Berkenalan dengan Kitab Wahyu – Bagian Pertama

Begitu banyak orang Katolik yang mengerutkan kening ketika mendengar atau membaca kitab Wahyu. “Terlalu sulit”, itu komentar yang menyusul kemudian. Kitab Wahyu memang penuh dengan simbol, lambang, bilangan, dan banyak hal yang begitu asing dan menyeramkan bagi kita yang hidup di masa kini. Sering muncul pandangan bahwa kitab ini adalah kitab yang berisi ramalan, dimana simbol dan bilangan di dalamnya dipandang secara harafiah dan dianggap sebagai kode yang dapat menunjukkan suatu peristiwa pada waktu tertentu dan tokoh tertentu yang terdapat dan terjadi pada sejarah manusia. Bahkan dari hasil utak-atik kitab Wahyu, banyak orang dapat menghitung dan memprediksikan kapan akhir zaman akan datang. Pada akhirnya membaca Kitab Wahyu hanya akan menimbulkan ketakutan.

Namun apakah benar kitab ini ditulis sebagai kitab ramalan? Atau apakah kita saja yang tidak memahami atau salah menafsirkan isinya? Itulah sebabnya sebelum membaca kitab Wahyu, kita harus mengetahui terlebih dahulu masa dan kondisi ketika kitab Wahyu ditulis dan kemudian kita harus membaca dan menafsirkan kitab ini secara preteris, yakni memahami bahwa semua peristiwa yang ada dalam kitab ini ditujukan kepada jemaat pada masa itu yang membacanya sehingga isinya tidak bisa ditarik ke masa kini atau masa depan. Namun ada pesan-pesan umum yang masih berlaku bagi umat masa kini, dan harus dipegang teguh bagi kita saat ini dan di sini.

LATAR BELAKANG PENULISAN KITAB WAHYU

Menurut tradisi gereja, Kitab Wahyu ditulis oleh Yohanes pada akhir abad pertama (sekitar tahun 90-100 M) pada masa pemerintahan Kaisar Roma Domitianus. Yohanes menulis kitab ini pada saat ia dibuang di Pulau Patmos karena imannya pada Yesus. Yohanes ini meskipun masih diragukan apakah Yohanes anak Zebedeus, salah satu dari 12 rasul, namun diyakini masih memiliki kaitan erat dengan para rasul. Masa itu adalah masa ketika umat Kristiani dianiaya dan dikejar-kejar, baik oleh penguasa Romawi, maupun oleh sesama orang Yahudi. Karena iman mereka pada Yesus, mereka tidak mau menyembah kaisar yang mengganggap dirinya dewa. Kemudian orang-orang Yahudi juga menganiaya mereka karena orang Yahudi tidak menerima Yesus sebagai mesias, sehingga mereka mengganggap orang Kristiani sebagai penghujat agama Yahudi. Selain itu ada pula orang-orang Yahudi yang mencoba memasukkan kepercayaan bangsa lain kepada iman Kristiani mereka. Bisa dibayangkan betapa kerasnya tantangan yang dihadapi jemaat saat itu.

Yohanes, yang merupakan pemimpin jemaat, menuliskan kitab ini untuk memberi penghiburan dan kekuatan iman bagi jemaat Kristiani pada masa itu. Ia menuliskannya dengan gaya sastra apokaliptik yang berisi penglihatan-penglihatan yang bersifat rahasia, simbol-simbol, makhluk-makhluk gaib dan menunjuk pada akhir zaman, tepatnya pada saat pemenuhan rencana Allah. Apokaliptik sendiri memiliki makna penyingkapan sesuatu yang tersembunyi, atau menyingkapkan rahasia. Jenis sastra ini menampakkan sikap pesimis yang disusul dengan suatu optimisme, suatu pandangan bahwa dunia sudah dikuasai kejahatan, sehingga Allah akan menghancurkannya dan menciptakan dunia baru yang diisi oleh orang-orang yang setia pada imannya. Bagi umat masa itu, simbol dan lambang-lambang itu mungkin sudah sangat dipahami, dan umat tahu apa yang dimaksudkan oleh penulis, namun tidak demikian halnya dengan kita saat ini. Maka kita pertama-tama harus mencoba mengerti apa yang dilihat oleh Yohanes, dan apa pesan yang disampaikan kepada jemaat yang dituju masa itu.

Untuk memahami kitab Wahyu, kita harus mengenal beberapa terminologi dan simbolismenya, yang pada umumnya diambil dari Perjanjian Lama. Berikut ini beberapa makna umum dari simbol dan bilangan yang tercantum dalam kitab wahyu :

1

2

PENDAHULUAN DAN SURAT PADA TUJUH JEMAAT

Kitab Wahyu dibuka oleh suatu pendahuluan yang memberitahukan isinya, yaitu Wahyu Yesus Kristus yang dikaruniakan Allah kepadaNya. Yesus melalui malaikatNya menyatakan wahyunya kepada Yohanes agar Yohanes menyampaikan wahyu itu kepada jemaatNya. Yohanes kemudian memperkenalkan dirinya sebagai saudara dan sekutu dalam kesusahan. Pada hari Tuhan, dalam kondisi dikuasai Roh, Tuhan menyuruh Yohanes untuk menuliskan apa yang ia lihat dan mengirimkannya kepada malaikat dari tujuh jemaat di Asia Kecil, yang saat ini masuk dalam kawasan negara Turki. Ketujuh jemaat ini adalah jemaat di Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia. Namun sebetulnya angka tujuh ini adalah sebuah lambang yang menunjuk pada keseluruhan jemaat Allah.

Yohanes kemudian berpaling untuk melihat siapa yang berbicara kepadanya, dan ia melihat sosok serupa anak Manusia di tengah tujuh kaki dian dari emas, yang memegang tujuh bintang di tangan kananNya, dan dari mulutNya keluar sebilah pedang bermata dua. Anak manusia itu adalah Yesus, yang memperkenalkan dirinya sebagai Yang Awal dan Yang Akhir (ini adalah sifat Allah sebagai sang pencipta dan menjadi tujuan dari semua), Yang Hidup, Yang telah mati, namun hidup (sebutan bagi Yesus : telah mati di salib namun bangkit dan hidup selamanya) dan memegang kunci maut dan kerajaan maut. Tujuh kaki dian itu adalah tujuh jemaat, sedangkan tujuh bintang adalah malaikat dari tujuh jemaat.

Berikut adalah isi dari surat yang disampaikan kepada tujuh jemaat tersebut :

3

4

5

 Dari isi surat kepada ketujuh jemaat tersebut, terlihat jelas Allah adalah hakim yang adil, yang menghukum dan memberi ganjaran kepada jemaatNya. Perbuatan yang jahat akan dihukum, sedangkan perbuatan baik, yang setia pada iman akan mendapat ganjaran. Kesetiaan kepada iman, meskipun harus menderita dan mati bukanlah sesuatu yang mustahil karena Yesus sendiri sudah menjalaninya dengan wafat di salib. Tuhan juga tidak mendiamkan orang-orang yang berbuat jahat dan menyesatkan, namun Tuhan juga masih memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertobat. Surat ini mendorong jemaat untuk bertahan dalam iman dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa, dan juga mendorong jemaat yang sedang tidak mengalami kesulitan besar, untuk tetap bersemangat dalam menjalankan iman mereka.

Referensi :

Marsunu, Y. M. Seto, 2013. Membuka Materai Kitab Wahyu. Yogyakarta : Kanisius.

Suharyo, Ignatius, 1993. Kitab Wahyu : Paham dan Maknanya Bagi Hidup Kristiani. Yogyakarta : Kanisius.

See also :

https://celina2609.wordpress.com/2014/04/05/berkenalan-dengan-kitab-wahyu-bagian-kedua/

https://celina2609.wordpress.com/2014/04/05/berkenalan-dengan-kitab-wahyu-bagian-ketiga-terakhir/

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s