Tafsir Naratif Markus 3 : 1-6 (Yesus Menyembuhkan Orang pada Hari Sabat)

Yesus Menyembuhkan Orang Pada Hari Sabat (Markus 3:1-6)

Salinan Kolometris 

1       Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat.

Di situ ada seorang

yang mati sebelah tangannya.

2       Mereka mengamat-amati Yesus,

kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat,

supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.

3       Kata Yesus kepada orang

yang mati sebelah tangannya itu,

“Mari, berdirilah di tengah!”

4       Kemudian kata-Nya kepada mereka,

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat,

                berbuat baik

                atau berbuat jahat,

                menyelamatkan nyawa orang

                atau membunuh orang?”

Tetapi mereka itu diam saja.

5       Ia berdukacita

karena kedegilan mereka

dan dengan marah

Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka,

lalu Ia berkata kepada orang itu,

“Ulurkanlah tanganmu!”

Dan ia mengulurkannya,

maka sembuhlah tangannya itu.

6       Lalu keluarlah orang-orang Farisi

dan segera bersekongkol

dengan orang-orang Herodian

untuk membunuh Dia.

I. BATAS-BATAS CERITA

Perikop Markus 3:1-6 adalah kisah yang terpisah dengan kisah sebelumnya (Murid-Murid Memetik Gandum Pada Hari Sabat; Markus 2:23-28), dan juga dengan kisah sesudahnya (Yesus Menyembuhkan Banyak Orang; Markus 3:7-12). Hal ini terlihat dari adanya perbedaan tempat kejadian antara perikop ini dengan perikop sesudahnya. Pada kisah Murid-Murid Memetik Gandum Pada Hari Sabat, kejadian berlangsung di ladang gandum, sedangkan pada kisah ini, kejadian terjadi di dalam rumah ibadat. Lihat pada ayat 1 : Lalu Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Sedangkan pada kisah Yesus Menyembuhkan Banyak Orang, kejadian terjadi di tepi danau (Markus 3 :7).

Selain perbedaan lokasi kejadian, terdapat juga perbedaan tema antara kisah ini dengan kisah sebelumnya. Kisah sebelumnya mengisahkan murid-murid yang memetik gandum pada hari Sabat, sedangkan kisah ini mengisahkan penyembuhan oleh Yesus pada hari Sabat. Jadi meskipun terdapat kesamaan waktu kejadian dan keterkaitan tema mengenai hal-hal yang dilarang pada hari Sabat antara kisah ini dengan kisah sebelumnya, namun masuknya tokoh baru (orang yang mati sebelah tangannya), dan perubahan tempat menunjukkan bahwa kisah ini terpisah dengan kisah sebelumnya.

Sementara apabila dilihat hubungan antara kisah ini dengan kisah sesudahnya, terlihat bahwa tokoh orang yang mati sebelah tangannya pada kisah ini menghilang pada kisah sesudahnya, walaupun temanya masih sama-sama berkisar mengenai penyembuhan. Maka disimpulkan bahwa kisah ini berdiri sendiri, dengan awal kisah pada ayat 1 : Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Dan akhir dari kisah ini adalah pada ayat 6 : Lalu, keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

Akhir kisah ini awalnya terlihat happy end, dimana orang yang mati sebelah tangannya disembuhkan oleh Yesus, akan tetapi pada ayat 6, penulis menuliskan adanya ancaman kepada Yesus karena orang-orang Farisi dan Herodian bersekongkol untuk membunuhNya. Namun akhir ini tetap menjadi kesatuan dengan keseluruhan kisah dalam perikop ini, karena di awal kisah sudah dikatakan bahwa orang-orang Farisi (yang sepertinya ikut serta sejak Yesus dan para murid berada di ladang gandum) mengamat-amati apakah Yesus akan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya itu.

II. AKSI

Pada awal kisah, terdapat kekurangan, yaitu ada seorang di dalam rumah ibadah yang mati sebelah tangannya. Orang-orang Farisi pada perikop sebelumnya sudah mengalami gesekan dengan Yesus dan pengikutnya mengenai hari Sabat. Pada perikop sebelumnya mereka mengkritik murid-murid Yesus yang memetik gandum pada hari Sabat. Maka pada kisah ini, mereka mengamat-amati Yesus apakah Yesus akan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya itu. Yesus yang mengetahui pikiran mereka mengajukan pertanyaan balik : Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang. Perkataan Yesus ini disusul dengan tindakanNya menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya itu membuat konflik antara Yesus dengan orang-orang Farisi menjadi semakin meruncing, hingga di akhir kisah mereka hendak bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Yesus. Ini menunjukkan kontak Yesus dan orang Farisi yang sukar.

Jika dilihat dari kisah tersebut, hubungan antara Yesus dengan orang yang mati sebelah tangannya itu relatif lebih mudah. Walaupun tidak dikisahkan adanya keinginan dari orang yang mati sebelah tangannya itu untuk meminta kesembuhan (tidak ada kata  mau, ingin, hendak, berupaya), namun Yesus yang tahu akan kondisinya merasa orang ini harus disembuhkan. Ia menyuruh orang itu untuk berdiri di tengah, dan kemudian menyembuhkannya.

Teknik retorika terlihat pada perkataan Yesus yang provokatif “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Pertanyaan ini adalah bentuk pararelisme antithesis, dimana gagasan yang satu berlawanan dengan gagasan yang lain, yakni berbuat jahat bertentangan dengan berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang bertentangan dengan membunuh orang. Bagian ini juga menjadi inti terbesar dari kisah ini karena menunjukkan konflik antara Yesus dengan Orang Farisi mengenai pelaksanaan hari Sabat.

III. ALUR CERITA (PLOT)

Plot pada kisah ini dapt dikatakan berciri episodik, jadi hanya meliputi intern adegan saja dan tidak kontinyu dengan kisah yang lain, karena seperti dijelaskan di atas, kisah ini merupakan satu kisah yang berdiri sendiri, meskipun masih dalam satu kaitan tema dengan perikop sebelumnya, yaitu karya Yesus di Galilea.

Berikut ini adalah unsur-unsur dalam plot kisah ini :

  • Situasi Awal (eksposisi) : Yesus masuk kembali ke dalam rumah ibadat (ayat 1a). Masuknya Yesus ke dalam rumah ibadah ini bukan hanya sekedar masuk, akan tetapi di sini Yesus akan bertemu dengan tokoh lain.
  • Komplikasi : Di dalam rumah ibadat Yesus bertemu dengan seorang yang mati sebelah tangannya. Bisa juga dijadikan sebagai komplikasi adalah sikap orang Farisi dan orang-orang di daam rumah ibadat yang mengamat-amati Yesus apakah Yesus akan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya itu pada hari Sabat (ayat 1-2).
  • Aksi transformatif (klimaks) : Yesus sepertinya sudah mengetahui pikiran orang-orang di rumah ibadah itu, maka Yesus menyuruh orang yang mati sebelah tangannya itu untuk berdiri di tengah, lalu Yesus bertanya kepada orang-orang disana mengenai mana yang diperbolehkan pada hari Sabat : berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan atau membunuh. Mereka diam saja dan Yesus berdukacita dan marah karena kedegilan hati mereka. Yesus kemudian menyuruh orang yang mati sebelah tangannya itu untuk mengulurkan tangannya (ayat 3-5a). Pada kondisi ini terjadi ketegangan, dimana usaha penyembuhan orang yang mati sebelah tangannya itu dianggap menjadi batu sandungan bagi para orang Yahudi karena dilakukan pada hari Sabat.
  • Solusi : Orang yang mati sebelah tangannya itu mengulurkan tangannya dan Yesus menyembuhkannya (ayat 5b).
  • Situasi Final : Orang yang mati sebelah tangannya menjadi sembuh, namun menyulut sebuah akibat lain, yaitu orang-orang Farisi keluar dan bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Yesus (ayat 6).

Pada kisah ini, yang mengalami perubahan adalah nasib orang yang mati sebelah tangannya itu. Dia yang tadinya sakit menjadi sembuh. Ada perubahan situasi dari yang semula ada kekurangan (sakit) menjadi disembuhkan. Maka dapat disimpulkan bahwa alur cerita pada kisah ini bertipe resolusi. Akan tetapi jika ditinjau dari sisi orang-orang Farisi, dapat pula dikatakan bahwa alur ceritanya adalah revelasi, dimana mereka yang tadinya tidak bertindak apa-apa, dalam artian diam, pada akhir kisah setelah melihat mujizat penyembuhan dari Yesus, menjadi bergerak, untuk merencanakan pembunuhan Yesus, atau dengan kata lain ada perubahan sikap dari orang-orang Farisi.

Apabila dilihat dari akhir cerita, maka kisah ini dapat dikategorikan sebagai kisah dengan alur tragis. Kisah ini berawal dengan konflik, ada orang yang mati sebelah tangannya, sikap orang Farisi dan orang Yahudi yang mengawasi Yesus, lalu terjadi hal yang baik, orang yang mati sebelah tangannya itu disembuhkan oleh Yesus, akan tetapi kisah segera berakhir dengan krisis, dimana orang Farisi merencanakan persekongkolan dengan orang Herodian untuk membunuh Yesus.

IV. TOKOH

Tokoh-tokoh dalam kisah ini dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu pelaku individual : Yesus dan orang yang mati sebelah tangannya. Sedangkan pelaku kolektif adalah orang-orang Farisi dan orang-orang Herodian. Dari seluruh tokoh ini hanya Yesus yang disebutkan namanya, sedangkan orang yang sakit sebelah tangannya tidak dijelaskan siapa namanya, bahkan tidak diketahui tangan mana yang mati. Hal ini kemungkinan karena orang itu disingkirkan dari pergaulan orang Yahudi karena kondisinya itu, hingga namanya pun dilupakan dan hanya ciri fisiknya saja yang dijelaskan, yaitu mati sebelah tangannya (lebih lanjut lihat pada pembahasan di bagian latar). Sedangkan untuk para pelaku kolektif, nama mereka tidak dijelaskan karena akan terlalu banyak. Ciri mereka juga tidak dijelaskan karena pembaca dianggap sudah tahu bahwa orang Farisi adalah orang-orang yang taat dengan Agama Yahudi dan biasanya bertentangan dengan Yesus baik dalam pikiran dan tindakan, sedangkan orang Herodian adalah kaum pendukung raja Herodes.

Jika dilihat dari intensitas kehadiran, ciri dan sifat-sifat para tokoh dalam kisah, maka penokohan pada kisah ini dapat dikategorikan sebagai berikut :

  • Yesus : adalah tokoh protagonist bundar, karena Yesus tampil dalam keseluruhan cerita, melakukan perubahan berupa penyembuhan, bersifat dinamis dan menunjukkan emosinya (marah dan berdukacita atas kedegilan hati orang Farisi). Yesus yang berbelas kasih berinisiatif untuk menyemuhbuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Kemudian Yesus menunjukkan emosinya kepada orang-orang Farisi di dalam rumah ibadah, dan menyembuhkan orang itu. Diakhir kisah tidak dikisahkan lagi bagaimana reaksi Yesus atas kondisi orang yang sudah disembuhkan dan juga atas perbuatan orang-orang Farisi.
  • Orang-orang di rumah ibadah : Meskipun belum dijelaskan pada ayat 2 mengenai siapa orang-orang ini, namun apabila dilihat pada perikop sebelumnya, dan melihat penjelasan pada ayat 6, maka dapat disimpulkan bahwa orang-orang ini adalah Orang Farisi. Orang Farisi adalah tokoh protagonist bundar, yang hadir dalam keseluruhan cerita dan bersifat dinamis (mengalami perkembangan sifat). Mereka bertentangan dengan Yesus dalam level religius, dimana orang-orang Farisi sangat taat pada hukum Taurat dan mereka menganggap Yesus tidak taat pada Hukum Taurat dan bahkan dianggap menghujat Allah. Mereka mulai dengan diam dan mengamat-amati Yesus kalau-kalau ia akan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya, mencari jalan untuk mempersalahkan Yesus dan kemudian pada akhirnya bereaksi untuk bersekongkol dengan orang Herodian untuk membunuh Yesus. Sikap dan perilaku orang Farisi ini yang berkontribusi memicu Yesus untuk menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya (ayat 5).
  • Orang yang tangannya mati sebelah juga adalah tokoh agen. Karena meskipun ia hadir dalam keseluruhan kisah dan berperan penting dalam kisah ini, yakni menampilkan kemampuan Yesus untuk menyembuhkan dirinya, namun ia kurang menonjol. Ia juga bersifat datar dan statis karena ia terlihat pasif dalam kisah ini. Keseluruhan tentang dirinya hanya diceritakan oleh narator. Perannya pun sangat ditentukan oleh tindakan dan perkataan tokoh Yesus. Identitasnya dari awal hingga akhir tidak semakin jelas, dan tetap “ditutupi”. Bahkan reaksinya setelah disembuhkan pun tidak diceritakan lagi.
  • Orang Herodian : adalah tokoh tipe, berfungsi sebagai latar belakang dan hanya muncul di akhir kisah (ayat 6), bagian dari setting sebagai rekan persekongkolan Orang Farisi, yang tidak berkontribusi apa-apa dalam kisah ini.

Jika lebih memperhatikan fungsi peran dengan menggunakan sistem aktan, maka aktan dalam kisah ini adalah :

  • Pengirim : Allah
  • Subyek : Yesus
  • Obyek : Kesembuhan
  • Penerima : orang yang mati sebelah tangannya
  • Pembantu : belas kasih Yesus, juga kemarahan dan dukacita Yesus atas kedegilan hati orang Farisi.
  • Lawan : orang Farisi dan orang Herodian.

Ditinjau dari bagaimana tokoh-tokoh dalam kisah ini diperkenalkan, maka dapat dikatakan bahwa tokoh-tokoh pada kisah ini diperkenalkan oleh narator dengan teknik Telling dan Showing sebagai berikut :

  • Yesus : diperkenalkan secara showing oleh narator sebagai penyembuh yang bertentangan dengan orang Farisi, melalui perkataan Yesus, baik perkataan emosional Yesus yang menentang orang Farisi (ayat 4) juga perkataanNya yang menyuruh dan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya (ayat 3 dan 5). Selain itu, Yesus pun diperkenalkan oleh narator melalui tindakannya yang menyembuhkan (ayat 5) dan pikiran dan perasaannya (dukacita dan marah atas kedegilan hati orang-orang Farisi). Tokoh Yesus mengundang simpati dari pembaca, yang pastinya setuju bahwa tindakan menyembuhkan orang yang sakit itu jauh lebih mulia daripada sebuah hukum.
  • Orang yang mati sebelah tangannya : diperkenalkan oleh narator dengan teknik telling. Ia hanya diperkenalkan ciri fisiknya sebagai orang yang sakit, namun tidak diperkenalkan lebih jauh lagi, baik mengenai watak, asalnya, bahkan namanya tidak diberi tahu. Tokoh ini menimbulkan rasa empati dari pembaca karena kondisinya itu.
  • Orang Farisi : diperkenalkan secara showing oleh narator sebagai pihak yang tidak menyukai Yesus, dan ingin mencari cara untuk mempersalahkan Yesus. Tokoh ini diperkenalkan dari tindakannya yang mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Yesus menyembuhkan orang pada hari sabat (ayat 2) dan dari tindakan mereka yang bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Yesus (ayat 6), dari pikiran mereka yang mencari-cari hal untuk mempersalahkan Yesus (ayat 2), dan juga dari sikap mereka yang degil (ayat 5). Karena gambaran seperti itu, maka orang-orang Farisi pada kisah ini adalah tokoh yang menimbulkan rasa antipati dari pembaca.

Dari perkenalan para tokoh itu, dapat disimpulkan tingkat kepastian dari masing-masing tokoh dalam kisah ini :

  • Orang yang mati sebelah tangannya : tingkat kepastian paling rendah, karena narator tidak banyak menggambarkan orang ini, pembaca harus menggali lebih banyak mengenai apa makna dibalik orang yang mati sebelah tangannya, apakah ini hanya kisah mujizat penyembuhan, ataukan Markus memiliki makna tersembunyi dalam kisah ini.
  • Yesus : kepastian paling tinggi, karena narator menjelaskan tokoh Yesus dengan cukup banyak, baik dari perasaan dan arah tindakan Yesus.
  • Orang Farisi : kepastian paling tinggi, karena narator memberikan informasi yang jelas atas jalan pikiran dan tindakan orang Farisi yang keluar dan bersekongkol dengan orang Herodian untuk membunuh Yesus.

V. LATAR (SETTING)

Latar adalah konteks, waktu, atau lokasi tempat terjadinya suatu peristiwa. Berikut ini adalah latar yang dapat ditemukan dalam kisah Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat :

  • Latar Topografis : dalam kisah ini tidak ditemukan latar topografis. Meskipun dari perikop-perikop sebelumnya dapat diketahui bahwa kejadian ini terjadi di daerah Kapernaum-Galilea.
  • Latar arsitektural : kisah ini terjadi di rumah ibadat, sebuah tempat pubik yang sakral (lihat pada ayat 1 : Yesus masuk lagi ke rumah ibadat) yang kemungkinan besar adalah sinagoga yang sama dengan yang dikisahkan dalam Markus 1:21. Sinagoga adalah tempat berkumpulnya umat Yahudi setempat, atau menunjukkan gereja domestik. Sinagoga ini sering menjadi tempat untuk Yesus membuat mujizat sekaligus tempat konflik dan pertentangan dengan lawan-lawannya. Konflik di sinagoga menunjukkan bahwa orang Yahudi baik dalam skala besar hingga skala domestik selalu bertentangan dengan Yesus. Mereka menganggap Yesus sebagai pelanggar tradisi dan hukum, salah satunya adalah tradisi Sabat.
  • Latar waktu (temporal) : tidak dijelaskan secara eksplisit mengenai kapan peristiwa ini terjadi, namun jika dilihat dari perikop sebelumnya, kemungkinan pada hari Sabat itu, para murid memetik gandum pada siang hari, maka kejadian Yesus menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya kemungkinan pada siang atau sore hari sebelum matahari terbenam, karena masih dalam hari Sabat. Yang pasti kejadian in terjadi pada hari Sabat, yaitu hari ketujuh yang dikhususkan untuk doa dan ibadah, dan berkaitan dengan beristirahatnya Allah setelah menciptakan bumi dan isinya. Menurut hukum Yahudi, ada enam hari untuk bekerja, maka daanglah pada enam hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat (Lukas 13:14). Pada hari Sabat ini hanya orang yang dalam bahaya maut yang boleh ditolong oleh tabib.

o   Kata kemudian yang digunakan pada ayat 1 menunjukkan bahwa Yesus bergerak dengan cepat, dari ladang gandum ke rumah ibadat, tanpa ada jeda, yang menunjukkan bahwa kabar baik tentang Kerajaan Allah harus segera diberitakan.

  • Latar Sosio Religius :

o   Hari Sabat : Terkait dengan apa yang dikatakan Yesus pada ayat 4 : “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Yesus menanyakan sebuah pertanyaan yang jawabannya diketahui oleh seluruh orang yang ada disitu. Orang Yahudi tahu bahwa menyelamatkan nyawa adalah amanat Allah seperti yang tertulis pada kitab Ulangan, yaitu pada Ul 30:15 “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan.” Juga ada pada Ulangan 30:19 “kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan sepaya engkau hidup, baik engkau meupun keturunanmu. Maka semuanya tahu bahwa menyelamatkan nyawa dan berbuat baik adalah kewajuban mutlak yang tidak bisa tidak dilakukan pada hari apapun. Para orang Farisi itu mungkin sesungguhnya berkeyakinan bahwa nas dari kitab Ulangan itu dapat diberlakukan pada orang yang mati sebelah tangannya, karena orang itu tidak dalam bahaya maut. Akan tetapi dari sikap bungkam mereka, dapat disimpulkan bahwa mereka menyadari bahwa perkataan Yesus benar. Yesus mau menekankan bahwa hari Sabat diadakan untuk manusia (lihat Markus 2:27), jadi harusnya kemanusiawian lebih diutamakan daripada hari Sabat. Hari Sabat justru dijadikan Yesus sebagai hari pembebasan manusia, baik dari dosa, penyakit dan perhambaan.

o   Tangan yang mati sebelah : pandangan tradisi Yahudi mengatakan bahwa orang yang cacat adalah bukti bahwa orang itu masih memiliki dosa di hadapan Allah (Mzm 32:1-5), dan dianggap tidak layak untuk masuk dalam jemaat mereka. Mengangkat tangan adalah bagian dalam doa orang Yahudi, dan pasti orang yang mati sebelah tangannya ini tidak mampu melakukannya. Kemungkinan orang ini mengalami penyakit dimana otot tangannya mengerut, dan bukannya kelumpuhan yang menghancurkan seluruh jaringan otot tangannya.

o   Tangan yang mati sebelah : perlu diingat bahwa tangan seringkali bersifat eufimistis bagi orang Yahudi. Tangan seringkali menunjuk pada alat kelamin pria, maka orang yang mati tangannya dapat melambangkan pria impotensi. Orang Yahudi menganggap orang seperti ini adalah pohon kering yang tidak boleh mengharapkan perkenaan Tuhan.

o   Mengulurkan Tangan : fungsi mengulurkan tangan seperti terdapat dalam kitab suci adalah untuk berbuat baik dan juga untuk berbuat jahat. Sambil mengulurkan tangan, seseorang dapat memilih apa yang hendak ia lakukan, berbuat baik atau berbuat jahat. Dengan penyembuhannya, orang itu memiliki kembali kebebasannya untuk memilih.

  • Detail-detail lain

o   Yesus menyuruh orang yang mati sebelah tangannya untuk berdiri di tengah : ini menunjukkan bahwa Yesus ingin menampilkan orang itu, yang sepertinya karena kondisinya menjadi tersembunyi atau disembunyikan. Tengah menujukkan posisi inti, posisi yang paling diperhatikan.

o   Kemarahan Yesus bukan karena pertanyaannya tidak dijawab, akan tetapi Yesus marah karena kedegilan hati orang-orang Farisi yang menjadikan orang cacat itu sebagai pancingan untuk menjatuhkan dan menjebak Yesus.  Yesus juga marah karena mereka begitu tega melihat sesama yang menderita demi tegaknya hukum Taurat.

  • Makna dari kisah ini adalah : Tradisi hari Sabat diberikan oleh Allah untuk manusia, dan seharusnya kemanusiaan dietakkan di atas segala aturan hukum dan tradisi. Yesus menunjukkan bahwa kuasa dan karya penyelamatan Allah terjadi setiap hari, tidak hanya enam hari saja dalam seminggu. Dan setiap hari manusia pun diwajibkan untuk berbuat baik.

Daftar Pustaka :

Leks, Stefan. 2003. Tafsir Injil Markus. Yogyakarta: Kanisius.

Mandaru, Hortensius. 2012. Diktat Narasi Kitab Suci. Bogor: KPKS St. Yohanes Penginjil.

Riyadi. St. Eko, Pr. 2011. Markus “Engkau adalah Mesias”. Yogyakarta: Kanisius.

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s