Berkenalan dengan Kitab Wahyu – Bagian Kedua

PENGLIHATAN-PENGLIHATAN YOHANES :

PEMANDANGAN SURGA (WAHYU 4:1-5:14)

Yohanes dikuasai oleh roh dan ia melihat tahta di surga dan duduk seorang yang nampak seperti permata yaspis dan sardis. Tahta itu dilingkungi pelangi gilang gemilang bagaikan jamrud. Di sekeliling tahta itu ada 24 orang tua-tua berpakaian putih dan bermahkota emas. Dari tahta itu keluar kilat dan guruh yang menderu, tujuh obor yang merupakan tujuh roh Allah menyala di depan tahta itu. Di hadapan tahta itu ada lautan kaca seperti kristal. Di tengah tahta dan sekelilingnya terdapat empat makhluk yang bersayap enam, penuh dengan mata di depan dan belakangnya . Empat makhluk itu adalah makhluk serupa singa, anak lembu, makhluk bermuka manusia dan burung nasar. Mereka mempersembahkan pujian, hikmat dan syukur. 24 orang tua-tua itu tersungkur di hadapan Dia yang duduk di tahta itu.

Apa yang dilihat oleh Yohanes adalah suatu pemandangan surgawi. Gambaran surga adalah lautan kaca seperti kristal. Seorang yang duduk di tengah tahta itu adalah Allah, yang mirip dengan gambaran perjanjian lama, yaitu dikelilingi kilat dan bunyi guruh, yakni Allah yang menakutkan bagi manusia. 24 tua-tua berbaju putih dan bermahkota emas menunjukkan sosok raja (bermahkota emas) atau seseorang yang mulia dan mempunyai pengaruh (tua dan berpakaian putih). Bilangan 24 ini menunjukkan hasil dari perkalian 2 dikalikan 12 yang menunjukkan tua-tua itu datang mewakili seluruh dunia. Kondisi Allah yang dikelilingi oleh tua-tua ini menunjukkan kemahakuasaanNya. Penglihatan ini mengajak jemaat untuk melihat ke surga yang indah dan mulia, tempat Allah bertahta. Kesanalah nantinya jemaat yang setia akan pergi. Empat makhluk yang mengelilingi tahta merupakan gambaran atas sifat-sifat Allah, singa menunjukkan Allah yang begitu mengagumkan, manusia menunjukkan Allah yang bijaksana dan maha tahu, anak lembu menunjukkan Allah yang kuat, sedangkan burung nasar menunjukkan Allah yang ada di tempat tinggi namun dapat berada dimana-mana dan melihat semuanya. Mata yang ada pada tubuh mereka menunjukkan bahwa Allah maha melihat. Allah melihat apa yang terjadi dan sedang dialami oleh jemaatNya, dan Allah berkuasa untuk menyelamatkan umatnya itu

Kemudian Yohanes melihat Dia yang duduk di tahta itu memegang gulungan kitab yang ditulisi bagian dalam dan luarnya, namun dimeterai dengan tujuh meterai. Tidak ada yang layak membuka gulungan kitab itu sehingga isinya tidak dapat diketahui. Namun, singa Yehuda, sang tunas Daud telah menang dan layak membuka gulungan itu. Pemandangan berubah dengan munculnya Anak Domba yang seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh. Anak Domba itu tidak mati namun mendatangi tahta dan menerima gulungan kitab itu. 24 tua-tua dan empat makhluk tersungkur sambil menyanyikan nyanyian baru yang menyatakan Anak Domba itu layak menerima gulungan kitab karena Ia telah disembelih dan dengan darahNya, Ia telah membeli bagi Allah, manusia dari tiap suku, bahasa, kaum dan bangsa. Malaikat, makhluk di surga dan bumi juga menyampaikan puji-pujian kepada Anak Domba itu, yang ditutup dengan kata Amin oleh keempat makhluk itu.

Isi gulungan kitab yang dilihat oleh Yohanes adalah rencana keselamatan Allah, yang isinya berkaitan dengan jalannya sejarah kehidupan manusia. Yohanes menjadi sedih karena tak ada yang layak membuka gulungan itu. Rencana keselamatan Allah pasti memberikan penghiburan dan kekuatan pada jemaat yang saat itu sedang menderita, dan bila gulungan itu tak dibuka, maka hilanglah harapan mereka. Namun Mesias, yang dalam perjanjian lama digambarkan sebagai singa dari Yehuda dan Tunas Daud, layak membukanya. Munculnya Anak Domba yang seperti telah disembelih namun tidak mati menunjukkan siapa Mesias itu, yakni Yesus, yang telah mati namun dibangkitkan Allah, dan dengan darahnya telah membeli orang dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa, menjadi suatu kerajaan. Yesus dengan kematianNya membawa keselamatan bagi manusia. Ia membuka gulungan itu dan berarti Yesuslah yang menyampaikan rencana Allah kepada dunia dan berkuasa untuk mengatur sejarah manusia.

PEMBUKAAN METERAI DARI KITAB BERMETERAI TUJUH (WAHYU 7:1-8:5)

Yohanes lalu melihat Anak Domba membuka meterai dari kitab itu satu demi satu. Saat meterai pertama dibuka, ada seekor kuda putih yang ditunggangi seseorang yang memegang panah dan bermahkota. Ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan. Meterai kedua lalu dibuka dan muncul kuda merah padam yang ditunggangi orang yang berkuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, dan kepadanya dikaruniakan sebuah pedang yang besar. Ketika meterai ketiga dibuka, muncullah seekor kuda hitam yang ditunggangi seseorang yang membawa timbangan, diiringi suara “Secupak (secupak kurang lebih sama dengan 1 liter) gandum sedinar dan tiga cupak jelai sedinar, tapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu.” Meterai keempat dibuka dan muncullah kuda hijau kuning yang ditunggangi oleh Maut dan diikuti oleh kerajaan maut untuk membunuh seperempat isi bumi dengan pedang, kelaparan, sampar dan binatang buas.

Ketika Anak Domba membuka meterai kelima, tampaklah jiwa-jiwa para martir di bawah mezbah yang bertanya sampai berapa lama lagi mereka harus menunggu pembalasan dari Allah kepada mereka yang diam di bumi, Dan mereka kemudian diberikan sehelai jubah putih dan diminta untuk menunggu beberapa saat lagi hingga genap jumlah kawan dan saudara mereka yang akan dibunuh seperti mereka. Gempa bumi terjadi ketika meterai keenam dibuka, matahari menjadi hitam seperti karung rambut dan bulan menjadi merah bagai darah. Bintang-bintang berjatuhan bagai buah pohon ara. Langit menyusut bagai gulungan kitab yang digulung. Gunung-gunung dan pulau-pulau bergeser. Warga bumi bersembunyi dan memilih tertimpa gunung dan batu karang daripada harus menghadapi murka Anak Domba.

Sebelum meterai ketujuh dibuka, seorang malaikat menahan keempat malaikat dari penjuru bumi untuk tidak merusakkan bumi dan laut. Lalu malaikat itu memeteraikan dahi para hamba-hamba Allah. Jumlah yang dimeteraikan adalah sebanyak 144000, masing-masing 12000 dari masing-masing suku Israel. Lalu Yohanes melihat sekumpulan orang banyak berdiri di hadapan tahta Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang palem di tangan mereka. Mereka dan para makhluk surgawi memuji Allah. Yohanes menjelaskan siapa orang banyak yang memakai baju putih itu kepada salah seorang tua-tua. Mereka itu adalah orang-orang yang telah keluar dari kesusahan besar, telah mencuci jubah mereka dalam darah Anak Domba. Mereka tidak lagi menderita, dan akan digembalakan oleh Anak Domba ke mata air kehidupan.

Setelah itu, Anak Domba membuka meterai ketujuh dan suasana sunyi senyap terjadi di surga selama setengah jam. Yohanes melihat tujuh malaikat yang diberikan sangkakala oleh Allah. Juga terdapat satu malaikat lain yang berdiri dekat mezbah dengan pendupaan emas. Kepadanya diberikan kemenyan untuk dipersembahkan bersama doa orang-orang kudus. Asap kemenyan itu naik bersama dengan doa orang-orang kudus. Pendupaan itu kemudian diambil dan diisi dengan api dari mezbah dan lalu dilemparkan ke bumi yang mengakibatkan bunyi guruh bagai ledakan, halilintar dan gempa bumi.

Pembukaan meterai dari gulungan kitab menunjukkan penyingkapan rencana Allah atas munculnya keselamatan di akhir zaman, yang harus diawali dengan penderitaan. Pembukaan meterai pertama hingga meterai keenam menimbulkan kemalangan dan bencana bagi umat manusia. Namun kita perlu ingat bahwa meterai itu dibuka oleh Anak Domba, artinya segala kemalangan dan kesusahan yang terjadi berada di bawah kuasa Yesus yang mengatur sejarah. Jemaat pun akan mengalami penderitaan itu. Pilihannya adalah apakah tetap setia atau meninggalkan imannya. Kemalangan dan bencana yang muncul itu berturut-turut adalah perang antar bangsa, hilangnya suasana damai sejahtera, kelaparan (satu dinar adalah upah buruh untuk sehari kerja. Bayangkan betapa parahnya kelaparan yang terjadi ketika harga satu liter gandum sebesar satu hari upah buruh), kemudian muncul maut dan kerajaannya yang menunjukkan terjadinya kematian massal. Pada pembukaan meterai kelima terlihat jiwa-jiwa para martir yang seperti binatang kurban, telah dikurbankan karena kesaksian mereka. Mereka menanyakan kapan waktu pembalasan Tuhan, karena seolah Tuhan tampak diam saja dan membiarkan lebih banyak korban. Namun kata genap yang disampaikan kepada para martir itu sebetulnya berisi maksud “Tunggulah sebentar lagi, Tuhan akan ambil tindakan.”

Ketika meterai keenam dibuka, terjadi malapetaka besar di bumi. Allah begitu murka hingga tak ada yang dapat bertahan di depanNya. Mirip dengan yang dinubuatkan Daniel, bahwa semua manusia akan mati, namun seperti pada perumpamaan tentang lalang di ladang gandum, ada yang menerima kemuliaan, namun ada pula yang menerima kehancuran abadi. Kematian fisik orang-orang yang setia bukan akhir dari segalanya, mereka akan dibangkitkan dan dibawa ke surga. Seperti pemisahan lalang dari gandum, orang-orang yang percaya pada Yesus diberi tanda pada dahi mereka untuk menunjukkan bahwa mereka adalah milik Kristus. Jumlah 144000 bila dijabarkan adalah sebagai berikut : 12x12x1000. Dua belas menunjuk pada umat Allah secara keseluruhan, sedangkan 1000 menunjuk pada jumlah yang amat banyak, tak terhitung, sehingga angka ini sesungguhnya dimaksudkan bagi seluruh umat Allah yang baru. Mereka memakai jubah putih yang bermakna kemuliaan dan kesucian mereka.. Mereka inilah yang telah menanggung penderitaan dan penganiayaan seperti yang telah dialami Kristus (mereka telah membasuh jubahnya dalam darah Anak Domba), namun tetap setia pada imannya. Mereka layak untuk berdiri di hadapan Allah dan Anak Domba, menikmati kebahagiaan dan perlindungan Allah.

Ketika meterai ketujuh dibuka, rencana Allah telah tergenapi, dimana orang yang setia pada Kristus telah menerima ganjaran atas kesetiaan mereka.

TUJUH SANGKAKALA (WAHYU 8:6-11:19)

Yohanes melihat ketujuh malaikat yang memegang sangkakala bersiap-siap untuk meniup sangkakala, dan diikuti dengan hukuman yang jatuh pada para penganiaya. Berikut adalah hal yang terjadi ketika sangkakala ditiup satu persatu :

Sangkakala

Kejadian

Pertama

Hujan es dan api bercampur darah dilemparkan ke bumi, sepertiga bumi, pohon-pohon dan rumput hijau hangus

Kedua

Gunung besar yang menyala-nyala dilemparkan ke laut, sepertiga laut menjadi darah, mematikan sepertiga makhluk laut dan sepertiga dari semua kapal

Ketiga

Bintang besar (Apsintus) jatuh dari langit menimpa sepertiga sungai-sungai dan mata air, air menjadi pahit

Keempat

Terpukullah sepertiga matahari, bulan dan bintang-bintang.

Kelima

Sebuah bintang jatuh dari langit ke atas bumi, dan kepadanya diberikan anak kunci lubang kerajaan maut. Lalu pintu lubang maut dibuka, dan naiklah asap dari lubang itu. Dari asap itu keluarlah belalang-belalang ke atas bumi dengan kuasa seperti kalajengking untuk menyiksa manusia yang tidak memakai meterai Allah di dahinya

Keenam

Empat malaikat yang terikat dekat sungai besar Efrat dilepaskan untuk membunuh sepertiga umat manusia oleh api, asap dan belerang. Manusia yang tidak mati masih juga tidak bertobat

Seperti Allah menurunkan tulah di Mesir untuk membebaskan umat Israel dari tanah Mesir, maka Allah menurunkan malapetaka untuk menjatuhkan hukuman kepada para penganiaya. Ini adalah bukti bahwa Allah tidak mendiamkan atas apa yang terjadi pada umatnya. Allah mendengarkan doa umatnya. Orang yang mendapatkan meterai tidak akan mengalami malapetaka. Dan dengan malapetaka yang terjadi itu, sebetulnya Allah memberikan kesempatan untuk bertobat, namun ternyata manusia tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah tersebut.

Kemudian Yohanes melihat malaikat lain turun dari surga dan berdiri di atas laut dan bumi, ia mengangkat tangannya ke langit dan bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamaNya, bahwa pada waktu bunyi sangkakala ketujuh ditiup, akan genaplah keputusan rahasia Allah. Lalu Yohanes mendengar suara yang menyuruhnya mengambil gulungan kitab dari tangan malaikat tadi, namun malaikat itu menyuruhnya memakan gulungan kitab itu, yang terasa manis di luar, namun menjadi pahit setelah masuk ke dalam perut. Yohanes kemudian ditugaskan lagi untuk bernubuat kepada banyak bangsa, kaum, bahasa dan raja. Gulungan kitab itu terasa manis karena berasal dari Allah, namun terasa pahit karena isinya yang tidak menyenangkan bagi bangsa Israel dan mengakibatkan orang yang mewartakannya dibenci dan dikejar-kejar.

Yohanes lalu diberikan sebatang buluh untuk mengukur Bait Suci Allah, mezbah dan mereka yang beribadat di dalamnya, kecuali pelataran bait suci. Karena pelataran itu telah diberikan oleh Allah kepada bangsa-bangsa lain yang akan menginjak-injak kota suci selama 42 bulan. Allah lalu memberi tugas kepada dua saksinya, yaitu kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam. Kedua saksi itu ditugaskan untuk bernubuat selama 1260 hari dan dalam perlindungan Allah sehingga tak ada yang bisa menyakiti mereka. Bila mereka telah selesai memberi kesaksian, mereka akan diperangi dan dibunuh oleh binatang yang keluar dari jurang maut. Mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar yang disebut Sodom dan Mesir. Orang-orang dunia akan bergembira dan bersukacita atas kematian mereka, namun tiga setengah hari kemudian, kedua saksi itu akan dibangkitkan dan terjadilah gempa bumi yang amat dahsyat menghancurkan sepersepuluh dari kota itu dan membunuh tujuh ribu orang. Lalu malaikat ketujuh meniup sangkakalanya, dan terbukalah Bait Suci yang di sorga dan kelihatan tabut perjanjiannya dan terjadilah kilat, deru guruh, gempa bumi dan hujan es lebat.

Perintah bagi Yohanes untuk mengukur bait Allah bertujuan untuk melindungi bait Allah. Oleh karena itu Allah membiarkan daerah pelataran untuk tidak masuk dalam ukuran, sebab telah diberikan kepada bangsa lain selama 42 bulan (3,5 tahun), yang artinya untuk sementara saja bangsa-bangsa itu menginjak-injak pelataran bait allah. Bait Allah ini sebetulnya adalah representasi umat Kristiani, yang tetap dilindungi oleh Allah. Kisah tentang dua saksi Allah yang mati menunjukkan bahwa menjadi saksi Allah memberikan begitu banyak resiko, bahkan berujung pada kematian. Kematian para saksi itu membawa kegembiraan pada seluruh dunia. Namun pada akhirnya Allah membangkitkan kedua saksi itu. Kematian mereka karena menjadi saksi Allah bukan berarti mereka kalah pada dunia, dan kematian tidak menjadi titik akhir. Akan tetapi, mereka akan bangkit juga seperti Kristus, dan kematian mereka tidaklah sia-sia, malah berbuah kemuliaan abadi bersama Allah. Dan terlihat juga bahwa dengan kesaksian, kematian dan kebangkitan mereka, ada orang-orang yang bertobat, dan memuliakan Allah di surga

Ketika sangkakala ketujuh ditiup, terlihat bait suci di surga terbuka dan tabut perjanjian terlihat. Sebelumnya tidak ada yang dapat melihat tabut perjanjian karena disimpan dalam ruang mahakudus. Terlihatnya tabut perjanjian ini menunjukkan kehadiran Allah bagi semua orang yang percaya padanya.

PEREMPUAN DAN NAGA (WAHYU 12:1-18)

Yohanes melihat tanda besar di langit, yaitu seorang perempuan berselubungkan matahari dengan bulan di bawah kakinya, dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di kepalanya. Perempuan itu hendak melahirkan seorang anak laki-laki yang sudah diketahui sebelum ia dilahirkan. Ada pula seekor naga merah padam berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh hendak menelan anak dari perempuan itu, yang akan memerintah semua bangsa dengan gada besi. Namun anak itu berhasil dirampas dan dibawa kepada Allah, dan perempuan itu lari ke padang gurun untuk dipelihara selama 1260 hari. Mikael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu yang juga dibantu para malaikatnya. Pasukan Mikael berhasil menang, dan naga itu, yang adalah iblis dilemparkan ke bumi bersama para pengikutnya. Di bumi, naga itu memburu perempuan itu. Namun perempuan itu diberikan sayap burung nasar supaya bisa berlari ke padang gurun yang jauh dari naga itu. Bumi menolong perempuan itu ketika naga itu menyemburkan air untuk membinasakannya. Naga itu menjadi murka dan memburu keturunan lain dari perempuan itu yang memiliki kesaksian Yesus.

Apabila dilihat dari perhiasannya, terlihat sekali bahwa perempuan yang dilihat oleh Yohanes adalah perempuan yang sangat mulia dan berciri ilahi. Orang Katolik seringkali mengaitkan perempuan itu sebagai Bunda Maria, dan anak yang dilahirkannya sebagai Yesus, sang Mesias yang akan memimpin bangsa-bangsa dengan gada besi. Namun apabila dilihat dari sudut pandang masa itu, dan mengingat terminologi perjanjian lama yang digunakan Wahyu, perempuan itu lebih tepat ditafsirkan sebagai umat Allah secara keseluruhan, yang didandani dengan kasih Allah yang mulia (matahari, bulan, bintang). Mesias lahir dari umat Allah, berkarya, mati dan naik ke surga (dibawa ke tahta Allah), sedangkan ibunya, yaitu umat Allah masih berjuang di dunia. Namun pengembaraan umat Allah hanya sementara saja (1260 hari = 42 bulan = 3,5 tahun = masa yang sementara, tidak kekal), dan dalam pengembaraan itu. Allah tidak lupa pada mereka dan tetap memeliharanya.

Terlihat bahwa naga, yang adalah iblis, awalnya tinggal di surga, dan diusir dari surga oleh Mikael dan pasukannya. Seperti sudut pandang orang Yahudi, bahwa iblis (diabolos, si penggoda) pun tinggal di surga bersama Allah, jadi diantara makhluk surgawi ada yang jahat dan suka menggoda, atau dengan kata lain, hal yang buruk pun berasal dari Allah untuk menguji kesetiaan iman umatNya. Ketika iblis diusir ke bumi, ia mengejar-ngejar umat Allah, keturunan perempuan itu yang percaya pada Yesus (memiliki kesaksian Yesus). Ini menggambarkan pertarungan tanpa akhir antara iblis dengan pengikut Allah. Sepanjang perjalanan hidupnya, umat Allah tak pernah lepas dari gangguan iblis, maka jemaat Allah harus waspada dengan serangan dari iblis ini, dan mengarahkan pandangan pada Allah yang tetap mengasihi mereka, agar mereka dapat bertahan untuk tetap setiap pada Allah.

BINATANG YANG KELUAR DARI DALAM LAUT DAN DARI DALAM BUMI (WAHYU 13:1-18)

Yohanes melihat seekor binatang keluar dari dalam laut bertanduk tujuh berkepala sepuluh. Pada tanduk-tanduknya terpasang sepuluh mahkota, pada kepalanya tertulis nama-nama hujat. Binatang itu serupa macan tutul dengan kaki seperti beruang dan bermulut singa. Ia mendapat kekuasaan dan kekuatan dari naga. Binatang itu diberikan mulut yang penuh kesombongan dan hujat, ia diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus. Orang yang diam di atas bumi, yang namanya tak tertulis dalam kitab kehidupan akan menyembah binatang itu.

Lalu Yohanes melihat juga binatang yang keluar dari dalam bumi, bertanduk dua seperti anak domba, berbicara seperti naga. Seluruh kuasa binatang yang pertama dijalankan olehnya dan menyebabkan seisi bumi menyembah binatang pertama. Ia mampu mengadakan tanda-tanda untuk menyesatkan warga bumi. Binatang itu menyuruh mereka yang diam di bumi untuk membuat patung binatang pertama dan ia memberikan nyawa pada patung itu. Orang yang tidak mau menyembah patung itu akan dibunuh. Ia memberi tanda pada semua orang, dan tanda itu membuat orang bisa melakukan transaksi pembelian dan penjualan. Binatang itu memiliki bilangan seorang manusia, yaitu 666.

Jika kita ingat kembali kondisi jemaat masa itu yang dianiaya oleh pemerintahan kekaisaran Roma, maka kita akan mengambil kesimpulan bahwa binatang pertama, yang keluar dari laut adalah pemerintahan kekaisaran Roma, yang digerakkan oleh iblis, dan menyebarkan kebencian kepada umat Allah. Para kaisar Roma selalu menganggap dirinya adalah dewa yang memiliki kuasa ilahi. Kita pun telah mengetahui bahwa pada masa kejayaan Roma, umat Allah dipaksa untuk menyembah berhala kekaisaran yang dilambangkan dengan Dewa. Dengan melihat apa yang dilakukan oleh binatang kedua, yang keluar dari bumi, bisa dipastikan bahwa binatang ini adalah kelompok dalam kekaisaran, atau bisa disebut sebagai nabi palsu, yang mempropagandakan penyembahan atas kaisar dan berhala. Kedua binatang itu digerakkan oleh iblis untuk menyerang dan mencoba menghancurkan jemaat, seperti yang dilakukan oleh kekaisaran Romawi yang menganiaya jemaat dan memaksakan penyembahan berhala agar jemaat meninggalkan Kristus. Orang yang mau mengikuti aturan Roma akan mendapatkan hidup nyaman, sementara orang yang setia pada Yesus akan mendapatkan kesulitan, bahkan untuk keperluan berjual beli saja akan tidak bisa. Namun pesannya jelas tertulis pada ayat 10 yaitu ketabahan dan iman orang-orang kudus.

Mengenai angka 666, banyak orang yang mengkait-kaitkan dengan beberapa tokoh yang dianggap sebagai “tangan kanan iblis”, seperti Nero, bahkan Hitler, namun perlu diingat lagi mengenai makna angka 6 yang berarti ketidaksempurnaan, maka 666 adalah 3 kali angka 6 yang menunjukkan ketidaksempurnaan yang penuh, menunjukkan bahwa pemerintahan Romawi yang dihidupi oleh iblis itu tidak sempurna, dan tidak akan bisa mengalahkan kekuatan pemerintahan Ilahi yang sempurna.

REFERENSI :

Marsunu, Y. M. Seto, 2013. Membuka Materai Kitab Wahyu. Yogyakarta : Kanisius.

Suharyo, Ignatius, 1993. Kitab Wahyu : Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kristiani. Yogyakarta : Kanisius.

SEE ALSO :

https://celina2609.wordpress.com/2014/04/05/berkenalan-dengan-kitab-wahyu-bagian-pertama/

https://celina2609.wordpress.com/2014/04/05/berkenalan-dengan-kitab-wahyu-bagian-ketiga-terakhir/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s