Perumpamaan Tentang Anak yang Hilang (Luk 15:11-32)

I. PENDAHULUAN

  • Alasan pemilihan topik : Perumpamaan mengenai anak yang hilang adalah perumpamaan yang amat terkenal karena isinya yang begitu mengesankan. Perumpamaan ini menggambarkan kasih Allah yang begitu nyata. Selain itu perumpamaan ini amat menyentuh hati nurani pembacanya untuk melakukan introspeksi : “Apakah saya si anak bungsu? Apakah saya si anak sulung? Apakah saya menyadari kasih Bapa? Apakah saya bisa mengasihi sesama saya seperti Bapa mengasihi saya?
  • Tujuan : untuk memahami paham keselamatan dalam injil Lukas terutama yang tergambar melalui perumpamaan anak yang hilang. Juga untuk lebih menyadari bahwa kasih Allah begitu besar bagi semua orang.

II. KESELAMATAN MENURUT INJIL LUKAS

Perumpamaan tentang anak yang hilang adalah perumpamaan khas Lukas, yang disampaikan berturutan dengan perumpamaan tentang domba yang hilang dan perumpamaan tentang dirham yang hilang. Perumpamaan ini disampaikan Yesus setelah para ahli Taurat dan orang Farisi bersungut-sungut karena Yesus menerima para pemungut cukai dan orang berdosa untuk mendengarkan pengajaranNya.

Perumpamaan domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang menjelaskan hal yang sama, yakni kegembiraan seseorang yang menemukan kembali miliknya yang hilang. Namun pusat perhatian dari seluruh perumpamaan ini bukan hanya sekedar orang Farisi atau orang berdosa saja, melainkan bagi seluruh manusia.

Perumpamaan ini mengisahkan tentang seorang ayah yang memiliki dua anak, yang dalam teksnya disebut sebagai si sulung dan si bungsu. Si anak bungsu meminta bagian harta miliknya kepada ayahnya, dan kemudian pergi ke luar negeri. Anak bungsu itu memboroskan miliknya hingga ia jatuh miskin, dan akhirnya memutuskan untuk pulang kembali ke rumah ayahnya. Ayahnya menyambut anak itu dengan sukacita, namun anak sulung ayah itu merasa iri dengan perlakuan ayahnya kepada adiknya. Di akhir kisah, sang ayah menjelaskan kepada anak sulungnya bahwa anak sulung itu tidak kurang dikasihi dibandingkan dengan anak bungsunya. Ayahnya juga memberi pengertian bahwa kedatangan adiknya ini harusnya disambut dengan sukacita, karena adiknya yang telah diangap hilang, sekarang sudah kembali lagi dalam rumah mereka.

Dalam perumpamaan ini terlihat sekali paham keselamatan yang ingin disampaikan Lukas, seperti yang tertulis dalam Lukas 1:77, yaitu pengampunan atas dosa-dosa. Keselamatan berkaitan dengan pelepasan manusia dari belenggu dosa karena pengampunan dari Allah yang maha pengasih. Diperlukan pula pertobatan dari manusia, sebagai tanggapan atas kasih Allah itu. Keterbukaan hati manusia amat diperlukan untuk mendapatkan rahmat keselamatan itu. Jika manusia tidak mau bertobat, maka sia-sialah rahmat itu, karena tidak sampai kepada manusia yang membutuhkannya. Hal ini dapat kita temukan dalam kisah Zakheus, dimana sapaan Yesus ditanggapi oleh Zakheus dengan pernyataan penyesalannya. Keselamatan itupun bersifat komunal, dimana dalam keselamatan terdapat pendamaian antara manusia dengan Allah, dan antara manusia dengan sesamanya. Keselamatan tidak hanya monopoli orang yang paham dengan hukum Taurat saja, atau hanya untuk orang yang saleh saja, tapi Allah mencari orang yang hilang dan berdosa untuk diselamatkan. Allah begitu penuh kasih dan maha rahim sehingga semua orang diundang masuk dalam karya keselamatanNya.

III. KONTEKS DAN TELAAH

Menurut Hukum Yahudi, seorang ayah dapat membagikan hartanya melalui surat wasiat ketika ia masih hidup, namun pelaksanaannya harus dilakukan setelah ia meninggal. Akan tetapi, ia bisa juga melakukan pemberian harta ketika ia masih hidup, dengan konsekuensi bahwa anak-anak yang mengambil haknya sebelum waktunya akan dikenakan denda. Tak bisa dipungkiri bahwa banyak anak yang “kurang ajar” meminta pembagian harta selama ayahnya masih hidup, meskipun dalam kitab Putra Sirakh diperingatkan agar jangan sampai hal itu terjadi (Sir 33:19-23). Menurut Ulangan 21:17, seorang anak sulung berhak memeperoleh 2/3 dari kekayaan keluarga, sedangkan si bungsu mendapatkan 1/3 bagian. Dalam perumpamaan ini, si anak bungsu meminta bagian harta milik yang menjadi haknyam dan ayahnya kemudian membagi-bagikan harta itu kepada kedua anaknya. Dengan menerima pembagian harta ini, masing-masing anak sudah disebut sebagai pemilik, namun sebetulnya harta itu baru boleh diambil setelah ayahnya meninggal. Ayah itu tetap berkuasa atas hartanya, yang dalam perumpamaan ini terlihat ketika ia berbicara tentang “kepunyaanku” (Luk 15:31). Dengan meminta harta bagiannya, si anak bungsu ini memutuskan diri dari ikatan keluarga itu, meninggalkan rumahnya, ayahnya dan kakaknya. Terlihat bahwa kecil sekali harapan bagi anak ini untuk kembali pulang ke rumah ayahnya.

Anak bungsu itu kemudian menjual seluruh bagiannya itu dan pergi ke negeri yang jauh. Intinya, anak itu sebetulnya menukarkan bagian harta warisannya dengan uang tunai. Dalam adat Yahudi, seorang anak laki-laki wajib mengabdi pada ayahnya dan tidak boleh meninggalkan rumah ayahnya hingga ayahnya meninggal dunia. Dengan meninggalkan ayahnya dan berangkat ke negeri yang jauh, anak bungsu ini sebetulnya telah berdosa. Kakaknya menunjukkan ketaatan dan pengabdian kepada ayahnya dengan tetap tinggal bersama-sama dengan ayahnya. Kemanakah si bungsu itu melangkahkan kakinya? Tidak dijelaskan dalam perikop ini. Kemungkinan ia pergi ke wilayah asing, tempat banyak orang Yahudi merantau. Diceritakan bahwa anak ini memboroskan harta miliknya dan berfoya-foya di negeri itu hingga hartanya habis dan ia akhirnya hidup melarat setelah muncul masa kelaparan di negeri itu. Dalam keadaan terpaksa, ia bekerja sebagai penjaga babi, suatu hal yang dianggap najis oleh orang Yahudi (Im 11:7; Ul 14:8; 1 Mak 14:7). Menjaga babi menunjukkan kemurtadan dari Hukum Taurat, dan ia tidak layak lagi untuk menjadi anggota bangsa Yahudi dan umat Allah. Dalam kondisi kelaparan, ia ingin mengisi perutnya dengan ampas makanan babi (kulit kacang-kacangan), namun tidak ada yang memberikannya. Ini menunjukkan bahwa derajatnya menjadi amat rendah, sangat rendah hingga ia tidak layak lagi meskipun untuk hanya memakan ampas makanan babi.

Mungkin saja saat itu ia mulai berpikir bahwa bencana yang timbul itu adalah hukuman Allah atas kesalahannya, karena ia kemudian menyadari keadaannya yang amat memperihatinkan itu. Ia mengingat kembali bahwa di rumah ayahnya banyak makanan, sedangkan ia menderita kelaparan. Ia kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah ayahnya setelah memilih kata-kata yang dirasanya tepat agar ayahnya mau menerima dia. Ia beranggapan bahwa ayahnya tidak akan menerimanya lagi atau kalaupun menerimanya pastilah dengan hati yang dingin. Ia berkata bahwa ia tidak layak lagi disebut anak bapa, dan meminta agar dirinya dijadikan upahan saja. Orang upahan bukanlah bagian dari keluarga. Mereka datang pada pagi hari untuk bekerja hingga malam hari. Pada malam hari mereka dibayar dan pulang. Orang upahan memiliki status lebih rendah dari budak, karena pekerjaan mereka tidak tetap, mereka tidak memiliki kepastian dengan tempat tinggal dan makanan mereka sehari-hari.

Banyak pendapat yang menganggap bahwa penyesalan si bungsu ini bukan karena ia sungguh-sungguh menyesal atas perbuatannya, melainkan karena ia kehabisan uang dan kelaparan di luar negeri.

Apa yang ia takutkan ternyata tidak terjadi. Sejak ia masih jauh dari rumah, bapanya sudah melihat kedatangannya dan segera berlari, merangkul dan menciumnya. Terlihat sekali bahwa ayah itu selalu menunggu anaknya pulang. Ia begitu rindu dengan anaknya, hingga ia mengubur masa lampau, rela merendahkan dirinya dengan berlari menyambut anak itu, dan tidak menghukum anak itu. Ia mencium anaknya sebagai lambang kasih dan pengampunan atas anak bungsunya itu (2 Sam 14 : 33). Adegan ini dapat kita temui pula pada kitab Kejadian 33:4, yakni dalam pertemuan Esau dan Yakub. Esau tidak mengingat-ingat lagi kesalahan Yakub, dan memilih untuk mengampuni Yakub. Tindakan si ayah yang berlari menjemput anaknya ini mungkin juga untuk melindunginya dari amukan warga kampung yang pastinya menganggap anak ini tidak pantas lagi untuk kembali ke rumah ayahnya. Ayahnya itu tak pernah memutuskan relasi dengan anaknya itu, meskipun jelas secara hukum, anaknya itu sudah memutuskan hubungan dengan keluarganya.

Ayah itu kemudian menyuruh hamba-hambanya untuk memberi anak itu jubah yang terbaik, cincin, sepatu, dan untuk menyembelih anak lembu tambun. Pemberian jubah ini menaikkan kembali harkat anak itu menjadi seseorang yang terhormat. Sedangkan pemberian cincin menunjukkan bahwa anak itu mendapatkan kembali kepercayaan, kedudukan  dan wibawanya. Pemberian sepatu menunjukkan pengakuan bagi si bungsu sebagai orang merdeka. Dengan melakukan penyembelihan lembu, ayah itu mengadakan pesta bagi seluruh kampung agar anaknya diterima lagi oleh para tetangga-tetangganya, dan agar mereka juga merasakan sukacitanya atas kembalinya si anak bungsu. Di Palestina pada masa itu, daging lembu hanya dimakan pada kesempatan yang amat khusus.

Cerita itu tak berakhir di sini, anak sulung dari sang ayah menjadi begitu marah karena ia merasa bapanya tidak pernah memperlakukan dirinya dengan istimewa, padahal ia telah bersikap taat dan berbakti kepada ayahnya. Ayahnya bahkan tidak pernah memberinya seeokor anak kambing, yang nilainya lebih rendah daripada anak lembu, padahal ia telah lama mengabdi pada ayahnya. Ia pun tak mau menyebut saudaranya yang baru pulang itu sebagai adiknya, tetapi sebagai “anakmu” (anak ayahnya). Namun ayahnya tidak mencela sikap si sulung ini. Ia malah mengingatkan tentang kebersamaan mereka selama ini, dan si sulung tetaplah pewaris utama dari ayahnya. Ayahnya ini menegur anak sulungnya secara halus agar si sulung memperlakukan si bungsu sebagai adiknya.

Perumpamaan ini berakhir dengan menggantung, karena tak pernah diketahui bagaimana sikap si sulung selanjutnya. Apakah ia akhirnya bersedia untuk menerima kembali adiknya dengan ikut serta dalam pesta, atau apakah ayahnya tidak berhasil membujuknya dan ia tetap menyimpan amarahnya.

IV. REFLEKSI

Dalam perumpamaan ini ada tiga tokoh utama, yakni si bungsu, si sulung dan ayah mereka. Ayah mereka adalah gambaran dari Bapa kita yang ada di surga, yang begitu pemurah, penuh kasih, dan memeberikan kebebasan untuk anak-anaknya. Ini terlihat dari kerelaannya untuk memenuhi permintaan anak bungsunya, yakni membagikan hartanya, meskipun ia masih hidup. Si sulung dianggap sebagai gambaran orang Farisi dan ahli taurat yang taat pada hukum Taurat dan selalu menjaga kesucian diri mereka. Sedangkan si bungsu dianggap sebagai para pemungut cukai dan pendosa yang dianggap sebagai kelompok tak bermoral, tak beragama dan harus dijauhi karena dipandang sebagai perusak hukum. Itulah mengapa orang Farisi dan ahli taurat mengkritik Yesus yang mau bergaul dan menerima para pemungut cukai dan pendosa. Atau meungkin juga mereka merasa iri karena Yesus sangat memperhatikan para pendosa, dan bukan memeperhatikan mereka yang hidupnya suci.

Harus disadari bahwa pusat perhatian perumpamaan ini bukan hanya sebatas orang Farisi atau orang berdosa saja, namun bagi kita semua. Banyak dari kita yang sedang dalam posisi si anak bungsu, yang meminta hak kita dari Bapa, lalu pergi ke negeri yang jauh, yakni menjauhkan diri dari Allah dan memutuskan hubungan dengan keluarga kerajaan Allah. Orang berdosa  adalah seperti anak bungsu yang dengan memburu kesenangan dosa, memboroskan karunia-karunia yang diberikan oleh Allah. Ia kehilangan hidup yang benar dan sejati yang hanya dapat ditemukan dalam hubungan yang benar dengan Allah. Dapat dikatakan bahwa mereka sedang mengalami kematian rohani.

Mungkin juga kita sedang dalam posisi si anak sulung yang merasa diri benar, merasa diri dekat dengan Allah dan berhak mendapatkan keselamatan karena kesalehannya. Ini adalah bentuk kesombongan rohani yang menganggap bahwa orang yang berdosa harus dihukum dan tidak layak untuk diselamatkan. Anak sulung itu melambangkan orang yang kelihatannya secara lahiriah menaati perintah Allah, tetapi hati mereka terpisah dari Dia dan tujuan-Nya bagi kerajaan itu

Anak bungsu itu jatuh miskin di negeri asing. Ini menunjukkan bahwa keadaan keterpisahan dari Allah akan berakibat kegagalan dan menjadi budak dosa. Namun setiap manusia dibekali dengan akan budi dan memiliki hati nurani yang mengarahkan pada yang baik dan mengingatkan jika telah melakukan perbuatan dosa. Kesadaran atas kesalahan dan penyesalan akan membawa kembali setiap pendosa kepada Allah asalkan disertai dengan keterbukaan dan kerendahan hati, serta kesediaan untuk melakukan segala sesuatu yang dikehendaki Allah (Luk 15:18-19).

Sikap sang ayah yang berlari menyambut anaknya, merangkul, dan mencium anaknya itu merupakan gambaran betapa besarnya kasih Allah kepada mereka yang telah berdosa dan meninggalkanNya. Kasihnya besar itu membuatNya selalu menunggu anaknya itu kembali kepadaNya. Dan kasihNya itu membuatnya mau merendahkan dirinya dengan mau berlari duluan untuk menyambut anakNya. Mengapa ayah itu tidak mencari anaknya seperti penggembala  mencari domba yang hilang, dan perempuan yang mencari dirhamnya yang hilang? Ini sekali lagi karena Bapa memberi kebebasan bagi anaknya, juga karena anaknya itu memiliki akal budi dan perasaan, tidak seperti domba dan dirham, sehingga harusnya anaknya mengerti dan tahu batas, kapan ia harus bertobat dan kembali kepada Bapanya.

Bapa dalam perumpamaan ini memberikan segala hal kepada anak bungsunya bahkan mengadakan pesta untuk merayakan kedatangannya. Ketika orang berdosa dengan tulus hati memohon pengampunan Allah, maka Allah sudah siap menerima mereka dengan pengampunan, kasih, dan mengembalikan hak penuh sebagai anak Allah. Allah begitu bersukacita atas pertobatan orang yang berdosa. Ia ingin agar semua orang yang ada di dekatnya juga menerima kembali setiap orang berdosa yang bertobat. Sukacita surgawi akan terjadi karena satu orang yang bertobat (Luk 15:10).

Seperti ayah dalam perumpamaan ini yang tidak peduli dengan motivasi anaknya untuk pulang ke rumah, begitu juga Bapa yang hanya mementingkan keselamatan manusia dan tidak mengungkit-ungkit dosa-dosa yang telah dilakukan manusia dan menyakiti hati Bapa. Bapa tak pernah menutup pintu hatinya bagi anak-anakNya. Ia hanya ingin agar seluruh manusia ciptaanNya berbahagia akan keselamatan yang sudah dirancangnya bagi mereka.

Akan tetapi, kebahagiaan sang ayah dalam perumpamaan ini terpaksa dihentikan sementara oleh anak sulungnya yang merasa iri. Si sulung tidak mau menerima adiknya sebagai saudaranya. Ia merasa adiknya sudah berdosa dan harus dihukum, bukannya diterima dengan baik, apalagi sampai dipestakan. Ia tidak memiliki rasa belas kasihan pada adiknya yang sudah mendapatkan pelajaran dari pengalaman buruknya. Ia merasa diri benar, merasa kasihan pada diri sendiri, dan merasa terasing secara batin. Padahal bagi Bapa, orang-orang saleh, yang taat hukum dan  selama ini dekat dengan Bapa, relasinya tak pernah terganggu.

Dalam kisah perumpamaan ini, kita bisa melihat bagaimana pandangan atau persepsi salah dari kedua anak ini terhadap ayahnya. Si bungsu menganggap bahwa ayahnya tidak akan menerimanya lagi karena perilaku buruknya. Sedangkan si sulung menganggap ayahnya tidak adil. Ia hanya memandang diri sebagai budak dari ayahnya hanya karena ayahnya tak pernah melakukan sesuatu yang istimewa baginya. Bagi orang yang berdosa, kisah ini mengingatkan kembali bahwa Allah itu penuh kasih, yang mau mengampuni bahkan ketika kata maaf dan sesal masih ada di dalam hati. Sedangkan bagi orang yang selama ini merasa dirinya saleh dan dekat dengan Bapa, seperti yang diwakili oleh para ahli Taurat dan kaum Farisi, kisah ini mengingatkan mereka bahwa Bapa tidak pernah sekalipun menganggap mereka hanya sebagai budak saja. Seharusnya mereka bersukacita ketika ada saudara mereka yang bertobat dan kembali ke pangkuan Bapa. Sikap tidak bersukacita menunjukkan bahwa mereka tak bisa menerima saudaranya sendiri dan menolak kasih Allah. Sebagai anak Bapa, mereka harusnya ikut serta dalam kasih dan sukacita  Bapa, dengan mengasihi saudaranya khususnya yang berdosa, dan bukan memandang jijik. Anak sulung itu senantiasa memiliki relasi erat dengan Bapa. Ia tetaplah pewaris yang utama. Seseorang yang relasinya dekat dengan Bapa, tak selayaknya menyimpan rasa iri, dengki dan tak memiliki hati yang penuh kasih. Ia harusnya meniru perilaku Bapanya yang maha pengampun dan ikut bersukacita atas kebahagiaan Bapanya.

Apakah kita selalu ingat bahwa Bapa senantiasa mengasihi kita tanpa syarat dan selalu menerima kita dalam hatinya apapun yang kita lakukan? Jika kita melakukan suatu dosa dan menyesalinya, Bapa begitu bahagia menyambut dan menerima kita kembali ke rumahNya. Meski kita merasa bahwa kita tak layak untuk kembali kepada Bapa, namun Bapa begitu merindukan kita untuk pulang kembali ke hatiNya.  Dan karena kasih Bapa yang begitu besar telah dilimpahkan atas kita, maka kita pun harus mengasihi sesama manusia, apapun keadaannya.

V. APLIKASI

Ada sebuah kisah mengenai Biksu Ajahn Brahm dan ayahnya, yang dikisahkan dalam buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”. Pada sebuah kesempatan, ayah dari Biksu Ajahn Brahm  berkata : “Apapun yang kamu lakukan, pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu.” Ini adalah ungkapan sederhana namun penuh makna. Diperlukan keberanian dan kebijaksanan  untuk mengatakan hal ini. Pada akhirnya, Biksu Ajahn Brahm menyadari bahwa pintu rumah yang dimaksudkan bukan hanya pintu rumah secara fisik, tapi pintu hatinya sendiri. Dengan kata lain, ayahnya berkata bahwa apapun yang anaknya lakukan, baik atau buruk, ayahnya akan selalu menganggapnya sebagai anaknya yang terkasih.

Inilah yang pasti juga diucapkan Bapa kita di surga bagi masing-masing ciptaannya. Pintu hati Bapa tak pernah tertutup untuk kita anak-anakNya. Ketika kita telah sadar bahwa Bapa begitu maha pengasih, maka kita pun harus bisa mengasihi saudara kita di dunia. Apakah kita berani mengatakan “Apapun yang kamu lakukan, pintu rumahku selalu terbuka untukmu…”,  baik bagi orang-orang yang kita kasihi hingga pada semua orang yang kita jumpai dalam hidup kita, bagi orang yang begitu menyebalkan, bahkan bagi diri kita sendiri?

Pemaafan yang positif adalah melepaskan hal-hal buruk yang menjadi bagian dari masalah dan membiarkannya berlalu. Mari kita sama-sama belajar untuk mengatakan : “Apapun yang kamu lakukan, pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu…”

VI. PENUTUP

Pertobatan membawa manusia kepada keselamatan, karena Allah yang maha rahim akan melepaskan manusia dari belenggu dosa-dosanya itu. Allah senantiasa menunggu setiap anaknya untuk bertobat dan kembali ke rumahnya. Keselamatan pun tidak hanya ditentukan oleh ketaatan pada peraturan saja, tapi bagaimana kita bersikap dengan sesama kita. Keselamatan juga tergantung bagaimana kita bisa menerima sesama kita, khusunya yang berdosa. Keselamatan bukan hanya urusan pribadi dengan Allah, tapi juga menyangkut hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesamanya. Pertobatan bukan hanya penerimaan kembali orang yang berdosa oleh Allah, tetapi juga penerimaan oleh komunitasnya. Inilah aspek komunal dari keselamatan.

VII. REFERENSI

Lembaga Biblika Indonesia. 2011. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta. Kanisius.

Leks, Stefan. 2003. Tafsir Injil Lukas. Yogyakarta. Kanisius.

Riyadi, St. Eko, Pr. 2011. Lukas “Sungguh, Orang ini adalah orang Benar!”. Yogyakarta. Kanisius.

Yayasan Lembaga SABDA.”Teks Lukas 15:1-31. ”http://alkitab.sabda.org/commentary.php?passage=Luk%2015:1-31. (diakses tanggal 11 Mei 2013).

Seluruh ayat dalam makalah ini diambil dari Alkitab Deuterokanonika LAI 1974 LBI 1976.


5 thoughts on “Perumpamaan Tentang Anak yang Hilang (Luk 15:11-32)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s