Patung Bunda Beraroma Kuah Bakso

Sebuah kisah yang tertinggal dari acara Misa dan Reuni Tahunan Senatus 2014…

-Sabtu, 27 September 2014-
Beberapa belas jam sebelum acara Reuni Tahunan resmi dimulai, panitia dibantu dengan suster sibuk merangkai bunga untuk dekorasi altar. Mereka pun tak lupa menyiapkan altar Legio pada sebuah meja kecil tepat di bagian depan altar utama. Namun ternyata patung Bunda Maria yang disiapkan Suster bukan patung Maria Pengantara Segala Rahmat dengan tangan yang terbuka, namun patung Bunda yang sedang menggendong bayi Yesus.
Panitia sempat kebingungan, dimana harus mencari patung Maria Pengantara Segala Rahmat yang berukuran cukup tinggi, supaya bisa terlihat oleh para peserta reuni tahunan.
Salah seorang legioner Katedral Bogor akhirnya menawarkan bantuannya. Ia akan membawa patung Bunda milik presidiumnya yang berukuran cukup tinggi… Yaa..kira-kira tingginya sekitar 50 cm..
Sayangnya sore itu tak ada yang bisa mengantarkan patung itu dari Gedung Paroki Katedral ke Marsudirini, sehingga akhirnya disepakati bahwa patung itu akan dibawa bersama rombongan legioner Katedral keesokan paginya.

-Minggu, 28 September 2014-
Jam masih menunjukkan pukul 06.15, namun seorang legioner sudah berlari-lari menaiki gedung paroki menuju ke ruang rapat legio di lantai 3. Segera saja ia memeluk patung Bunda Maria dan membawanya turun ke depan tangga gereja, dimana ia selanjutnya menunggu para legioner seminaris yang juga akan berangkat ke Marsudirini bersama dengan legioner Katedral.
Baru beberapa menit ia berdiri, ketika ia sadar bahwa sangat riskan membawa patung Bunda ini dengan cara memeluknya. Patung ini beresiko terlepas dari pelukannya, dan selain itu ia pun merasa bahwa banyak orang memandangnya dengan tatapan aneh karena ia memeluk patung Bunda di dadanya . Ia sadar bahwa ia harus memasukkan patung ini ke dalam kantung plastik. Tapi ia tak membawa kantong plastik ataupun tas kertas untuk menaruh patung itu.
Tak kehabisan akal, ia melangkah mendekati seorang pedagang makanan di depan pagar gereja. Ia lalu meminta plastik besar kepada ibu pedagang makanan itu.
Setelah mencari-cari ke dalam kardusnya, ibu itu menemukan kantong plastik besar berwarna merah. Dengan cekatan ia menepuk-nepuk plastik itu dan membalik sisinya untuk memastikan bahwa plastik dalam kondisi kering.
Legioner itu dengan penuh sukacita memasukkan patung Bunda ke dalam plastik merah itu. Ah.. pas sekali.. Patung Bunda hampir terlindungi seluruhnya oleh plastik itu.

Menjelang pk. 07.00, Legioner itu bertemu dengan frater APRnya di depan gereja. Patung itu dipegang bergantian oleh legioner dan frater APR itu.
Lama kelamaan mereka sadar bahwa ada aroma aneh seperti aroma kuah bakso dari patung Bunda. Setelah diendus-endus, sepertinya plastik merah itu bekas menyimpan kuah bakso dan aromanya masih menempel disana. Patung Bunda itu juga sudah tertular aroma kaldu sapi dari plastiknya.

Waduh… bagaimana ini? Untuk mengurangi aroma itu, mereka melap patung Bunda dengan tissue basah. Namun bukannya menjadi harum, aromanya malah jadi semakin aneh..

Akhirnya patung Bunda itu tak jadi dipakai, karena di altar Legio sudah terpasang patung Bunda milik kuria dengan ukuran yang lebih tinggi. Patung Bunda dari Katedral itu akhirnya dijemur di tepi lapangan. Untunglah patung itu tidak sampai dirubung lalat, dan pada akhir acara, aroma kuah baksonya sudah hilang dari patung Bunda…

aahh… ada-ada saja….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s