan sampai membatalkan menginap di tempat mereka. Tapi karena saya malas mengcancel (ditambah lagi lokasi hostel ini yang memang strategis, jadi sayang kalau dibatalkan), saya memutuskan untuk lanjut menginap disini. Namun berkali-kali saya mengirim email pada mereka untuk memastikan kondisi. Dan setiap kali saya mengirim email, mereka merespon dengan cepat dan selalu menjawab bahwa lokasi mereka aman dan damai. Saya pun sempat mau booking tour mereka ke Ayutthaya, namun sayangnya perusahaan tour yang bekerja sama dengan mereka menghentikan operasi karena Bangkok shut down. Mereka tidak punya rekomendasi jasa tour di Ayutthaya dan menganjurkan kami untuk naik kereta saja..

Tanggal 12 Januari 2014, kami tiba di Suvarnabhumi sekitar pk. 20.00, namun antrian panjang di imigrasi membuat kami baru terbebas dari bandara sekitar pk 21.30. Kami mengikuti petunjuk dari hostel, yaitu naik airport link, turun di stasiun Makassan, lalu transit ke stasiun MRT Phetchaburi, dan turun di stasiun MRT Hua Lamphong. Menurut petunjuk, lokasi hostel ada di antara exit no 1 dan 4. Kami keluar dari exit no. 4, dan sudah melihat Stasiun Hua Lamphong di seberang sana, namun karena kami error baca peta, kami malah melangkah menuju jalan Charoen Krung… Dan malah bingung karena jalannya semakin sepi (maklum kami sampai di situ sekitar pk. 22.30). Akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada seorang pemuda. Walaupun pesimis ia akan menjawab kami (habis udah sering banget dicuekin sih gara-gara kendala bahasa,,), dan thanks God, pemuda ini melah mengantar kami ke hostel, yang ternyata letaknya hanya beberapa langkah dari exit MRT. Jiahhh… ternyata kami hanya harus berbalik arah saja dari exit MRT itu…

Kami disambut oleh seorang resepsionis yang… gimana yah jelasinnya…. Dia itu perempuan sih,,, dandanannya juga perempuan,,, hanya ada sesuatu dalam benak saya yang mengatakan bahwa dia bukan perempuan… Aduh gimana ya… Kalau bokap sih percaya dia perempuan tulen… Sudahlah jangan dibahas… Ia menyambut kami dengan ramah, dan menjawab setiap pertanyaan kami dengan ramah. Ia punya buku segede gaban yang berisi jadwal kereta, paket tour dsb dsb. Sambil tanya-tanya jadwal kereta, saya melunasi pembayaran yang kurang. Saya memberikan 2000 Baht untuk pembayaran sebesar 1440 Baht. Setelah itu kami naik ke kamar. Nah di kamar ini, sambil packing, penyakit pikun saya kambuh. Itu si mbak tadi udah ngasih kembalian belum ya? Saya pun belum sempat rekap pengeluaran dan saldo hari pertama itu. Ya udah lah, akhirnya kami putuskan untuk menanyakan ke si mbak, sambil kami juga mau makan malam di halaman hostel untuk menikmati Bangkok di waktu malam.

Waktu kami menanyakan tentang kembalian itu, si mbak nggak langsung jawab “ya” atau “nggak”, tapi dia melakukan perhitungan terhadap uang kasnya. Terlihat banget dia begitu rapi. Setiap pecahan mata uang sudah dipisahkan sendiri-sendiri. Lalu dia menghitung satu persatu pecahan itu, dan akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa uang kasnya pas (bahkan hasil perhitungan kasnya dia tunjukkan kepada kami), dan dengan data itu dia yakin bahwa ia sudah mengembalikan uang kami. Hehehehe… cara yang tidak lazim, namun begitu sistematis. Ia menjawab dengan fakta yang tak bisa dibantah…

Setelah makan, barulah saya menghitung kas saya sendiri, dan ternyata… 560 Baht itu emang udah dikembaliin ama si mbak,,, hihihi,,, aduh…jadi ngga enak hati…Kami minta maaf kepada si mbak, dan dia menjawab dengan kemayu “It’s OK…”, duh…. mbak, jangan nangis yaa… (soalnya wajahnya terlihat sedih banget serasa dituduh ama kami….).. Maaf….

Saat kami pulang dari lihat-lihat stasiun Hua Lamphong (yang emang beneran tinggal nyebrang doang dari hostel), si mbak sudah pulang… Oh,,,mungkin sudah ganti shift kali ya… Resepsionis yang baru (yang juga mbak-mbak tulen), agak jutek, dan ketika kami menanyakan tentang dispenser atau heater, dia bilang bisa dipinjam dari hostel, dengan deposit kalau ngga salah 500 Baht… weeek,,,walaupun cuman deposit tetep aja kerasa mahal…

Kamar kami berisi 3 ranjang susun, dan dari 6 bed, tinggal 2 yang tersisa. Dua-duanya di atas, ujung dan ujung. Sistemnya hostel ini ok juga. Di dalam loker ada kertas A4 yang tertulis nomor bed. Nomor itu diletakkan di atas bed untuk menandai bed itu sudah ada pemiliknya. Tidak seperti hostel lain, dimana ada petugas yang mengantar kita sampai kamar, lalu mencarikan bed yang masih kosong, di hostel ini, kita cuma ditunjukkan nomor kamar, lantai berapa, dikasih kunci loker bernomor, lalu kita harus nyari sendiri bed yang belum ada tanda kertas A4 itu… Kalau posisi kamar lagi kosong, kita boleh bebas milih bed yang mana aja. Tapi karena kami dapat sisa, jadi mau nggak mau deh diterima apa adanya..

Salah satu teman sekamar yang kami temui adalah John, warga USA. Menjelang dini hari, 3 penghuni lain datang, tapi kami tak bisa mengidentifikasi siapa mereka dan jenis kelamin mereka, soalnya pas kami bangun, mereka udah cabut lagi…

Salah satu kekhawatiran saya setiap menginap di hostel adalah kamar mandinya… hehehe… Ternyata disini saya sangat puas, karena untuk kami berenam ada 2 toilet bershower dan 2 kamar mandi bershower, dengan ukuran yang manusiawi (nggak 1 m x 1 m)… Tapi AC dari kamar ikutan masuk ke kamar mandi, sehingga rasanya pengen banget mandi pake jaket….hahahaha… saking dinginnya tuh… Trus ada juga kelemahannya, got pembuangannya agak berbau tak sedap dan aromanya masuk ke kamar. Sirkulasi udaranya juga ngga terlalu bagus, karena kalau ada seseorang yang sedang beraktifitas membuang limbah B3 di WC, aromanya kadang suka masuk ke kamar… hehehehehe…. jijayyy….

Entah kenapa, saya yang biasanya kebo banget, tiba-tiba insomnia… Kacau kan… padahal besoknya mau ngejar kereta pagi ke Ayutthaya… Mungkin karena bantalnya keras ya,,, atau karena AC terlalu dingin… alhasil besoknya saya kesiangan bangun (ah…alasan,,,)

O iya, jangan khawatir soal makanan… Di lantai bawah dekat lobby ada kafe kecil, yang buka hingga sekitar jam 8 malam. Setiap pagi kami sarapan disitu, sambil tak lupa order air panas untuk buat tehnya bokap. Pada pagi pertama kami harus bayar 5 Baht untuk secangkir air panas (tapi entah kenapa pada pagi kedua air panas itu digratisin..). Nah, saking mau ngirit, air panas secangkir itu kami pakai untuk nyeduh 3 sachet teh celup (buat seharian), lalu kami encerkan dengan air mineral botolan. Masalahnya adalah bagaimana nuang secangkir teh ke dalam botol air mineral 1,5 Liter? Asli lah pokona mah susah dan bikin meja kami banjir. Tapi akhirnya berhasil juga mengencerkan secangkir teh dengan 1 liter air putih… Hebat kan.. Nah, program ngirit kami berikutnya adalah pesan seporsi makanan aja buat sarapan. Soalnya seporsi aja harganya 95 Baht. Isinya 2 roti bakar, selai, butter, segelas orange juice, scramble egg. Jadi rotinya seorang satu, saya pakai selai, bokap pakai scramble egg, dan sebaliknya. Sok ngirit, padahal di luar akhirnya jajan juga gara-gara kelaperan… Hehehehehe…

Terus saat sore menjelang, ada banyak penjual makanan disini. Kami jajan makanan yang mirip martabak (pakai pisang, susu dan coklat), dengan harga seporsinya 35 Baht, kami juga sempat beli lumpia seharga 5 Baht per potong. Kalau kita nyebrang ke arah dekat stasiun, ada warung pinggir jalan yang jual Chinese Food. Dengan 30-50 Baht, kita udah bisa makan kenyang. Kami sempat makan nasi kailan daging seharga 40 Baht, dan nasi goreng yang harganya segitu juga.

Malam kedua, saat kami pulang ke hostel, John sudah lenyap, begitu juga tiga tamu invisible yang lain, digantikan dengan satu keluarga yang berbahasa mirip Bahasa Thai. Kalau menurut bokap, jangan-jangan mereka mau ikutan demo, atau mungkin juga mereka dari daerah mana gitu, dan mau wisata di Bangkok. Mereka berlima menempati 4 bed, so ada yang bobo berdua tuh… Dan yang bobo berdua itu tepat di bawah bed saya… Duh, ngeri amat ya,,, takut roboh karena overload…

O iya, ada cerita lucu pas kami pulang ke hostel di malam kedua ini. Si mbak yang kemarin itu (yang ramah kemayu itu lho..), pas bagian jaga ketika kami pulang… Nah, karena liftnya lemoot, kami memutuskan untuk naik tangga ke kamar kami di lantai 2. Di tangga, kami masih bisa melihat ke arah lobby dan resepsionis, dan tiba-tiba saya iseng pengen nengok kebawah, eh ternyata si mbak lagi ngelihatin bokap sambil senyum-senyum… Wakakakakak… bokap jadi mati gaya…

Untungnya pas sehabis mandi kami turun ke lobby, si mbak udah pulang, digantikan om-om yang kayaknya bos besar hostel ini. Kami duduk di sofa empuk di lobby, dan menemukan berbagai jenis buku dari berbagai bahasa di kolong mejanya. Suasana lobby yang sepi dan dingin membuat kami ngantuk, jadinya nggak lama-lama deh nangkringnya…

Saya yang punya kebiasaan menghitung-hitung uang sebelum tidur sempat dijutekin sama keluarga itu, gara-gara saya nyalain lampu (padahal lampu itu di bed saya sendiri…hiks..hiks…), mereka rupanya pecinta kegelapan…. huhuhu… Keesokan harinya kami hampir rebutan kamar mandi dengan mereka, dan akhirnya kami menunggu sampai mereka semua cabut, baru kami menjajah kamar mandi deh…

Karena nggak mau kena charge karena late check out, kami memutuskan untuk check out dulu sebelum keliling Bangkok. Kami boleh titip tas di hostel. Kalau diletakkan di ruangan terbuka (di bawah tangga), gak perlu bayar, tapi kalau dimasukkan ke ruangan tertutup, harus bayar 20 Baht per hari. Kami pilih yang bayar saja, untuk menghindari kehilangan barang… soalnya perjalanan masih sangat panjang… Kami juga minta izin untuk numpang mandi sore ketika kami mengambil tas. Dan diizinkan…. Horee…. kan nggak kebayang kalau harus mandi di stasiun, atau di kereta… Nggak banget deh… Apalagi kalau nggak mandi… Ogah dah, semalaman tidur sama kuman…

Dan sore itu, kami mendapatkan kemewahan untuk boleh memakai kamar mandi mereka (sepertinya sih kamar mandi pemiliknya deh…).. Rasanya seneng dan seger banget bisa mandi sebelum perjalanan panjang melintasi negara….

Pas hari terakhir perjalanan kami, kami naik kereta malam dari Vientiane, yang tiba di Bangkok pk 06.00 (asli lah masih gelap banget…). Karena kami hari itu mau masuk Grand Palace, dan masih mau menjelajah mal di Bangkok, maka kami menitipkan tas kami di @ Hua Lamphong lagi. Pas sore kami ngambil tas disitu, kami ngarep dengan sangat supaya bisa minjem kamar mandi lagi kayak waktu itu… Tapi sayangnya, kali ini kami nggak dikasih mandi sore di kamar mandi yang kemarin itu tuh.. Kami dikasih izin mandi di kamar mandi umum yang bertipe kering dan nggak ada shower mandi. Akhirnya kami cuma cuci muka doang deh… Nasib dah ngerasain lengket-lengket di pesawat….
Tapi saya ngerasa beruntung banget nginep disini, karena cuma tinggal ngesot ke stasiun, tanpa harus lewatin atau terganggu area demo, gampang lah kalau mau kabur kemana-mana…. Dah gitu ke stasiun MRT yg terkoneksi airport link juga deket banget….

Oke,,,sekarang marilah kita berpindah ke hostel di Vientiane, Laos…

Setelah kami menjalani 2 hari di Bangkok, barulah ada rencana jelas mengenai kelanjutan perjalanan kami… Kami merencanakan untuk ke Vientiane dengan kereta. Dan setelah booking tiket kereta, kami harus booking hostel toh… Sebenernya sih seminggu sebelum berangkat saya udah survey-survey tentang hostel di Vientiane.. Dan ternyata jumlah hostel yang bisa saya temui di hostelworld tidak terlalu banyak. Kali ini patokan saya adalah yang terdekat dengan Sungai Mekong… Entah kenapa sejak ke Vietnam, saya dan bokap punya obsesi besar dengan Mekong. Padahal kalau di Indonesia, pastilah saya bakal ogah menginap di hostel yang dekat dengan kali Ciliwung…misalnya… hehehe…

Dan karena Vientiane tidak terlalu besar, hostel-hostel itu pun letaknya tidak terlalu berjauhan… Hostel yang saya masukkan ke list adalah Vientiane Backpackers (karena dia ada di seberang Wat Mixay… lumayan kan dekat dengan objek wisata… ), lalu Funky Monkey (lagi-lagi karena dekat sungai dan Wat Mixay). Tapi yang ratenya lebih murah ya si Vientiane Backpackers itu, apalagi ada kamar yang berisi 20 bed… wew…mantab kan… harganya 6.5 US$ per malam per orang. Kami booking di lobbynya Siam Paragon, dalam perjalanan menuju Maddame Tussauds, sekitar 10 jam sebelum kereta kami bertolak menuju Vientiane, dan sekitar 24 jam sebelum kami check in.. Hehehe,,, terima kasih kepada dtac yang memberikan free internet 7 hari, sehingga kami bisa booking hostel dimanapun dan kapanpun… O iya, kami hanya booking untuk semalam doang… Soalnya rencana berikutnya masih belum pasti…

IMG_20140117_152421

Kami check in sekitar pk. 11.00. Pembayaran bisa dalam US$, Baht, atau Kip. Kami bayar pakai US$, dan dikembalikan dalam US$ dan Kip (karena US$ mereka terbatas). Awalnya kami sempat merasa si mbak kurang bersahabat, karena jutek banget pas kami tanya city tour. Saat kami ditunjukkan kamar kami, kami shock berat… Ternyata kamar kami ada di lantai 3, dan kamar mandi serta toilet ada di lantai 1. Jadi kalau malam-malam mau ke toilet harus turun naik tangga.. Wah, gmana ya? Kondisi bokap kan agak tidak memadai untuk turun naik tangga sering-sering. Apalagi bokap hobby ke WC malam-malam… Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba dulu semalam. Untuk mengurangi beban bokap, saya yang beres-beres barang kami, begitu juga kalau bokap butuh apa-apa, atau mau mandi, saya yang mengambilkan semua keperluannya di atas.

IMG_20140117_140649

Malam itu, setelah mengelilingi separuh Vientiane, kami berdebat panjang lebar apakah perlu nyari hostel lain? (yang kamar dan kamar mandinya selantai), atau haruskah pulang ke Bangkok? (tapi bingung mau ngapain di Bangkok?). Kami membatalkan rencana pindah hostel, karena kemungkinan besar hostel lain juga punya tipe yang sama, yakni kamar mandi di bawah, kamarnya di atas. Saya mencoba untuk minta pindah kamar ke lantai 2, dan ternyata diperbolehkan tanpa harus menambah pembayaran sama sekali… Mbak…. kamu baik banget deh… Kami dapat kamar dorm berisi 16 orang. Sekaligus kami membooking untuk hari berikutnya, dan ratenya malah lebih murah, yaitu 5 US$ per orang per hari…

Di hostel ini bisa booking tiket KA dan bus kemana-mana. Ada bus yang ke Phnom Penh, Siem Reap, Bangkok, Hanoi, Dhanang… dan lain lain… plus dijemput di depan hostel… Bisa numpang nuker uang juga, US$ jadi Kip atau Baht… Bisa rental sepeda juga, seharian seharga 15000 Kip. Pokoknya serba terpenuhi deh… Memang siy, nyaris seluruh hostel di kawasan ini menyediakan fasilitas seperti itu… Dan ternyata ada banyak hostel di pusat kota Vientiane, hanya saja mereka nggak jualan online…

IMG_20140115_191254

Kami baru menyadari bahwa kami juga dapat fasilitas sarapan gratisss… yeaaayyyy…cinta banget deh ama yang gratisan ini…. Ada tiga jenis menu sarapan, yang A : 2 roti bakar, selai, butter, pisang. Yang B : 2 roti bakar dan telur goreng, dan yang C : 2 roti bakar dan scramble egg. Plus tambahan kopi atau teh. Jadi setiap pagi, saat kita turun dari kamar dan duduk di lobby, karyawan hostel langsung dengan sigap menawarkan sarapan. Meja di lobby diubah jadi meja makan, dengan tambahan kotak tissue dan sambel, plus tempat sendok. Tapi, kalau pesan di atas jam 10, kena charge 15000 Kip…

Terus ada satu hal yang sangat wow dari hostel ini, mereka sangat sangat sangat menjaga kebersihan. Ngga pernah deh kami menemukan ada sampah tercecer. Wastafel, kamar mandi atau toilet yang habis dipakai langsung dibersihkan dan dipel bersih. Bahkan sore-sore sekitar jam 2 – jam 3, kami melihat karyawannya sedang menyapu seluruh area, plus ngepel pula. O iya, bed kami juga dirapikan, baju-baju yang ditinggal di atas bed sudah dilipat… Beneran nikmat deh.. Ada yang unik juga dari bed kami, jadi bed yang disediakan memang ranjang tingkat, dan di kolong bed yang paling bawah dipasang dua papan sebagai pintu loker, dan dikasih cantelan gembok… Satu kolong bed dibuat jadi dua loker.. kreatif kan… karena saya dan bokap dapat jatah bed atas bawah, jadi dapat “loker” double… Ada peringatan di depan kamar, dilarang menjemur handuk atau pakaian di besi ranjang. Terus di bawah juga ada peringatan dilarang nyuci, kalau ketahuan bisa diusir lhooo,,,

O iya, lobbynya juga bikin pewe, walaupun tanpa AC (ngga perlu AC juga soalnya udah dingin), bisa selonjoran, nonton tv, sayangnya banyak asap, soalnya ini smoking area siy, tapi bisa ngenet gratis dan cepet pula (lumayan bisa buka facebook)…

IMG_20140117_140639

Dan ternyata si mbak penjaga hostelnya ramah banget, bahkan hobby ketawa.. Kalau denger dia ketawa rasanya lepas dan lega banget, kayaknya bahagia banget… Waktu kami sewa sepeda, dia yang nyeting tinggi joknya, sambil ketawa-ketawa pula… Kalau malam, si mbak ini digantikan oleh karyawan cowok yang namanya Wi, dia ini semangat banget untuk kenalan dengan setiap tamu, belajar bahasa Inggris sambil nyanyi, nyetel MTV, main catur dan nonton bola bareng tamu, bahkan nemenin tamu minum bir. Saya sempat dikasih dua buah anggur lho sama dia… Akhirnya sih tuh anggur dikasih ke bokap… hehehe… Beneran deh feels like home…

Cuma, ada yang bikin bete, kami yang hobby pulang malem harus ketemu rekan sekamar yang bule semua dan hobby tidur siang-siang. Jadi pas kami pulang lampu udah pada mati… bayangin deh susahnya beresin loker kami sambil gelap-gelapan. Ada juga bule yang ngerasa Vientiane kurang dingin, jadi dia masang kipas angin malam-malam. Kami berdua yang udah menggigil makin kedinginan aje. Untung ada bule lain yang masih agak normal…hahaha… jadi kami hanya menghabiskan separuh malam bersama kipas angin deh…

Nah, ini nih alamat Vientiane Backpackers : No. 13 Norkeukoummarn, Vientiane. Laos. Lokasinya 15 km dari airport, 25 km dari perbatasan Thailand-Laos, dan 15 km dari terminal bus… Dan jarak dari Sungai Mekong kurang dari 1 km lho… Pokoknya pewe deh…

Hmm,,, kemarin-kemarin dapat usulan dari salah satu grup backpacker di facebook. Katanya, kalau kita pergi dalam grup sekitar 4-5 orang, sebaiknya nyari hostel on the spot aja… Grupnya dibagi 2, yang satu ditinggal di tempat tertentu (yang mudah diidentifikasi), dan satu grup lain keliling nyari hostel. Katanya sih, kalau on the spot itu ratenya lebih rendah. Waa,,,kalau saya mah ama bokap nggak akan bisa,,, soalnya kan sama-sama ngga tau jalan… hahahaha,,,, jadi yah, kami masih menyerah dengan versi booking online aja dehhh….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s