Kicauan Seorang Jomblowati : Menjelang 29

Menjelang usia 29 tahun, saya merasa begitu mudah merasa sensi dan moody… Dulu, saya nggak pernah tersinggung kalau ada yang bilang saya gemuk dan jelek. Sekarang saya bete mendengar celaan itu.
Saya juga biasanya ngga pernah mikirin kalau ada yang nyela saya “nggak laku-laku”, atau “nggak ada yang mau”, sekarang omongan itu bisa mondar mandir di kepala saya selama 7×24 jam, bahkan lebih. Bahkan saya tersinggung berat dengan statement itu…
Saya mulai merasa merinding, saat menghadiri nikahan teman dan saat menjenguk teman yang baru melahirkan. Soalnya pasti ditanya “kapan nyusul?” Bagaimana mau nyusul, wong nggak ada yang ngajak ke pelaminan…
Dulu saya begitu gemas melihat bayi atau anak-anak kecil. Sekarang saya meringis sendiri setiap melihat mereka. Apakah nantinya saya bisa menggendong anak saya sendiri?
Masih single di usia menjelang 29 tahun ternyata begitu berat. Serasa sudah mendapat cap buruk sebagai wanita egois, terlalu mandiri, terlalu pemilih, terlalu jelek, tidak cantik, bukan wanita ideal, bahkan ada juga yang mencap terlalu mapan dan bikin para pria menghindar..
Jujur, saya mulai takut menghadapi usia 29. Saat ini saya sering merasakan kesepian kronis, iri tingkat tinggi, mengasihani diri dan tidak percaya diri. Saya selalu berpikir apa yang salah dengan diri saya? Apa yang harus saya perbaiki? Apakah saya begitu tak layak dicintai?
Hanya tinggal menghitung bulan, sebelum angka 29 itu datang menghampiri saya..
Bagaimana saya harus menghindarinya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s